Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Sinar Harapan


__ADS_3

"Mau kemana Kak pagi-pagi buta begini?" tanya Samuel ketika melihat Guntur sudah rapi. Hari memang masih sangat pagi. Matahari masih damai dalam peraduannya.


"Memang pagi mempunyai mata kamu bilang buta?" tanya balik Guntur. Tangannya meraih sepatu dan memasangkannya dikedua kaki miliknya.


Samuel tampak berpikir. Pagi matanya disebelah mana ya? Gue juga belum pernah melihat matanya pagi. Tapi kenapa orang sering menyebut pagi buta. Kalau di dongeng si kancil kan adanya perigi buta. Tapi periginya juga nggak ada mata. Bingung jadinya. Mendadak jadi ikutan bodoh dia nya.


"Matanya sudah dipinjem sama lo Kak. Jadinya, pagi nggak punya mata," jawab Samuel kemudian.


"Pagi memang tidak mempunyai mata, Tapi, pagi membuka mata banyak orang. Memberi tahu bahwa masih ada jalan yang panjang menanti kita. Masih ada sinar harapan yang menanti untuk disentuh. Yang perlu kau lakukan adalah membuat agenda hari ini harus lebih baik dari kemarin."


Sejenak Samuel merenungkan perkataan saudaranya. Tapi sejak kapan kak Guntur berubah seperti ini? Ditinggal Ara nya, kak Guntur jadi lebih waras. Aku kira tambah gilanya.


"Ini muka harap dikondisikan!" Guntur mengusap wajah Samuel dengan lima jarinya. "Mau ngapain kesini?" tanyanya kemudian sambil meraih kunci mobil dari atas nakas.


"Mau pinjam buku Kak. Bahan skripsiku masih kurang." Samuel duduk diranjang Guntur.


"Makanya beli. Jangan buat pacaran mulu kalau punya uang."


"Siapa juga yang pacaran. Pacar ada aja sekarang minta break. Kayak iklan Kit Kat. Mana ditinggal kenegara orang lagi. Jadi jones dah." Samuel memasang wajah sendunya.


"Ceritanya curhat nih!" Guntur menyenderkan tubuhnya disamping meja nakas.


"Enggak. Tapi embcor."


"Apaan tuh?"


"Ember bocor!"


Guntur malah menertawakan adiknya yang cemberut. Dia ditinggal pacarnya keluar negeri. Jarak antar negara menjadi samudera pembatas hubungan mereka. Parahnya lagi pacarnya minta break juga. Setelah lulus baru mereka nyambung lagi.


"Kamu susul aja Anin kesana?"


"Ya kali kalau bisa. Udah gue susul dia kesana. Papa mana ngizinin aku keluar negeri. Yang ada aku malah dikirim kekutub selatan," ucap Samuel.


"Enak kali disana, bisa minta peluk ama teddy bear."


"Enakan dipeluk sama ayang Anin."


Botol parfum yang kebetulan ada dimeja melayang kearah Samuel. "Jaga tuh otak. Jangan ngeres mulu! Pantesan nggak pinter-pinter."


Untungnya Samuel sigap menangkap, kalau tidak udah benjol jidatnya. "Yaelah peluk doang kakak Guntur sayang."


"Jangan panggil sayang, ngeri jadinya," ucap Guntur bergidik antara ngeri dan risih dengan panggilan Samuel barusan.

__ADS_1


"Mau kemana sih Kak? Dari tadi ditanya nggak dijawab. Malah ngelantur kemana-mana."


"Aku disini dari tadi, nggak kemana-mana," jawab Guntur dengan wajah tanpa dosa.


"Ditanya beneran juga. Aku telen juga nih bantal." Samuel menggigit bantal milik Guntur. Sok-sok an hendak memangsa benda empuk itu. Hal itu hanya ditanggapi dengan tawa oleh Guntur.


"Aku mau kerumah sakit sebentar. Dokter Albert menyuruhku mengambil catatan medis milik papa dan mama," jawab Guntur. Kali ini dia serius. Setiap sebulan sekali orang tua Guntur rutin mengecek kesehatan. Bukan karena sakit, tapi mereka memang sangat mementingkan kesehatan.


"Kenapa harus pagi-pagi begini? Nggak sekalian tahun depan saja."


"Dokter Albert kemarin jaga malam, jadi pagi-pagi sekali aku harus kesana sebelum dia pulang. Sudah aku berangkat dulu. Kamu cari sendiri bukunya. Awas kalau berantakan! Kamu harus bersihkan semua sudut kamarku sampai kinclong"


"Iya. Nanti sekalian gue kasih pemutih. Mau sekalian gue tuangin bensin nggak biar bersih kamarnya," ucap Samuel menantang.


"Coba saja kalau berani. Aku jadiin kamu sosis panggang. Sekalian tuch, burung sama dua telurnya aku kasih ke anjing tetangga," ucap Guntur sambil menunjuk barang milik Samuel. Kemudian berlalu pergi.


Samuel yang baru mengerti arah pembicaraan kakaknya langsung mendekap miliknya.


"Enak saja mau dikasih anjing tetangga. Ini kan masa depan gue. Pusaka keramat yang nggak ada duanya," gumam Samuel sendirian.


Lalu ia mencari buku yang disusun rapi dalam rak besar disudut kamar Guntur. Ada banyak buku-buku bisnis terpajang rapi. Terlebih lagi buku mengenai rekontruksi bangunan. Karena Guntur memang seorang arsitektur. Dia juga menggeluti dunia bisnis diperusahaan keluarganya.


****


"Hai, kamu Randi kan?" sapa Guntur.


