Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Ikatan Batin


__ADS_3

Guntur terjaga ditengah malam. Perasaannya mendadak tak tenang. Dilihatnya gelas diatas nakas kosong. Ia butuh minum untuk meredakan perasaan tak tenangnya.


Kaki kokoh Guntur berjalan menuju dapur. Menuangkan air minum dalam gelas. Entah kenapa perasaannya semakin bergemuruh. Ketakutan akan suatu hal yang tak ia mengerti. Takut akan kehilangan sesuatu yang berharga.


Gejolak perasaan menuntun akalnya untuk teringat satu nama. Seharian tak ada kontak antara mereka. Apa telah terjadi sesuatu? Sebuah keyakinan mengarahkan pada kepositifan. Tak ingin berpikiran buruk.


Guntur memutuskan untuk kembali kekamar. Tapi langkah itu terhenti saat pandangannya mengarah pada musholla keluarga. Hatinya tergerak untuk kesana. Teringat akan nasehat seseorang yang sempat menjadi temannya dan juga suami dari orang yang ia cintai. Asmara memang sering mempermainkan hatinya.


Jika keresahan dan kegundahan menaungi hati dan pikiranmu. Maka, berdoalah! Tidak ada kalimat seindah do'a. Yakinkan hatimu pada dahsyatnya kekuatan do'a. Cahaya doa tau kemana arah yang kau tuju. Jangan ada keraguan! Mantapkan hatimu dalam berdoa. Tuhan selalu tau yang terbaik untuk kita.


Guntur mengambil baju koko dan sarung. Lalu mengambil air wudlu. Guntu menggelar sajadah dengan penuh keyakinan. Hawa sejuk menyentuh relung jiwanya. Memberi kenyamanan yang tak terlukiskan. Setiap gerakan sholatnya memberikan sensasi kenikmatan yang kontras dengan kesejukan yang tercipta dihatinya. Baru kali ini ia begitu nyaman dalam ibadahnya.


Ya Rahman...


Engkau yang berkuasa atas hati dan jiwa kami


Engkau yang menuliskan setiap desah takdir hidup manusia


Jika cinta adalah hakikat kami


Jaga dia dalam naungan Rahmatmu


Meski takdir tak berkendak


Tapi engkau Sang Maha Kuasa


Engkau berkehendak mengubah segalanya


Jagalah dia dengan cinta-Mu


Tidak ada yang tidak mungkin dalam kuasa-Mu


Tiada cinta yang dalam sedalam cinta milik-Mu


Maka, berikan cinta itu padanya


Wahai pemilik cinta diatas segala cinta.


******


"Hallo Fahmi! Kamu ke Cafe sekarang urus kekacauan disana. Jangan sampai ada media yang memuat berita. Kamu harus membereskan semua dengan rapi. Dan juga liburkan karyawan selama tiga hari kedepan." Gibran mematikan sambungan teleponnya.


Disisi lain Fahmi terkejut dengan ucapan Gibran. Karena ia belum tahu kejadian di Cafe. Segera ia menuruti perintah Gibran. Melakukan yang harus ia lakukan.


Didepan ruang Instalasi gawat darurat, tiga orang sedang harap-harap cemas. Kekhawatiran menguasai para insan disana. Didalam tim dokter sedang berusaha memperjuangkan sebuah nyawa.


Ririn dan Arif duduk dikursi tunggu. Gibran juga sempat menghubungi dokter yang ia kenal dirumah sakit itu.


Tak lama kemudian dokter dan perawat keluar dari ruangan sambil berbicara.


"Setelah hasil tes darah keluar, segera hubungi bagian farmasi untuk menyiapkan penawar racun," ucap sang dokter.


"Baik Dok!" Perawat itu segera berlalu dengan membawa nampan berisi alat medis dan sampel darah.


"Bagaimana keadaan Shafa Dok? Kenapa Dokter menyebut racun?" tanya Gibran tak sabar.


"Sebaiknya anda berbicara sendiri dengan dokter Ridwan. Beliau menunggu didalam." Dokter itu pun berlalu pergi.

__ADS_1


Gibran segera masuk kedalam. Keterkejutan langsung bersambut mendominasi dirinya. Badai seakan meratakan jiwanya dengan tanah. Menjatuhkan jiwanya sedemikian rupa. Membawanya pada mimpi buruk tak terkira.


