Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Gemuruh Bumi Cinta


__ADS_3

"Kenapa kamu menyiksa diri demi mencintaiku?" Shafa yang memeluk dari belakang menyandarkan kepalanya dipunggung Guntur.


Pria itu tersenyum mendengar pertanyaan Shafa. "Tidak ada istilah menyiksa ataupun tersiksa ketika menyelami cinta yang tulus. Aku sama sekali tidak merasa tersiksa ketika mencintaimu. Meskipun aku melihat kamu bersama laki-laki lain. Melihat orang yang kucintai bahagia, tentu aku akan ikut bahagia. Karena mungkin waktu itu aku belum pantas untuk bersanding denganmu. Sehingga Tuhan membuatkan sebuah proses yang harus aku lewati terlebih dahulu. Kemudian kita disatukan ketika aku sudah pantas untuk bersanding denganmu." Guntur menggenggam tangan Shafa yang melingkar diperutnya. Tentu saat ini hatinya diselimuti kebahagiaan yang tak terkira.


"Bagaimana kamu mempunyai cinta seperti itu Mas Guntur? Aku tak bisa membayangkan kamu mencintai seseorang yang waktu itu tak bisa tersentuh. Pasti menyakitkan...!"


"Bagaimana aku bisa merasakan sakit ketika aku sudah masuk dalam penjara cinta? Meski ada jeruji nestapa, tak akan mampu membunuh seorang pencinta."


Guntur balik badan agar bisa menatap wajah istrinya. Tangan mereka masih saling berpegangan. "Tapi sekarang, kamu sudah membebaskanku dari jeruji nestapa. Kamu sudah membuka hati untuk mencintaiku."


"Tapi cintaku sudah terbagi."


"Terbagi dengan siapa?" tanya Guntur mengernyit heran. Dengan siapakah Shafa membagi cintanya? Apa ada laki-laki lain yang menarik simpati istrinya?


"Terbagi dengan Mr.A. 50 persen untuk Mas Guntur dan 50 persen lagi untuk Mr.A."


Jawaban Shafa membuat Guntur terkekeh seketika. Lalu dalam sekejap, Shafa sudah berada dalam dekapannya. "Itu sama saja Shafa. Aku kan Mr.A."


"Kenapa Mas Guntur masih mencintaiku? Padahal aku sudah janda dan juga kehormatanku hilang diwaktu yang tak seharusnya," tanya Shafa yang masih dalam dekapan Guntur.


"Aku sudah tahu semuanya Shafa. Cintaku tidak bisa diukur hanya dari nilai kesucian seorang perempuan. Yang terpenting adalah hatinya. Aku tahu kamu perempuan sholehah. Kejadian masa lalu adalah bagian dari sebuah seni kehidupan. Ada banyak warna dan beragam bentuk yang dihasilkan dari seni itu sendiri. Kebetulan saja waktu itu warna yang tertoreh adalah warna gelap. Jadi, berhentilah merasa bersalah. Kita bisa memulai membuat warna yang indah dari sekarang."


"Terimakasih Mas! Terimakasih sudah begitu mencintaiku sampai sekarang."


"Aku yang harus berterimakasih kamu bisa membalas cintaku."


Guntur pun mengajak Shafa untuk duduk dibangku yang tersedia dibalkon. Sejenak menikmati waktu berdua dalam kesyahduan malam. Tak dipungkiri jika moment seperti itu mengingatkannya pada Fachri. Banyak malam-malam indah yang pernah mereka lalui bersama. Dan kini ia membuat kenangan baru bersama Guntur. Orang yang juga ia cintai.


"Apa yang akan Mas lakukan seandainya gadis yang dijodohkan dengan Mas Guntur bukan aku?"


"Mungkin aku akan mati secara perlahan dalam penjara cinta," jawab Guntur dengan nada bercanda.


Shafa mencubit lengan suaminya itu. "Aku bertanya serius Mas," sungut Shafa.


"Aduh... Hahaha... "tawa Guntur kemudian.


Shafa berdecak sebal. Ia memalingkan muka, tak mau menatap Guntur lagi.


"Waktu aku tahu akan dijodohkan, harapanku seakan kandas. Aku sangat kacau dan tak bisa berpikir jernih. Karena yang aku cintai hanyalah My Ara. Hingga dimalam yang seharusnya jadi malam pertunangan kita, aku tidak pulang. Aku tidur dikantor." Guntur menundukkan kepala. Menatap kebawah sambil memainkan kakinya.


"Oh ya, aku ingat." Shafa terdengar sangat antusias. "Aku pernah melihat seorang pria sedang membagikan makanan pada anak jalanan. Lalu ia duduk di pinggir jalan seperti orang gila. Haha.... Sampai aku mengira dia memang orang gila sungguhan. Tapi kemudian dia berjalan kearah sebuah mobil. Ternyata dia bukan orang gila tapi orang yang lagi frustasi. Dan orang itu adalah Mas Guntur kan." Shafa menyenggol bahu Guntur dengan senyum kemenangan. Guntur hanya menoleh sekilas. Ia malu mengingat kebodohannya.


"Dan satu lagi. Ada hari saat aku menangis sendirian ditaman. Lalu ada seorang pria yang memberiku saputangan dan segelas milkshake coklat. Dia pria yang sekarang duduk disampingku kan?"


"Jangan di ingat-ingat kejadian itu!" ternyata Guntur masih malu. Dia belum berani menatap Shafa.


"Aku selalu ingat, gimana dong? Sini coba aku lihat wajah suamiku yang menggemaskan." Shafa pun menangkup wajah Guntur dengan kedua tangannya. Memainkan wajah itu dengan gemas.


Guntur pasrah saja. Asal bisa melihat wanita disampingnya tersenyum.


