Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Bertemu Parasit Rana


__ADS_3

Dita sedang membereskan barang-barang di meja kerjanya. Ia baru saja mengajukan cuti untuk beberapa bulan ini sebab kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk banyak beraktivitas, bahkan suaminya meminta agar Dita berhenti saja, tapi ia belum bisa mengabulkan sebab selain kondisi keuangan keluarga mereka belum stabil juga ditambah Dita sangat menyukai dunia pendidikan, ia ingin mengabdikan dirinya hingga akhir di sini. Menjadi guru bukan hanya sekedar mencari nafkah, namun juga diharapkan sebagai tempat mendapatkan bekal kembali nantinya. Makanya ia minta keridhaan suaminya untuk memberikan izin agar nanti bisa kembali bekerja setelah kondisinya membaik.


Tiba-tiba Bu Venti, guru BP sekaligus sahabat dekat Dita masuk. "Sedih kalau kamu harus cuti, Dit." kata ibu dua anak tersebut. Ia duduk di kursi sebelah Dita, sambil menyenderkan kepalanya di lengan kursi Dita l.


"Mau bagaimana lagi, bayi ini butuh perhatian lebih. Dia nggak mau ibunya kelelahan." Dita tersenyum. "Lagipula tidak lama cutinya. Semoga trimester kedua nanti bayinya sudah bisa diajak ngajar supaya kita sering ketemu lagi " ucap Dita. "Sudah ya, aku harus pergi. Pagi ini harus ketemu dokter lagi."


"Kamu berangkat sendiri?"


"Yap."


"Damar?"


"Dia sedang sibuk di bengkel, aku tidak ingin mengganggu."


"Hmmm, baiklah. Kalau begitu hati-hati ya Dit." Bu Venti melepas kepergian sahabatnya dengan perasaan sedih sebab paling cepat satu bulan ini ia baru bisa bertemu kembali dengan Dita. Sebenarnya bisa saja mereka sering bertemu di luar sekolah, tapi sejak menikah ini, Bu Venti merasa kalau sahabatnya ini semakin susah ditemui. Ia seolah sibuk dengan urusan pribadinya. Beban rumah tangga masih saja menghantui, padahal menurut Bu Venti, sahabatnya itu harusnya bahagia tanpa beban sebab selama ini hidupnya sudah terlalu banyak ujian. Kalau terus diuji, lalu kapan bahagianya?

__ADS_1


***


Dita berjalan pelan usai keluar dari ruang dokter kandungan yang akan menanganinya. Perempuan itu masih sibuk dengan lamunannya hingga abai dengan getar dari Hpnya. Entah sudah berapa kali suaminya menghubungi untuk sekedar tahu bagaimana hasil pemeriksaan yang ia jalani barusan.


Sangat kecil kemungkinan untuk bisa sembuh total. Selama kehamilan ini, untuk menjaga nutrisi bayi, ia pun harus menyuntikkan obat setiap hari di perutnya. Begitu kata dokter tadi. Dita hanya bisa menarik nafas panjang, tak bisa membayangkan betapa lahnya hari-hari yang akan ia jalani nantinya. Namun lagi-lagi ia menyuntikkan semangat pada dirinya sendiri, bahwa sebenarnya ia beruntung. Sama seperti ibunya. Sebab orang yang mengalami pengentalan darah dengan riwayat sepertinya akan sulit untuk memiliki keturunan, sementara ia diamanahi cepat oleh Allah.


"Apakah yang dikatakan dokter tadi benar?" tiba-tiba seseorang berdiri di belakang Dita, membuat lamunannya buyar karena kaget.


"Rana?" Dita sampai mundur beberapa langkah, ia juga memegangi perutnya agar tenang. Entah kapan gadis itu berada di belakangnya. Atau lebih tepatnya mengikuti Dita sebab ia mengetahui apa yang dikatakan oleh dokter pada Dita. "Kamu nguping?" Dita memicingkan sedikit matanya sambil menatap Rana, sungguh tak bisa dipercaya bertemu dengannya dalam kondisi seperti ini.


"Ya!" jawab Rana seolah tanpa beban


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin tahu saja. Kenapa ibu harus ke Dokter kandungan. Sendirian. Apakah Damar tahu kondisi ibu? Oh lebih tepatnya apa ia tahu resiko kehamilan ibu?"


