Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Perjodohan


__ADS_3

Shafa berlari keluar gedung, ia ingin pergi menenangkan diri. Shafa mengikuti kemana langkah kaki membawanya pergi. Setelah melewati jalanan kota, akhirnya langkah Shafa berhenti disebuah taman.


Disana tangis Shafa pecah lagi. Air mata belum mau berhenti mengalir. Ia duduk disebuah bangku kosong. Tanpa disadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya.


Pria yang sedang membeli milkshake coklat, terus memandang gadis yang tengah menangis sendirian. Perlahan ia mendekat. Semakin dekat semakin ia bisa melihat jelas sosok yang sedang menunduk sambil terisak. Sosok yang ingin sekali ia lindungi. Andai bisa ia ingin sekali memeluk gadis itu agar tenang. Tapi hal itu tidaklah mungkin.


Dia hanya berani menyodorkan sebuah sapu tangan. Tanpa pikir panjang, Shafa yang sedang kalut langsung menerima sapu tangan itu. Menggunakannya untuk menghapus air mata yang sedari tadi merembes keluar. Satu gelas milkshake coklat juga berada disampingnya.


Sesaat kemudian, Shafa sudah tenang. Ia baru sadar telah menerima sapu tangan dari seseorang. Pandangannya mencari orang yang mungkin menghampirinya tadi. Dan satu-satunya orang yang Shafa lihat adalah seorang pria dengan kemeja biru sedang berjalan dengan posisi membelakangi dirinya. Kedua tangan pria itu dimasukkan kesaku celana dengan sebuah jas bergelayut disela salah satu tangannya.


Belum sempat Shafa mengejar, pria itu sudah masuk kemobil yang terparkir dipinggir taman. Lalu melesat pergi, hingga hilang dari pandangannya.


Shafa menghela nafas. Kemudian ia meminum minuman yang ditinggalkan pria misterius tadi. Hatinya sudah agak tenang. Diamatinya sapu tangan yang kini berada dalam genggaman tangan kirinya.


Ada rajutan bertuliskan G.A.P yang pastinya adalah inisial sebuah nama. Mungkin juga sapu tangan itu sengaja dibuat khusus oleh seseorang.


Shafa pun menyimpan benda itu kedalam tasnya. Ada pesan dari sang ayah untuk datang kerumah Olivia, mamanya. Saat hendak mencari transportasi umum, ada pria berpakaian hitam menghampiri. Mereka bilang disuruh oleh tuan Steven untuk menjemput dirinya.


Shafa pun menurut, dan benar ia dibawa kesebuah rumah yang tak dikenalnya.


Ketika masuk, Olivia menyambut dengan ramah.


"Selamat datang dirumah mama, Shafa!" seru Olivia sambil memeluk putrinya.


Steven juga muncul dari dalam menghampiri mereka. Shafa melepas pelukan mamanya dan beralih ke pelukan sang ayah.


Steven merasa ada yang beda dari raut wajah putrinya hari ini. "Apa kamu ada masalah, Sayang?" tanyanya lembut.


Shafa meregangkan pelukannya. Tapi dia belum mau menjawab pertanyaan ayahnya. Ia hanya menggeleng sambil menundukkan kepala.


"Kau tidak pandai berbohong pada Daddy,Shafa!" seru Steven sambil mengusap lembut kepala putrinya yang berbalut hijab.


Olivia melihat naluri seorang ayah yang kuat pada diri Steven. Sebegitu dekatnya mereka. Padahal sama sekali tak ada ikatan darah diantara mereka.


"Bukan masalah besar Dad. Aku baik-baik saja," ujar Shafa.


Kemudian mereka duduk bersama diruang keluarga. Sesaat kemudian Gibran turun dari lantai atas, bergabung bersama mereka.


"Begini Gibran, Shafa, Papa dan Mama nanti malam akan mengadakan cara akad nikah lagi untuk memperbarui pernikahan kami. Hanya kerabat dekat yang akan datang. Papa harap ini adalah kabar bahagia untuk kalian. Papa dan Mama akan bersatu kembali," terang Steven.


