
Sonia segera menuju kamar Samuel. Hatinya tak tenang sebelum tahu keadaan keponakannya itu. Meskipun dia anak dari adiknya, Adam. Tapi Samuel sama halnya dengan Guntur. Sudah menjadi putra kedua bagi Sonia.
"Sam, ayo bangun ini sudah siang!" seru Sonia saat memasuki kamar Samuel. Pemuda itu masih bergelung didalam selimut.
Sonia duduk ditepi ranjang. Diguncangnya pelan tubuh Samuel. Dia hanya menggeliat pelan. Sonia agak terkejut melihat wajah Samuel yang tampak pucat. Apa lagi saat pemuda itu membuka mata, masih ada sisa bengkak disana.
"Kamu sakit Sam?" Sonia menyentuh kening Samuel. Benar saja, badannya panas sekali.
"Aku nggak apa-apa Bi," ucap Samuel pelan.
"Nggak apa-apa gimana? Badan kamu panas seperti ini," ucap Sonia khawatir.
Samuel menyandarkan tubuhnya disisi ranjang. "Beneran Bi, aku nggak apa-apa. Istirahat sebentar juga turun panasnya."
Sonia segera beranjak sambil berteriak memanggil menantunya. Shafa yang terpanggil segera keluar kamar.
"Ada apa Ma?"
Sonia sudah ada didepan kamar. "Tolong kamu kompres si Sam! Badannya panas. Mama mau buat bubur dulu."
Shafa pun mengiyakan intruksi mertuanya. Sambil berjalan kebawah, ia berpikir ternyata Samuel bisa sakit juga.
Shafa segera menyiapkan air hangat dan handuk kompres lalu membawanya keatas.
"Bisa sakit juga kamu Sam?" tanya Shafa sambil meletakkan baskom diatas meja nakas disamping tempat tidur Samuel. Lalu ia mengeluarkan termometer dari sakunya. Tadi ia sempat mengambil benda itu dari kotak obat.
Sedangkan Samuel hanya diam dalam posisi berbaringnya. Ia hanya melirik pergerakan Shafa.
"Sini, periksa dulu panasnya!" Termometer sudah masuk mulut Samuel. "Panas banget badan kamu Sam," ucapnya lagi setelah menyentuh kening pemuda itu.
"Panas kamu tinggi lho Sam. Kerumah sakit aja ya!" Shafa juga khawatir dengan keadaan sahabatnya. Termometer menunjukkan angka 39. Apa lagi Samuel hanya diam saja.
"Nggak. Nanti juga sembuh," lirih Samuel.
Shafa segera mengompres kening sahabatnya. Diperhatikannya Samuel yang pandangannya menerawang keatas. Seperti orang yang sedang banyak beban.
"Nih anak lagi ada masalah kayaknya. Ntar aja tanya kalau udah sembuh," gumam Shafa dalam hati.
Sudah berkali-kali Shafa mengulangi kompresannya. Sonia juga sudah datang dengan bubur dan air minum serta obat penurun panas. Shafa pun undur diri membawa baskom bekas kompresan Samuel kebawah.
Sonia menyuapi Samuel bubur dengan telaten. Hatinya ikut sedih melihat keadaan Samuel. Biasanya pemuda itu selalu ceria. Terlihat seperti tak pernah ada masalah. Selama hampir empat tahun tinggal bersama, baru kali ini Samuel sakit.
"Kamu sebenarnya kenapa Sam? Cerita sama Bibi, pasti ada masalah yang kamu sembunyikan. Cerita sama Bibi!" desak Sonia.
Samuel menunduk untuk beberapa saat, tiba-tiba ia langsung memeluk bibinya sambil menangis.
"Hati Sam sakit Bi. Rasanya sesak sampai Sam hampir tak bisa bernafas," ucap Samuel disela isakan tangisnya. Sonia terkejut dengan pengakuan Samuel. Sepertinya masalah yang dihadapinya sangat berat sampai Samuel drop.
Sementara diluar, Shafa yang lewat tanpa sengaja mendengar suara isakan Samuel. Ia pun penasaran dan mengintip dari balik pintu.
"Cinta pertama Sam kandas Bi. Kita tak bisa lagi bersama. Kenapa takdir begitu kejam pada Sam Bi? Apa salah Sam? Padahal selama ini Samuel selalu setia. Sam rela menunggunya selama bertahun-tahun." Samuel menghentikan ucapannya sejenak. Kini Sonia mengerti bahwa Samuel sedang patah hati.
"Kenapa sesakit ini Bi rasanya? Sam nggak kuat Bi, Sam nggak kuat...!!!" ucap Samuel histeris.
Shafa menutup mulutnya yang juga ikut menangis. Tak pernah ia duga jika Anin tega meninggalkan Samuel. Samuel memang pernah bilang jika Anin selalu menguji cintanya. Shafa kira mereka akan baik-baik saja.
