Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Kunjungan Sang Mantan


__ADS_3

Sedang berdebat, tiba-tiba seseorang mengucap salam di pintu masuk. Suara yang membuat mereka berdua kaget dan buru-buru bangkit dari lantai, namun seseorang yang datang itu sudah terlanjur melihat Damar dan Dita duduk lesehan dengan jarak cukup dekat.


"Dit?" Aditya, berdiri di depan pintu sambil menatap kearah dua insan tersebut dengan tatapan kaget sekaligus bingung. "Ada apa ini?" tanya lelaki tersebut.


"Aditya?" tak kalah kaget dengan Aditya, Dita pun terperanjat mendapati tamu siang ini. Seseorang yang pernah menghancurkan hatinya, membuatnya kehilangan harapan terhadap mimpi indahnya membangun mahligai rumah tangga.


"Kamu ngapain dengannya? Dia siapa?" tanya Aditya


"Harusnya saya yang tanya, anda ngapain ke sini?" Damar maju, tak memberi kesempatan pada Aditya untuk mengintrogasi istrinya. Sebagai seorang suami ia mempunyai rasa cemburu yang sangat besar pada istrinya. Terutama pada Aditya. Damar tahu betul bagaimana jalan cintanya mereka berdua.


"Heh, kamu jangan ikut-ikutan. Saya tidak mengajak kamu bicara!" Aditya marah, ia kaget dengan apa yang dilihatnya barusan. Dita yang dikenalnya adalah perempuan terhormat yang sangat menjaga dirinya. Jangankan melakukan hal seperti tadi, sekedar berdekatan dengannya yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun saja Dita masih sangat menjaga jarak. Makanya Aditya sangat kaget dengan apa yang dilihatnya barusan. Apa jangan-jangan Dita begitu karena stres akibat diputus secara sepihak olehnya enam bulan lalu?


Aditya menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ia pun menyesalinya sebab masih sangat mencintai Dita. Aditya sebenarnya juga berharap bisa menjalin hubungan pernikahan dengan mantan kekasihnya itu, tapi tidak saat itu sebab ia masih punya mimpi yang masih ingin dicapai. Ia ingin menduduki jabatan direktur di perusahaan lokomotif, jika saat itu ia memutuskan menikah maka ia berpikir pikirannya akan terbagi. Makanya saat Dita terus mengajak untuk menikah akhirnya ia yang merasa didesak memutuskan Dita secara sepihak.


Namun saat itu hingga sekarang Aditya beranggapan bahwa Dita tak akan bisa move on secara cepat darinya. Ia yakin Dita akan tetap menunggu hingga ia siap menikahi gadis itu. Aditya sangat yakin sebab selain usia mereka sudah sangat matang juga mereka telah menjalin hubungan bertahun-tahun. Kenangan yang mereka buat sudah terlalu banyak dan tak akan semudah itu melupakan dirinya.


"Aditya, kamu ngapain di sini?" tanya Dita.

__ADS_1


"Aku ingin bicara denganmu." ucap Aditya.


"Tidak boleh!" jawab Damar.


"Apa urusannya denganmu? Hei, sepertinya saya pernah melihat kamu, oh ya saya ingat, kamu itu muridnya Dita, kan? Kamu anak yang suka mengganggu kalau saya menjemput Dita. Kamu suka membohongi saya. Iya, kan?" Aditya menunjuk Damar. Ia ingat kalau dulu pernah dikerjai oleh Damar saat mau menjemput Dita, Damar mengatakan kalau Dita sudah pulang, padahal belum. "Kamu cuma muridnya, mau apa di sini? Sudah sana, sekarang cepat pergi!" Aditya mengusir Damar.


"Anda yang pergi dari sini!" Damar balas mengusir Aditya. Pria sombong itu pernah membuat istrinya kecewa berat, Damar tak akan memberikan kesempatan padanya lagi bicara dengan istrinya. Lagi pula mereka adalah mantan, Damar punya kekhawatiran jika ada komunikasi antara mereka bisa mendatangkan cinta kembali.


"Berani sekali kamu. Dit, suruh dia pergi!" Perintah Aditya.


