Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Terluka


__ADS_3

"Kamu kenapa Vi?" tanya Aira. Silvia datang dengan nafas tersengal-sengal sambil meletakkan barang belanjaannya didapur.


"Itu emak-emak super," jawab Silvia yang kemudian mengambil minum.


"Kamu diapain?" tanya Alza.


Silvia menunjukkan lengannya yang tampak merah bekas cubitan. "Yang ditanyain Shafa malah aku yang jadi korban. Besok-besok aku pensiun jadi tukang belanja." Silvia mengambil posisi duduk dikursi sambil membantu menyiapkan bahan memasak.


"Mereka pindah haluan ngefans sama kamu ya Vi," ucap Shafa. Ia sibuk meracik bumbu.


Pasalnya ibu-ibu warung tadi menanyakan tentang Shafa, tapi entah kenapa mereka jadi gemas melihat Silvia yang memang cantik. Rambut panjangnya dicepol keatas dan poninya menghiasi kening.


"Belanja baru juga sekali ini, udah mau pensiun," cibir Aira.


"Kalau gitu besok Aira aja yang belanja," ucap Silvia.


Mereka pun melanjutkan aktifitas memasak. Setelah memasak Shafa segera bersiap berangkat ke Kampus. Ia melewatkan sarapannya. Dosen pembimbing memintanya datang pagi, karena dosen itu ada keperluan lain setelahnya.


Shafa berangkat menggunakan motornya agar lebih cepat. Alza yang biasanya memakai motor Shafa, nantinya akan berangkat bersama Aira.


Saat diparkiran kampus, Shafa merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Ia seperti merasakan aroma parfum yang familiar di indra penciumannya. Shafa segera melangkahkan kakinya memasuki area Kampus.


Disisi lain seorang pria keluar dari mobil, ia pun merasa ada yang beda hari itu. Mungkin karena ini baru pertama kali ia menginjakkan kaki lagi di kampus. Dengan langkah panjang ia segera memasuki gedung.


Setelah selesai dengan urusannya, Shafa kekantin untuk mengisi perut.


Disana ia mendengar para mahasiswi sedang membicarakan seseorang.


Kalian tau nggak sih? Bang Az udah balik lagi kekampus. Gue seneng banget bisa ngeliat wajah tampannya.


Kalau gue lebih ngefans ama suaranya. Enak banget suaranya. Eh, tapi dia bakalan siaran lagi kan diradio kampus?


Pastinya sih! Dia kan penyiar idola dikampus ini. Jadi nggak sabar pengen denger bang Az on air lagi.


Iya entar gue pengen request lagu bollywood , biar dinyanyiin ama doi.


Suara saling sautan membicarakan orang yang disebut bang Az dikantin pagi itu. Rasa penasaran sempat menghampiri, tapi ia berpikir itu tidak penting. Toh, ia tak kenal siapa yang saat ini jadi perbincangan para mahasiswi.


Shafa membuka laptopnya, lagi-lagi ia mendapati E-mail berisi ungkapan cinta. Ia memilih mengabaikan pesan itu dan langsung mendelete. Sejauh ini banyak kaum adam yang menyukainya, bahkan sejak dirinya awal masuk kampus. Karena itu Shafa selalu membatasi diri dalam bergaul. Hanya Silvia yang menjadi temannya dikampus. Itu pun mereka jarang bertemu jika diarea kampus. Dikarenakan mereka beda fakultas dan jam kuliah yang Shafa ambil lebih padat.


Shafa hendak pulang tapi ada tangan yang menariknya kelorong sepi. Ia dihimpit kedinding dengan kasar. Untung tas ransel yang dipakainya melindungi punggungnya dari benturan keras, begitu juga kepalanya.


"Mau apa kamu Lex?" tanya Shafa gusar. Pria yang menariknya adalah Alex salah satu pria yang menyukai dirinya.


"Kenapa kamu selalu mengabaikan pesanku? kau juga selalu menghindar," ucap Alex menahan amarahnya.


Shafa berusaha melepaskan diri tapi ternyata cengkeraman dikedua tangannya sangat kuat. Alex memang salah satu atlet taekwondo dikampus. Tidak heran jika Shafa sulit melepaskan diri.


"Aku hanya tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun saat ini," ucap Shafa dengan membalas tatapan tajam Alex.


