Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Bunda Dan Bu Dita Bicara


__ADS_3

"Bun, Damar akan tetap menikah dengan Bu Dita hari Jum'at ini. Meski belum lulus, tapi Bu Dita sudah tidak mempermasalahkan. Baginya, Damar sudah lebih dari lulus karena kami yakin ini ada yang curang!" tegas Damar.


Bu Anis benar-benar geram sebab anaknya tidak mau dibujuk. Ia yang merasa sudah maksimal pada akhirnya menyerah juga. Bu Anis benar-benar sudah kehabisan ide, bahkan sekedar berkata-kata saja ia sudah tidak bisa. Hanya bisa pasrah pada keputusan putranya yang tidak dapat digoyahkan. Persis dirinya dua puluh satu tahun lalu.


"Terserah kamu sajalah, Mar. Bunda sudah nggak tahu lagi harus bicara apa. Tapi yang jelas, kalau ada apa-apa, jangan pernah menyesali apalagi mengeluh sama bunda. Bunda sudah mengingatkan kamu. Menikah dengan orang yang lebih tua akan ada tantangannya. Tidak semudah yang kamu bayangkan. Suatu hari pasti kamu akan mengerti apa yang bunda maksud. Bunda sudah memberi masukan calon menantu yang menurut bunda terbaik tapi kamu juga tidak mau. Padahal kalau menikah dengannya kamu gak perlu lagi bekerja keras dan kehidupan kita sekeluarga akan terjamin. Tapi kamu malah memilih jalan yang tidak nyaman. Bunda menyerah, Mar. Terserah. Yang penting sekarang kamu bertanggung jawab atas pilihan kamu!" kata Bu Anis.


"Bun, kok begitu?" Nanda protes. Ia takut kalau abangnya benar-benar dengan Bu Dita, bagaimana dengan masa depannya? Ia ingin jadi dokter dan biayanya tidaklah sedikit. Kalaupun abangnya mengatakan saat ini mau bertanggung jawab untuknya, lalu bagaimana setelah menikah dan Bu Dita mempengaruhi bang Damar untuk tidak lagi menanggung biaya kuliahnya. Mengingat ia adalah salah satu yang menentang hubungan mereka. "Bunda kan sudah janji akan membantu kak Rana, masa menyerah begitu saja?"


"Bunda sudah tidak tahu harus bicara apa lagu, Nan. Abang mu itu terlalu keras kepala. Bunda lelah melihatnya. Biarkan saja. Yang jelas apapun keputusannya, dia yang mengambil sendiri dan dia harus bertanggung jawab atas itu semua. Bunda nggak peduli lagi, yang penting dia penuhi janjinya." jawab Bu Anis.


"Berarti bunda merestui Damar?" Kata Damar langsung berbinar saat ibunya mengatakan ingin bertemu dengan Bu Dita dan bicara empat mata Sebelum mereka menikah. Artinya ibunya tak keberatan. Damar langsung mebgucao syukur. Ia memeluk erat ibunya sebagai luapan kebahagiaan.


"Bun!" Nanda kesal. Ia merasa tak lagi mempunyai dukungan.


"Bunda tunggu kedatangannya nanti sore di kontrakan kita!" Kata Bu Anis sebelum pamit pulang.

__ADS_1


"Siap Bun.. InshaAllah nanti sore Damar antar Bu Dita ke rumah kita!" janji Damar.


Akhirnya restu itu didapatkan juga. Damar tak henti mengucapkan syukur. Tangannya gemetaran karena akhirnya salah satu bebannya untuk menikahi Bu Dita hilang juga. Restu Bunda amatlah penting untuknya.


***


Sesuai janji Damar, ia membawa Bu Dita menuju rumah ibunya. Meski mereka beda motor, tapi Damar bisa melihat bagaimana Bu Dita begitu deg-degan. Memang katanya bagi perempuan, ketemu calon mertua itu rasanya campur aduk, apalagi kalau di awal ada tanda-tanda tidak disetujui.


