
"Maaf Sayang hari ini aku harus pergi ke kantor! Kamu tidak apa-apa aku tinggal?" ucap Guntur yang bersiap akan pulang setelah shubuh.
"Tenang saja Mas! Kayak nggak tau siapa aku aja." Shafa menjawab penuh keyakinan. Dia tahu Guntur khawatir, karena mamanya juga ikut keluar kota bersama papanya. Tadi mertuanya sudah memberi kabar.
Guntur tersenyum lalu memeluk tubuh istrinya dan menghadiahkan kecupan hangat di kening. Sejauh ini hanya itu yang mereka lakukan. Guntur ingin Shafa terbiasa dulu dengan hubungan mereka sekarang. Meski Shafa sudah mencintainya, tapi menghilangkan trauma masa lalu Shafa tidaklah mudah.
"Sam, aku tinggal dulu. Baik-baik sama Shafa. Cepet sehat! Nanti sore aku balik lagi." Guntur menepuk bahu Samuel pelan. Kemudian mengusap acak rambut pria itu. Samuel hanya mendengus kecil mendapat perlakuan dari kakaknya.
"Jangan ngerusuh sama rambut deh Kak! Luntur nanti kegantengan Samuel Adhitama."
"Dih, sok kegantengan!"
Tiba-tiba Samuel memegangi perutnya. Dia merasa mulas. "Kak, tolong dong bawa gue ke kamar mandi! Perut gue sakit," rintih Samuel.
Guntur pun membantu Samuel bangun dan mengambilkan botol infus dari gantungannya. Samuel masuk sendiri ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Guntur dan Shafa menunggu dengan was-was. Takut jika keadaan Samuel semakin parah.
Beberapa saat kemudian Samuel sudah keluar, tapi wajahnya semakin pucat. Guntur segera menghampiri untuk memapah kembali ke ranjang.
"Kamu jajan sembarangan ya Sam di kampus?" tanya Shafa.
"Gue jajan seperti biasa, nongkrong di warung bakso bang Sapiii...." Samuel masih menggantung kata terakhirnya. Shafa dan Guntur mengernyit heran. Sejak kapan si Sapi buka warung bakso. Pantesan Samuel terkontaminasi bakteri.
"Sapi'i Kak. Nama orang bukan hewan," lanjut Samuel.
"Kamu tahu kan Sam, demam tifoid yang kamu derita sekarang itu karena ada bakteri yang masuk kedalam pencernaan. Jadi kamu jangan jajan sembarangan."
"Iya Shafa, gue tahu. Mungkin gue terkontaminasi dari bakteri fesesnya si Kiki," ucap Samuel sekenanya.
"Jangan buat si Kiki sebagai kambing hitam!" seru Guntur.
"Ya... kebetulan aja imun gue lagi turun, makanya nggak bisa melawan penyakit. Ditambah lagi galau akut juga," ucap Samuel dengan suara yang lemah. Demam tifoid atau yang lebih dikenal dengan tipes memang membuat tubuh terasa lemas. Apalagi bakteri yang menyerang pencernaan membuat penderita mengalami sembelit dan diare. Tentunya disertai pusing kepala juga. Tapi untungnya Samuel tetap mau makan.
"Ya sudah aku harus pergi. Shafa, kalau kamu kewalahan minta bantuan perawat."
"Iya Mas, tenang saja aku pasti bisa mengatasi Samuel. Dia kan udah gede juga," ucap Shafa sambil melirik kearah Samuel yang terbaring lemas.
Shafa pun meraih tangan Guntur untuk ia cium. Lalu Guntur menghadiahkan kecupan hangat lagi. Seperti itulah rutinitas pagi pasangan suami istri itu.
Sedangkan yang terbaring lemah, terbesit rasa cemburu dihati kecilnya. Tapi ia sadar akan posisinya. Ia menyakinkan hatinya bahwa itu hanya sebuah pelarian perasaannya saja karena sedang patah hati. Tapi kenapa hatinya justru memilih Shafa yang jelas-jelas sudah menjadi milik kakaknya.