"Apa kurangnya aku dimatamu Shafa? Kau pasti sebenarnya juga menyukaiku. Jangan munafik Shafa!" Alex semakin mendekatkan wajahnya pada Shafa dengan seringaian mengancam.


Tak tahan dengan perlakuan Alex, Shafa mengeluarkan semua tenaganya untuk melawan pria dihadapannya. Dengan gerakan cepat, tangan Shafa beralih memegang tangan Alex. Lalu dipelintirnya tangan Alex kebelakang, menguncinya dengan kuat. Sebuah tendangan Shafa berikan pada bagian belakang kaki pria dihadapannya.


Alhasil, saat ini Alex berada dalam kuncian Shafa dengan posisi berlutut didepannya. Alex meringis kesakitan, tak menyangka jika Shafa bisa berbalik menyerangnya. Untung keadaan lorong masih sepi jadi tak ada yang melihat kejadian itu.


"Jaga ucapanmu Alex! Jangan mencoba macam-macam denganku! Jangan kau pikir aku takut padamu," ucap Shafa penuh penekanan. Lalu dihempaskannya tubuh Alex kedepan. Kemudian ia berlalu pergi.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka siapa pun tak akan bisa memilikimu Shafa!" teriak Alex.


Shafa tak menggubris ancaman Alex. Ia fokus melangkahkan kakinya keluar dari kampus.


Motor Shafa melaju kencang menuju Cafe milik sahabatnya. Disana ia disambut dengan sapaan ramah oleh para karyawan. Dia sendiri langsung masuk keruangan Alam tanpa permisi.


"Aku numpang ngerjain skripsi disini Kak." Shafa mengambil posisi duduk disofa sambil mengeluarkan laptop dari tas ranselnya.


"Lah bocah... main nyelonong aja. Kenapa sih Fa?" Alam memperhatikan wajah Shafa yang datar. Tidak ceria seperti biasanya.


Sedetik kemudian terdengar suara musik dari ponsel Shafa. Lagu favorit Shafa berjudul Soledad yang dinyanyikan westlife.

__ADS_1


"Nggak apa-apa." Shafa sudah fokus mengetik. Disampingnya sudah banyak tumpukan buku yang dikeluarkannya dari dalam tas.


"Kenapa ngerjainnya nggak dikampus aja atau dirumah gitu?" tanya Alam lagi.


"Nggak" jawab Shafa cepat.


Sepertinya mode galak lagi on nich! gumam hati Alam.


"Mau minum nggak Neng?" tanya Alam lebih hati-hati dalam berucap.


"Kalau mau ngasih, nggak usah pake' nawarin dulu." Suara Shafa masih terdengar ketus.


Alam menghubungi pelayannya untuk mengantar minuman. Dia memperhatikan Shafa yang serius mengetik. "Lagi datang bulan Neng? Pedes amat nada ngomongnya. Mentang-mentang harga bawang putih lagi murah."


Apa hubungannya pedes ama bawang putih? Yang pedes kan cabe.


"Nggak" jawab Shafa singkat, padat dan jelas.


Pelayan mengetuk pintu dan masuk membawa minuman untuk Shafa.


"Musiknya ganti ya Neng! Baper amat liriknya," usul Alam setelah pelayan keluar.


"Makanya jadi orang jangan baperan!"


"Kamu kenapa sih Fa? Dari tadi aku dijutekin mulu." Alam masih duduk dikursinya. Shafa diam, tak menanggapi.


"Ya Allah! Fachri... suruh Shafa nikah lagi aja. Biar juteknya ilang," ucap Alam sambil mendongakkan kepala keatas.


Sebuah bantal sofa melayang kearah Alam. "Kak Alam tuch seharusnya yang nikah. Biar nggak baperan. Umur udah kepala tiga masih jomblo aja."


"Baru dua delapan Shafa. Kalau sudah mapan dan sukses baru nikah."


"Terserah Kak Alam dech. Jangan gangguin aku lagi."


"Kamu mau nggak nikah ama Abang? Biar pun Eneng udah second Abang rela kok Neng," ucap Alam menggoda.


Sontak saja tatapan tajam diberikan Shafa. Membuat Alam langsung kicep, tak berani bersuara lagi.


Tak terasa siang sudah berlalu. Shafa bergegas ke Cafe tempatnya bekerja. Sebelumnya ia sudah berpamitan dengan Alam.


Shafa hanya mengulas senyum saat teman-temannya menyapa. Hari itu dirinya lebih banyak diam saat bekerja.


