
Hari itu waktu berjalan lambat bagi Guntur, ia selalu merindukan sang istri. Cintanya sedang pasang seperti ombak di laut. Bergemuruh seperti guntur di tengah hujan. Kebahagiaan selalu menyelimuti hatinya.
Begitu pun dengan Shafa, harinya semakin berwarna. Hidupnya telah dipenuhi kasih sayang dan cinta. Apa lagi ketika pagi itu, saat semua orang sedang pergi. Dia disuguhi tingkah konyol Samuel. Bik Minah dan sang mama mertua sedang pergi belanja. Pak Karim sedang dibelakang memperbaiki pot yang rusak. Samuel yang baru sembuh pun ingin ngayap keluar.
Jadilah Shafa dan Samuel sedang berada didepan. Mereka melakukan kehebohan dipagi hari. Mulai drama joged abang jago, perdebatan Samuel dan tukang ojol. Sampai si Kiki pun juga ikut jadi bagian kehebohan mereka. Hingga akhirnya Samuel mangantar Shafa ke kampus. Setelah itu, Samuel pergi kesebuah pantai. (Part ini ada dilapak bang Sam)
Saat pulang pun, Samuel rela menjemput Shafa. Karena Guntur sedang sibuk hari itu. Shafa sendiri sebenarnya ingin naik angkutan umum tapi sang suami tak memberi izin.
"Thanks ya Sam! Sorry ngrepotin kamu terus!" ucap Shafa saat mereka sudah sampai didepan rumah.
"Santai aja Fa! Apa sih yang enggak buat kamu?" Samuel malah bercanda, suasana hatinya memang sudah lebih baik. Senyum cerah terlihat diwajahnya.
"Udah sembuh nih patah hatinya?" tanya Shafa dengan nada bercanda.
"Sembuhin aja lah Fa! Nggak ada gunanya juga kan gue terus-terusan galau. Mending happy-happy aja, nikmatin hidup yang cuma sebentar ini," ucap Samuel santai.
"Ini baru namanya Samuel. Pejantan tangguh!" seru Shafa sambil tertawa.
Mereka berdua berjalan memasuki rumah. Samuel hanya tersenyum melihat tawa Shafa. Tawa yang diam-diam sangat ia sukai. Apalagi si pemilik tawa. Jiwanya sudah terjerat, hingga dengan mudahnya nama Anin tak lagi mengganggu pikirannya. Tapi justru nama Shafa yang kini bergejolak dalam jiwanya.
Samuel dan Shafa menyalami Sonia yang sedang santai diruang keluarga. Kemudian mereka menuju kamar masing-masing. Canda tawa ringan masih mengiringi langkah keduanya saat menaiki tangga. Bagi Samuel, cukup melihat Shafa dengan tawa riangnya. Tanpa harus memiliki. Ada tembok besar yang tak mungkin ia robohkan.
*****
Malam harinya, Samuel pergi keluar lagi. Tanpa ada yang tau kemana pemuda itu pergi. Dia hanya bilang pada sang bibi kalau sedang ada urusan dengan temannya.
Kini Shafa dan Guntur sudah berada dikamar setelah makan malam. Mereka berdua sedang saling bermanja, Shafa tiduran dipangkuan suaminya.
"Mas, gimana kalau besok kita jenguk kak Robert?" Shafa membuka suara dan memberi usulan.
Guntur tampak berpikir, ia tak begitu setuju menemui orang tak punya hati seperti Robert. "Apa tidak berbahaya Fa? Aku takut dia akan berbuat nekat meski didalam kantor polisi."
"Niat kita kan baik Mas, untuk melihat keadaannya. Jadi ya, husnudzon saja. Walau bagaimanapun dia kan pernah jadi saudaraku dulu." Shafa menatap suaminya dengan senyuman lembut.
Guntur pun tak bosan mengusap kepala Shafa. "Baiklah! Besok kita jenguk dia," ucapnya kemudian.
