Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Awal Setelah Akhir


__ADS_3

Guntur yang merasa terkejut bercampur bahagia segera berdiri. Ia menangkup wajah Shafa dengan kedua tangan kokohnya.


"Tenang Shafa! Aku disini."


Shafa mengambil posisi duduk dengan gerakan cepat dan memeluk erat Guntur.


"Aku takut," ucap Shafa sesenggukan. Sepertinya ia baru saja mengalami mimpi buruk.


Ketiga orang yang dari tadi duduk disofa bergegas menghampiri. Mereka tersenyum bahagia melihat Shafa sudah sadar. Steven sempat was-was ketika tahu ingatan Shafa kembali. Karena hal itu justru akan membuka luka lama terbuka kembali dan hal itu beresiko pada kondisi psikis Shafa yang kapan saja bisa drop.


Guntur membalas pelukan Shafa. "Jangan takut! Aku ada disini. Aku selalu disampingmu Shafa."


"Kamu dipukuli orang-orang itu sampai tak sadar, aku takut kehilanganmu. Fachri sudah pergi meninggalkanku. Aku takut Mas Guntur akan pergi juga," ucap Shafa masih memeluk erat Guntur. Suara isakan juga masih terdengar jelas.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana Fa. Aku ada disini."


Tak ada sahutan dari Shafa, malah tubuhnya melemas. Guntur melihat mata Shafa terpejam kembali. Istrinya kembali tidak sadarkan diri.


Kebahagian yang mereka rasakan tadi menjadi sebuah kekhawatiran. Shafa benar-benar mengalami trauma psikis. Randi segera menekan tombol darurat.


"Bangun Shafa! Ayo buka matamu, jangan tidur lagi!" seru Guntur cemas. Shafa masih berada dalam dekapannya. Air mata pun masih tersisa diwajah manis gadis itu.


Dokter Revan segera datang, dia yang diminta oleh Steven datang ke kota Y khusus untuk menangani Shafa. Sejak kecik dokter itu lah yang selalu memantau keadaannya.


"Bagaimana Van?" tanya Steven tak sabar. Dokter Revan telah menyelesaikan tugasnya


"Sejauh ini masih stabil. Shafa gadis yang kuat Stev. Dia pasti bisa melewati ini semua. Dia hanya perlu orang-orang yang menyayanginya selalu ada untuk memberi semangat." Dokter Revan menepuk bahu sahabatnya.


"Terimakasih Van. Kamu selalu melakukan yang terbaik untuk Shafa."


"Sudah tugasku Stev. Lagi pula kau adalah sahabatku. Jadi jangan sungkan," ucap dokter Revan sambil tersenyum tulus. "Mungkin tak lama lagi Shafa akan sadar kembali. Guntur...!" Dokter Revan beralih menatap pria yang berstatus suami Shafa. "Kamu harus sabar menghadapi Shafa. Dia butuh bahu untuk bersandar. Setidaknya, kamu bisa menjadi pengganti Fachri."


"Iya Dok, saya mengerti."


"Bagus! Saya permisi dulu." Dokter Revan pun keluar ruangan.


Steven menghela nafas panjang. Ia menatap nanar putrinya. Randi dan Samuel berdiri disamping Guntur. Mereka berdua memegang bahu Guntur untuk memberi semangat.


"Jika Shafa masih belum lepas dari bayang-bayang Fachri, kamu harus memakluminya. Dia bertahan sampai sekarang karena cintanya pada Fachri," ucap Randi.


"Lo harus terus menyemangati Shafa, Kak. Seperti dulu yang elo lakuin saat Fachri tiada. Secara tak langsung sebenarnya Shafa sudah nyaman sama lo," tambah Samuel.

__ADS_1


"Papa harap kamu tidak akan menyerah Guntur, Papa tahu kamu memendam cinta pada Shafa sudah lama. Karena itu lah Papa menjodohkan Shafa denganmu," ucap Steven.


"Papa tenang saja. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta Shafa." Guntur berucap sambil memegang jemari Shafa. Dia akan masuk perlahan kedalam hati Shafa dan membawa pada bumi cintanya.


Cintanya pada gadis itu memangnya sangat dalam. Hingga Guntur sendiri tak tahu seberapa dalam cintanya. Ia hanya mencintai dengan sederhana. Cinta tanpa ambisi untuk memiliki. Cinta tanpa pengharapan untuk sebuah balasan. Ya, cintanya adalah cinta tanpa syarat. Cinta itu hanya ia sandarkan pada sang pemilik cinta yang sesungguhnya. Hingga cinta itu sendirilah yang meminta takdir menyatukan mereka.


"Sam, Rand, ayo kita cari makan malam dulu! Sekalian membeli makanan untuk Guntur," ajak Steven.


Mereka bertiga pun keluar. Meninggalkan Guntur yang masih berselancar dengan perasaan cintanya pada Shafa. Sesekali Guntur mengecup tangan istrinya. Lalu memainkan jari-jari lentik Shafa.


"Hai My Ara! Cepat sembuh. Mr.A sangat merindukanmu. Kau tidak rindu dengan chatannya yang tak jelas itu. Dia suka gombalin kamu ya? Gombalan receh pula. Hehe... Tapi orangnya malu-malu meong buat ngomong langsung sama kamu." Guntur terkekeh sendiri dengan ucapannya.


Lalu ia mengecup kening Shafa sambil memejamkan mata. Sebauh kecupan dengan perasaan sangat mendalam. Hingga air mata Guntur menetes dikening Shafa.


