Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Perhatian


__ADS_3

Malam hari setelah waktu maghrib. Shafa memutuskan untuk keluar membeli makan. Ia pun berjalan kaki menuju tempat yang menjadi tujuannya. Shafa memang suka menikmati suasana malam sambil berjalan kaki.


Ketika dalam perjalanan pulang, ia merasa ada yang sedang mengikutinya. Shafa meningkatkan kewaspadaannya. Saat ada kesempatan, dia mencoba bersembunyi dibalik tembok bangunan rumah setengah jadi.


Dengan hati-hati Shafa mengintip jalanan. Dan benar saja, ada beberapa orang berbaju hitam dan berbadan kekar sedang celingukan mencari targetnya.


Shafa hendak melangkahkan kaki untuk menjauh, tapi sayangnya dia menyenggol alat-alat pekerja bangunan. Sehingga menimbulkan suara gaduh.


Persembunyiannya pun diketahui oleh para pengincar dirinya.


Sekeras mungkin Shafa berusaha lari. Tapi orang-orang itu lebih cekatan darinya. Terpaksa Shafa harus melawan untuk melindungi diri.


"Apa mau kalian?" tanya Shafa dengan kewaspadaan penuh.


"Kita hanya di suruh untuk sedikit bermain-main dengan Nona," ucap salah satu dari mereka.


"Tapi aku tidak suka main-main. Beri aku jalan!" Shafa hendak melangkahkan kaki tapi tangannya di tahan oleh mereka.


Dengan sekuat tenaga Shafa bisa terlepas dari cekalan tangan kekar mereka. Dia memutar tubuh secepat kilat. Hingga tangan lawannya yang terpelintir.


Pertarungan yang sama sekali tak imbang terjadi. Seorang wanita harus melawan lima pria bertubuh kekar. Meski Shafa sudah terlatih untuk melumpuhkan musuh. Tapi untuk saat ini tenaganya sedang lemah.


Shafa harus menggunakan otaknya untuk melawan orang yang lebih kuat darinya. Jika memakai tenaga sudah pasti dia akan kalah.


Dia pun mencoba masuk kedalam bangunan setengah jadi itu. Setidaknya dia akan menemukan sesuatu untuk dijadikan senjata. Alat-alat bangunan pun ia jadikan tameng melindungi diri. Aksi kejar-kejaran dan juga saling sembunyi terjadi disana. Pukulan dan tendangan menjadi nada dalam gelapnya malam. Suara pukulan benda besi terdengar bersahutan. Konsentrasi Shafa agak buyat saat kepalanya mulai pusing terkena pukulan. Kondisi hatinya yang dari kemarin kacau ternyata sungguh mempengaruhi kondisi fisiknya.


Benda tajam pun telah berhasil membuatnya terluka dibagian kaki. Shafa meringis kesakitan. Dia sudah tersungkur ditengah jalanan yang sepi. Karena jalan itu memang perbatasan antara desa menuju kota. Jadi jarang dilewati kendaraan saat malam tiba. Para penduduk takut terkena begal. Hanya ada sebuah bangunan yang belum jadi di sana. Mungkin pemiliknya juga takut untuk melanjutkan pembangunan.


"Sudah menyerah Nona? Kamu akan ikut bersama kami sekarang."


Shafa sudah tak bisa melawan lagi. Darah mengucur dari kakinya yang terluka. Pilihan terakhir adalah dia pasrah. Berharap ada yang menolongnya pun tak mungkin.


Dalam keadaan genting seperti itu tanpa disangka ada dua orang yang datang menghajar musuhnya. Dilihat dari cara mereka berkelahi tentu dua orang itu adalah orang yang sudah terlatih. Hingga tak butuh waktu lama para musuh itu berhasil dikalahkan dan melarikan diri.


"Maaf Nona kami datang terlambat!" ucap orang yang menolong Shafa.


"Kalian datang tepat waktu."


"Mari Nona kita bantu masuk ke mobil! Nona harus ke klinik untuk mengobati luka di kaki Nona ini."


