Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Dita Yang Lain


__ADS_3

Semua orang masih berdiri mematung melihat Dita meraung sambil membawa putranya dalam dekapan. Mereka seolah melihat Dita yang lain. Dita yang berbeda dari biasanya. Yang mereka tahu, Dita itu adalah perempuan lemah lembut yang halus tutur katanya. Tapi kali ini, mereka melihat sisi lainnya. Entah apa itu, semuanya tak bisa berkata-kata saking kagetnya.


Bu Anis segera memberi isyarat agar para tamu kembali pulang sebab acara telah berakhir hingga tinggallah anggota keluarga besar saja.


"Mungkin dia ...." Damar belum melanjutkan perkataannya, ia yakin ada yang tidak beres pada istrinya. Beberapa bayangan tentang tulisan yang pernah dibacanya bermunculan di benak Damar seperti slide-slide presentasi. Makanya ia buru-buru masuk menyusul dalam kamar.


Hanya berselang beberapa detik saja, kalau Damar terlambat mungkin hal buruk akan terjadi pada bayi mereka. Damar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi ini nyata. Ketika Dita tengah berdiri di hadapan bayinya yang menangis di atas ranjang. Dita memegang bantal, sambil berlinang air mata. Damar sangat yakin dari gerakannya perempuan itu ingin menutup wajah anak mereka dengan bantal. Ia akan membekapnya.


"Ya Allah ... Dita!" dengan sigap Damar meloncat, menarik Dita agar menjauh dari bayi mereka. Ia membawa istrinya dalam pelukan. Dita memberontak, meraung sekuat tenaga sembari mencakar Damar, namun Damar tak melepaskan. Hingga tenaga Dita rasanya habis. Kini, suara tangis Dita dan bayinya berpacu, siapa yang lebih keras.


Dari luar, terdengar suara ketukan pintu kamar. Tapi Damar tak peduli, ia masih fokus pada istrinya yang tengah meraung. Panggilan ibunya diabaikan. Bahkan ia berkata agar mereka segera pulang saja. Damar sangat yakin keberadaan ibu dan adik-adiknya saat ini hanya akan memperburuk situasi.


"Menangis lah. Menangis lah yang kencang. Tumpahkan semuanya sayang. Tumpahkan pedihmu. Kamu enggak salah apa-apa. Aku yang salah. Aku yang sudah membuatmu seperti ini!" kata Damar, tanpa melepaskan pelukannya. "Luapkan saja emosimu padaku, jangan pada bayi yang tak bersalah itu. Anak itu adalah mimpi terbesar kita. Ia adalah buah hati yang kita rindukan kehadirannya. Kamu harus ingat kalau kita sangat menyayanginya. Jadi jangan sakiti dia ya sayang!"


Suara tangis Dita semakin lama semakin mereda. Kini hanya ada Isak tangis. Sementara bayi mereka masih menangis di atas tempat tidur sebab tak ada yang memegangnya.


"Kamu sudah tenang?" tanya Damar, hati-hati.


"Hmm, Daffa nangis." Kata Dita, sambil mengusap sisa air matanya. Ia hendak bangkit tapi ditahan oleh Damar. "Kenapa? Aku hanya ingin menenangkan Daffa. Sepertinya ia ingin minum, atau jangan-jangan ada sesuatu?"


"Ya. Biar aku yang memenangkan. Kamu diam di sini dulu ya." pinta Damar.

__ADS_1


"Tidak, aku saja. Itu tugas perempuan!"


"Siapa bilang? Justru ini juga tugas laki-laki. Begitu kata ustadz. Jadi kamu nurut ya, sebab aku ingin jadi suami teladan."


Setelah yakin Dita tidak akan apa-apa, Damar segera menenangkan bayinya. Rupanya popoknya basah. Meski belum terampil, Damar berusaha menyelesaikan sendiri hingga bayinya terlelap setelah popoknya diganti dan ditimang sebentar.


Usai meletakkan bayinya di atas tempat tidur, Damar keluar sebentar. Ia membuat dua gelas teh. Lalu kembali masuk ke kamar. Rumahnya sudah kosong. Ibu dan adik-adiknya sudah pergi setelah Damar memintanya.


"Minumlah." kata Damar.