Jiwa Shafa seakan tergugah kembali. Ia merasakan perasaan indah yang tak dapat terlukiskan. Dirinya seperti baru saja terlahir kembali dan terlepas dari beban jiwanya. Hatinya pun seolah melihat tempat yang sangat nyaman. Ada cahaya indah yang menarik perhatiannya dari tempat itu. Shafa mendekati cahaya itu, dekat dan semakin dekat. Ada sosok pria yang tersenyum manis padanya. Ada kehangatan yang melingkupi perasaannya saat melihat senyum itu.


Shafa pun kembali pada kesadarannya. Ia membuka mata dan masih merasakan kehangatan yang ia rasakan tadi. Tenyata tangannya masih dalam genggaman hangat tangan Guntur. Hatinya juga merasakan ketenangan. Tapi masih ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.


"Alhamdulillah! Kamu sudah sadar Fa." Wajah Guntur dipenuhi rona bahagia. Ia langsung memencet tombol di sebelah ranjang.


Dokter Revan datang dalam hitungan menit. Ia pun memastikan keadaan Shafa sudah membaik.


Steven, Randi dan Samuel kembali saat Shafa sudah duduk bersender diranjangnya.


Steven langsung memeluk putrinya dengan perasaan haru. Samuel meletakkan kantong makanan dimeja. Dia berdiri disamping Guntur yang tengah duduk dikursi.


"Hai wonder women! Seneng banget gue lihat lo udah sadar," sapa Samuel setelah Steven melepas pelukan.


Shafa hanya memberikan senyum manisnya tanpa menjawab sapaan Samuel. Pikirannya masih dalam kebingungan. Dalam benaknya, Shafa ingin berbicara pada sang ayah mengenai ingatannya yang telah kembali.


Ia pun meminta penjelasan dari ayahnya itu. Steven pun menjelaskan semuanya secara jelas kejadian masa lalu Shafa. Randi dan Samuel menjadi pendengar setia, begitu juga dengan Guntur. Sedikit-sedikit ia sudah tau dari pembicaraan Robert saat mereka diculik.


"Mulai dari sekarang lepaskan beban dari pikiranmu Shafa. Mulailah hidup dengan tenang. Kamu masih memiliki keluarga yang utuh. Ada Daddy, mama dan Gibran. Kamu juga punya suami yang tulus menyayangi kamu. Jadi cobalah keluar dari bayangan masa lalu kelam itu. Lepaskan bebanmu Shafa! Ada saatnya sebuah awal terbentuk dari sebuah akhir."


Shafa kembali memeluk ayahnya dengan erat. Ia berusaha setegar mungkin agar tidak menitikkan air mata. Dirinya memang harus menatap kedepan dan menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran hidup.


"Daddy, boleh nggak infus Shafa dilepas. Tanganku sakit, tidak bebas memeluk Daddy," ucap Shafa manja usai meregangkan pelukannya pada sang ayah.


"Kamu takut tidak bebas memeluk Daddy atau karena tidak bebas memeluk Guntur?" Godaan Steven membuat Samuel dan Randi terkikik geli.


"Iiihhhh... Daddy...!" Shafa mencebik pura-pura merajuk. "Mas Guntur, pinjam dadanya aku mau sembunyi," ucap Shafa kemudian sambil merentangkan kedua tangannya meminta dada suaminya.

__ADS_1


Guntur pun berdiri dari duduknya. Shafa langsung membenamkan wajahnya didada bidang suaminya. Steven dan yang lain tak lagi bisa menahan tawanya melihat tingkah manja Shafa. Jika melihat tingkah Shafa seperti itu, Steven dan Randi seperti melihat Shafa yang dulu telah kembali. Shafa yang ceria dan suka bermanja pada orang yang ia sayangi.


"Rand, aku lapar. Tolong belikan sup iga dan ikan nila saus salak, minumnya jus jeruk! Esnya yang banyak," ucap Shafa yang masih menyembunyikan wajahnya didada Guntur.


"Allahu Akbar, Sleeping beauty bangun-bangun mintanya aneh-aneh aja. Sekalian nanti saya bawakan es batu satu termos." Randi pun melangkahkan kakinya melaksanakan titah tuan putri.


"Sam, minta suster melepas infusku. Tanganku sakit," ucap Shafa lagi.


"Siap dilaksanakan titah tuan putri." Samuel juga melangkah keluar.


"Eh, ngapain juga gue keluar kan didalam ada tombol pemanggil. Kenapa jadi oon dadakan sih...?" Samuel bergumam sendiri. Tapi ia tetap melanjutkan langkah kakinya.


Sementara didalam ruangan Shafa, pengusiran secara halus masih berlanjut.


"Apa Daddy harus pergi juga?"


"Iya, Daddy pulang saja. Temani mama Oliv bobok dan jangan lupa buatkan Shafa adik bayi."


"Astaga Shafa, Daddy sudah tua. Mana bisa buat adek bayi lagi?"


"Daddy sama mama Oliv belum terlalu tua buat punya baby. Daddy pulang saja sekarang!"


"Ok. Daddy pulang. Jaga diri kamu baik-baik!" Steven segera keluar. Ia tahu, mungkin Shafa membutuhkan waktu berdua bersama Guntur.


Shafa melepas pelukan ketika ayahnya sudah tak ada.


"Kamu kenapa sih Fa menyuruh semua orang keluar?" tanya Guntur heran.


"Aku hanya ingin istirahat dengan tenang Mas. Kalau ada mereka pasti berisik. Randi sama Samuel pasti ngrecokin aku terus." Shafa pun kembali menyandarkan punggungnya.


Perawat juga sudah datang untuk melepas infus. Setelah itu, Shafa menyuruh Samuel untuk pulang. Randi juga mendapat perlakuan yang sama.


Kini tinggallah Shafa dan Guntur berdua diruang rawat itu. Apa yang akan mereka lakukan setelah itu?


.


.


.


.

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2