Kepala Samuel semakin pusing memikirkan perasaannya yang tak tahu diri. Logikanya masih bekerja dengan bagus, tapi kenapa perasaannya justru bertolak belakang.
Shafa yang melihat Samuel memejamkan mata membiarkannya, pria itu butuh istirahat. Jadi, Shafa kembali duduk disofa sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
Pukul 07 pagi Shafa pamit keluar untuk membeli sesuatu. Ia perlu mencari sarapan untuk mengisi perutnya.
Saat kembali, kebetulan dokter juga keluar dari ruangan Samuel. Sepertinya dokter itu baru saja memeriksa keadaan sahabatnya.
Shafa pun menanyakan perkembangan keadaan Samuel. Dokter bilang kondisi tubuh pasien mengalami penurunan. Keadaannya semakin parah. Mungkin disebabkan oleh diare yang dialami. Tapi dokter juga sudah meresepkan obat. Dia juga harus banyak-banyak minum air putih.
"Sarapan dulu ya Sam," ucap Shafa yang sudah berada disamping Samuel dengan semangkok bubur.
Samuel hanya mengangguk lemah tanpa membuka matanya. Lalu Shafa mengubah posisi ranjang agar sedikit terangkat. Tentunya fasilitas ruang rawat Samuel adalah yang terbaik.
Jadilah Samuel sudah berada diposisi setengah duduk. Shafa mulai menyuapkan bubur.
"Demam kamu tinggi lagi Sam." Shafa menempelkan telapak tangannya kedahi Samuel. Memang terasa panas lagi, pantas saja dokter bilang kondisinya menurun.
Pria itu hanya tersenyum. "Gue nggak apa-apa Fa."
Setelah makan, Shafa mengambilkan obat yang tadi sudah diberikan dokter. Setelah minum obat Samuel tertidur. Shafa sendiri mulai membuka sarapannya. Setelah itu ia berencana pulang sebentar. Sekalian pergi ke kantor suaminya saat jam makan siang nanti.
Pukul 10.30 pagi, Shafa pamit pada Samuel setelah pria itu dari kamar mandi. Meski masih diare tapi demam Samuel sudah menurun setelah minum obat. Shafa hanya pamit untuk pergi selama 2 jam. Ia akan segera kembali setelah makan siang dengan Guntur.
Setelah kepergian Shafa, Samuel berusaha untuk tidur lagi. Obat dari dokter memberi efek mengantuk, dia hanya ingin tidur saat ini.
Baru beberapa saat matanya terpejam, Samuel dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka secara kasar. Dia melihat seorang gadis tengah memegangi dadanya dengan nafas tersengal-sengal. Gadis itu juga memakai pakaian pasien. Rambutnya yang panjang bergelombang terurai begitu saja.
"Hehe... Sorry ya Om!" seru gadis itu sambil cengengesan mengetahui ada mata yang tengah menatapnya. Dia pun mendekat dengan memasang wajah polosnya.
"Om sakit masih bisa ya ngomongnya judes gitu." Gadis itu meraih kursi dan duduk disamping Samuel.
"Jangan panggil gue Om!"
"Ya sudah, Abang deh! Abang sakit tapi masih kelihatan aja gantengnya," ucap gadis itu sambil cekikikan.
Samuel hanya diam saja, sungguh dia tak punya banyak tenaga saat ini untuk meladeni ocehan gadis yang tiba-tiba masuk tanpa undangan.
"Abang sakit apa? Kok kelihatannya lemes gitu. Jangan bilang sakit gigi ya Bang! Soalnya mending sakit hati dari pada sakit gigi. Kalau sakit gigi nyiksa banget, buat makan sakit, buat senyum nyeri. Kalau dibawa nongkrong dikira banyak utang karena megangin pipi kayak lagi bertopang dagu. Kalau sakit hati masih bisa dibawa happy. Masih bisa makan sepuasnya, bisa hangout sama temen. Ketawa ketiwi sambil makan es krim. Nonton film sambil makan popcorn. Pokoknya lebih enakan sakit hati lah dari pada sakit gigi."