"Itu urusan saya, Rana. Jangan biasakan diri kamu untuk ingin tahu urusan orang lain. Lagipula tidak ada manfaatnya untuk kamu."

__ADS_1


"Kata siapa? Ibu nggak lupa, kan, bagaimana perasaan saya pada Damar?"


"Saya tidak peduli." Dita hendak pergi sebab ia sangat tidak suka mendengarkan perempuan lain, meski itu adalah Rana mengungkapkan isi hatinya tentang suaminya. Bagi Dita, itu adalah sesuatu hal yang tidak sopan. Sebagai perempuan apalagi dari keluarga terhormat, Dita berharap Rana bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah menikah dengan Damar dan sebentar lagi mereka akan punya anak. Lagipula seperti tidak ada laki-laki lain saja sampai harus mengejar suami orang.


"Sama. Sebenarnya saya juga tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada ibu. Tapi karena semua ini ada kaitannya dengan Damar, maka ...."


"Sudah. Cukup. Saya tidak punya waktu untuk mendengarkan bualan kamu!" Dita hendak pergi ketika Rana kembali menghentikannya.


"Tunggu Bu Dita!" pekik Rana. "Saya kira Tuhan tidak adil dengan membuat saya kehilangan Damar. Lelaki yang sangat saya cintai. Tapi setelah tahu semuanya akhirnya saya menyadari bahwa Tuhan maha adil. Dia rupanya sedang mempersiapkan rencana indah untuk saya." Kata Rana dengan penuh percaya diri. "Bu Dita saya adalah perempuan yang tak akan pernah bisa memiliki keturunan karena kekurangan saya. Ibu pasti sudah tahu semuanya kan dari Mqma. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, sepertinya bayi yang ibu kandung akan menjadi milik saya. Anak itu mungkin ditakdirkan akan memiliki ibu sambung saya."


"Apa maksudmu?"


"Bu, jika nanti ibu harus mengalami nasib seperti ibu anda, mohon tunjuklah saya sebagai ibu pengganti untuk anak itu." kata Rana dengan entengnya.


"Astagfirullah, lancang ya kamu!" emosi Dira langsung naik. Ia sangat geram pada mantan muridnya tersebut. Bisa-bisanya gadis itu berpikir seperti itu padanya. Bahwa ia akan meninggal dan bayi ini akan menjadi miliknya. Pernyataan itu membuat Dita miris sekaligus terluka. Bagaimana mungkin seorang Rana yang dahulunya sangatlah sopan ternyata benar-benar sakit jiwanya. Kini ia tak lagi menghiraukan Rana, terus berjalan menjauh meski gadis itu tetap memanggilnya.

__ADS_1


"Kenapa begitu egois. Aku sudah sangat bersabar melepaskan Damar padamu. Tapi rupanya kamu tetap tak mau berbagi sedikit saja. Dasar tamak. Lihatlah, kelak takdir yang akan membuatku mendapatkan Damar kembali beserta anak itu!" Rana mengoceh. Masih dengan menahan kesal ia segera berlalu menuju tempatnya terapi yang berada persis di sebelah bagian dokter kandungan. Itulah mengapa tadi ia bisa melihat Dita. Karena terlalu penasaran, ia akhirnya menguping dengan susah payah dan berhasil mendengar informasi teramat penting tersebut.


Apa yang didengar Rana seolah menjadi obat untuk luka hatinya selama ini. Bahwa ia yang selama ini kecil hati sebab tak sesempurna perempuan lain namun kini mulai percaya diri. Ia akan baik-baik saja dan memiliki keturunan, meski bukan darah dagingnya sendiri namun itu adalah anak Damar. Juga lelaki yang ia cintai akan kembali dalam pelukannya. Saat Dita meninggal maka Damar akan menjadi duda yang artinya ia bisa mendapatkan kembali laki-laki tersebut. Mendadak semangat Rana langsung tumbuh. Ia yang semula kehilangan semangat hidup kini menggebu-gebu, ditambah ia memang memiliki penyakit bipolar. Makanya Rana kini ceria lagi.


__ADS_2