"Terimakasih." Dita menyambutnya. "Aku ibu yang buruk."


"Tidak ada ibu yang buruk di muka bumi ini. Mereka sudah berjuang hamil dan melahirkan anaknya bertaruh nyawa. Bagaimana bisa mengatakan diri sendiri buruk? Daffa sudah berhutang padamu dan sampai kapanpun ia tak akan bisa membalas pengorbanan kamu."


Damar memeluk istrinya. Ia membiarkan perempuan yang amat dicintainya itu meluapkan emosi ya salam pelukan.


"Kalau ia tahu, Daffa pasti akan membenciku!"


"Tak akan pernah. Daffa akan mengerti kalau ibunya terlalu lelah."


"Ya. Aku lelah Damar. Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah dalam kesepian ini."

__ADS_1


"Maafkan aku sayang."


"Sekarang pun aku gak bisa menyusui Daffa. Aku benar-benar ibu yang buruk!"


"Kata siapa? Kan sudah ku katakan, tak ada ibu yang buruk di muka bumi ini. Kalian adalah perempuan yang terbaik!"


Dita menatap sepasang mata suaminya yang memancarkan ketulusan. Meski ia sudah sangat lelah denga situasi ini, pada akhirnya malam ini ia bisa merasakan nyaman karena suaminya bisa memahami dirinya.


"Damar ... Terimakasih." Kata Dita. Matanya yang sudah sangat mengantuk pada akhirnya terpejam juga dalam dekapan suaminya.


***


Malam semakin larut. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Damar masih terjaga. Kali ini bukan dengan pekerjaannya. Namun sibuk membaca artikel tentang baby Blues. Ia curiga bahwa Dita terkena baby blues. Tentunya setelah mencari informasi dan konsultasi secara online dengan dokter yang membantu Dita melahirkan.


Sebagai seorang suami, tidak hanya menunaikan kewajiban nafkah lahir dan batin, Damar juga merasa berkewajiban menjaga kesehatan mental istri dan anaknya. Ia menyadari sebelumnya sudah melakukan kesalahan besar dengan abai pada Dita sehingga di masa kehamilannya, selama sembilan bulan perempuan yang dinikahinya itu berjuang dalam kesepian. Padahal itu adalah momok menakutkan yang selalu dihindari oleh Dita sebab sejak kecilnya itulah yang ia lewati.


Aku harus memberikan perhatian pada Dita. Begitu tekad Damar. Ia harus mengatur strategi agar pekerjaan dan kuliahnya tetap lancar namun tetap bisa perhatian pada istrinya. Sebab saat ini adalah saat-saat yang sangat merepotkan bagi seorang perempuan.


Usai melahirkan, biasanya hormon perempuan kacau. Dita yang semula sudah berencana melahirkan normal namun pada akhirnya harus melahirkan secara Caesar sebenarnya sudah merasa kecil hati. Ditambah ia divonis tak bisa lagi memiliki keturunan. Kemudian belum juga bisa menyusui Daffa. Kejadian tadi sudah membuat Damar yakin bahwa istrinya tidak baik-baik saja. Ia harus melakukan sesuatu, entah apa. Tapi Damar merasa harus bergerak cepat.


"Pagi sampai sore kerja. Malam kuliah. Sepadat itu, lalu bagaimana dengan Dita dan Daffa?" Damar berusaha memeras otak, memikirkan jalan keluar tanpa mengorbankan apapun. Namun hasilnya buntu. Ia belum menemukan jalan keluar. Jika harus berhenti kerja, Damar tak yakin bisa mengayuh sampan kapal ini. Bisa-bisa mereka karam. Padahal saat ini mereka tengah butuh biaya besar. Selain keperluan bayi yang cukup besar, Dita juga masih harus menjalani perawatan. Juga biaya hidup yang tentunya tidak sedikit.

__ADS_1


"Ya Allah!" Damar hanya bisa membatin.


Tak juga menemukan jalan keluar, akhirnya ia memutuskan untuk berwudhu. Mengadukan semuanya pada pemilik semesta ini. Damar sangat yakin, apapun masalahnya pasti akan menemukan jalan keluarnya. Ia hanya harus bersabar saja, sembari berdoa dan berusaha.


__ADS_2