Shafa tersenyum bahagia mendengar hal itu. Begitu juga dengan Gibran, ia sangat bahagia keluarganya akan utuh lagi.


"Dan satu lagi kabar bahagia buat Shafa. Nanti malam sekalian juga acara pertunangan kamu dengan anak rekan bisnis Daddy."


Mendengar hal itu Shafa sangat terkejut. Ayahnya memutuskan hal itu secara sepihak tanpa meminta persetujuannya lebih dulu.


"Daddy..." pekik Shafa.


"Papa apa-apa an ini?" seru Gibran yang juga terkejut. Tentu ia kurang setuju dengan keputusan papanya.


"Daddy kan tau, sampai kapan pun tak akan ada yang bisa menggantikan Fachri. Shafa tidak akan pernah menghianati Fachri, Dad." Air mata Shafa kembali.


Gibran kembali terkejut mendengar adiknya menyebut nama Fachri lagi. Apa yang terjadi sebenarnya? Lalu siapa Fachri bagi adiknya?


"Justru itu Shafa, Daddy tidak mau kamu terlalu larut dalam kenangan bersama Fachri. Kamu harus keluar dari kenangan itu dan melanjutkan hidup kamu. Daddy sudah punya calon yang tepat untuk kamu."


Olivia memeluk Shafa yang sedang terisak. "Siapa Fachri, Mas? Apa maksud perkataan Shafa?" tanyanya penasaran. Karena sejauh ini Steven belum menceritakan masa lalu putrinya.


"Iya Pa. Siapa Fachri? Gibran sudah berusaha mencari informasi tentang dia. Tapi tidak ada hasil."


Steven menghela nafas panjang. "Dia mendiang suami Shafa. Fachri meninggal dua tahun yang lalu," ucapnya lirih tapi masih bisa didengar oleh Gibran dan mamanya.


Lalu Steven menceritakan detail kejadian yang menimpa Shafa sebelum putrinya menikah dengan Fachri. Mereka berdua terkejut mendengar cerita Steven.


Sesulit itukah hidup Shafa setelah mereka berdua meninggalkan rumah? Selama ini Shafa hidup dengan dibayangi rasa bersalah karena kepergian Fachri.


"Karena itulah Papa ingin adik kamu menikah lagi, agar dia bisa melupakan kesedihannya," ucap Steven kemudian.


"Tapi Shafa belum siap, Shafa belum bisa Daddy," ujar Shafa disela isak tangisnya.


"Ini keputusan Daddy, Shafa. Tolong menurut pada Daddy kali ini saja! Dia pria yang baik. Jika kalian tidak ada kecocokan sama sekali setelah menjalani pernikahan. Itu terserah kamu kedepannya. Tapi Daddy harap dia akan menjadi imam terakhir untuk kamu."

__ADS_1


Steven diam sejenak, mengamati orang-orang dihadapannya yang dilanda kebingungan. Shafa masih dalam dekapan Olivia.


"Minggu depan acara akad nikah kalian tanpa resepsi. Jika kalian sudah saling membuka hati dan ada kecocokan, baru resepsi akan diadakan," lanjut Steven.


Tak ada yang berani membantah keputusan Steven. Olivia yakin pasti suaminya tahu yang terbaik untuk putrinya. Gibran sendiri menatap adiknya dengan perasaan iba. Gadis kecilnya telah banyak menderita. Sebagai seorang kakak seharusnya ia bisa menjadi pelindung bagi adiknya.


Setelah suasana tenang, Olivia mengajak semua orang makan siang bersama.


*****


"Woy... Kusut amat muka lo!" seru Samuel yang kala itu memasuki ruang kerja Guntur. Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia sendiri juga merasa letih setelah seharian berkutat dengan skripsi. Tahun ini Samuel harus menyelesaikan skripsinya agar bisa lulus sesuai jadwal.


Guntur beranjak dari kursinya dan ikut duduk bersama Samuel. Penampilan Guntur memang tampak jauh dari kata rapi. Kemeja yang sudah kusut, dasi tak terpasang rapi. Kancing kemeja dibagian kerah juga lepas. Lengan kemeja juga ia lipat.