****


Suasana gelap sudah mendominasi malam. Gibran sudah pulang lebih awal. Begitu juga sang manajer. Mereka ada urusan masing-masing. Cafe sudah tutup tepat jam sebelas malam. Semua karyawan beres-beres. Satu persatu karyawan meninggalkan Cafe. Tinggal Shafa, Ririn dan Arif. Mereka bertiga masih diloker membereskan barang. Sesekali Ririn dan Arif melontarkan candaan.


Tiba-tiba terdengar kegaduhan didepan. Ketiganya langsung menuju sumber suara. Tampak beberapa orang bertopeng mengobrak abrik Cafe. Pintu kaca sudah pecah. Kursi dan meja berserakan. Pecahan kaca tampak dimana-mana.


Shafa mendekati mereka dengan penuh keberanian. "Hentikan!!!" teriaknya. "Mau apa kalian?" tanya Shafa santai.


"Kami mau tempat ini hancur," ucap salah satu dari mereka.


"Tidak ada yang boleh menghancurkan tempat ini," ucap Shafa.


"Mau melawan kami Nona," seringai para pengacau.


Shafa sudah bersiap saat mereka hendak menyerang. Ia menggunakan trik yang pernah diajarkan Fachri.


Saat musuh kita lebih kuat, usahakan pukulan kita mengenai area sensitif tubuh. Kalian bisa pukul bagian belakang kepala, leher, atau tulang rusuk. Tapi ingat jangan sampai membunuh mereka. Cukup lumpuhkan saja. Dalam bertarung kalian harus tetap tenang jangan sampai emosi menguasai diri kita. Karena emosi akan membuat tenaga kita terkuras.


Begitulah yang terngiang dibenak Shafa. Ia ingat nasihat Fachri saat berlatih bersama Randi.


Saat mereka mulai menyerang, Shafa menggunakan meja sebagai tumpuan untuk mengayunkan tubuhnya agar kaki jenjangnya mengenai wajah para musuh. Dalam sekali ayun beberapa orang terkapar. Sisanya segera menyerang, dengan cekatan Shafa masih bisa menghindari pukulan mareka. Membalas dengan pukulan yang dua kali lipat lebih menyakitkan. Shafa berusaha setenang mungkin melawan mereka.


Ririn dan Arif malah saling berpegangan bersembunyi dibawah meja yang paling ujung. Ketakutan mendera mereka berdua.


"Aduh gimana ini Rif? Shafa malah mendekati mereka."


"Aku tidak tau Rin. Aku juga nggak bisa berkelahi. Kalau maksa ngelawan bisa mati konyol aku."

__ADS_1


Arif memberanikan diri mengintip, dilihatnya Shafa yang bertarung dengan para pengacau itu.


"Busyet Rin, Shafa bisa melawan mereka," ucap Arif terkejut. Ririn juga ikut mengintip karena penasaran.


"Shafa bisa bela diri ternyata. Diam-diam menyeramkan Si Shafa," ujar Ririn kagum melihat kelincahan temannya yang terkenal pendiam.


"Kamu hubungi bos Gibran, aku akan membantu Shafa sebisaku."


Ririn pun diam-diam merangkak kebelakang menghubungi bos mereka.


Arif diam-diam mendekati para penjahat yang mengeroyok Shafa. Menggunakan kursi untuk memukul. Penjahat yang tadi terkapar satu persatu kembali bangkit. Ada yang hendak memukul Arif dari belakang. Shafa langsung memegang pundak Arif sebagai sedang kakinya melayangkan pukulan. Dalam keadaan seperti itu Arif bisa melihat dengab jelas wajah cantik Shafa yang hanya bisa dilihatnya dari kejauhan selama ini.


"Liatin apa kamu? Jangan melamun kalau masih mau hidup!" tegas Shafa melihat Arif malah terpaku. Sedang dirinya masih berusaha menghalau para lawannya. Arif tersadar dan kembali berusaha melawan.


Namun bukannya melawan, Arif malah seperti bermain kejar-kejaran dengan para penjahat itu. Maklum dirinya memang tak bisa ilmu beladiri. Dia hanya bisa membantu mengulur waktu sampai bantuan datang. Shafa lah yang lebih banyak melawan.


