
"Mar, Bunda maunya makan sama Rana." kata bunda pagi ini, saat Nanda membawakan sepiring bubur untuk Bunda.
"Apa sih Bun, kan ada Nanda, dia juga bisa nyuapin Bunda!" tegas Damar.
"Tapi Bunda maunya makan sama Rana." Bunda terlihat kesal sebab Damar tak mengindahkan permintaannya. Bunda bahkan sampai mengancam tak ingin makan kalau Rana tidak didatangkan.
Damar mulai menyadari kalau ini akal-akalan Bunda, makanya ia tetap bertahan dengan pendiriannya. "Kalau bunda belum mau makan nggak apa-apa. Nanti kalau sudah mau makan siapkan makanan baru yang hangat ya Nan." Pesan Damar pada adiknya, sehingga membuat ibunya semakin gondok.
"Abang ini nggak punya perasaan ya. Bukannya ngebujuk Bunda, malah membiarkan Bunda nggak makan. Kalau Bunda semakin sakit, bagaimana? Abang enggak apa-apa? Kasihan Bunda bang!" kata Nanda, semabri menjejal langkah abangnya agar tak keburu pergi.
"Justru karena Abang sayang dan kasihan sama Bunda. Kamu nggak ngerti, Nan, kalau Abang ngikutin semua maunya bunda, sama saja menjerumuskan Bunda pada hal yang salah. Baru mau makan kalau Rana sudah datang ke sini, memangnya Rana siapa kita? Rana itu orang asing di keluarga, kita. Kecuali Rana tenaga medis atau ia adalah putrinya bunda. Lagipula kenapa harus melibatkan orang lain, padahal bunda punya kita berempat; Abang, kamu, Sigit dan Lala. Apa masih kurang?"
"Iiihhhh, Abang itu ya. Masa masih nggak ngerti juga."
"Apatu? Bunda mau aku bersama Rana? Ini lebih salah lagi. Sudah Abang bilang kalau Abang ingin menikah dengan Bu Dita. Abang sudah menyampaikan pada bunda dan akan segera melamarnya segera. Lalu kenapa bunda harus memaksakan kehendak padahal yang menjalani adalah Abang nantinya. Abang nggak pantas untuk Rana, Nan. Abang tidak punya masa depan cerah sepertinya. Abang masih harus berjuang. Jadi biarkan Abang dengan pilihan Abang karena yang Abang cintai itu Bu Dita!"
"Abang ,"
"Sudah, Abang berangkat dulu!" Damar tak memberi kesempatan lagi pada adiknya untuk mengungkapkan siapa gadis pilihan ibunya. Di hatinya hanya ada Bu Dita. Ia tak akan mengecewakan perempuan itu. Direstui ataupun tidak, Damar tetap akan menikah dengannya.
***
Usaha ibunya untuk menjodohkan Damar dan Rana tidaklah main-main. Tak pernah terpikirkan oleh Damar bahwa ibunya akan senekat itu. Rela menenggak obatnya sendiri dengan dosis berlebihan hingga harus berakhir di rumah sakit. Damar benar-benar lelah menghadapi drama ini, rasanya ia ingin marah.
"Pokoknya Abang tolong susul Bunda ke rumah sakit, ya. Kami semua sudah ada di sini " Kata Nanda, diujung telepon.
__ADS_1
Motor yang dikendarai Damar melaju usai menerima telepon dari adiknya, tapi ia tak menuju rumah sakit, melainkan menuju rumah Bu Dita. Entah apa yang akan dilakukannya di sini, ia hanya mengikuti langkah kakinya menuju tempat yang menurutnya nyaman untuk hatinya saat ini.
Hampir satu jam Damar menunggu di depan rumah Bu Dita hingga akhirnya gurunya tersebut pulang dari sekolah. Ia agak kaget mendapati Damar karena tak ada berita sebelumnya.
"Ada apa? Kenapa tidak mengabari dulu?" tanya bu Dita.
"Pengen ketemunya tiba-tiba," jawab Damar.
"Mau minum? Saya buatkan dulu, kamu tunggu di sini saja," Bu Dita masuk ke dalam, sementara Damar menunggu di teras rumah. Tak berapa lama Bu Dita kembali dengan segelas teh hangat. Ia mempersilakan Damar minum.