Shafa tersenyum lagi dan mengucapkan terimakasih. Guntur membungkuk dan mengecup lembut kening Shafa.
__ADS_1
Malam pun dihabiskan dengan bercocok tanam. Menggempur lahan dengan penuh kasih sayang. Menyirami dengan giat agar bumi cinta menjadi subur. Hingga hujan deras disertai guntur yang menggelegar meluluhlantahkan surga dunia. Hanyut dalam mesranya dekapan asmara.
Pagi bersambut dengan terciptanya guyuran air dari dua insan yang tadi malam melakukan ritual cocok tanam. Setelahnya, mereka melakukan kewajiban mereka sebagai seorang hamba. Kemudian memulai aktifitas pagi dengan rasa syukur.
Pagi-pagi Samuel sudah pergi. Lagi-lagi dia pamit sedang ada janji dengan temannya. Tidak seperti biasanya pemuda itu buru-buru pergi.
Menjelang siang, Shafa dan Guntur sudah berada dimana Robert ditahan. Mereka berharap, kedatangan keduanya bisa disambut baik oleh Robert. Tapi nyatanya tidak.
"Untuk apa kalian kesini? Mau menertawakanku atau mengejekku?" tanya Robert masih penuh keangkuhan. Kemudian duduk dikursi yang berhadapan dengan Shafa dan Guntur.
"Kami datang kesini dengan niat baik Kak. Aku hanya ingin melihat keadaan Kak Robert." Shafa masih berucap dengan nada lembut.
"Aku bukan lagi saudaramu Shafa. Jadi, jangan panggil aku kakak." Ternyata Robert tak berubah, dia masih saja memusuhi Shafa.
"Tolong hargai kedatangan kami Tuan Robert!" Guntur menyahuti dengan penuh penekanan disetiap kata-katanya. Ia geram dengan sikap angkuh orang dihadapannya.
"Untuk apa aku menghargai orang yang membuatku berada ditempat ini." Seringaian tipis tampak dari wajah Robert. "Oh ya, bagaimana dengan pernikahan kalian? Sudah mempunyai anak? Tentu saja belum...." Seringaian Robert makin lebar, ia tersenyum mengejek kearah Shafa dan Guntur.
Perkataan Robert tak mempengaruhi pasangan suami istri itu. Toh, mereka baru saja saling menerima. Jadi wajar jika mereka belum mempunyai seorang anak.
"Tentu itu akan menjadi urusanku juga Tuan Guntur. Karena aku lah penyebab Shafa tidak akan pernah mempunyai keturunan."
Ucapan Robert seperti batu besar yang menghantam jiwa Shafa. Apa maksud perkataan Robert? Apa pria itu hanya menggertak saja? Tapi jika benar bagaimana? Seketika Shafa dihantui oleh perkataan yang tadi didengarnya.
"Jangan mencoba menakuti kami!" geram Guntur.
"Haha... Siapa yang menakuti kalian. Aku berkata jujur. Shafa terkena racun yang sebenarnya aku tujukan untuk Gibran. Kalian tahu, racun itu adalah perusak. Meski Shafa selamat dari racunku tapi tidak dengan rahimnya. Sistem reproduksi Shafa tidak akan berfungsi dengan baik dan rahimnya pasti dalam keadaan kering saat ini." Pias kepuasaan tampak terpancar jelas dari wajah Robert. Meski dirinya dipenjara tapi Shafa akan tetap tersiksa seumur hidupnya dengan beban tak memiliki keturunan.
Wajah Shafa memucat seketika. Terngiang keinginan Guntur untuk segera memiliki seorang anak darinya. Tapi harapan itu seakan sirna karena kenyataan yang baru saja ia dengar. Guntur tampak menahan amarahnya. Andai bisa mungkin Guntur ingin menghajar habis orang dihadapannya.
Dalam situasi seperti itu, seorang petugas menghampiri dan berkata bahwa waktu mereka sudah habis.
