Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Siapakah Dia?


__ADS_3

Shafa masih terpaku ditempat duduknya hingga laki-laki itu hilang dari pandangannya.


"Apakah tadi aku hanya berhalusinasi? Tapi dia terlihat sangat nyata, suaranya juga terdengar nyata. Oh my God! Lama-lama aku bisa gila karena Fachri," gumam Shafa frustasi sambil mengusap wajahnya.


Ia benar-benar tak mengerti dengan keadaannya sekarang. Apakah kejiwaannya sedang bermasalah saat ini? Apa mungkin orang yang sudah meninggal bisa kembali lagi? Tapi itu mustahil.


Shafa mengusap sisa air matanya dengan tisu basah yang ia ambil dari dalam tasnya. Tak lupa juga mengambil selendang biru, lalu mengalungkannya keleher. Semilir angin mengibaskan selendang itu dengan indah. Seakan ingin menerbangkan kesedihan pemakainya.


Selendang biru pemberian Fachri selalu ada bersama Shafa kemanapun ia pergi. Salah satu barang yang menjadi penyalur rindu. Dengan membawa selendang itu, Shafa merasa selalu dekat dengan Fachri. Merasa laki-laki itu menjaganya setiap waktu.


Shafa merasa cukup berada ditempat ia beranjak pergi. Melangkahkan kakinya melewati jalan setapak. Setelah menemukan kendaraan ia berniat menemui satu-satunya orang yang ia kenal dikota itu.


Kini Shafa sudah sampai disebuah cafe yang lumayan besar. Banyak pengunjung siang itu untuk mengisi perut mereka yang minta jatah.


Ketika ia masuk para karyawan menyapanya dengan ramah. Lalu Shafa menuju ruangan pemilik Cafe.


"Assalamu'alaikum!" ucap Shafa sambil membuka pintu.


Tampak laki-laki dengan kemeja putih sibuk berkutat dengan laptop dimejanya. Seketika menoleh ada seseorang yang membuka pintu. "Wa'alaikumsalam!" jawabnya.


"Boleh saya masuk Tuan?" tanya Shafa dengan nada bercanda.


"Maaf Nona! Saya tidak menerima tamu. Anda bisa datang setelah lebaran unta," balas pria itu.


Shafa terkekeh pelan, lalu melangkah masuk. "Memang kapan lebaran unta?" tanyanya sambil menarik kursi didepan meja laki-laki itu dan duduk dengan santai.


"Habis musim haji mungkin," jawab laki-laki itu tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Jemarinya sibuk mengetik sesuatu.


"Musim haji sudah lewat."


"Kukira kau sudah lupa untuk berkunjung kesini?" sindir laki-laki itu.


"Ayolah Kak Alam, jangan sok ngambek begitu. Kakak kan tau aku sibuk akhir-akhir ini," ujar Shafa menaruh kedua lengannya diatas meja.


Ya, laki-laki itu adalah Alamsyah Ramadhan. Sahabat Fachri sewaktu kuliah di Jakarta. Kebetulan mereka dipertemukan, karena memang Alam lahir dikota tempat pelarian Shafa saat ini.


"Kau sibuk setelah keluar dari Cafe ini dan memilih bekerja ditempat lain," ucapnya sambil menghadap kearah Shafa.


"Kak Alam kan tau, aku bekerja di Cafe itu agar bisa bertemu dengan mama dan kakakku."


"Lalu bagaimana perkembangannya sekarang? Kau sudah bertemu dengan mereka?"


Ekspresi wajah Shafa berubah sendu. "Belum Kak, tapi karyawan senior bilang mereka akan kembali dari luar negeri dalam waktu dekat."


"Semoga misimu berhasil Shafa. Aku hanya khawatir dengan kesehatanmu jika kau sering pulang malam dan menyita waktu istirahatmu." Alam berucap dengan serius. Pasalnya ia tahu, Shafa tak pernah bekerja keras sebelumnya. Kehiduapan gadis dihadapannya serba mewah. Hingga gadis itu memutuskan meninggalkan kehidupannya dulu dan memilih kehidupan yang sederhana.


"Insya Allah aku kuat Kak. Tinggal selangkah lagi aku bisa bertemu dengan mama dan kakak." Binar semangat kembali terpancar dari wajah Shafa.


Alam menghela nafas, lalu menghubungi karyawannya untuk mengantar minuman. Shafa tampak diam dan Alam bisa membaca raut wajah Shafa yang tampak memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Apa sekarang kau ada masalah?" tanya Alam.