Randi yang sedang melangkahkan kakinya berhenti. Menatap kearah orang yang menyapanya. Ia belum mengingat siapa orang dihadapannya.


"Aku Guntur. Apa kamu ingat?" tanya Guntur.


Randi berpikir sebentar. Menggali ingatan tentang laki-laki dihadapannya.


"Oh iya. Aku ingat. Guntur temannya Fachri. Saudaranya Samuel kan! Maaf aku sempat tidak mengenalimu," ucap Randi ramah.


"Iya kamu benar. Sedang apa kamu dirumah sakit ini? Siapa yang sakit?" tanya Guntur penasaran. Karena tiba-tiba rasa khawatir menyelinap kedalam dirinya. Setahunya Randi berada di Jakarta. Tapi sekarang malah ada dikotanya. Sesuatu yang serius pasti telah terjadi.


"Jangan bicara disini, ikut aku!" ajak Randi.


Guntur pun mengikuti langkah Randi. Mereka berhenti didepan ruang rawat yang dijaga oleh dua bodyguard.


"Siapa yang sakit Rand?" Guntur sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa yang didalam. Rasanya berat saat membayangkan tentang firasatnya selama ini.


"Ayo masuk!" ajak Randi.

__ADS_1


Saat memasuki rungan, yang ia dapat adalah pemandangan yang memilukan hatinya. Gadis cantik yang ia kenal selalu ceria, terbaring lemah diatas ranjang. Terpejam dengan wajah pucat. Jadi, ini alasan Shafa tidak pernah membalas pesannya. Bahkan ponselnya juga tidak pernah aktif.


"Apa yang terjadi Rand? Kenapa Shafa jadi seperti ini," tanya Guntur sambil meletakkan berkas yang ia bawa dimeja samping ranjang. Rasanya ingin sekali ia membelai gadis pujaan hatinya. Tapi, ia sadar Shafa bukanlah wanita yang bersedia disentuh oleh orang lain yang bukan muhrim.


"Shafa terkena racun berbahaya. Dia bahkan hampir kehilangan nyawanya. Beruntung ia masih tertolong."


Lalu Randi menceritakan apa yang ia ketahui. Tentang keadaan Shafa yang beberapa minggu ini dibuat koma karena dalam masa pemulihan.


"Doktet bilang keadaan Shafa sudah membaik. Tinggal menunggu ia bangun dari tidur panjangnya," ucap Randi kemudian.


"Boleh tinggalkan aku berdua bersama Shafa? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padanya," pinta Guntur.


Randi pun menyetujuinya. Kebetulan juga yang lain belum datang. Steven, Olivia dan Gibran tadi pagi-pagi sekali pulang kerumah untuk mengambil pakaian ganti.


Didalam ruangan Shafa, perlahan Guntur mendekati gadis itu.


Air matanya hampir saja lolos kalau dia tak menahannya. Ia juga ikut sakit melihat keadaan Shafa.


"Hai Ara! Apa kabar? Oh, aku salah. Kau lebih suka aku mengucapkan salam, bukan. Assalamu'alaikum My Ara!" ujar Guntur. Kemudian membekap mulutnya sendiri. Ia terisak, tak kuasa menahan kesedihannya yang mendalam.


"Apa kau tidak rindu denganku? Aku Mr.A mu. Teman yang sering kau ajak bercanda melalui pesan Wa. Aku datang kesini karena sangat merindukan saat-saat kekonyolan kita berdua. Kuharap kau segera bangun. Jangan menyusul Fachri! Ada hati yang sangat mengharapkanmu didunia ini."


Guntur sudah bisa menguasai dirinya sendiri. Kemudian ia berjalan menyibak gorden dan membuka jendela. Matahari mulai menampakkan diri. Sinarnya langsung menerobos masuk keruangan. Guntur kembali mendekati Shafa.


"Lihatlah Shafa! Mentari harapan sudah bersinar. Seharusnya kau bisa seperti matahari yang tak pernah lelah membagi sinar harapan kepada semua orang.


Bukankah kau ingin menantang dunia. Untuk membuktikan bahwa dirimu kuat. Menunjukkan betapa keras kepalanya seorang Shafa. Kau harus bangkit, Shafa," ucap Guntur penuh semangat. Ia harap Shafa bisa mendengarnya dan segera bangun.


"Kau harus semangat untuk sembuh. Suatu saat aku ingin mengajakmu bermain dibawah terangnya sinar bulan. Kita akan meminjam jala pada bulan untuk menjaring bintang-bintang. Kita akan meraih bintang kebahagiaan bersama. Semoga Tuhan menyatukan kita suatu saat nanti. Jika tidak pun, aku harap kau selalu bahagia. Aku pamit Ara."


Tangan Guntur hendak menyentuh kepala Shafa. Tapi diurungkannya, ia harus menjaga batasannya. Cukup hanya bisa memandang wajah Shafa, sudah membuatnya bahagia. Ia pun keluar dari ruang rawat. Tak lupa juga mengambil berkasnya yang tadi ia letakkan dimeja.


Sebelum pulang, Guntur berpesan agar jangan mengatakan pada siapa pun tentang kedatangannya. Bahkan pada Shafa sekalipun.


.


.


.


Banyak yang bilang dunia ini panggung sandiwara. Tapi tidakkah kalian tahu? Bahkan dunia ini lebih mengerikan dari pada sebuah sandiwara. Duka, tawa, air mata, dan darah semuanya real. Tak ada peran pengganti. Tak ada yang akan menggantikan rasa sakitmu.


Thanks for your attention readers!

__ADS_1


__ADS_2