
Sekitar pukul 8 pagi, Shafa sampai di rumah suaminya. Dia minta diantar oleh bodyguardnya agar cepat sampai. Di perjalanan tadi dia juga sudah menghubungi Randi agar datang ke sana.
Sesampainya di rumah Guntur, Shafa membuka gerbang. Ada seorang pria paruh baya yang menghampirinya membantu mendorong pintu gerbang.
"Selamat pagi Non!" sapa pria itu ramah.
"Pagi! Bapak siapa?"
"Saya tukang kebun di sini Non. Baru kemarin kembali dari kampung," jawabnya dengan nada sopan.
Shafa pun segera pamit untuk kedalam. Sesampainya didepan pintu, ia memencet bel dan disambut oleh bik Minah. Pembantu paruh baya itu memberi tahu bahwa nyonya Sonia ada di ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum!" ucap Shafa sambil berjalan kearah mama mertuanya.
Sonia terlihat sumringah melihat kedatangan menantunya. "Wa'alaikumsalam." Pelukan hangat ia berikan pada Shafa. "Mama kangen banget sama kamu. Udah lama nggak ketemu," ucapnya setelah melepas pelukan.
"Mama kan kemarin pergi sama papa."
"Iya. Biasa papanya Guntur selalu minta di temani saat keluar kota." Sonia menuntun Shafa untuk ikut duduk di sofa. " Oh ya, kata bik Minah kemarin kamu menginap disini beberapa hari ya?" tanyanya kemudian.
"Iya Ma."
"Mama seneng banget dengernya. Itu artinya hubungan kamu sama Guntur sudah ada kemajuan. Mama berharap kalian bisa membina rumah tangga yang harmonis," ucap Sonia lembut.
"Kita akan berusaha Ma." Senyum tulus terukir diwajah Shafa. Meski agak sulit tapi ia sudah bisa menempatkan Guntur di ruang hatinya. Karena laki-laki itu adalah suaminya sekarang.
Sonia menggenggam erat tangan Shafa. "Mama yakin kamu adalah yang terbaik untuk Guntur."
Setelah itu mereka berbincang-bincang ringan. Shafa juga menanyakan perihal pria yang mengaku sebagai tukang kebun. Sonia memberi tahu bahwa tukang kebun itu bernama pak Karim. Sebulan yang lalu dia minta cuti karena istrinya di kampung sedang sakit.
Kemudian Sonia pamit untuk kedapur mengecek pekerjaan bik Minah. Meskipun dia istri pengusaha. Tapi Sonia tetap turun tangan dalam hal mengurus rumah. Karena itu ia hanya mempunyai satu pembantu saja dan juga tukang kebun yang merangkap menjadi penjaga gerbang saat ada tamu. Rumah mereka juga sederhana, tidak terlalu mewah. Namun cukup asri dan nyaman untuk di tempati.
"Itu pakaian siapa Ma?" tanya Shafa ketika melihat mama mertuanya membawa keranjang pakaian hendak menaiki tangga.
Sonia menghentikan langkahnya. "Oh, ini pakaian Guntur. Mama mau menaruh dikamarnya."
"Biar aku aja Ma." Shafa mengambil alih keranjang yang di bawa mama mertuanya.
"Ya udah kamu bawa. Mama akan bantu menatanya di lemari."
Mereka berdua pun naik keatas berdua menuju kamar Guntur. Sungguh hubungan menantu dan mertua yang terjalin dengan baik. Maklum saja jika Sonia sangat menyayangi Shafa. Disamping Shafa adalah gadis yang baik, dia juga tak memiliki seorang putri.
"Apa Mama sendiri yang selalu menata baju-baju mas Guntur?" tanya Shafa sambil menata satu persatu baju yang masih di keranjang.
"Iya kalau Mama sedang tidak sibuk. Guntur tidak mau orang lain terlalu tau privasinya. Kamar pun hanya boleh disapu dan di pel oleh bik Minah. Guntur suka melakukan semuanya sendiri," tutur Sonia yang merapikan pakaian putranya.
Saat semua pakaian sudah tertata rapi tinggal beberapa sapu tangan. Shafa merasa pernah melihat sapu tangan yang sama seperti itu. Dia pun mengambil satu dan membuka lipatan. Ada inisial yang masih tersimpan di memorinya.
"Itu sapu tangan kesayangan Guntur. Mama sendiri yang membuatkannya," ucap Sonia yang bisa menangkap apa yang ingin di ketahui Shafa.
Untuk sesaat Shafa tertegun. Ia teringat dengan seseorang yang pernah memberinya sapu tangan yang sama. Hingga tangan Sonia yang mengambil alih sapu tangan itu dan menatanya di lemari.
Kemudian mereka berdua turun untuk memasak makan siang.
"Shafa, nanti kamu antar makan siang ya ke kantor Guntur. Dia pasti senang kamu datang kesana. Waktu Mama pulang kemarin, seperti ada sesuatu yang membuat hatinya sedih," tutur Sonia sambil menata makanan dalam tupperware.