Karena dadakan dan hari yang sudah petang, makanya Bu Dita datang tak membawa apa-apa. Ia pun tak punya persiapan apapun. Sebenarnya Bu Dita minta diundur sebab ia merasa belum siap. Tapi Damar menyemangati sebab ia khawatir besok-besok ibunya berubah pikiran. Kalau diminta sekarang ya datangnya sekarang saja untuk menunjukkan bahwa mereka serius. Perjuangannya mendapatkan restu tidak main-main.


"Sudah cantik kok, Bu!" ucap Damar sambil tersenyum saat Bu Dita kedapatan untuk kesekian kalinya memperhatikan penampilannya di kaca spion motor.


Sampai di rumah, Bu Anis meminta untuk bicara empat mata dengan Bu Dita. Semula Damar keberatan, kalau ada apa-apa kenapa tidak dibicarakan sama-sama saja, tapi Bu Anis tetap bersikeras ingin bicara empat mata. Untuk menghindari perdebatan antara ibu dan anak tersebut, Bu Dita setuju. Ia masuk ke dalam mengikuti calon mertuanya tersebut.


Lima belas menit sudah berlalu. Damar semakin cemas. Ia penasaran apa yang mereka bicarakan. Dari ruang tamu ia tak bisa mendengar suara apapun, padahal ibu dan Bu Dita berada di kamar yang berdempetan dengan ruang tamu.

__ADS_1


"Bicara apa sih, mereka?" Damar begitu resah.


"Mau bagaimana pun Bu Dita berusaha, pasti nggak bakal direstuin bunda!" tegas Nanda. Sejujurnya ia pun tidak tahu apa yang akan dibicarakan ibunya dengan bu Dita. Ia juga merasa deg-degan. Takut kalau ternyata yang terjadi sebaliknya, ibunya menerima Bu Dita. Apa yang harus dilakukannya. Apa ia juga harus menyerah dan menerimanya gurunya tersebut? Lalu bagaimana dengan janjinya pada kak Rana.


Sampai saat ini mereka sudah berjuang mati-matian menghalangi Damar dan Bu Dita. Ia khawatir usahanya hanya Kana sia-sia mengingat Sekarang ibunya mulai memberi peluang. Nanda benar-benar takut, juga penasaran apa yang mereka bicarakan di dalam. Ia sangat ingin ikut nimbrung di sana, agar bisa mengingatkan ibunya pada rencana awal mereka. Tapi sayangnya sejak semalam ia terus memohon tapi ibunya tetap tidak memberi kesempatan.


Tiga puluh menit kemudian barulah Bu Dita keluar. Wajahnya menyiratkan kesedihan, tapi tetap memaksakan senyum. Damar jadi khawatir ibunya mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan Bu Dita.


"Enggak apa-apa." kata Bu Dita, sambil tersenyum. "Sudah sore, saya pulang duluan ya. Khawatir nanti laman Wiguna datang." Kata Bu Dita


"Benar tidak apa-apa?" tanya Damar lagi. Ia tak yakin, melihat gelagat Bu Dita yang berbeda dari sebelum masuk. Duh, Damar sangat khawatir, apa yang sudah dikatakan ibunya. Kalau benar ibunya melakukan hal yang membuat Bu Dita tidak nyaman, Damar sangat menyesali sekali.


"Ya. Saya pulang ya. Salam untuk Sigit dan Lala. Semoga nanti bisa ketemu!" Bu Dita mengucapkan salam, lalu berlalu dengan motornya. Sementara Damar masih berdiri mematung di depan pintu sembari memperhatikan kepergian kekasih hatinya.


"Kamu nggak pulang?" tiba-tiba Bu Anis muncul dari belakang.

__ADS_1


"Hah? Oh iya, Damar akan pulang, Bu." kata Damar. "Tapi apa Damar boleh tahu, apa yang sudah bunda dan Bu Dita bicarakan? Kenapa wajahnya berubah, terlihat sedih "


"Memang kalau bunda melakukan sesuatu kamu akan marah pada bunda?" Bu Anis balik bertanya. Ia gerah dengan sikap anaknya yang dianggap terlalu bucin, Bu Anis justru khawatir apakah perasaan itu akan tetap sama nantinya. Tapi apapun yang terjadi, ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia yakin tak akan rugi jika nanti Bu guru tersebut meninggalkan puteranya.


__ADS_2