"Tumben amat sih Kak, berantakan banget kayak habis kalah judi aja," celetuk Samuel.


"Astaghfirullah... Amit-amit dah ah! Kalau ngomong disaring napa!" seru Guntur yang akhirnya buka suara.


"Kenapa lo? Lagi kalah tender?"


"Iya, aku kalah tender cinta."


"Hahaha... udah nurut aja sama orang tua. Terima saja perjodohan itu."


"Tapi perasaanku hanya untuk dia Sam."


"Gue boleh jujur nggak?"


"Apa?"


"Lo itu pecundang Kak. Lo itu pengecut. Tahu nggak pe-nge-cut," ujar Samuel serius.


"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?"


"Gimana gue nggak bilang kalau lo itu pengecut. Sedangkan lo itu deketin cewek yang lo suka pake nama gue. Sampai kapan lo akan kayak gini terus? Lo nggak mikir, bagaimana pandangan dia ke gue yang selalu ngechat dia. Padahal dia tahu gue juga udah punya cewek. Apalagi kata-kata manis yang lo kirim. Pasti dia bimbang selama ini."


Guntur terdiam mendengar penuturan adik sepupunya yang memang sebuah kenyataan. Selama ini dia bersembunyi dibalik nama Samuel. Dia memang pengecut dalam urusan cinta. Seorang Guntur menjadi pengecut saat berhadapan dengan perasaan cinta itu sendiri.


"Kalau tidak bisa jujur pada Shafa, terima saja perjodohan yang sudah disiapkan paman dan bibi. Dan jauhi gadis itu! Biarkan dia mencari kebahagiannya sendiri tanpa harus bergantung sama chat an lo yang membuat dia pada posisi sulit," ujar Samuel yang kemudian bangkit dari duduknya melangkah menuju pintu.


"Gue mau pulang, capek gue ngomong sama orang yang nggak punya pendirian. Sekali lagi saran gue, terima perjodohan itu. Lo nggak akan nyesel."


Setelah itu Samuel keluar dari ruangan Guntur.


"Gue harap lo bisa jujur pada Shafa. Dan bisa bahagia tanpa ada kebohongan dalam memulai hubungan baru," gumam Samuel sebelum benar-benar pergi.


Sedangkan Guntur semakin frustasi. Dia bingung harus bagaimana. Jujur pada Shafa lalu memutus hubungan atau tetap dalam kebohongan yang tanpa sengaja telah menjebaknya dalam posisi yang tak kalah sulit.


Suara dering ponsel tak dihiraukannya. Bahkan dengan sengaja Guntur mematikan ponselnya. Dia memang pantas disebut sebagai pengecut.


Seorang pengecut yang takut menerima kenyataan sebelum melangkah.


Malam ini sebenarnya kedua orang tua Guntur mengajaknya menemui calon istri yang sudah disiapkan untuknya. Bahkan mereka sudah menyiapkan acara lamaran yang sederhana. Tapi ia malah sengaja tidak pulang.


*****


Acara akad nikah antara Steven dan Olivia berlangsung dengan rasa haru dari pihak keluarga. Mereka merasa bahagia, suami istri yng telah terpisah selama bertahun-tahun telah kembali mengikat ikrar suci. Tak banyak tamu yang di undang. Mereka juga dijamu dengan makan malam sederhana.


Semua tamu sudah undur diri. Kecuali sepasang suami istri yang masih mengobrol dengan Steven dan Olivia.


Shafa pun di panggil oleh sang ayah untuk mendekat. Ia pun menurut dan mendekat kearah mereka yang sedang asyik mengobrol disofa.


"Duduk sini sama tante, Sayang!" Seorang wanita paruh baya menepuk tempat disebelahnya. Agar Shafa berada didekatnya.


"Kamu benar-benar cantik. Pasti putra tante terpesona sama kamu," ucap wanita itu setelah Shafa duduk didekatnya.


Shafa hanya menanggapi dengan senyuman yang terkesan canggung.


