Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Dari Guru Jadi Istri


__ADS_3

"Bunda nggak mau mendoakan Damar dan istri Damar?" Tanya Damar, usai sungkem pada ibunya. Bu Anis hanya membalas uluran tangan Bu Dita, ia tak bicara sedikitpun, nampak betul belum menerima menantunya seutuhnya. Padahal Damar sudah berharap banyak pada ibunya, terutama setelah apa yang diberikan Bu Dita.


Usai acara akad nikah, pak Wiguna mengajak semua yang hadir saat akad untuk mampir ke rumahnya sebab mereka sudah menyiapkan jamuan sederhana sebagai bentuk syukur atas pernikahan keponakannya.


Awalnya Bu Anis enggan ikut. Tetapi karena Sigit dan Lala terus memaksa, akhirnya ia pun terpaksa ikut.


Sajian yang dihidangkan Bu Wiguna cukup banyak. Mulai dari makanan ringan hingga makan berat. Mereka juga turut mengundang pengurus RT, jamaah masjid hingga tetangga kiri dan kanan. Semua orang menikmati suguhan dari tuan rumah, termasuk Bu Anis dan anak-anaknya.


Usai acara makan-makan, Damar berinisiatif untuk pulang. Mereka memang sudah membicarakan bahwa akan tinggal di rumah yang ditempati Bu Dita saat ini, rumah peninggalan ayahnya. Sebagai ahli waris satu-satunya, rumah tersebut menjadi hak mutlak Bu Dita. Sementara itu Bu Anis dan anak-anaknya pulang diantar oleh keluarga Pian.


"Kita pulang sekarang?" tanya Bu Dita.


Usai pamitan pada pak Wiguna dan istrinya, Damar dan Bu Dita pulang naik motor Bu Dita. Untuk pertama kalinya mereka pulang berboncengan memakai pakaian pengantin sederhana. Pertama kalinya dan mereka masih terlihat kaku. Masih malu-malu, menjaga jarak satu sama lain. Namun kadang Damar usil, merem mendadak motor agar guru yang sudah menjadi istrinya tersebut maju mendekat padanya. Kalau sudah begitu, Damar akan tertawa terbahak-bahak, sementara Bu Dita memerah wajahnya menahan malu.


"Alhamdulillah kita sudah sampai." Kata Damar, setelah motor berhenti di teras rumah. "Ayo turun."


"Hah, oh iya." Jawab Bu Dita yang masih duduk di bangku belakang, ia buru-buru turun, namun suaminya keburu menggoda.


"Cieee yang sudah sah jadi istri, sekarang sudah nggak mau jauh-jauh. Kemarin pas masih jadi guru didekati galaknya minta ampun." Damar terkekeh.


"Apasih," Bu Dita buru-buru melengos sebelum kembali jadi bahan guyonan suaminya. Ia masuk ke rumah, tapi sampai di ruang tamu langkahnya terhenti ketika menatap foto besar dengan bingkai warna coklat, ada wajah ayah dan ibunya. Dua orang yang sangat disayanginya itu. Andai mereka masih hidup pasti bahagia melihatnya kini sudah menikah sebab sejak usia dua puluh dua tahun, saat baru lulus kuliah, ayahnya sudah mewanti-wanti agar ia segera menikah. Tetapi kekasihnya saat itu, Aditya, enggan naik pelaminan dengan alasan belum mapan. Bahkan saat ia telah mapan dan sudah matang pun masih enggan menikahi Bu Dita.


Air mata yang sempat jatuh karena haru mengingat orang tuanya itu kini beralih jadi sebuah senyuman saat melihat bingkai foto di sebelah gambar ayah dan ibunya. Ada foto dirinya bersama anak-anak didiknya. Dalan foto itu ada Damar juga. Bu Dita tersenyum, kini ia ingat kenapa saat itu Damar dengan galaknya mengusir semua murid laki-laki yang berdiri di sampingnya agar menjauh dan digantikan oleh murid perempuan karena kecemburuan Damar yang sudah menyukainya sejak kelas satu.