"Bunda masuk rumah sakit,"
"Innalilahi ... lalu bagaimana?"
"Astagfirullah,"
Raut wajah Damar begitu gusar, ia memendam banyak masalah. Bu Dita bisa membacanya.
"Apa gara-gara saya?" tanya Bu Dita.
"Harusnya bunda menerima semua keputusan saya. Toh sebelumnya bunda sudah menyerahkan, sekarang malah seperti ini." kata Damar. "Bunda terlalu memaksa kehendak, menyamakan saya dengan ayah saya yang gagal menjadi imam untuknya. Tapi tetap saja, kan, manusia itu berbeda-beda. Meski dalam tubuhnya mengalir darah laki-laki tersebut. Saya punya otak, saya akan berpikir ulang melakukan hal yang sama seperti yang ayah lakukan karena saya pernah menjadi korban ayah. Menjadi anak dari keluarga broken home itu tidak enak. Saya pastinya tidak mau kalau nanti anak saya mengalami hal yang sama."
"Apa saya boleh bertemu dengan ibu kamu?"
"Ibu serius mau ketemu sama Bunda?"
__ADS_1
"Barangkali kami bisa bicara dari hati ke hati untuk lebih saling mengenal. Kita tidak tahu, cara mana yang akan bisa meluluhkan hati ibu kamu. Mungkin ia bisa menyukai saya setelah kami bertemu."
"Ya Bu, sangat boleh sekali " kini senyum Damar sudah terukir kembali di bibirnya. Pemuda itu kembali sumringah. Ternyata bertemu dengan perempuan yang kita cintai bisa menjadi mood booster. "Saya harap bunda benar-benar bisa lukuh setelah bertemu ibu. Lagipula keterlaluan sekali masih tetap tidak bisa menerima padahal calon menantunya terbaik seperti ibu."
"Damar, jangan seperti itu!" Bu Dita malu, pipinya sampai memerah. Saat seperti ini ia masih saja bisa mencandai gurunya tersebut.
"Hehehe, tapi yang saya katakan itu benar lho, Bu." Kata Damar sungguh-sungguh.
"Hmm, sudahlah. Jangan memuji dulu supaya nanti kalau gagal saya gak terlalu malu sama kamu."
"Kenapa mesti malu. Saya bicara yang sesungguhnya Bu,"
"Sudahlah. Sekarang lebih baik kamu pergi. Obrolan kita sudah kemana-mana. Ingat, ada setan' dimana-mana. Lagipula kita belum halal." Ucap Bu Dita yang sudah mulai memerah pipinya sebab pujian Damar yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Duuuhh ibu, makanya saya halalin sekarang ya." Damar bicara sungguh-sungguh, tapi dianggap candaan oleh Bu Dita.
"Damar!" Bu Dita sampai melotot.
"Hehehe, maaf Bu." Damar menautkan kedua tangannya.
"Ya sudah, sana ke rumah sakit. Pastikan kondisi ibu baik-baik saja." katabbu Dita. "Ingat ya Mar, setidak enak apapun keadaannya. Tolong tetap hormati ibu kamu. Bagaimanapun juga beliau adalah seorang ibu yang pastinya menginginkan terbaik untuk anaknya." Pesan Bu Dita sebelum Damar meninggalkan rumahnya.
Mereka berdua memang sudah sepakat akan bertemu dengan ibunya setelah Bu Anis keluar dari rumah sakit. Saat ini Damar hanya harus kembali menemani ibunya. Apapun yang terjadi ia telah berjanji akan terus berbuat baik pada ibunya. Tapi Damar juga menekankan, meski ia punya kewajiban berbakti, ia hanya akan menuruti semua hal yang benar dan baik. Ia tak akan mengikuti sesuatu hal yang dipaksakan. Termasuk perjodohan dengan Rana.
Kini motor Damar melaju menuju rumah sakit. Pemuda sembilan belas tahun itu jadi lebih semangat setelah mendapat pencerahan dari perempuannya. Ia yang sebenarnya gondok karena ibunya melakukan tindakan kekanak-kanakan, akan mencoba lebih bersabar. Meski akhirnya Damar harus merogoh koceknya lebih dalam untuk biaya pengobatan ibunya, padahal saat ini ekonomi mereka sedang sulit.
__ADS_1