Shafa pun mengangguk. Dua orang itu pun memapah tubuh Shafa untuk masuk ke mobil. Ya, dua orang itu adalah suruhan Steven untuk memastikan keselamatan putrinya.


"Tolong kalian rahasiakan kejadian ini dari daddy!" ucap Shafa saat dalam perjalanan pulang.


"Tapi Non..."


"Aku mohon kali ini saja!"


"Baiklah Non. Tapi izinkan kami mengawasi Nona dengan jarak yang lebih dekat."


"Baiklah!"


Dua pengawal itu mengantar Shafa pulang. Tapi sebelumnya mereka membeli makanan, karena makanan yang dibeli gadis itu sudah hancur.


Suasana rumah sudah sepi. Mungkin semua temannya sudah beristirahat di kamar. Dengan hati-hati Shafa menuju dapur untuk menyantap makanannya.

__ADS_1


Setelahnya, Shafa menyandarkan tubuh di ranjang. Kakinya masih terasa ngilu. Berjalan pun harus tertatih-tatih. Dia harus membuat alasan jika besok ada yang menanyakan kondisinya.


Disisi lain Guntur tengah merasa gelisah. Dia duduk dibangku balkon kamarnya. Rasa tak tenang sejak tadi siang menghantui dirinya. Dengan mengumpulkan keberanian Guntur mengirim pesan pada kontak yang bernama My Ara.


Mr.A: Are you ok?


Shafa memeriksa pesan yang masuk. Ada rasa senang mendapat notif pesan dari Mr.A nya. Pria itu seakan tahu bahwa dirinya sedang tak baik-baik saja. Kemudian dia memotret luka di kakinya dan mengirim pada Mr.A.


Mr.A: What's wrong with you?


My Ara: Just a little accident. Don't worry. I am ok!


Mr.A: Kamu sedang tidak baik-baik saja Ara. Pulanglah!


My Ara: Aku belum bisa Sam. Masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan.


Mr.A: Ok! Jika itu mau mu aku tak berhak memaksa.


My Ara: Oh ya! kemana saja kau selama ini. Tidak pernah menghubungiku. Kau juga cuek saat bertemu denganku di rumah.


Mr.A: Sorry! 😅


Shafa mencebik kesal mendapat balasan seperti itu. Dia pun berpikir, kenapa Samuel berbeda sekali ketika bertemu langsung.


Mr.A: Beristirahatlah Ara! Have a nice dream!


Shafa pun merebahkan tubuhnya yang memang terasa lelah. Suasana hatinya terasa lebih baik sekarang. Dia pun bisa tidur dengan nyenyak. Hanya dengan mendapat perhatian dari orang yang ia anggap Samuel, Shafa bisa kembali mendapat kedamaian jiwanya. Meski pun itu hanya melalui sebuah pesan singkat.


****


Serangan dari orang tak dikenal tadi malam cukup membuat ia was-was. Takut jika orang terdekatnya akan terkena imbas juga.


Shafa duduk dengan santai di kantin. Saat petugas kantin datang ia memesan makanan dan minuman. Tak berselang lama ada Aldi yang datang menghampirinya.


"Rajin amat Neng! Pagi-pagi udah nongkrong di sini!" seru Aldi yang kemudian juga ikut duduk.


Shafa pun menoleh. "Iya nih Al. Lagi ngebut buat ngerampungin skripsi," ucapnya kemudian.


"Kenapa buru-buru banget Fa?"


"Aku ingin pulang ke Jakarta tepat saat seribu harinya Fachri, Al. Mangkanya aku harus segera menyelesaikan skripsiku bulan ini," tutur Shafa.


Aldi pun mengerti keinginan Shafa. Tentu gadis dihadapannya masih menyimpan nama Fachri dihatinya. Meski sudah menikah lagi karena perjodohan.