Shafa menundukkan pandangannya, berusaha menyembunyikan kesedihan yang saat ini kembali menguasai hatinya. "Tadi aku bertemu dengan orang yang mirip dengan Fachri. Apa mungkin Fachri masih hidup, Kak?" Kali ini Shafa mendongakkan kepala meminta pendapat Alam.


Alam terkekeh mendengar pertanyaan Shafa. "Jangan konyol Fa! Orang yang sudah meninggal mana mungkin bisa hidup lagi. Ini bukan jamannya nabi Isa, Shafa."


"Aku serius Kak. Tadi aku benar-benar bertemu dengannya. Dia sangat nyata." Shafa berucap dengan penuh kesungguhan. Lalu ia menceritakan pertemuannya dengan seseorang yang ia anggap Fachri.


Alam pun mendengarkan dengan serius. Shafa berhenti bercerita saat seorang karyawan masuk mengantar minuman. Lalu melanjutkan lagi ketika pelayan itu sudah pergi. Alam yang mendengarkan cerita Shafa juga tak bisa percaya begitu saja. Mana mungkin Fachri kembali. Ia sendiri menyaksikan proses pemakaman sahabatnya. Saat melihat raut kesedihan diwajah Shafa, Alam memutuskan untuk menghibur gadis dihadapannya. Ia tau Shafa masih belum bisa melupakan Fachri. Hingga akhirnya kata-kata menjengkelkan keluar dari mulut Alam.


"Bisa saja dia hantu penunggu tempat itu. Karena kau meneriakkan nama Fachri, jadi dia berubah wujud menjadi sosok Fachri," ucap Alam sambil tertawa. "Hati-hati jangan ketempat itu lagi nanti ada genderuwo yang naksir kamu," lanjutnya.


Shafa jadi merasa jengkel dengan candaan Alam. Ternyata laki-laki itu sifatnya tidak pernah berubah. Masih saja suka bercanda.


"Semoga saja bukan genderuwo tapi seorang pangeran yang naksir aku nantinya," ujar Shafa kesal.


"Pangeran anta berantah mana yang nantinya bisa meluluhkan hati seorang Shafa yang keras kepala." Alam malah semakin menjadi menertawakan Shafa. "Atau jangan-jangan kamu udah bisa move on dari abang Fachri?" tanyanya.


"Nggak akan ada yang bisa menggantikan Fachri. Kalau perlu aku akan menyusul Fachri kesana." Shafa pun bangkit dari duduknya. "Aku permisi dulu, Assalamu'alaikum." Ia pun melenggang pergi dari ruangan Alam.


"Wa'alaikumsalam!" ucap Alam lirih. Shafa sudah keluar dari ruangannya. Alam hanya bisa berdecak bingung dengan garis takdir yang harus dijalani Shafa. Ia tau posisi Shafa sangat sulit. Diusia belia ia harus mengahadapi kerasnya hidup. Ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi. Tapi untungnya Shafa gadis yang kuat dan bisa berpikiran dewasa.


Alam kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia menjadi sibuk semenjak Shafa memutuskan bekerja ditempat lain. Dulunya Shafa yang membantu dirinya mengurus Cafe.


******


"Kamu cepetan siap-siap, bos pemilik Cafe akan datang sebentar lagi," ucap salah satu karyawan senior.


Shafa pun segera kebelakang berganti seragam. Ia merasa gugup dan juga bahagia akan segera bertemu dengan mama dan kakaknya. Tujuan awalnya bekerja di Cafe itu.


Setelah rapi, ia segera bergabung dengan karyawan lain didepan. Beberapa menit kemudian sebuah mobil mewah memasuki area parkir Cafe. Seorang pemuda gagah dan tampan memakai pakaian casual turun dari mobil. Lalu disusul wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun dengan pakaian sederhana yang dikenakannya.


Saat kedua orang itu memasuki Cafe, Shafa sekuat tenaga menahan diri. Meski sangat merindukan dua sosok yang kini berada satu ruangan dengannya, tapi ia harus menunggu waktu yang tepat.


Sapaan ramah dilontarkan oleh kedua orang yang baru saja masuk. Sang manajer segera mengikuti mereka.


"Bagaimana kondisi Cafe selama saya pergi?" tanya wanita pemilik Cafe.


Sedangkan putranya memandangi satu-satunya gadis berhijab diantara para karyawan. "Wajahnya seperti tidak asing. Tapi siapa dia?" gumamnya dalam hati. Shafa yang merasa diperhatikan segera menundukkan wajahnya.


"Semua aman terkendali Nyonya Olivya," jawab sang manajer.


"Bagus. Lanjutkan pekerjaanmu!" Nyonya Olivya segera memasuki ruang kerjanya yang cukup lama ia tinggalkan. Sedangkan putranya mengikuti sang menajer keruangannya.


