Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Ulah Damar


__ADS_3

"Assalamualaikum Bu Dita!" Damar tiba-tiba muncul di hadapan gurunya sehingga membuat perempuan itu kaget. Sepekan diskor tidak boleh mengajar membuat Bu Dita was-was ke sekolah. Sebenarnya ia sudah rindu mengajar murid-muridnya, tapi juga takut ketemu Damar, dan ketakutannya terbukti pagi ini, orang yang pertama kali ditemuinya di sekolah adalah bocah tersebut. Ia merasa benar-benar sedang sial.


"Ka ... kamu, ngapain muncul tiba-tiba seperti itu. Sudah-sudah, sana pergi. Nanti kalau Bu Bintang lihat bahaya." Bu Dita berusaha mengusir Damar sambil celingak-celinguk, khawatir ada yang melihat mereka sebab ia tak ingin ada masalah baru.


"Ibu, bukannya jawab salam malah ngusir." Damar pura-pura ngambek. "Saya cuma mau bilang, Bu Nanti minta mahar jangan gede-gede ya. Karena saya sudah survei, untuk persiapan akad dan resepsi ternyata biayanya besar juga ya. Eh tapi kalau mau minta besar juga nggak apa-apa. Akan saya usahakan. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk ibu. Lagipula saya sudah dapat kerjaan Bu. Memang sih masih nguli-nguli paruh waktu gitu, tapi yang penting halal. Nanti kalau sudah lulus saya akan berusaha dapat kerjaan yang lebih baik lagi. Yang penting ibu sabar ya. " Damar nyengir.


Sementara itu, Bu Dita yang semula agak kesal langsung terdiam. Ia tak menyangka bahwa muridnya ini benar-benar serius, bahkan sampai sudah survei dan sudah memikirkan masalah mahar juga. Muridnya juga sudah bekerja. Ini benar-benar Damar? muridnya yang biasanya membuat masalah.


Tiba-tiba ia ingat Aditya. Lelaki itu sudah bisa dikatakan mapan untuk masalah karirnya. Ia bahkan sudah diangkat menjadi wakil kepala cabang. Tapi ketika bu Dita mengajak ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan, lelaki itu teramat berat. Padahal dari segi usia dan kesiapan ia jauh dibandingkan Damar.


Tiba-tiba tersirat tanya di benak Bu Dita, apa jangan-jangan Damar lah jodohnya? Semenjak ayahnya meninggal dunia, ia memutuskan untuk hijrah. Memperbaiki dirinya agar tak menyumbang dosa jariyah untuk lelaki yang amat dikasihinya tersebut. Salah satu bentuk hijarh Bu Dita, selain merubah penampilannya dengan lebih tertutup, ia juga tak ingin pacaran lagi. Sebenarnya mendiang ayahnya sudah lama mengingatkan agar mereka segera menikah mengingat sudah terlalu lama hubungan ini dijalin. Semula Bu Dita memutuskan untuk menunggu, tapi hingga batas yang ia tentukan, belum juga ada tanda-tanda bahwa Aditya akan mengajaknya menikah. Makanya ia memutuskan maju duluan, toh tak ada salahnya jika perempuan yang mengajak menikah, seperti bunda Khadijah yang melamar Baginda Rasul. Tapi sayangnya Aditya menolak, bahkan tak lama ia memutuskan Bu Dita.


Sedih sebenarnya. Saat benar-benar sendirian dan berharap ada seseorang yang bisa menjadi teman untuk berbagi keluh kesah, namun ia malah meninggalkan. Tapi Bu Dita mencoba untuk berpikir positif, usai hijrah ia selalu berdoa agar menikah tanpa menjalani yang namanya pacaran. Ia tak ingin menumpuk dosa lebih banyak lagi meski ketika pacaran ia tak melakukan hal-hal yang terlarang. Tapi tetap saja, namanya setan pasti akan menggoda dengan cara apapun. Dan kini Damar hadir siap untuk menikahinya tanpa harus menjalani yang namanya pacaran.


"Kamu serius, Damar?" tanya Bu Dita


"Ya serius lah Bu. Sungguh. Demi Allah. Bahkan saya tidak pernah seserius ini sebelumnya. Kan sudah saya katakan" jawab Damar.

