Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Bertemu masa lalu


__ADS_3

Pagi itu kegiatan Shafa dan temannya seperti biasa. Memasak dan beres-beres rumah. Shafa membantu sebisanya. Rasa nyeri dilengannya masih terasa. Racun yang masuk dalam tubuhnya sedikit menghambat proses pemulihan luka akibat tusukan pisau tempo hari.


"Oh ya Fa, ternyata kau bekerja di Cafe milik Gibran?" Silvia membuka percakapan.


"Iya Vi. Aku juga baru tahu kemarin sebelum izin libur," ujar Shafa.


"Kebetulan banget ya Fa, aku juga pengen ikut kerja disana."


"Kamu mau kerja apa Vi? Mau jadi tukang bersih-bersih disana?" seru Aira.


"Ya, aku kerja nemenin ayank Gibran lah," ucap Silvia sambil cengengesan.


"Yang ada pacaran terus kalian disana," seru Aira lagi.


Alza yang dari tadi mengupas bawang ikut bicara. "Ingat Vi! Kalian belum halal jangan keseringan ketemu. Apa lagi ngikutin tren pacaran anak jaman sekarang," ucapnya.


"Iya Za. Aku sama Gibran pasti tahu batas kok. Kita ketemu kan buat memupuk cinta. Biar subur."


"Kamu kira jagung, bisa dipupuk lalu tumbuh subur," ucap Aira. Karena kebetulan yang dipeganganya memang jagung.


"Ya iya dong Ra, Cinta itu harus dipupuk dengan kasih sayang. Memangnya Alza yang hanya mencintai tapi tidak berani mengungkapkan," celetuk Silvia.


Yang disebut namanya hanya diam sambil mengulek bumbu yang diracik oleh Shafa. Aira menyikut Silvia. Lalu mengarahkan pandangannya pada Alza.


"Sekarang kan jamannya emansipasi wanita Za. Nggak papa kali cewek duluan yang nyatain cinta. Seenggaknya gus Afif tahu perasaan kamu. Atau kamu bicara lewat neng Syifa saja. Dia kan adiknya. Kalian juga berteman," ucap Silvia.


Alza yang dari tadi terdiam kini mulai angkat suara. Sedangkan Shafa memasukkan bahan sayur yang sudah disiapkan oleh Aira dan Silvia.


"Justru itu Vi, karena aku berteman dengan Syifa. Aku takut persahabatan kita jadi renggang."


"Jangan takut sebelum kamu mencobanya! Toh kan kalau gus Afif menerima cinta kamu, kalian bakal langsung nikah kan."


Shafa yang mendengar nama Afif disebut lagi, jadi penasaran. Apakah itu sama dengan Afif yang melamarnya kemarin. Kalau iya dia merasa bersalah pada Alza.


"Tumben omongan kamu bener Vi."


"Dari dulu kali Ra bener."


Setelah memasak mereka bersiap-siap berangkat ke kampus masing-masing. Sebelumnya mereka sarapan bersama-sama.


"Hari ini kita berangkat bareng ya Fa!" ajak Silvia.


Shafa pun mengangguk, menyetujui ajakan temannya. Setelah sarapan keduanya berangkat ke kampus. Karena akhir pekan, Kampus agak sepi. Hanya ada mahasiswa yang sedang mencari buku diperpustakaan atau mahasiswa yang sedang ada janji dengan dosen.


Shafa dan Silvia ke kampus karena ingin mencari buku untuk refrensi skripsi mereka. Saat memasuki gedung, terdengar suara seseorang yang sedang siaran diradio kampus.


Shafa seperti mengenal suara itu. Suara yang juga pernah menghiasi hari-harinya dulu.


Hai guys! Ketemu lagi nih sama bang Az. Gimana kabar kalian hari ini? Tentunya sangat luar biasa, bukan!


Untuk yang mungkin lagi rebahan ganteng, atau yang lagi rebahan syantik, sambil dengerin bang Az siaran. Silahkan request lagu favorit kalian!


Khusus hari ini kalian bebas mau request lagu apa aja.


Asal jangan lagu keroncong ya!


Dan special hari ini bang Az bakal nyanyiin request lagu bagi tiga pengirim sms pertama. Terserah lagu apa aja ya, bang Az bakal nyanyiin special buat kalian.


Ok! udah ada Sms yang masuk.


Hai bang Az yang cakep! Request lagu bollywood dong. Yang Hamari adhuri kahani. Awas ya! Harus dinyanyiin. Kalau nggak abang aku ajak kawin.