"Ada yang perlu saya bantu Mas Gibran?" tanya sang manajer yang bernama Fahmi. Lalu mempersilahkan Gibran duduk.


"Saya hanya ingin tahu tentang karyawati yang berhijab tadi," ujar Gibran.


"Dia karyawan baru disini, baru sekitar dua bulan dia bekerja," ucap Fahmi.

__ADS_1


Rasanya Gibran belum puas dengan jawaban Fahmi. Dia meminta data gadis itu pada Fahmi. Tak lama kemudian Fahmi kembali dengan membawa data diri gadis yang diminta Gibran.


Sejenak Gibran membaca profil ditangannya. "Jadi namanya Shafa, gadis yatim piatu dan hanya sebatang kara dikota ini," gumam Gibran. Tapi Fahmi masih bisa mendengarnya.


Shafa memang sengaja memalsukan datanya. Untuk melindungi dirinya dari hal-hal yang tak diinginkan.


"Dia gadis yang berbakat, masakannya juga patut diacungi jempol. Karena itu saya juga menjadikan dia sebagai koki pengganti. Saat para koki meminta cuti." Fachmi memberitahu alasannya menerima Shafa bekerja.


"Baiklah." Gibran berdiri dari duduknya. "Aku permisi dulu. Terimakasih sudah bekerja dengan baik selama aku dan mama pergi."


"Sama-sama Mas Gibran. Itu memang tanggung jawab saya," ucap Fahmi dengan sopan.


Lalu, Gibran melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan manajernya. Dia berkeliling Cafe. Melihat apakah ada perubahan yang signifikan atau tidak.


Didepan para pengunjung mulai ramai berdatangan. Hanya untuk sekedar ngopi dan nongkrong. Ada juga pasangan muda-mudi yang mungkin sedang berkencan. Cafe itu memang sangat nyaman. Menu dan harga makanan juga bervariasi mulai dari harga untuk kalangan bawah hingga untuk kalangan atas. Semua dikemas rapi disana.


Tempat pengunjung juga dibedakan, untuk pengunjung kalangan biasa ruangannya paling depan. Dan untuk kalangan atas, ruangannya ada didalam. Disekitar Cafe pun ada taman dan air mancur mini. Hingga siapa pun yang berada disana pasti betah. Karena disuguhi pemandangan yang menyegarkan mata. Bunga warna-warni mengelilingi area Cafe. Bahkan disetiap meja pengunjung ada bunga segar yang dirangkai dalam vas cantik.


Olivya memang sosok yang pintar dalam membuka peluang bisnis. Hingga dia bisa hidup mandiri bersama putranya.


Sementara itu diluar, Gibran masih berkeliling menikmati suasana sore itu. Kemudian matanya tertuju pada sosok berhijab yang sedang sibuk menata makanan diatas nampan. Karyawan yang lain pun terkagum dengan ketampanan Gibran.


"Aduh... Mas Gibran makin ganteng aja sih!" ucap salah satu teman Shafa yang berada disampingnya. Namanya Ririn. "Dia ngelihat kesini lagi. Jantung adek serasa mau meledak bang..." Ririn memegangi dadanya dengan gaya lebay.


"Jangan kepedean kamu Rin! Mana mungkin Mas Gibran ngelirik karyawan kecentilan kayak kamu," sahut Arif karyawan pria yang sedang membawa minuman kedepan.


"Syirik aja lo!" umpat Ririn. Sedangkan Arif sudah berjalan kedepan. Lalu diikuti juga oleh Ririn yang membawa makanan.


Shafa hanya tampak diam. Sesekali ia melirik kearah Gibran yang kini berdiri diluar. Pandangan mereka memang hanya terhalang dinding kaca bening. Area dapur memang menggunakan dinding kaca. Tapi area dapur sangatlah privat, tak ada yang bisa masuk kecuali karyawan.


Gibran memilih memasuki dapur, ia sangat penasaran dengan gadis yang bernama Shafa. Wajahnya benar-benar tidak asing baginya.


Gibran semakin mendekat, Shafa memikirkan cara agar bisa menghindari laki-laki itu.


Belum sempat melangkah pergi sudah ada suara yang memanggil namanya.


"Shafa...!" panggil Gibran. Karyawan yang ada ditempat itu heran melihat atasan mereka memasuki area dapur dan memanggil nama salah satu karyawannya.


Shafa sendiri tak tau apa yang akan terjadi jika Gibran bisa mengenali dirinya.


.


.


.


Sampai disini dulu guys!


Semoga menghibur...

__ADS_1


__ADS_2