
Pukul tiga sore, dua insan yang tadi terlelap sudah bangun. Mereka masih diatas ranjang saling memandang. Namun, Guntur malah tertawa disela momen romantis itu.
"Kenapa sih Mas?" Shafa heran dengan suaminya yang tiba-tiba tertawa.
Bukannya menjawab, Guntur malah meraih ponselnya untuk istrinya mengaca. Ia menyalakan kamera ponsel.
"Tuch kan.... Bengkak mata aku!" seru Shafa setelah melihat bagaimana wajahnya. Matanya bengkak setelah menangis tadi.
Cekrek... Guntur malah memotret istrinya.
"Mas Guntuuurrr.... " teriak Shafa kesal. "Hapus nggak fotonya?" ucapnya sambil berusaha merebut ponsel suaminya.
"Nggak akan, ini foto langka." Guntur tertawa dengan tangan yang mempertahankan ponselnya.
"Jelek itu Mas." Shafa tampak cemberut.
"Masih tetep cantik Shafa Sayang.... Cuci muka sana!"
Shafa pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Berharap matanya akan lebih segar.
Setelah itu mereka Sholat asar bersama. Lalu Shafa keluar kamar dan Guntur berkutat kembali dengan pekerjaannya agar nanti malam bisa beristirahat.
Dibawah, Shafa menuju kebelakang. Mengambil cucian kering. Seperti yang dikatakan ibu mertuanya. Jika Guntur tidak terlalu suka orang lain menyentuh barang pribadinya. Bik Minah pun masuk kamar hanya untuk menyapu.
Saat hendak kembali kekamar, Shafa melihat pintu kamar Samuel terbuka. Lalu ia meletakkan keranjang pakaiannya dan masuk kekamar itu.
"Sedang apa Sam?" tanya Shafa ketika mendapati Samuel dudul didepan meja belajarnya.
Pemuda itu tampak terlonjak kaget. "Maaf aku mengagetkan!" ucap Shafa.
"Tidak apa-apa Fa. Gue cuma meriksa ulang skripsi. Khawatir ada yang salah." Samuel menghentikan aktifitasnya dan menghadap pada Shafa.
"Jangan memaksakan diri! Kamu perlu banyak istirahat saat ini Sam," ucap Shafa lembut.
"Iya, gue ngerti Shafa."
"Ya sudah. Aku keluar dulu!" Shafa pun berbalik melangkah keluar.
"Shafa..." panggil Samuel.
Mendengar panggilan itu, Shafa balik badan. "Terimakasih!" ucap Samuel sambil tersenyum.
"Untuk?" Shafa belum mengerti untuk apa ucapan terimakasih Samuel.
"Karena sudah merawat gue selama ini."
"Jangan berterimakasih! Kamu adalah sahabatku Sam. Sahabat terbaikku selama ini." Setelah saling melempar senyuman, Shafa keluar. Sedangkan Samuel tersenyum getir setelah kepergian Shafa.
"Harusnya hati gue sadar, kita cuma sahabat. Hanya sebatas sahabat tak lebih," gumam Samuel.
Sementara itu diluar hujan mulai mengguyur. Udara sejuk mulai masuk melalui celah jendela. Samuel menatap hujan itu sambil berdiri didepan pintu kaca yang menghubung ke balkon.
__ADS_1
Shafa dan Guntur juga sedang menikmati hujan dikamar mereka. Hujan yang tentunya membuka kenangan masa lalu Shafa. Bagaimana dulu ia menari dibawah hujan bersama Fachri. Tapi sekarang ia tak bisa melakukan hal itu, meski Guntur akan bersedia menemninya. Semua itu karena sejak terkena racun, tubuhnya tak bisa menahan suhu dingin terlalu lama. Dia harus selalu dalam suhu sedang atau hangat.
Sehabis maghrib Shafa turun kebawah, rintik hujan masih tersisa. Dia mendapati pintu depan terbuka. Tampak bik Minah berdiri diteras sambil celingukan.
"Bibik ngapain diluar?"