Wah, ini pemerasan namanya. Bang Az belum siap nikah neng. Abang belum punya modal. Dompet abang masih kembang kempis. Entar eneng abang kasih makan laok daon mau. Hahaha...


Ini gimana ya bang Az galau kalau nyanyi lagu ini. Mbaknya lagi galau juga ya atau ada kisah cintanya yang belum tuntas seperti kisah cinta saya.


Ok guys! Sesuai janji bang Az akan tetep nyanyiin lagu request kalian. Lagu ini juga spesial buat seseorang yang sempat memberi warna dalam kehidupan saya. Jika masih ada maaf. Tolong maafkan!


Suara musik pun mulai mengalun dengan indah. Shafa sungguh terkejut mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya. Suara indah penyiar radio itu mulai terdengar.


Paas Aaye…


Kau Datang Mendekat..


Dooriyaan Phir Bhi Kam Na Hui


Namun Tetap Ada Jarak

__ADS_1


Ek Adhuri… Si Hamari Kahani Rahi…


Kisah Cinta Kita Tetap Tidak Lengkap


Aasmaan Ko Zameen,


Ini Bukan Seperti Langit


Ye Zaroori Nahi, Jaa Mile… Jaa Mile…


Yang Selalu Harus Memenuhi Bumi


Ishq Saccha Wahi,


Cinta Sejati Adalah


Jisko Milti Nahi Manzilein… Manzilein...


Cinta Yang Tidak Mencapai Tujuan


Rang Thhe, Noor Tha, Jab Kareeb Tu Tha


Ada Warna, Ada Cahaya, Bila Kau Disampingku


Ek Jannat Sa Tha, Yeh Jahaan…


Dunia Ini Bagaikan Surga


Waqt Ki Ret Pe, Kuch Mere Naam Sa


Diatas Pasir.. Terlihat Sesuatu Seperti Namaku


Likh Ke Chhod Gaya, Tu Kahaan…


Kau Menulisnya Lalu Menghilang Meninggalkanku


Hamari Adhuri Kahani…


Kisah Kita Belumlah Lengkap...


Khushbuon Se Teri, Yunhi Takra Gaye…


Chalte Chalte, Dekho Na, Hum Kahaan Aa Gaye…


Lihatlah Sambil Berjalan Seberapa . Jauh Aku Datang


Jannatein Agar Yahin, Tu Dikhe Kyon Nahin


Jika Ini Adalah Surga, Lalu Mengapa Aku Tak Menemukanmu


Chaand Suraj Sabhi, Hai Yahaan…


Bulan Dan Matahari Semua Di Sini


Intezaar Tera, Sadiyon Se Kar Raha


Aku Sudah Menunggumu Sejak Puluhan Tahun


Pyaasi Baithi Hai Kab Se Yahaan…


Hingga Aku Kehausan Disini Sejak Begitu Lama


Hamari Adhuri Kahani…


Kisah Kita Belumlah Lengkap..


Pyaas Ka, Ye Safar, Khatam Ho Jayega…


Untuk Memuaskan Dahaga Pejalanan Ini Harus Berakhir


Kuch Adhura, Sa Jo Tha, Poora Ho Jayega…


Sesuatu Yang Belum Lengkap Harus Segera Di Selesaikan


Jhuk Gaya Aasmaan, Mill Gaye Do Jahaan


Langit Telah Sujud, Kedua Duniapun Telah Bertemu

__ADS_1


Har Taraf Hai Milan Ka Samaa…


Di Manapun Kau Melihat, Hanya Akan Ada Pertemuan


Doliyan Hain Saji, Khushbuein Har Kahin


Tandu Dihiasi, Wewangian Tersebar Di Mana-Mana


Padhne Aaya Khuda, Khud Yahaan…


Bahkan Tuhan Sendiri Telah Datang Untuk Membaca Ini


Hamari Adhuri Kahani…


Kisah Kita Belumlah Lengkap


****


"Kamu kenapa Fa? Terpesona ya sama suara bang Az?" seru Silvia yang melihat Shafa dari tadi terdiam mendengar suara siaran radio. Kini keduanya duduk ditaman kampus sambil membaca buku. Tapi sepertinya Shafa sedang tak fokus dengan buku ditangannya. Pandangan matanya kosong.


"Siapa bang Az Vi?" Shafa beralih menatap sahabat disampingnya.