Shafa pun tak bisa menolak. Ia tahu bahwa mungkin dirinya yang membuat Guntur sedih. Ada keterikatan yang tak disadari perlahan terjalin diantara mereka. Namun cinta Shafa pada Fachri masih menjadi tirai penghalang untuk menyadari hal itu.
"Oh ya, nanti jangan lupa kamu beli milkshake coklat yang penjualnya ada di jalanan menuju kantor. Guntur suka sekali minuman itu. Dia terkadang masih seperti anak kecil," ucap Sonia sambil terkekeh.
"Iya Ma. Nanti Shafa akan beli."
__ADS_1
Setelah semua siap. Shafa pun berangkat ke kantor Guntur dengan diantar kedua bodyguardnya.
******
"Ini Bos data yang anda minta." Seorang pria berbadan tegap menyerahkan amplop coklat pada bosnya.
Pria yang duduk di kursi kerjanya itu membuka amplop yang diserahkan oleh anak buahnya.
"Shafa Fikriyatuz Zahra, akhirnya aku bisa menemukanmu," gumam pria itu yang membaca profil seorang gadis. Kemudian dia melihat satu persatu foto gadis itu. "Bukankah dia gadis yang aku temui tadi pagi?" ucapnya terkejut.
"Benar Bos. Dia menginap ditempat yang sama dengan Bos Barra," jawab anak buah Barra.
"Hahaha.... Takdir benar-benar sedang memihak pada kita," seringai Barra senang. Ternyata ia berada dekat dengan gadis yang ia cari. Tentunya itu akan mempermudah misinya.
"Apa kita akan langsung bertindak sesuai rencana Bos?"
"Tidak perlu. Biar aku sendiri yang akan mendekati gadis itu. Baru kita jalankan rencana awal."
Anak buah Barra undur diri setelah mendapat kode agar dia keluar.
****
Shafa sudah sampai di kantor Guntur. Seorang resepsionis menyuruh Shafa duduk di sofa yang ada di loby. Dia bilang Guntur akan turun sebentar lagi.
Dan benar saja, 15 menit kemudian tampak Guntur setengah berlari menghampiri istrinya.
"Maaf membuat kamu menunggu lama!" ucap Guntur dengan nafas sedikit memburu. Tadi dia sedang rapat saat sekretarisnya memberi tahu ada perempuan bernama Shafa mencarinya. Guntur pun mempercepat jalannya rapat dan segera turun kebawah. Ia sangat bahagia Shafa datang mencari dirinya.
"Aku baru sebentar disini." Kemudian Shafa memperhatikan wajah didepannya yang berkeringat. "Kamu habis marathon ya, sampai keringetan begitu," ucapnya lagi.
"Oh ini." Guntur mengusap keningnya dengan jari dan tampak air keringat di jarinya. Ia pun mengambil sapu tangan dari saku jasnya. "Hanya sedikit banjir di landasan ikan terbang," ucapnya dengan terkekeh sambil mengusap keringatnya di kening.
"Hah!" Shafa tercengang sesaat mendengar ucapan suaminya yang melenceng dari bahasa baku. "Emang selebar itu ya?" candanya kemudian.
Sekali lagi Shafa tampak kaget mendengar ucapan Guntur. Sejak kapan suaminya berubah seperti ini. Seingatnya kemarin terakhir ketemu dia cuek bebek.
Dua perempuan di meja resepsionis juga tampak terheran mendengar interaksi bosnya dengan wanita yang tak mereka kenal.
"Udah yuk kita makan diluar!" ajak Guntur sambil menatap paper bag yang berisi tempat makan yang Shafa letakkan di meja. Tadi mamanya juga sempat mengirim pesan kalau Shafa akan ke kantor mengantar makan siang.
"Kan aku udah bawa makan siang buat kamu," ucap Shafa.
"Iya maksudnya, kita makan makanan ini di luar saja."
"Nggak di kantor aja?"
"Kita cari tempat yang nyaman di luar." Guntur langsung menggenggam tangan Shafa. Sedangkan satu tangannya lagi meraih paper bag.
Shafa tak sempat menolak ajakan Guntur. Ia langsung dibawa keparkiran.
Tak lama kemudian, mobil sudah terparkir. Tenyata Guntur mengajak Shafa kesebuah taman kota. Taman itu tampak sepi karena memang hari kerja. Apalagi saat siang bolong seperti ini. Hanya ada beberapa anak muda dan pedagang kaki lima di sekitar taman.
"Ayo kita makan!" ajak Guntur sambil membuka tutup tempat makan.
"Mas Guntur saja yang makan. Nanti aku bisa makan di rumah," tolak Shafa halus.
"Kamu manggil aku apa tadi?" tanya Guntur penasaran. Karena ia mendengar panggilan yang tak biasa.
"Salah ya kalau aku panggil kamu "Mas"?" ucap Shafa hati-hati.