Matanya melebar melihat tubuh terbaring lemah dengan warna biru dibeberapa bagian. Salah satu lengannya dibalut perban.Gibran sangat mengenali wajah yang kini tanpa hijab itu. Mungkin karena keperluan penanganan medis, suster melepas hijabnya. Pakaiannya juga sudah berganti dengan pakaian rumah sakit. Rambut hitam panjang dan setengah bergelombang. Hidung lumayan mancung diantara pipi manis. Kecantikan itu milik gadis kecilnya. Kemarin ia sempat ragu dengan opininya mengenai gadis itu. Tapi sekarang keraguan itu sirna.


"Clara..." lirih Gibran dengan bulir kristal meluncur kepipinya.


"Gibran" Dokter Ridwan menepuk bahu pemuda yang sedang menatap lekat gadis dihadapannya.


Pemuda itu tersadar lalu mengusap air matanya. "Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Gibran setelah sekuat tenaga menguasai dirinya.


Dokter Ridwan merasa berat mengatakan hasil pemeriksaan medis. Tentang kemungkinan buruk yang bisa saja melintas. Kemudian meninggalkan kepedihan mendalam.


"Gadis ini tubuhnya teracuni, sepertinya pisau yang mengenai lengannya sudah dilumuri racun," ucap Dokter.


"Tapi dia masih bisa ditolong kan Dok?" Gurat kecemasan tampak jelas dari nada bicara Gibran.


"Kami sedang berusaha. Meski kami sudah memberi obat sebagai penghambat, tapi racun itu tetap bekerja. Racun ditubuhnya cukup mematikan. Perlahan racun itu akan merusak organ dalam tubuh."


"Kenapa warna kulitnya biru Dok?" Rasa khawatir semakin menghujam jiwa Gibran.


"Itu juga karena pengaruh kerja racun yang menyerang aliran darah. Sehingga menyebabkan kelainan seperti orang yang punya penyakit jantung. Darah dalam tubuh pasien tidak berjalan dengan semestinya. Aliran darah kotor dan aliran darah bersih tercampur. Karena itulah muncul warna biru dibagian tubuh gadis ini.


Sedangkan kalau pada tubuh normal, aliran darah bersih yang mengandung oksigen akan mengalir keseluruh tubuh dan aliran darah kotor yang tidak mengandung oksigen akan dialirkan ke paru-paru untuk diberikan oksigen. Jika kedua darah ini bercampur jadinya seperti ini. Pasien kekurangan pasokan oksigen dalam darahnya," terang dokter Ridwan. Matanya juga memandangi kondisi tubuh pasiennya yang kritis.


"Kemungkinan gadis ini hanya akan bertahan delapan jam atau paling lama dua belas jam," ucapnya lagi.


"Cepat beri dia penawar racunnya Dok. Dia harus selamat." Gibran memegang bahu Dokter Ridwan dengan kuat. Emosinya tidak stabil.


"Kami sedang berusaha Bran. Tapi kami butuh waktu untuk mempelajari racun ini. Apalagi racun ini sangat berbahaya," ucap dokter Ridwan.


Gibran tertunduk lemas bertumpu ranjang rawat Shafa. Siapkah dia kehilangan gadis kecilnya?


Gibran mengikuti dokter Ridwan menuju ruangannya. Sebelum pergi Gibran berpesan agar Ririn dan Arif tidak masuk dulu keruangan Shafa hingga dirinya kembali.


Untuk sampai kealamat tabib yang diberikan dokter Ridwan, membutuhkan waktu setidaknya satu jam. Gibran berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan waktu.


Jalanan masih sepi karena memang masih dini hari. Melancarkan perjalanan Gibran.


Pukul tiga pagi Gibran sudah kembali kerumah sakit dengan membawa penawar racun dari tabib. Tadi dia harus menggedor rumah orang saat mereka terlelap tidur. Untungnya sang tabib mengerti keadaan darurat jika seseorang terkena racun. Sang tabib segera meracik obat setelah membaca laporan medis yang diberikan Gibran.


Saat sampai didepan ruangan Shafa, Gibran melihat Ririn terisak. Arif berusaha menenangkan temannya. Gibran langsung masuk tanpa bertanya apa yang terjadi.


"Syukur lah Bran, kamu segera datang. Keadaan Shafa semakin melemah. Dia harus segera mendapat penawar racun. Tim medis kesulitan membuat penawarnya," ucap dokter Ridwan.


Gibran segera memberikan obat yang ia bawa. Dokter menyuruh dirinya agar menunggu diluar.


Tubuh dan jiwa Gibran seakan ikut lemas, ia duduk bertekuk lutut dilantai sambil menjambak rambutnya sendiri. Keadaannya sangat kacau hanya dalam waktu beberapa jam. Shafa harus bermain dengan maut demi dirinya.