Silvia menghadapkan tubuhnya pada Shafa. "Ya, anak kampus sinilah Fa. Dia satu jurusan sama aku. Bahkan kita juga kebetulan satu kelas. Sebenarnya dia senior kita. Cuma sempet cuti dua semester," terang Silvia.


Shafa hanya mengangguk sambil ber "oh". Dia kembali fokus dengan buku yang ia bawa tadi dari perpustakaan.


"Setelah ini ikut aku ketemu bang Az, aku kenalin sama dia. Orangnya ganteng, kalem lagi. Baik deh pokoknya. Tapi gitu, tiap cewek yang nembak dia. Nggak ada yang diterima. Padahal fansnya banyak dikampus ini. Kayak kamu gitu Fa. Susah banget deket sama cowok. Kali aja kalian cocok. Hehehe..." ujar Silvia panjang lebar.


"Ok deh! Aku ngikut," ucap Shafa. Dia juga penasaran dengan orang yang dipanggil Az.


"Nah, gitu dong. Mau dikenalin sama cowok. Jangan terlalu nutup diri Fa! "


Shafa hanya membalas dengan senyuman. Mereka berdua melanjutkan membaca buku.


Suara Az yang masih siaran terdengar lagi. Shafa semakin penasaran. Akhir-akhir ini banyak sekali kejutan dalam hidupnya. Rentetan hal-hal tak terduga mulai menghampiri kehidupannya.


Setelah ini apakah dia akan mendapat kejutan lagi? Hanya tinggal menghitung waktu ia akan tahu jawabannya.


Silvia mengajak sahabatnya untuk keruang siaran yang ada digedung sebelah mereka. Mereka menunggu diluar sambil duduk dibangku yang tersedia. Tak lama kemudian Az sudah selesai siaran. Dia pun keluar dari studio.


Pandangan Az menangkap dua sosok perempuan duduk dibangku. Satunya berhijab dan satunya lagi dengan rambut terurai indah. Sampai saat ini Silvia memang belum terketuk hatinya untuk berhijab seperti ketiga temannya.


"Silvia!" seru Az.


Kedua perempuan itu bangkit mendengar suara yang menyapa salah satu nama mereka.


"Hai Az!" sapa Silvia balik.


Pandangan Az dan Shafa bertemu. Untuk beberapa saat keduanya tertegun. Mereka sama-sama terkejut, dipertemukan lagi setelah pertemuan sesaat kemarin waktu dibukit bersama Afif.


Az pun tak sanggup berkata-kata melihat gadis masa lalunya berada dihadapannya. Tak pernah ia sangka bahwa akan ada pertemuan lagi setelah sekian lama. Ingin sekali ia memeluk gadis yang juga berdiri tanpa berucap sepatah kata dihadapannya. Apalagi setelah mendengar cerita dari Samuel tentang kehidupan Shafa.


Rasa bersalah tak terkira menghantui perasaannya. Apa yang harus ia lakukan terhadap Shafa sekarang? Rasanya kata maaf tak akan bisa menebus kesalahannya dimasa lalu.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Shafa dengan suara bergetar. Hati dan pikirannya berkecamuk. Bayangan masa lalu berkelebat lagi dipikirannya. Tentang bagaimana laki-laki itu menghancurkan hidupnya dalam sekejap. Membuat ia sempat terpuruk sampai melakukan hal terbodoh dalam hidupnya.


"Aku..." suara Az terdengar ragu. "Aku Aldiansyah," ucap Az kemudian. Nama itu adalah nama panggilannya dulu. Wajah Az berubah sendu menatap Shafa


Shafa menutup mulutnya yang hampir terisak. Ia seakan tak sanggup menerima kenyataan jika mengingat kenangan buruk bersama laki-laki dihadapannya. Ingin rasanya ia berteriak meraung-raung. Takdir begitu tega mempermainkan hatinya.


Shafa tak sanggup lagi berhadapan dengan laki-laki masa lalunya. Ia berlari meninggalkan Silvia sambil terisak.


Silvia sendiri tak mengerti dengan situasi yang terjadi. Dia seperti orang bodoh yang tak mengerti apa-apa.


"Ini ada apa sih Bang? Kalian saling kenal?" tanya Silvia kebingungan.


"Maaf Via! Aku nggak bisa cerita," ujar Az sambil berlalu pergi.


"Ini apa-apa an aku ditinggal sendiri," gerutu Silvia. Ia pun berlalu pergi berniat menyusul Shafa.


.


.


.


.

__ADS_1


Sampai disini dulu ya...


See you next time!


__ADS_2