Bik Minah menoleh. "Eh, Non Shafa. Ini Non saya lagi nungguin tukang bakso. Biasanya jam segini sudah tik tok... tik tok...," ucap Bik Minah menirukan suara ketukan yang dihasilkan dari bambu yang dipukul. Kode baru sang pemilik tukang bakso. Enggak pake mangkok dipukul garbu lagi. Entar mangkoknya pecah, kan sayang. Hihi....
"Emang ada ya Bik? Saya kok nggak pernah denger?" tanya Shafa penasaran juga. Pasalnya selama tinggal dirumah ini ia belum pernah mendengar suara tukang bakso yang seperti itu. Paling tukang sate atau penjual mie ayam keliling. Itu pun jarang ia lihat.
"Ada Non, abangnya memang jarang lewat. Paling dua hari sekali. Non kan juga jarang dirumah pas malam. Baru-baru ini aja kan Non Shafa selalu ada dirumah," ucap bik Minah. Kemudian ia menutup mulutnya. "Maaf ya Non! Mulut saya lancang."
Shafa tersenyum, ia tak tersinggung. Karena memang kenyataanya begitu. "Tidak apa-apa Bik, santai saja kalau sama saya. Oh ya, nanti nitip ya Bik kalau abangnya lewat. Saya ambil uang dulu."
"Saya traktir aja Non. Lagian baksonya murah meriah kok, cuma sepuluh ribu satu porsi," ucap bik Minah ramah. Jarang-jarang kan ada pembantu yang rela nraktir majikannya.
"Ya sudah, kapan-kapan ganti saya yang traktir Bibik."
"Ok lah Non."
Shafa pun kembali masuk kedalam. Ia akan membuatkan Samuel jus sayur sebelum makan malam. Agar pencernaan pemuda itu cepat pulih dan tubuhnya bugar lagi. Shafa juga membuatkan teh herbal untuk Guntur. Dingin-dingin habis hujan pasti enak kalau ada yang anget-anget.
Setelah selesai, ia lebih dulu mengantar minuman untuk suaminya. Baru ia ke kamar Samuel.
"Sam...!" panggil Shafa dibalik pintu.
"Masuk Fa!" Terdengar suara sahutan dari dalam.
Shafa pun masuk, dia melihat Samuel sedang bersandar dikepala ranjang dengan sebuah buku ditangannya.
"Iya, ntar gue minum." Samuel menutup bukunya. Menatap Shafa sejenak, kemudian kembali membuka bukunya.
"Ayo Sam minum!" Shafa sedikit memaksa.
Samuel menghela nafas, kemudian meminum jusnya sambil menutup hidung. Jus itu pun sudah tandas dalam sekejap, Samuel meminumnya dengan cepat.
"Anak pintar!"
Kemudian, Shafa membawa gelas kosong kedapur dan kembali ke kamar menemui suaminya.
"Udah Fa?" Guntur yang menyudahi pekerjaannya bertanya pada sang istri. Tentu maksud dari pertanyaan Guntur tentang jus sayur Samuel.
"Sudah Mas. Dia minum habis jusnya."
Mereka pun sudah duduk berdampingan disofa. Guntur merangkul bahu Shafa dengan tangannya sambil memainkan jari dipipi lembut istrinya.
"Kamu suka banget nyiksa Samuel, dia kan anti sama sayur."
"Sekali-kali harus dipaksa Mas, biar terbiasa."
"Jadi kamu harus di paksa juga ya biar terbiasa!" goda Guntur. Dapat celah dikit, pepet terus. Kali aja umpannya diterima. Udah lama nahan, lama-lama kagak tahan juga.
__ADS_1
"Jangan mulai deh Mas!" Shafa sedikit merengut.
"Udah lama puasa ini Fa. Dicoba ya?" bujuk rayu harus dikeluarkan. Apa salahnya berusaha malam ini. Apa lagi suasana dingin yang begitu mendukung. Mendukung untuk cari anget-anget. Bakso misalnya pake kuah panas dan pedas nampol. Atau mie kuah pake cabe lima biji, mantap jiwa pokoknya.
"Emang beli jeruk dipasar pake dicobain segala!" Shafa masih berusaha mengalihkan pembicaraan sang suami.