"Gibran..." panggil dokter.


"Bagaimana Dok?" tanya Gibran lirih.


"Saat ini keadaan Shafa sudah lebih stabil berkat penawar racun yang kamu bawa. Kita tunggu perkembangannya sampai besok pagi. Setelah ini dia akan dipindahkan keruang rawat."


"Tolong berikan perawatan yang terbaik Dok!"


"Pasti Bran. Itu tugas kami. Beristirahatlah." Dokter Ridwan menepuk bahu Gibran sebelum melenggang pergi.

__ADS_1


"Kalian pulanglah lebih dulu. Besok pagi baru kemari lagi," ucap Gibran pada Ririn dan Arif.


"Tapi Bos kita ingin melihat Shafa dulu," ujar Ririn.


"Baiklah. Hanya Ririn yang boleh masuk."


"Lha saya Bos?" tanya Arif.


"Shafa sedang tidak memakai hijab sekarang. Jadi kamu jangan masuk dulu," jawab Gibran dingin.


Saya kan juga pengen lihat Shafa tanpa hijab Bos. Pasti lebih cantik. Gumam Arif dalam hati.


Setelah itu Ririn dan Arif pamit pulang. Tampak para suster menyiapkan pemindahan Shafa keruang rawat.


Gibran menghubungi Fahmi untuk mengambil barang Shafa yang tertinggal di Cafe.


Tak lama kemudian Fahmi datang membawa barang Shafa. Gibran pun tak mengizinkan Fahmi masuk.


Gibran memeriksa tas Shafa dan ia menemukan selendang biru. Lalu memakaikannya dikepala gadis itu. Setidaknya itu bisa menutupi aurat Shafa.


Gibran mengajak Fahmi membicarakan masalah Cafe didalam ruang rawat Shafa. Setidaknya ruangan VIP yang Shafa tempati menyediakan fasilitas yang nyaman.


*****


Shafa merasa berada ditempat yang indah dan nyaman. Sebuah taman dengan berhiaskan bunga warna warni. Kupu-kupu cantik berterbangan. Dengan riang Shafa mengejarnya. Rasanya ia benar-benar bahagia ditempat itu. Sama sekali tak sesuatu yang membebani pikirannya disana. Hanya kedamaian yang tercipta ditempat itu.


Saat mengejar kupu-kupu itu, ia melihat seseorang tengah berdiri menatapnya dengan senyuman. Wajahnya putih berseri. Tangannya melambai-lambai kearah Shafa.


"Fachri..." seru Shafa dengan kebahagiaan yang tak dapat diartikan. Tanpa menunggu lama, Shafa sudah berhambur kepelukan Fachri.


"Aku sangat merindukanmu Fachri. Jangan pergi lagi! Jangan tinggalkan aku sendirian!" Shafa terisak dalam dekapan Fachri. Tak ada suara yang menyauti. Hanya saja dia dapat merasakan belaian lembut dikepalanya dan beberapa kecupan hangat disana.


Shafa merenggangkan pelukannya mendongak keatas menatap wajah Fachri yang kini tersenyum padanya. "Aku sangat bahagia bisa bertemu lagi denganmu. Aku ingin ikut pergi bersamamu. Tak akan ada yang memisahkan kita lagi."


Fachri menggelengkan kepala, tanda ia tak menyetujui permintaan Shafa. Ya, laki-laki itu hanya tersenyum tanpa berucap sepatah kata.


"Kenapa Fachri? Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu. Bawa aku pergi Fachri," ucap Shafa memohon.


Fachri hanya tersenyum pada Shafa sambil menunjuk kearah lain. Shafa mengikuti arah kemana jari Fachri menunjuk. Ada sosok pria berdiri disana. Sepertinya ia menantikan seseorang. Shafa tak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu. Karena pandangannya terhalangi kabut putih dan juga pria disana berdiri membelakanginya.


Perlahan Fachri melepas genggaman tangan Shafa. Ia melangkah menjauh meninggalkan Shafa terpaku ditempatnya. "Jangan pergi Fachri, aku mohon!" teriak Shafa.


Tampak Fachri hanya menoleh sambil tersenyum, tangannya menunjuk lagi pada pria diseberang. Lalu ia menghilang dibalik kabut putih. Shafa hendak mengejar tapi kakinya tak mau diajak melangkah. Dia hanya bisa meneriakkan nama Fachri.


.


.


.


.


Thanks readers untuk dukungan kalian!


Thanks juga yang udah kasih like, comment dan vote!


Dukungan kalian adalah penyemangat penulis.

__ADS_1


See you....


__ADS_2