"Mereka ini Tante Sonia dan Om Faisal, calon mertua kamu Shafa," ucap Steven.


"Iya Nak Shafa, kami sangat berharap kamu menjadi pendamping putra kami. Cinta pasti tumbuh seiring bergulirnya waktu. Tapi maaf acara pertunangan kalian tidak jadi. Anak tante masih belum pulang dari kantor. Mungkin dia lagi banyak pekerjaan," ucap Sonia lembut.

__ADS_1


Shafa pun bisa menebak bahwa itu hanya sebuah alasan. Mungkin orang yang dijodohkan dengannya sama-sama dalam posisi sulit. Dijodohkan secara tiba-tiba dengan orang yang belum dikenal.


"Apa kalian tahu siapa saya dan bagaimana masa lalu saya?" tanya Shafa kemudian.


Kini Faisal yang angkat bicara. "Kamu tenang saja. Ayah kamu sudah cerita semuanya. Kami sangat kagum dengan ketegaran kamu selama ini. Dan kamu tidak usah khawatir mengenai putra kami. Dia sendiri yang meminta menikah dengan janda," ucapnya yang kemudian diiringi suara tawa.


"Iya Nak Shafa. Putra kami memang aneh, dia orangnya humoris. Apalagi kalau sama adik sepupunya, bisa bikin rumah rusuh walau hanya ada mereka berdua," imbuh Sonia.


Shafa kembali menanggapi dengan sebuah senyuman. Mungkin perjodohan ini tidak terlalu buruk baginya. Ada mertua yang mau menerima dia apa adanya. Setidaknya pun, hubungan ini terjalin tanpa ada hal yang ditutup-tutupi.


Setelah puas berbincang-bincang, Faisal dan istrinya pamit pulang. Shafa sempat terharu mendapat perlakuan hangat dari calon mertuanya. Padahal mereka baru saja bertemu.


Malam itu Shafa memilih duduk sendirian ditaman belakang rumah. Memandangi langit tanpa bintang. Lalu sebuah pesan masuk.


Aku seperti berada diantara titik segitiga


Dimana aku harus memilih salah satu titik


Pertama titik kebohongan, jika aku memilih titik itu


Maka, aku akan tetap berada disisinya


Kedua, titik kejujuran. Jika aku memilih titik itu


Maka, aku harus siap kehilangan


Ketiga, titik pelepasan. Jika aku tak bisa memilih


titik kebohongan dan kejujuran


Maka, aku harus tetap melepaskannya


Aku harus memilih titik yang mana?


Shafa mengerutkan kening setelah membaca pesan itu. Lalu ia pun mengetikkan balasan.


Seperti apa pun pahitnya kejujuran kau harus tetap jujur


Sebuah kebohongan akan meninggalkan luka dikemudian hari


Lepaskan jika itu pilihan yang terbaik dari pada mempertahankan


Tapi melukai


Setelah itu tak ada lagi pesan masuk. Ia pikir, mungkin temannya itu sedang dalam keadaan yang sulit dan harus menentukan pilihan.


Shafa sendiri masih berkelut dengan perasaannya sendiri. Malam itu ia tak diizinkan pulang kekontrakan oleh kedua orang tuanya. Saat ini hatinya masih terpaku pada satu nama. Entah dia bisa membuka hatinya atau tidak. Rasanya hal itu sangat sulit untuk ia lakukan. Tapi dia harus mencoba.


Maafkan aku Fachri...


Aku harus menerima perjodohan ini


Aku harus bisa bahagia meski tanpa dirimu


Aku harus melanjutkan jalan hidup yang masih panjang


Itu yang kau katakan dulu


Kini aku berusaha menerima takdir yang harus aku jalani


Maafkan aku Fachri...


Maafkan...


.


.


.


"Kau bisa saja melupakan seseorang yang pernah berbagi tawa dan bahagia bersamamu. Tapi kau tidak akan mungkin bisa melupakan seseorang yang pernah menangis bersamamu"

__ADS_1


~Khalil Gibran~


Thanks readers!


__ADS_2