__ADS_1


"Fiufff, tak semudah itu Damar. Lagipula di mata saya kamu itu hanyalah seorang murid! Mana ada murid yang menikahi gurunya."


"Tapi sebentar lagi saya lulus, Bu. Tidak sampai tiga bulan, saya tak akan jadi murid ibu lagi "


"Lalu bagaimana dengan usia kita yang terpaut cukup jauh? Bagaimana dengan orang tua kamu? Tanggapan orang-orang? Dan masih banyak yang lainnya, Damar. Nggak semudah itu."


"Bu, untuk apa mempedulikan kata-kata orang lain kalau hanya akan membuat kita sengsara. Kenapa nggak fokus pada target yang ingin kita capai. Toh kita nggak melanggar aturan agama maupun hukum. Memang dosa menikah beda usia? Memang kalau orang-orang tidak setuju tak bisa menikah? Kalau Allah sudah menakdirkan bagaimana?"


Entah bagaimana, Damar bisa bicara sebijak itu. Dan lagi-lagi Bu Dita dibuat terkesima. Benarkah ini Damar, muridnya yang sering membuat masalah? Yang entah sudah berapa kali keluar masuk ruang BP karena ulah dan kenakalannya. Aghhh, Bu Dita kini benar-benar dilema karena entah bagaimana ia pun menaruh harapan pada remaja tersebut, sementara hatinya berteriak protes!


"Ibumu bagaimana?" tanya Bu Dita


"Semudah itu?"


"Yap! Saya pikir, niat baik kenapa juga harus dilarang-larang. Kecuali anaknya mau merampok atau narkoba. Ya nggak Bu?"


"Lalu kenapa tak mendatangi saya, maksudnya ..."

__ADS_1


"Maksudnya ibu ingin segera dilamar?"


Sepasang mata Damar berbinar, sementara Bu Dita kebingungan. Takut kalau ia salah bicara sementara ia sudah menaruh harapan dalam hatinya. Aghhh, kenapa harus ada gejolak aneh yang terasa. Apakah benar ini sebuah harapan untuk Damar? Tapi kenapa harus muridnya? Bukankah masih banyak laki-laki yang seumuran dengannya di muka bumi ini, kalaupun jodohnya memang lebih muda darinya, bisa lelaki lain, asal jangan muridnya sendiri.


"Damar, nanti kita bicarakan ini. Sekolah sudah mulai ramai, saya tidak mau ada masalah lagi." Bu Dita buru-buru pergi, semnetara Damar melepas dengan senyuman.


Plak. Sebuah pukulan mendarat di punggung Damar. Nanda pelakunya. Adiknya ini rupanya mengawasi sejak tadi.


"Abang ngapain sama Bu Dita?" Tanya Nanda. Sebagai orang yang tidak setuju dengan hubungan kakaknya, Nanda tidak suka melihat pemandangan tadi, ia malah mengira kalau hubungan ini ada campur tangan Bu Dita yang juga ikut andil. Atau bisa juga ia yang menggoda kakaknya lebih dulu mengingat kakaknya cukup tampan dan banyak penggemarnya. "Bu Dita itu ganjen juga ya" cetus Nanda


"Huss, kamu ngomong jangan sembarang!" Damar kesal. "Bu Dita itu perempuan terhormat, sangat menjaga dirinya."


"Terhormat? Kalau terhormat nggak bakal macarin muridnya. Lagian nggak sadar diri banget, lebih tua kok ngincarnya daun muda. Yang terhormat itu kayak kak Rana, menjaga dirinya, menjaga hatinya, nggak sembarang padahal banyak yang suka. Sayangnya yang disukai nggak peka!" Sindir Nanda, tapi tentu saja tidak ditanggapi Damar karena fokusnya pada Bu Dita. "Bang!" Lagi, Nanda memukul punggung abangnya.


"Awww, apasih Nan?" Damar bersungut-sungut kesal.


"Kenapa sih Abang nggak bisa jaga hati. Kalau Bu Dita ngegodain harusnya Abang bisa bertahan, bukannya malah ikut permainan Bu Dita."

__ADS_1


"Heh, kamu itu ngomong apa?" Damar memencet hidung adiknya. "Yang suka sama Bu Dita duluan itu aku, bukan Bu Dita!" Damar geleng-geleng kepala, ia membiarkan adiknya sendiri sementara ia masuk ke dalam gedung sekolah.


__ADS_2