Samuel heran dengan pemikiran gadis yang dari tadi berceloteh tentang sakit gigi dan sakit hati. Kenapa ada gadis gesrek dirumah sakit ini? Padahal ini bukan rumah sakit jiwa.
"Abang kok diem aja sih? Beneran lagi sakit gigi ya? Padahal tadi sempet judesin adek," ucap gadis itu lagi dengan memasang wajah imut memandangi pria dihadapannya.
Kalau tidak sedang sakit mungkin sudah terjadi perdebatan sengit diantara mereka. Pasalnya Samuel sama berisiknya dengan gadis itu.
"Mending elo keluar, jangan bikin kepala gue tambah pusing! Berisik," usir Samuel. Tapi yang diusir malah nyantai tanpa merasa tersinggung.
"Numpang disini bentar ya Bang! Aku nggak ada temen, bosen sendirian. Abang juga sendirian kan, jadi kita bisa saling menemani. Ya kan Bang?" Gadis itu ternyata benar-benar aneh. Udah diusir malah minta tetap tinggal.
__ADS_1
Samuel hanya bisa mendesah dan membiarkan gadis itu didalam ruangannya. Gadis itu pasti pasien juga di rumah sakit ini. Tapi kenapa tadi dia masuk dengan nafas tersengal-sengal seperti sedang melarikan diri dari seseorang?
Gadis itu menuju jendela memandang kearah luar. Mata Samuel pun mengamati pergerakannya. Bisa dia lihat dari pantulan kaca raut wajah gadis itu berubah sendu. Berbeda dengan wajah ceria yang tadi ditunjukkannya.
Samuel memalingkan wajah saat gadis itu berbalik.
"Keluarga Abang dimana? Kok tidak nungguin disini?" tanya gadis itu dengan raut wajah yang kembali tampak ceria.
"Bukan urusan elo. Lo sendiri kenapa tadi bilang sendirian? Dimana keluarga Lo?" tanya balik Samuel.
"Bukan urusan Abang," jawab gadis itu seperti jawaban Samuel tadi.
Samuel pun berdecak, dia sudah salah mengajak gadis ini bicara. Lawan yang imbang ternyata datang tanpa diundang.
"Ada camilan nggak Bang? Aku laper nih pengen ngemil." Si gadis berisik malah minta cemilan tanpa rasa sungkan.
Samuel menggelengkan kepala tak habis pikir dengan gadis yang bersamanya sekarang. "Coba lihat dilaci! Mungkin ada Snack disana," ucapnya tanpa mendebat.
Gadis itu pun membuka laci dan matanya berbinar menemukan biskuit dan beberapa Snack disana. Tanpa sungkan gadis itu mengambilnya dan memakan dengan santai sambil duduk disofa.
Samuel menghela nafas melihat tingkah gadis aneh bin ajaib itu. Untung saja ada camilan dilaci. Mungkin kemarin malam bibi Sonia yang membawakan.
"Abang mau?" Sebungkus Snack diacungkan kearah Samuel.
"Lo makan aja, gue udah kenyang," jawab Samuel. Gadis itu pun melanjutkan acara ngemil gratisnya.
Setelah itu ia mengambil botol minum yang ada didalam lemari pendingin mini diujung ruangan.
"Makasih banget lho Bang! Nanti kapan-kapan aku traktir Abang makan sepuasnya kalau kita ketemu lagi."
"Gue harap nggak ketemu lagi sama lo."
"Abang bakal nyesel kalau nggak ketemu lagi sama aku. Kita pasti ketemu lagi dilain waktu Abang ganteng." Gadis itu malah mencubit pipi Samuel dengan gemas. Kemudian melangkah keluar dengan riang.
"Makasih banyak ya Bang! Sampai ketemu lagi!" seru gadis itu sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu.
Samuel hanya melongo dengan apa yang dilakukan gadis itu tadi. "Dasar gadis aneh!" Tanpa disadari sebuah senyuman terukir diwajahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Thanks untuk yang tetap stay disini!😊