Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Bunda Marah


__ADS_3

"Mar ... Damar ... Damar." Suara yang semula terdengar samar-samar berubah jadi semakin keras ditambah guncangan di lengan. Damar yang semula tak sadarkan diri perlahan mulai membuka matanya. Ada aroma obat tercium begitu kerasnya. Ia juga merasa kepalanya berdenyut, sementara pipinya panas.


"Di ... dimana ini?" tanya Damar dengan suara parau. Sementara kesadarannya mulai membaik. Wajah bunda yang terlihat pertama kali, di sisi ibunya ada ketiga adiknya. Lala, Sigit dan Nanda. Dari ekspresi wajahnya tampak betul kalau mereka khawatir.


"Kamu sudah sadar, Mar?" tanya Bu Anis.


"Bun, ini dimana?" Damar balik bertanya.


"Di rumah sakit," cetus Nanda.


"Mar ... Damar, kamu itu ya. Kenapa sih nggak mau nurut kata-kata Bunda. Kan sudah dibilang jangan pernah balapan lagu, tapi kenapa kamu masih kekeh juga, hah? Kamu nggak bisa apa, sehari saja untuk tidak membuat masalah? Bunda lelah Mar. Bunda khawatir. Rasanya jantung bunda mau berhenti berdenyut melihat kondisi kamu!" tegas ibunya.


"Duhhhh, maaf Bun," Damar meraba wajahnya, ada perban kecil di sana. "Ini mukaku kenapa?" Damar khawatir, seberapa parah lukanya hingga harus diperban. Ia takut akan menghilangkan pesonanya, terutama di depan Bu Dita. "Ini nggak kenapa-napa kan Bunda?"


"Kenapa-napa. Muka Abang cacat," celetuk Nanda.


"Nanda, husss!" Bunda melotot pada Nanda, putri sulungnya itu hanya bisa nyengir.


"Bun, wajah Damar nggak apa-apa kan Bun?" Damar masih khawatir.


"Enggak apa-apa. Cuma lecet sedikit. Diperban supaya nggak inveksi kena debu. Dokter bilang dalam sepekan perbannya sudah bisa dibuka dan InshaAllah wajah kamu nggak akan kenapa-napa." Bu Anis menenangkan putranya.


"Hufff syukurlah."

__ADS_1


"Sekarang kamu jawab pertanyaan Bunda, kenapa kamu masih ikut balapan? Bukannya kamu sudah janji sama Bunda nggak akan balapan lagi? Kamu tahu, kamu hampir saja kehilangan nyawa kamu, Mar. Motor kamu hancur, untung saja kamu nggak ikutan hancur!" jelas ibunya.


"Hah, motor Damar kenapa, Bun?" Damar ingat, terakhir sebelum ia terjatuh, motornya sempat kehilangan keseimbangan dan bannya copot. Meski jago mengutak-atik sepeda motor tapi tetap saja Damar khawatir motor butut yang ia dapatkan dari Babah Hong, mantan majikan ibunya itu rusak. Ia akan kesulitan untuk membeli motor yang baru.


"Motor motor saja yang kamu pikir, Mar. Jawab dulu pertanyaan Bunda!" hardik ibunya yang sudah sangat kesal.


"Bun, Damar butuh uang banyak untuk membayar mahar dan biaya nikah. Damar bingung nyari uang dengan cara apa lagi. Satu-satunya jalan yang Damar tahu saat ini ya dengan balapan." jawab Damar.


"Astagfirullah Damar. Masih juga tentang guru kamu itu? Sebegitunya kamu, Mar. Sampai mengorbankan diri kamu sendiri. Bunda nggak rela, Mar. Sungguh nggak rela! Tega kamu," Bu Anis keluar dari kamar tempat Damar di rawat dengan penuh kekecewaan. Ia benar-benar tidak bisa ikhlas jika anaknya harus berkorban, melakukan hal yang bahaya demi perempuan yang menurutnya tak pantas untuk putranya.


Bu Anis paham yang namanya remaja ketika jatuh cinta biasanya pemikirannya tak panjang. Ia juga pernah muda dan paham betul apa yang dipikirkan putranya. Tapi hatinya memberontak atas pilihan yang ditentukan putranya.