"Mas Guntur...!" Panggil Shafa. Saat ini ia bersandar dibahu Guntur. Tangan Guntur juga merengkuh tubuhnya.

__ADS_1


"Apa Sayang?" tanya Guntur lembut.


"Aku kangen dengan Mr.A."


Guntur menoleh. "Kan orangnya ada disini. Kenapa masih kangen?"


"Aku kangen chat-chat konyolnya."


Lagi-lagi Guntur dibuat terkekeh. Shafa malah merindukan ia dalam bentuk sosok tak kasat mata. Padahal yang nyata sudah didepan mata. Mereka pun masuk kedalam karena udara semakin dingin.


Diatas ranjang, keduanya duduk bersandar sambil memegang ponsel masing-masing. Shafa sudah melepas hijabnya kΓ rena akan bersiap tidur. Acara drama bertukar pesan pun akan dimulai.


My Ara: Jalan-jalan naik becak sambil makan kedondong


Balas chat aku dong!


Mr.A: Ujan-ujan basah naik andong


Udah dibales dong!


My Ara: Nasi gudek sambal bawang


Adek kangen abang


Guntur tadi tampak senyum-senyum sendiri jadi terdiam. Tampaknya ia bingung harus balas gimana.


"Jangan kelamaan mikir ayo cepetan bales!" seru Shafa sambil tersenyum. Ia tahu Guntur pasti kesulitan membalas.


"No... Bang topik udah jadi kepala Rohis, nggak bisa diganti. Mas Guntur harus bales pokoknya."


Akhirnya Guntur berpikir agak keras untuk membuat pantun.


Mr.A: Ayam bangkok makan kangkung


Abang terharu dong!


My Ara: Makan nasi rames sama mpok Endang


Adek makin gemes sama abang!


Mr.A: Buah manggis buah kedondong


Eneng manis I Love You dong!


My Ara: *Dari S*abang Yuyu kangkang salto


Abang ganteng I Love you too!


Guntur dan Shafa saling melempar tawa dengan kelakuan mereka sendiri. Udah cukup mereka main pantun-pantunan. Saatnya mereka istirahat. Keduanya masih saja senyum-senyum teringat pantun yang mereka buat.


"Udah dong Fa! Jangan senyum terus, ayo tidur!" Guntur menutup mata Shafa dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Bilang dulu secara langsung pantun yang Eneng manis I Love You!" perintah Shafa sambil cekikikan.


"Nggak ah, kan tadi kamu udah baca. Ngapain diulang?" elak Guntur. Malulah dia disuruh ngucapin langsung didepan orangnya.


"Aku pengen denger langsung Mas."


Guntur menutup kepalanya dengan selimut. "Nggak Fa, ayo tidur!"


Shafa tak menyerah, ia tarik selimut itu sampai Guntur memenuhi keinginannya. "Ayo ucapin langsung Mas...!" rengek Shafa. "Kalau nggak aku tidur aja sama Samuel," ancamnya kemudian.


Guntur langsung mendelik. Tak rela istrinya dengan pria lain. Meski itu sepupunya sendiri. "Ok. Aku ucapin secara langsung." Ia pun mengalah.


"Buah manggis buah kedondong. Eneng manis I Love You dong!" Guntur mengucapkan secara langsung pantunnya tadi.


Shafa malah semakin tertawa lepas. Guntur yang tak terima langsung menggelitiki tubuh istrinya. Menciptakan suasana riuh didalam kamar.


Tanpa mereka tahu dikamar sebelah, tengah ada jiwa dirundung pilu. Meringkuk sendiri dalam nestapa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pandangan matanya kosong menerawang langit kamar yang tak lagi berwarna dimatanya. Hanya sunyi sepi yang terasa. Dunianya mendadak menjadi suram.


Selama ini ia berusaha terlihat baik-baik saja didepan semua orang. Tanpa ada yang tahu jika hatinya dibayangi sebuah kesedihan. Dan hari itu, hal yang paling ditakutkannya benar-benar terjadi.


Awalnya ia mengira semua akan baik-baik saja. Ia tetap bertahan pada satu hati. Tak perduli apa pun rintangannya. Meski jarak dan waktu menjadi jurang pemisah yang nyata.


****


Pagi itu Shafa dan Guntur terlihat sangat ceria. Guntur sudah siap dengan pakaian kerjanya. Mereka berdua turun untuk sarapan.


"Samuel mana Ma?" tanya Guntur sambil mengambil posisi duduk.


"Masih dikamar kayaknya. Kamu tadi tidak ngecek kekamarnya?"


"Enggak Ma. Aku kira sudah turun. Biasanya kan dia turun lebih awal."


Shafa mengambilkan suaminya sarapan. Guntur tersenyum menerima piring dari istrinya.


"Ya sudah sarapan aja dulu, nanti pasti dia turun sendiri," timpal Faisal.


Mereka pun sarapan bersama. Kemudian para lelaki berangkat kekantor. Sonia menyuruh Shafa untuk istirahat saja. Mengingat ia baru pulang dari rumah sakit. Shafa pun kekamar, tapi ia malah menyelesaikan skripsinya. Pintu kamar sengaja tidak ditutup dengan sempurna. Jika mama mertuanya ingin masuk tidak perlu mengetuk pintu, pikir Shafa.


Sonia merasa janggal ketika Samuel tak kunjung turun untuk sarapan. Biasanya dia selalu tepat waktu. Sebagai seorang bibi, Sonia mempunyai naluri kuat tentang keponakannya. Samuel sedang tidak baik-baik saja saat ini.


.


.


.


.


Main congkak sambil makan sirih


Cukup sekian terimakasih!

__ADS_1


. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2