Guntur mengusap kepala Shafa yang berbalut hijab. " Tidak salah Fa. Aku hanya tidak mau kamu merasa terbebani dengan status hubungan kita sekarang. Aku sudah senang kamu mau memulai hubungan ini dengan nama persahabatan. Cukup panggil nama saja tidak apa-apa. Yang penting kamu nyaman."
__ADS_1
"Walau bagaimanapun kamu adalah suamiku. Karena itu aku tidak ingin melewati batasanku. Aku akan terbiasa memanggilmu dengan panggilan "Mas". Tapi maaf aku belum bisa memberikan hakmu atas diriku," ucap Shafa dengan nada yang terbesit rasa bersalah.
"Tenang saja Fa. Jangan terlalu memikirkan hal itu! Cukup berikan aku kesempatan untuk menjadi teman hidup kamu. Kita ikuti saja alurnya. Kita nikmati setiap prosesnya dan kita ciptakan hubungan senyaman mungkin," ujar Guntur dengan lembut.
Shafa pun menganggukkan kepala. Lalu, tiba-tiba Guntur menyuapkan makanan padanya. Reflek Shafa membuka mulutnya.
"Anak manis!" seru Guntur. Kemudian ia menyuapkan makanan kemulutnya sendiri. Lalu menyuapkan lagi pada Shafa. Begitu seterusnya, mereka makan berdua dengan satu sendok. Protes Shafa tak di hiraukan Guntur. Dia terus menyuapi wanita dihadapannya.
Dalam situasi yang tercipta seperti itu, Shafa merasa ada yang aneh dengan dirinya. Perasaannya mulai tak bisa dikendalikan. Ia juga seperti tak asing dengan sesuatu yang ia rasakan saat ini. Sebuah perasaan nyaman dan damai. Ia sempat merasakan hal itu sebelumnya. Tapi dimana dan kapan ia tak ingat.
Tanpa disengaja, tiba-tiba Shafa tersedak. Guntur langsung memberikan milkshake yang tadi di beli untuknya.
Setelah agak baikan, Shafa berdiri hendak melangkah.
"Mau kemana Fa?"
"Mau beli minum buat kamu. Kan minumannya aku minum tadi."
"Udah sini duduk lagi. Kan masih ada sisanya. Aku minum ini saja," ucap Guntur yang kemudian menarik tangan Shafa agar kembali duduk.
"Tapi kan itu bekasku Mas."
"Tidak apa-apa, kan bekas istriku sendiri. Tambah manis malah rasanya," ucap Guntur sambil meminum sisa minuman yang ada.
Shafa hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah suaminya sekarang. Ternyata benar kata mama Sonia. Sifat Guntur sebenarnya sebelas dua belas dengan sifat Samuel. Maklum saja, mereka memang saudara.
Tanpa keduanya sadari, langit yang tadinya cerah mulai menggelap. Para awan sudah siap mengguyur bumi.
"Mas Guntur suka minuman yang berbau coklat?" tanya Shafa penasaran.
"Kenapa? Aneh ya, cowok suka sama coklat."
"Ya biasanya kan cowok itu tidak lepas dari minuman berbau kopi." Shafa memperhatikan wajah suaminya yang sekarang menunjukkan karakter aslinya.
"Aku tidak begitu suka kopi. Kadang-kadang aja sih minum kopi kalau lagi ketemu klien. Kamu tau nggak Fa kenapa aku tidak suka sama kopi?"
"Kenapa memang?"
"Karena kalau habis minum kopi jantungku suka berdebar tidak karuan. Seperti perasaanku saat ini yang lagi berdebar-debar ketika ada bidadari cantik mendampingiku," ucap Guntur dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Nggak lucu tau mas. Jangan gombal terus! Kamu kalau gini kayak Samuel tau nggak."
Guntur mulai gugup ketika Shafa menyebut dirinya seperti Samuel. Takut jika penyamarannya akan terbongkar. Untung saja hujan langsung mengguyur. Shafa langsung merapikan tempat makan. Mereka berdua pun segera menuju mobil.
"Kamu kedinginan?" tanya Guntur.
Shafa mengangguk pelan. Padahal baru sedikit terkena air hujan dan bajunya pun sangat tertutup. Semenjak terkena racun beberapa bulan yang lalu. Dirinya tidak tahan dengan udara dingin. Dulu saja ia tahan bermain air hujan.
Guntur segera mengambil jasnya yang ada di kursi belakang dan menyelimutkan ke tubuh Shafa.
Mobil pun melaju perlahan membelah jalanan yang terguyur hujan deras. Guntur menatap sekilas Shafa yang menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.
Gadis itu sendiri sedang berkelut dengan pikirannya yang kembali teringat Fachri. Ternyata hujan siang itu membuka lagi memori lama tentang laki-laki yang sangat di cintainya. Mereka berdua sering bermain hujan bersama. Tertawa riang tanpa beban di bawah dinginnya guyuran air hujan.
Untuk beberapa saat lamanya, Shafa terbuai dalam mimpi bersama kenangan Fachri.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya Shafa sama Guntur baru bisa muncul lagi!
Semoga menghibur....