Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Drama Rumah Sakit (2)


__ADS_3

"Dengar ya, bang, sekarang aku mengerti bagaimana pandangan Abang terhadap kami. Abang nggak usah khawatir, aku nggak akan membebani Abang supaya Abang bisa tenang mengumpulkan uang yang banyak untuk perempuan yang Abang cintai itu. Abang cukup memikirkan dia saja. Bahagian dia saja. Untuk urusan bunda dan adik-adik, Abang tak perlu pikirkan lagi. Aku yang akan berusaha memenuhi semua kebutuhan bunda, Sigit dan Lala. Aku udah mutusin nggak akan kuliah bang. Biarlah mimpi jadi dokter ku kubur demi bunda. Kebahagiaan diri sendiri tak berarti kalau ibu sendiri tak bahagia. mulai sekarang aku akan mencari pekerjaan agar bisa menghidupi perempuan yang sudah berjuang untukku. Aku nggak tega jika bunda harus bersedih setelah ia menaruh begitu besar harapan pada Abang. Kebanggaan bunda hari ini pada Abang begitu besar. Sudah, bang. Aku harus menemani Bunda." Kata Nanda.


"Nan, jangan begitu. Kamu salah paham. Abang nggak pernah berniat meninggalkan kalian. Abang akan berusaha memenuhi semuanya. Abang akan berjuang untuk kamu, bunda dan adik-adik. Maafin Abang. Tolong jangan bilang bunda." Pinta Damar. Ia memelas.


Setelah Damar memohon-mohon, barulah Nanda menyetujui. "Kamu juga tidak perlu bekerja, Nan. Abang yang akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian. Kamu tetaplah mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi. Abang janji akan membiayai semuanya. Sekali lagi Abang minta maaf ya, Nan. Tolong jangan salah paham." pinta Damar.


"Enggak bang, jangan minta maaf. Abang nggak salah, Abang berhak mengejar kebahagiaan Abang. Abang nggak perlu memikirkan kami."


"Jangan begitu, Nan. Abang nggak akan mengulanginya lagi. Abang benar-benar menyesal."


"Ya, aku juga minta maaf, Bang. Nanti kalau Abang begini lagi, aku nggak akan protes."


"Enggak Nan, jangan begitu. Abang janji akan lebih mengutamakan keluarga."


Nanda tersenyum penuh kemenangan saat ia berhasil membuat abangnya masuk ke dalam jebakan.


Kini, dua kakak beradik itu kembali ke ruang rawat Ibunya. Damar berusaha bersikap tenang meski hatinya gelisah. Ia masih bingung dengan biaya rumah sakit, namun tak ingin lagi mengutarakan karena tak mau ada kesalah pahaman untuk kedua kalinya. Damar tak mau ibu dan adiknya kecewa, apalagi sampai sedih. Ia sudah berjanji akan berusaha semaksimal mungkin.

__ADS_1


***


Sudah tiga hari Bu Anis dirawat di rumah sakit. Terakhir Damar mengecek total biaya tagihan rumah sakit, sekitar sepuluh jutaan. Damar hanya bisa terdiam.


"Lalu kapan pasien bisa pulang, ya, mbak?" tanya Damar.


"Sekarang sudah bisa, mas. Setelah seluruh tagihan dilunasi." jawab petugas.


"Oh, begitu."


Damar meninggalkan bagian administrasi. Ia berpikir keras, siapa yang kiranya bisa membantu meminjamkan dana untuk biaya rumah sakit ibunya. Kalau harus casbon di tempat kerja rasanya sudah tidak enak. Damar baru masuk beberapa hari, saat ibunya sakit pertama kali ia sudah meminjam uang, sekarang masa harus pinjam lagi, apalagi ia sudah banyak izin tidak masuk.


Dengan pikiran kacau, Damar menunggu di taman rumah sakit. Ia tak tahu lagi harus minta bantuan siapa. Pada teman-temannya tak mungkin sebab mereka pun belum bekerja dan rata-rata nasibnya sama seperti Damar. Perekonomian pas-pasan bahkan banyak juga yang kering.