"Iya dong Fa. Biar tahu asam manisnya. Kalau kamu pasti manisnya."
"Kalau ternyata asam bagaimana?" Semoga aja nyerah si abang. Shafa masih takut, belum siap kalau ternyata rasanya asam.
"Meski asam, cinta abang tak akan berubah. Kerena rasa asam jadi seger kalau ditambah gula cinta." Si Guntur malah ngegombal nggak jelas.
"Udah ah, yuk sholat! Waktu isya' sudah tiba." Shafa segera masuk kekamar mandi.
Guntur hanya bisa tersenyum jahil. Malam ini harus berhasil. Butuh sedikit paksaan untuk mendapatkan haknya. Demi kesejahteraan bersama pokoknya mah.
Mereka pun melaksanakan sholat berjama'ah dikamar. Meski Guntur terkesan banyak bercanda tapi itu diwaktu tertentu. Saat ini ia menjadi imam untuk bidadari surganya. Melantunkan kalam ilahi dengan sepenuh hati. Membuat hati pendengarnya merasakan kedamaian jiwa.
Guntur memang tak sesempurna Fachri. Tapi bagi Shafa Guntur adalah segalanya. Laki-laki yang kini sangat dicintainya. Perlahan tapi pasti, kenangan Fachri mulai memudar. Berganti dengan kehadiran Guntur yang selalu memberikan warna baru. Laki-laki yang penuh humor dan mengasyikkan.
Kini keduanya telah selesai melaksanakan Sholat. Mereka pun menyempatkan untuk membaca Kalam Ilahi. Setiap ayat yang terlantunkan terdengar menyentuh hati.
Shafa berdiri memandang rintik hujan yang masih belum berhenti. Saat itu ia tak memakai hijab. Rambutnya ia cepol keatas. Tiba-tiba tubuh kokoh Guntur mendekapnya dari belakang. Menyalurkan kehangatan yang terasa nyaman. Shafa sangat menikmati momen seperti ini. Ia pun menggenggam tangan Guntur yang melingkar diperutnya.
Seperti ada dorongan yang begitu kuat menguasai Guntur. Ia menciumi tengguk Shafa dengan lembut. Kemudian membisikkan sebuah do'a. Terus dan terus kecupan demi kecupan telah ia luncurkan. Entah kenapa Shafa juga tak bisa melawan, ia terlanjur terperangkap oleh gelenyar aneh yang menyeruak dalam tubuhnya.
Guntur pun membalikkan tubuh Shafa. Menyatukan daging tak bertulang menjadi satu. Membuai dengan indah dan penuh kelembutan. Menerbangkan dua jiwa jauh keawang-awang. Perlahan pengendali permainan menggiring menuju tempat peraduan. Meski dia juga masih amatir, tapi hal semacam ini bisa dipraktekkan secara otodidak. Cukup sedikit materi dari buku kamasutra. Sudah tentu semua lelaki langsung paham.
Buaian indah masih menyelimuti keduanya. Shafa masih agak tegang dengan situasi seperti ini. "Rileks Shafa, jangan tegang!" Guntur berucap dengan suara paraunya.
Shafa mengangguk, berusaha menyiapkan jiwa raganya. Membiasakan diri dengan permainan Guntur. Dua pemain amatir sedang berjuang untuk menggiring bola kegawang. Hingga akhirnya.....
Tok... Tok....
"Non, ini pesanan baksonya!" suara bik Minah menggagalkan penggiringan.
"Maaf Mas tadi aku nitip bakso sama bik Minah!"
Guntur pun menjauhkan tubuhnya, Shafa merapikan baju dan memakai hijabnya.
"Makasih ya Bik!" Shafa mengambil nampan dari tangan bik Minah.
Jadilah mereka melakukannya....
Menikmati bakso panas berdua dengan memasukkan semua sambal. Acara anget-angetan tetep lanjut. Malah makin membakar tubuh dengan sensasi pedas panas kuah bakso.
.
.
.
__ADS_1
.
Yuk makan bakso yuk!😅😅😅