Sonia meregangkan pelukan mereka. Lalu memegang kuat bahu Sàmuel. "Kamu harus kuat Sam! Jangan lemah hanya karena cinta yang hilang! Kamu laki-laki Sam. Masa depan kamu masih panjang. Suatu saat nanti pasti kamu akan menemukan cinta sejatimu Sam," ucap Sonia dengan nada tinggi supaya Samuel sadar.
"Sam nggak mau jatuh cinta lagi Bi. Sam nggak mau." Digeleng-gelenģkan kepalanya kuat. "Sam nggak mau jatuh cinta lagi Bi. Rasanýa terlalu sakit," lanjutnya.
Sonia kembali memeluk Samuel. "Jangan bicara seperti itu Sam! Kamu harus bertahan."
Mereka pun terdiam, hanyà isak tangis Samuel yang masih sedikit terdengar. Sonia menyuruh Samuel agar tidur dipangkuannya. Seperti seorang ibu yang menguatkan anaknya.
Shafa pun kembali kekamarnya dengan hati yang masih kalut. Ia tahu rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Sakit memang, tapi itulah konsekuensi dalam bercinta. Patah hati atau mematahkan. Berbahagia atau bersedih. Bertahan atau melepaskan.
*****
__ADS_1
Siang harinya, Guntur tiba-tiba pulang. Ia ucapkan salam, lalu menyalami mamanya yang kebetulan sedang membantu masak makan siang.
"Tumben udah pulang?" tanya Sonia heran. Tidak biasanya Guntur pulang cepat.
"Tiba-tiba aja pengen pulang Ma. Perasaan Guntur nggak tenang tadi dikantor. Efek kangen istri kali ya Ma. Hehe...," ucap Guntur sambil cengengesan. Kemudian ia langsung naik keatas.
Sonia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Hubungan putra dan menantunya sudah semakin banyak kemajuan. Tapi dia juga sedih mengingat Samuel. Dia belum beruntung seperti kakaknya.
Sesampainya dikamar, Guntur melihat Shafa sedang tidur. Mungkin karena pengaruh obat yang masih harus ia minum untuk meminimalisir trauma yang dialaminya. Guntur mendekat perlahan. Tas kerjanya ia letakkan diatas meja. Jas juga sudah menggantung pada tempatnya tadi. Dia terlebih dahulu melepas sepatu sambil mengamati wajah cantik yang tengah tertidur pulas. Kecupan hangat membuat mata Shafa terbuka.
"Maaf aku mengganggu tidurmu!" sesal Guntur.
Shafa tersenyum sambil menangkup wajah Guntur yang masih dihadapannya. "Tidak apa-apa Mas." Shafa mengalungkan kedua tangannya dileher Guntur. "Bangunkan aku!" pintanya manja. Guntur pun dengan senang hati melakukannya. Setelah terduduk, Shafa malah memeluk erat.
"Kamu kenapa?"
"Hanya ingin memeluk suamiku yang luar biasa." Shafa meregangkan pelukan.
"Istriku lah yang luar biasa." Sekali lagi Guntur mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Kemudian Guntur beranjak membersihkan diri. Ia mengambil sarung dan baju kokonya. Shafa masih tampak termenung diranjang. Saat Guntur menatap kearahnya, senyum manis ia sunggingkan.
"Kamu sudah sholat dhuhur Fa?" tanya Guntur setelah keluar dari kamar mandi.
"Belum mas."
"Ya sudah, kita sholat jama'ah."
Shafa pun mengambil air wudlu. Kini mereka berdua menjalankan ibadah dalam satu takbir. Menghadap sang maha cinta dalam satu tujuan. Harapan Guntur benar-benar menjadi kenyataan. Ia diberikan cinta yang begitu indah. Sungguh cinta yang mampu membuat jiwanya merasakan kesejukan. Begitu juga dengan apa yang dirasakan Shafa.
Mereka berdua seakan merasakan kenyamanan dalam dekapan tuhan. Tiada cinta yang lebih indah ketika cinta itu beriringan dengan cinta Tuhannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Shafa?" tanya Guntur yang sudah memposisikan diri bersila dihadapan istrinya.
"Samuel sakit Mas."
"Tadi aku dengar dia bicara pada Mama sambil nangis, kalau dia sedang patah hati. Samuel sangat terpukul dengan keadaan. Tolong Mas Guntur hibur dia!" pinta Shafa sambil memegang tangan suaminya.
"Setelah ini aku akan kekamarnya. Aku tahu apa yang Samuel rasakan. Hubungannya dengan Anin memang tidak direstui oleh orang tua Anin. Tapi Samuel selalu bersikap biasa dan tetap berusaha mempertahankan hubungannya. Mungkin saat ini hubungan mereka benar-benar berakhir." Gubtur menghela nafas.