"Kenapa? Kenapa nggak bisa? Oh, aku tahu kamu pasti masih marah padaku karena peristiwa enam bulan lalu. Kamu kesal karena aku memutuskan kamu secara sepihak. Benar, kan, Dit? Aku ke sini untuk meluruskan semuanya Dita. Aku sudah memikirkan semuanya dan siap menikah dengan kamu. Jadi ayo kita bicarakan semuanya." bujuk Aditya. Ia menyadari, perempuan kalau marah butuh waktu untuk menenangkan, karena ia yang membuat kesalahan makanya ia berjanji pada dirinya sendiri akan bersabar hingga Dita luluh meski selama ini jika ada kesalahan Dita lah Yang akan bersabar menenangkan hingga mereka berdamai kembali.


"Karena aku sudah menikah." kata Dita


"Apa? Aku nggak salah dengar, kan? Ini tidak mungkin, tiga bulan lalu aku baru saja bicara dengan pamanmu, katanya kamu masih sendiri. Bagaimana mungkin? Kamu pasti bohong, kan, Dit? Kamu sengaja mengarang cerita karena kesal padaku. Oke, aku akui aku yang salah Dit, tapi tolong maafkan aku. Ayo kita perbaiki lagi semuanya dari awal. Aku sangat mencintaimu,Dit, aku ...." belum selesai Aditya bicara, Damar sudah memotong sebab ia jengah mendengar pengakuan cinta seorang laki-laki pada istrinya.


"Ehhh sudah sudah..nggak usah ngomong-ngomong cinta di sini. Tidak sopan. Saya suaminya Dita, tolong sekarang pergi dari sini dan juga dari kehidupan istri saya. Jangan ganggu kami karena saya dan Dita sudah sah sebagai suami istri." kata Damar.

__ADS_1


"Apa? Lelucon apa ini, Dit?" Aditya kaget, tentu saja ia tak percaya. Bagaimana mungkin mantannya sudah menikah dengan muridnya sendiri.


"Ini bukan lelucon tapi ini sesungguhnya." Damar membuka tasnya, memperlihatkan buku nikah yang baru saja didapatkan tadi pagi kepada Aditya. "Lihat kan, saya dan Dita sudah menikah. Tadi pagi. Kami sudah sah sebagai suami istri. Jadi mulai sekarang jangan pernah muncul di hadapan kami lagi!"


"Apa? Apa-apaan ini, Dit? Ini nggak lucu. Ini pasti .... Aghhhhh!" Aditya benar-benar tak menyangka. Ia sangat terkejut. Secepat itukah perempuannya melupakan dirinya. Dan yang lebih membuat Aditya tak habis pikir, kenapa yang menjadi penggantinya laki-laki seperti itu? Bekas murid Dita. Anak urakan yang Aidtya yakin selain usianya yang cukup terpaut jauh juga terlihat tak ada masa depannya. Aditya tak tahu, apa pekerjaan anak muda ini, tapi ia memperkirakan bukan sesuatu pekerjaan yang keren seperti dirinya. Paling tinggi hanya pegawai biasa. Lalu kenapa Dita memilihnya? "Apa istimewanya dia?"


"Bila dibandingkan kamu, banyak!" Tegas Dita, membuat Aditya meradang.


"Apa?" Aditya terpancing.


"Salah satunya dia berani berkomitmen. Berani mengajak nikah, bukan sebaliknya seperti kamu." kata Dita.


"Kamu tahu Dit, kenapa aku lama mau menikah denganmu. Karena aku sedang mempersiapkan yang terbaik. Menikah itu bukan sekedar bersatu, tapi banyak tanggung jawab. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk kamu!" ucap Aditya. "Selama enam bulan ini aku memperjuangkan itu semua. Makanya aku menolak menikah dengan kamu di awal!"


"Aku nggak butuh semua itu. Aku hanya ingin orang yang benar-benar serius. Bukan sekedar ngajak jalan selama bertahun-tahun tapi tidak berani mengajak nikah." kata Dita, membuat Aditya malu.


Harga dirinya Aditya seolah diinjak-injak sebab dibandingkan dengan anak kemarin sore. Anak yang hanya lulus SMA. Aditya merasa penasaran, orang seperti apa Damar ini? Berani sekali ia mengalahkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2