Semua penjahat sudah terkapar tak bisa bangkit, namun tanpa disangka datang lagi penjahat sebanyak tujuh orang yang badannya berukuran lebih besar dari sepuluh penjahat yang dikalahkan Shafa. Sepertinya mereka memanggil teman-temannya karena kalah.


"Waduh Fa! Bisa bonyok kita," ucap Arif ketakutan.


"Berjanji padaku kamu tidak akan menceritakan apa yang kamu tau tentangku hari ini pada siapa pun. Sekarang kamu tenang, jangan panik! Aku akan mengatasi mereka." Shafa meyakinkan dirinya sendiri. Arif hanya menjawab "iya" untuk permintaan Shafa.


"Kita lari aja Fa. Cari selamat." Arif dan Shafa saling membelakangi. Mereka sudah dikepung.


"Kalau kita lari, Cafe ini akan hancur. Nasib para karyawan jadi taruhannya dan bos Gibran bangkrut. Kamu mau jadi pengangguran?" tanya Shafa tanpa mengurangi kewaspadaannya.


"Ya nggak juga Fa."


Baru saja Arif selesai bicara, para penjahat itu sudah menyerang.


"Bungkukkan badan Rif," teriak Shafa. Reflek Arif membungkuk. Shafa menggunakan tubuh Arif sebagai tumpuan.


Tendangan demi tendangan lolos dari kaki jenjang Shafa. Ia memanfaatkan tubuh Arif sebagai pegangan agar bisa melayangkan tendangan dengan sempurna. Tak lupa juga Shafa membidikkan tendangan ketulang rusuk atau pun perut. Shafa memukul dengan penuh perhitungan. Ia melihat ada sumpit dilantai. Dengan cepat Shafa mengambilnya sebagai senjata melukai lawan. Dengan menusukkan sumpit keleher mereka. Hal itu pasti menyakitkan.


Satu... dua... tiga... empat...


Mereka sudah terkulai lemas dilantai. Shafa kembali menguasai keadaan. Kemudian Gibran juga sudah datang. Ia ikut membantu.


"Hebat juga kamu Nona, tapi aku belum kalah. Dia akan mati ditanganku," seringai orang yang kemudian berhasil melayangkan tendangan pada Shafa. Membuat gadis itu tersungkur kelantai.


Tapi kali ini pandangan penjahat itu kearah Gibran. Saat itu Gibran sedang membantu Arif bangkit, lalu membantu mendudukkan Arif dikursi yang tersisa dipojok. Karena tadi Arif juga terkena pukulan.


Tanpa Shafa duga penjahat itu melemparkan sebilah pisau tajam kearah Gibran. Shafa reflek berdiri, rasa sakitnya mendadak hilang. Dalam pikirannya saat ini adalah keselamatan pria yang diseberang. Ia berlari secepat mungkin sebelum pisau itu sampai tujuan.


"GIBRAAAANNN...!" teriak Shafa.


Beberapa detik kemudian tubuh Shafa sudah berada didepan Gibran. Pisau melesat mengenai lengannya. Sesaat ia tak merasakan sakit tapi pandangannya semakin kabur. Rasa sakit dengan cepat menjalar keseluruh tubuhnya. Shafa tumbang dalam dekapan Gibran.


Hanya samar-samar terdengar suara Gibran yang memanggil namanya. Begitu juga suara Ririn terdengar meneriakkan namanya.


Sedangkan para penjahat tadi segera kabur. Polisi yang dipanggil Gibran terlambat datang.


Gibran mencabut pisau dilengan Shafa, melemparnya kesembarang arah. Darah mulai mengucur. Ia meminta syal yang dipakai Ririn untuk membebat lengan Shafa. Lalu membawa Shafa kerumah sakit. Diikuti oleh Arif dan Ririn.


"Bertahanlah Shafa! Kamu pasti kuat," ucap Ririn sambil terisak memangku kepala Shafa.


Gibran menyetir mobil didepan. Arif berada disampingnya dengan wajah kacau juga.


"Tubuh Shafa membiru Bos. Apa yang terjadi dengannya?" ucap Ririn lagi.


Ada hal janggal dibenak Gibran. Mengapa Shafa bisa pingsan terkena pisau tadi? Padahal pisau itu berukuran kecil. Ditambah lagi tubuh Shafa mulai membiru. Pikiran Gibran mulai kacau. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada gadis itu?


.


.


.


.

__ADS_1


Thanks untuk partisipasi kalian readers!


__ADS_2