"Mas tahu bagaimana hubungan mereka?"
"Samuel dan aku selalu terbuka Fa. Dia selalu cerita tentang Anin saat kami berdua. Dia selalu menutupi kesedihan dengan sikapnya yang petakilan."
Shafa termenung lagi. Dia sebagai sahabat ternyata tak begitu mengenal siapa Samuel sebenarnya.
Guntur pun segera pamit kekamar Samuel setelah ganti baju.
****
"Lepaskan Sam! Lepaskan sesuatu yang memang sudah seharusnya terlepas. Kalau dia memang bukan jodohmu. Yakin, suatu saat Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik," ucap Guntur yang kini duduk disebelah Samuel.
"Gue tahu Kak, tapi ini rasanya sakit banget. Kalau tahu jatuh cinta seperti ini konsekuensinya, gue nggak bakal jatuh cinta." Samuel mendudukkan tubuhnya.
"Jangan ngomong begitu! Kalau kamu sudah menemukan cinta sejati pasti indahnya tak kan terlukiskan. Apalagi ketika sudah halal, semua yang kita lakukan dengan pasangan akan dinilai ibadah. Dalam catatan yang dilakukan adalah hal positif."
"Iya ngerti, yang sekarang udah halal pasti bisa ngomong gitu. Coba aja dulu, siapa yang kayak orang gila pas patah hati," omel Samuel.
Guntur malah tertawa. Jika adiknya itu mulai ngomel, berarti keadaanya sudah lebih baik.
"Kamu tahu sendiri kan, cinta itu memang sebuah perjuangan. Berjuang boleh, tapi jangan memaksakan kehendak. Anin sudah punya jalan hidupnya sendiri yang diatur oleh kedua orang tuanya. Karena memang dia adalah hak orang tuanya. Jadi, kamu harus terus maju. Nothing giving up Sam. Keep your spirit. Jangan pernah menyerah!" Guntur menepuk pundak Samuel sebelum ia pergi.
Gue nggak tahu Kak. Apakah hati ini bisa kembali jatuh cinta setelah semua porak poranda? Cintaku hilang, harapanku hancur. Jiwaku pun ikut melebur. Gue nggak tahu apakah ada seseorang yang bisa membangun kembali rumah cintaku yang sudah hancur. Kenyataan ini terlalu menyakitkan.
Nyatanya ketika seseorang yang selalu bersikap bahagia dia malah menyembunyikan kepahitan hidupnya. Dan, ketika terluka. Luka itu akan sangat menyakitkan baginya.
Tak lama kemudian Sonia mengantar makan siang untuk Samuel. Panas tubuh Samuel sudah turun. Dia juga sudah tampak lebih baik.
__ADS_1
Sedangkan Shafa dan Guntur makan siang dimeja makan. Setelahnya mereka duduk santai didepan Tv.
Samuel pun juga terlihat turun dengan gitar ditangannya. Dia berjalan menuju gazebo ditaman.
Shafa hendak menyusul Samuel, tapi Guntur mencegahnya. "Biarkan Samuel mencari ketenangannya sendiri."
Shafa menurut ia kembali duduk. Dari taman mulai terdengar suara petikan gitar dengan nada agak ngebit. Shafa kira Samuel akan menyanyikan lagu galau karena sedang patah hati. Nyatanya lagu yang dibawakan Samuel tak begitu melow.
"Percuma Bilang Cinta"
Bagai pungguk rindukan bulan
Aku mengejar cintamu
Setiap malam sebut namamu
Dalam doa dan harapku
Memendam rasa cinta itu buat geram
Mengungkapnya lagi malah buatku pusing
Mengendap-endap jangan sampai ketahuan
Mencari-cari kabar selalu tentang dirimu
Percuma bilang cinta
Bila tak perjuangkan cintamu
Percuma bilang cinta
Bila malu ucapkan cintamu
Mengapa bibir ini bisu (bibirku membisu)
Bila bertemu denganmu (bertemu denganmu)
Keringat dingin tubuh ini, takut kau acuhkan aku
Memendam rasa cinta itu buat geram
Mengungkapnya lagi malah buatku pusing (buatku pusing)
Mengendap-endap jangan sampai ketahuan (ketahuan)
Mencari-cari kabar selalu tentang dirimu
Percuma bilang cinta bila tak perjuangkan cintamu
Percuma bilang cinta bila malu ucapkan cintamu
Mana buktimu, mana janjimu
Jangan jadi pecundang sejati
.
.
.
.
Sebenarnya itu lagu favoritku sendiri.😅 Musiknya enak banget. Menurut aku sih...!
Kalau kalian nggak tau ya, selera musiknya gimana.
__ADS_1