Kalau saja putranya memilih Rana, maka hatinya akan tenang. Gadis itu, selain putri sahabatnya, juga cantik, berpendidikan dan yang terpenting punya masa depan cerah. Meski ia punya penyakit bawaan sejak kecil, tetapi kehidupan Rana telah terjamin oleh kedua orang tuanya. Ia akan jadi pewaris toko tekstil terbesar di kota ini, belum lagi kontrakan milik ibunya. Ahhh, Bu Anis tak ingin munafik, ia sadar dengan kemampuan anaknya, jujur ia punya kekhawatiran dalam hal mencari nafkah, makanya ia berharap Damar berjodoh dengan Rana agar bisa menopang perekonomian keluarga kecil putranya nanti


"Abang itu benar-benar keterlaluan ya. Sebegitu pentingnya Bu guru genit itu sampai mengabaikan perasaan bunda," cetus Nanda.


*Dasar, kalau sudah jatuh cinta jangan terlalu bodoh, bang!" Nanda kesal sekali. Ingin sekali ia menyadarkan abangnya, tapi entah dengan cara apa. Makanya ia hanya bisa mendumel, berlalu meninggalkan kamar tempat Damar di rawat menyusul ibunya.


***


Rana masuk ke kamar Damar ditemani oleh Bu Anis dan Nanda. Dua orang itu tampak sumringah dengan kedatangannya. Apalagi Rana juga membawa buah tangan dan amplop yang tidak tipis. Benar-benar membantu saat mereka dalam kesulitan.


"Terimakasih banyak lho nak Rana, sudah mau membesuk Damar." kata Bu Anis, sambil mengelus punggung calon mantu idamannya.

__ADS_1


"Rana benar-benar khawatir. Tapi Damar enggak apa-apa, kan?" tanya Rana, tanpa beralih sedetikpun pandangannya dari Damar.


"Alhamdulillah nggak apa-apa, cuma luka-luka kecil. Sore ini juga sudah bisa pulang." Kata Bu Anis


"Kalau begitu nanti pulangnya sama Rana saja ya tan, kebetulan Rana bawa mobil." Rana menawarkan.


"Duhhh malah tambah ngerepotin." kata Bu Anis.


"Udah, enggak apa-apa Bun. Mumpung kak Rana bisa. Bunda juga senang kan kalau pulangnya sama kak Rana." kata Nanda.


"Hehehe, ya senang. Siapa yang nggak suka kalau pulang sama anak cantik dan baik hati kayak nak Rana. Beruntung sekali nanti yang jadi mertua kamu, nak Rana ." cetus Bu Anis.


Mendengar pujian Bu Anis membuat senyum Rana mengembang. Ia pun sangat ingin menjadi menantu keluarga ini, tetapi Rana menyadari sesuatu hal yang membuat senyumnya langsung susut.


Bu Dita. Bagaimana kabar perempuan itu sekarang? Apakah ia sudah datang membesuk Damar? Pasti Damar sangat senang kalau ia datang, tidak cuek seperti saat dirinya datang. Lagi-lagi Rana dibuat minder. Ia benar-benar merasa kalah saing dari mantan gurunya tersebut meski sebenarnya Rana juga tak kalah cantik dibandingkan Bu Dita.


"Mar, Bu Dita sudah datang ke sini?" Rana tahu pertanyaan yang ia ajukan hanya akan membuat hatinya sakit, tapi rasa penasarannya begitu besar hingga ia tak bisa menahan diri. Sementara itu Bu Anis dan Nanda agak kaget mendengar pertanyaan Rana.


"Belum. Bu Dita nggak tahu aku masuk rumah sakit." jawab Damar, enteng.


"Lebih baik nggak usah datang. Kalau nekat lihat saja," Bu Anis menjawab sinis.


"Iya. Lagian apa tidak malu ketemu ibu. Selisih usianya saja sama bang Damar jauh. Enggak banget lah." tambah Nanda.

__ADS_1


"Kalian kenapa?" Damar memandang ibu dan adik perempuannya yang serentak mengomentari perempuan yang disukainya. Perdebatan antara anak - ibu dan adik itu pun tak bisa terelakkan. Ibu dan anak perempuannya konsisten menolak, sementara Damar mempertahankan pilihannya.


Sebuah rasa sudah Allah beri untuknya. Ia tahu, rasa itu bukan sekedar rasa. Tapi harus diperjuangkan. Apalagi Bu Dita menginginkan pernikahan. Bukankah hubungan tertinggi adalah pernikahan!


__ADS_2