Tiba-tiba masuk pesan WA di Hpnya. [Mar, bisa minta tolong kirimkan rekening? Saya tahu saat ini kamu pasti butuh banyak uang untuk biaya berobat ibumu. Kita urunan ya.] Kata Bu Dita.


Membaca pesan itu membuat Damar ingin menangis. Ia memang tak salah pilih. Perempuan yang dicintainya sangatlah peduli pada orang lain. Air mata Damar benar-benar mengalir saat mendapati pemberitahuan dari bank. Rupanya Bu Dita mengirimkan uang yang cukup banyak, melebihi dari apa yang dibutuhkan Damar untuk biaya rumah sakit. Ia sebenarnya tak ingin melibatkan Bu Dita karena memang ini adalah tanggung jawabnya, tapi ia juga belum tahu jalan keluarnya. Makanya Damar berjanji ketika uangnya sudah cukup maka ia akan segera mengembalikannya.

__ADS_1


[Terimakasih banyak, Bu. Saya Janji, kalau uangnya sudah terkumpul maka saya akan segera mengembalikannya.] janji Damar.


[Jangan dipikirkan, Mar. Yang penting Bu Anis baik-baik saja. Kamu fokus pada ibu saja dulu.] balas Bu Dita.


[Ya, Bu. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Saya tidak menyangka kalau penyelamat yang Allah turunkan untuk saya adalah ibu.]


Bu Dita mengirimkan emot tersenyum. [Mar, apapun yang terjadi, kamu harus ingat bahwa berbakti pada orang tua adalah kewajiban setiap anak. Apalagi anak laki-laki. Kalau sekarang kamu belum mendapatkan restu, jangan pernah memaksakan kehendak. Teruslah berusaha, saya akan ikut mendoakan. Semoga nanti, entah kapan, Bu Anis akan luluh dan bisa menerima saya. Sembari menanti restu, terus mendekat pada Allah, Mar, sebab Allah yang maha membolak-balikkan hati seseorang. Kamu belajar terus ya supaya nanti bisa jadi imam yang baik.]


Damar kembali tersenyum membaca pesan dari Bu Dita. Ia membayangkan berapa beruntungnya ia jika benar-benar berjodoh dengan gurunya tersebut. Perempuan yang saliha, bisa menjadi pengingat Damar dan selalu membuatnya tenang dan nyaman.


"Ahhhh, ya Allah ... semoga kami benar-benar berjodoh. Aamiin." doa Damar bersamaan dengan kumandang azan Zuhur dari masjid rumah sakit. Ia yang selama ini jarang bahkan bisa dihitubg jari melaksanakan salat kini melangkahkan kakinya ke masjid.


Usai berwudhu, Damar berdiri di barisan depan. Dengan khusyuk ia menunaikan salat berjamaah. Hatinya semakin tenang karena semua keluh kesah ditumpahkan di atas sajadah. Ia benar-benar berbicara dengan Allah, meluapkan semua beban beratnya.


***


"Mar, dari mana saja? Katanya keluar sebentar, tapi kok lama." tanya Bu Anis, saat putranya masuk ke ruang rawat inap.

__ADS_1


Di sana juga ada ketiga adiknya. Selama ibu mereka di rawat, Damar dan adik-adiknya ikut menginap di sini. Sebenarnya Damar sudah melarang, tapi adik-adiknya, terutama Sigit dan Lala mengatakan ingin merasakan tidur di kamar yang bagus, meski hanya kamar rawat inap rumah sakit. Mendengar penuturan adik-adiknya, Damar merasa sedih. Kehidupan mereka memang sangatlah susah. Mereka selama ini hanya mengandalkan pendapatan ibunya sebagai buruh cuci yang upahnya tak seberapa. Bisa makan dan sekolah nya. sementara sekolah ketiga adiknya yang keseringan dibayar dengan bea siswa, saja rasanya sudah Alhamdulillah. Mana pernah terpikirkan menginap di hotel karena ketidak mampuannya.


__ADS_2