Pesanan Shafa pun sudah siap. Aldi juga sudah memesan makanan. Keduanya kini menikmati sarapan bersama. Di kantin itu memang hanya ada mereka berdua. Mahasiswa yang lain belum banyak yang datang, karena hari memang masih sangat pagi.


"Kamu sendiri ngapain Al udah datang sepagi ini?" kini Shafa yang bertanya.


"Aku juga mau mengerjakan tugas kuliah yang harus di kumpulkan siang nanti," jawab Aldi.


Mereka berdua pun mulai fokus dengan kegiatan masing-masing. Meski sempat terjadi hal buruk diantara mereka, tapi kini mereka menjalin kembali sebuah hubungan dengan nama persahabatan. Seiring berjalannya waktu, setiap permasalahan membentuk pribadi mereka menjadi lebih dewasa.


"Hai! Boleh ikut gabung nggak nih?" tanya seseorang.


Shafa dan Aldi menoleh. Tenyata Alex yang datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Gabung aja Lex!" seru Aldi.


Tapi Shafa yang tampak canggung. Ia teringat perlakuan Alex beberapa waktu yang lalu.


"Tenang aja Fa! Aku nggak ada niat buat ganggu kamu. Aku hanya ingin berteman dengan kamu. Bolehkan?" tanya Alex dengan suara yang terdengar tulus.


Shafa pun membalas dengan anggukan dan senyum canggung.


"Kamu pernah gangguin Shafa, Lex?" Aldi merasa penasaran dengan pernyataan Alex tadi.


"Memang sempat sih. Tapi sudah tidak lagi. Sekarang aku ingin berteman dengan Shafa," tutur Alex.


"Bagus lah kalau begitu. Shafa gadis yang sulit di taklukkan," bisik Aldi kemudian.


Alex juga ikut berbisik. "Kamu benar. Dia sulit untuk di dekati."


"Tapi sekarang dia sudah ada yang punya," ucap Aldi.


"Serius kamu?" tanya Alex penasaran.


"Seriuslah!" seru Aldi.


"Siapa orangnya?"


"Ada deh!"


Alex pun menabok bahu Aldi kesal. Shafa sendiri memilih fokus pada layar didepannya. Tak memperdulikan obrolan dua pria dihadapannya.


Hingga siang pun Shafa tetap berada disana. Sedangkan Aldi dan Alex sudah pergi mengikuti kelas masing-masing.


Ketika dirinya sampai di parkiran hendak memakai helm, ada suara yang memanggilnya. Shafa seperti kenal suara itu. Benar saja, saat menoleh ada Guntur yang berlari menghampirinya. Shafa pun meletakkan kembali helmnya di motor.


"Ayo aku antar pulang!" ajak Guntur.


"Maaf Guntur! Tapi aku bisa pulang sendiri. Kau tak perlu repot-repot kesini," tolak Shafa dengan halus.


Tanpa disangka Guntur berjongkok dihadapan Shafa dan menaikkan sedikit celana istrinya. Hingga menampakkan perban yang berwarna merah.


"Lihatlah luka di kakimu berdarah lagi karena kau paksa berjalan. Apa lagi kau gunakan mengendarai motor. Lukamu bisa semakin parah Shafa," ucap Guntur khawatir.


"Aku tidak apa-apa Guntur."


Tanpa menunggu lama, Guntur langsung menggendong tubuh gadis yang kini sudah menjadi istrinya. Shafa pun tercengang karena kaget. Ia bisa menatap lekat wajah tampan suaminya. Bahkan aroma tubuh Guntur terasa menenangkan bagi Shafa. Debar jantung suaminya pun terdengar jelas ditelinganya. Seiring dengan debar jantungnya sendiri. Meski pikiran selalu menolak, tapi perasaannya selalu menerima kehadiran Guntur.


Mungkin ada beberapa mahasiswa yang melihat adegan itu. Tapi Guntur tak perduli. Yang ia pedulikan hanya keadaan Shafa.


.


.


.


.


Sampai ketemu lagi di part selanjutnya!

__ADS_1


Thank you....


__ADS_2