"Selamat menikmati hidupmu Shafa! Keturunan keluarga Zahra akan berhenti pada dirimu. Tak akan ada lagi. Tak akan pernah ada. Haha...." Kalimat itu dilontarkan Robert sambil berjalan menuju sel tahanannya.
Shafa melangkahkan kakinya dengan gontai, jika saja Guntur tidak menopang tubunnya. Mungkin dia tak sanggup lagi berjalan. Kenyataan pahit yang ia dengar sangat menyesakkan.
"Shafa, tenanglah! Pasti perkataan Robert tidak benar. Dia hanya ingin membuatmu terpuruk," hibur Guntur sambil menuntun Shafa menuju mobil.
__ADS_1
Inginnya, Shafa tak percaya. Tapi keadaan tubuhnya menguatkan pernyataan Robert. Dia baru menyadari jika selama ini jarang mendapat tamu bulanan. Sekalipun datang bulan hanya sekedar flek, dan itu pun hanya sekitar dua bulan sekali. Bahkan pernah hampir tiga bulan. Bukankah itu menandakan jika rahimnya memang tidak subur.
"Kita ke dokter kandungan sekarang Mas. Aku ingin melakukan pemeriksaan," ucap Shafa mantap.
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Mas."
Mereka pun mendatangi dokter spesialis kandungan dan melakukan rangkaian pemeriksaan. Bahkan Guntur juga ikut memeriksakan diri.
Pasangan suami istri itu harap-harap cemas melihat hasilnya. Berharap ketakutan mereka tak akan nyata.
"Seperti apapun hasilnya kita akan saling menguatkan Shafa. Kita hadapi semua bersama. Ok!" Guntur mencoba menghibur istrinya.
Shafa memaksakan senyumnya dan mengangguk. Dia pun sedang berusaha menguatkan diri. Jika kenyataanya memang pahit, itu pun tetap harus ia jalani.
Setelah hampir satu jam menunggu, dokter memanggil mereka. Raut tenang tampak dari dokter wanita paruhbaya itu. Kemudian dokter mempersilahkan duduk dan mulai menjelaskan hasil pemeriksaanya.
*****
Tangis Shafa pecah saat keduanya sudah sampai di kamar. Sejak di rumah sakit, Shafa pura tegar mendengar kenyataan pahit tentang dirinya. Ia memang akan kesulitan untuk hamil. Semua yang dikatakan Robert benar adanya.
"Aku tidak sempurna Maaas...! Aku tidak sempurna!" Kalimat itu keluar disela isak tangis Shafa dalam dekapan suaminya.
Guntur ikut pilu mendengar tangisan Shafa yang begitu menyayat. Perempuan itu tampak benar-benar rapuh. Ia seakan meraung pada takdir yang selalu menyudutkan dirinya pada sebuah kesengasaraan. Baru saja merasakan kebahagiaan tapi kemudian semuanya terenggut begitu saja. Kenapa ia tidak ikut mati saja dalam kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya? Jika akhirnya dia hidup seperti ini. Pikiran bodoh itu sempat menyelinap dipikiran Shafa.
"Aku mohon tenanglah Shafa! Kita akan hadapi ini bersama," hibur Guntur. Tapi tetap saja Shafa menangis histeris dalam dekapannya. Hingga sang mama masuk kedalam kamar mereka yang kebetulan tidak terkunci. Guntur memberi isyarat agar mamanya diam dulu. Shafa butuh waktu untuk melampiaskan kesedihannya.
Tak lama kemudian, Samuel juga sudah pulang. Ia pun melihat bibinya didepan kamar sang kakak. Dirinya terkejut mendengar tangisan Shafa. Pandangannya tertuju pada Shafa yang sedang dipeluk Guntur sambil duduk disofa. Tangisan menyayat itu juga membuat hatinya ikut sakit. Baru kali ini ia melihat Shafa menangis. Padahal dihari-hari sebelumnya, hanya tawa ceria yang ia lihat.
.
.
.
Sampai ketemu lagi di penghujung episode berikutnya!
__ADS_1