"Ya Allah Damar," Bu Dita membatin. Sampai sekarang ia masih merasa ini semua seperti mimpi. Jodohnya lebih muda sebelas tahun darinya, dia adalah muridnya sendiri. Anak yang dahulunya dipandang layaknya anak sendiri, ternyata menjadi imamnya. Bu Dita memahami bagaimana sikap ibu mertuanya yang belum merestui, mungkin dirasa aneh, guru wanita menikahi muridnya, ia saja hingga sekarang kadang merasa aneh. Tapi ia menerima takdir Allah tersebut sebab jodoh, rezeki dan kematian adalah rahasia-Nya yang semua sudah selesai tertulis di Laut Mahfudz.

__ADS_1


"Sedang memikirkan apa?" tiba-tiba Damar sudah berdiri di samping Bu Dita, jarak mereka amat dekat, bahkan mereka hampir bersentuhan hingga Bu Dita harus mundur beberapa langkah. "Kenapa? Katanya kalau sudah Halal boleh dekat-dekat. Ngomong-ngomong soal halal, hmmmm, kamar kita dimana sayang?" Damar tersenyum, senyuman yang membuat Bu Dita merinding.


"Damar, kamu kenapa?" Bu Dita kembali mundur, tapi Damar tak memberi jarak, ia pun ikut mundur hingga mantan gurunya tersebut menyentuh dinding dan tak lagi bisa bergerak. "Damar ... geser ke sana!" Bu Dita sampai harus berteriak, wajahnya memerah, badannya merinding.


"Masa manggil suaminya Damar Damar Damar. Panggil sayang, dong!" pinta Damar sambil senyum-senyum.


"Apa sih?" Bu Dita pura-pura marah untuk menyembunyikan rasa groginya.


"Boleh saya panggil Dita, saja?"


"Terserah kamu."


"Iiihhh kok panggilnya kamu?"


"Lha, memang kamu kan usianya lebih muda dari saya "


"Lalu harus panggil apa?"


"Bisa sayang, suamiku, cintaku, lelaki tampanku atau ...."


"Iiihhh lebay!"


"Nggak lebay. Wajar kok. Kan suaminya menang tampan."


"Mmmm, baiklah. Su ... suamiku." sesaat Dita diam, lalu ia tertawa.

__ADS_1


"Kenapa ketawa?"


"Habis aneh."


"Aneh kenapa?"


"Memang nggak aneh guru menikah dengan muridnya?"


"Nggak ada larangan, jadi nggak aneh."


"Ahhh sudahlah."


"Tapi tetap panggil suamiku sayang, ya."


Dita tidak menjawab. Ia hendak pergi, tapi tangannya dipegang oleh Damar. Dita berusaha melepaskan diri dari cengkraman Damar, mereka dorong-dorongan hingga akhirnya terjatuh ke lantai.


"Duuuh sakit!" Dita mendorong Damar. "Kamu itu jangan kasar-kasar."


"Enggak kasar kok, kamu saja yang menghindar."


"Ya wajar saya menghindar. Kamu mendekat terus. Saya masih butuh waktu untuk terbiasa dengan ini semua!" Dita cemberut. Meski mereka sudah halal, tetap saja Dita masih kaku. Ia masih malu-malu, apalagi sebelumnya Damar adalah muridnya, rasanya masih sangat canggung. Sementara Damar terus saja mendekat tanpa memberinya kesempatan untuk membiasakan diri.


Dua orang itu saling berdebat. Perdebatan yang sama seperti dahulu pernah terjadi saat mereka masih menjadi guru dan murid. Ketika Damar mendebat Dita yang akrab dengan murid laki-laki. Padahal Dita begitu karena tuntutan pekerjaan sebagai wali murid yang mau tidak mau harus dekat dengan semua murid kelasnya.


"Hahahaha," Damar tertawa terbahak-bahak. "Seperti de Javu ya." Kata Damar lagi. "Manis sekali mengulang kembali apa yang pernah kita lakukan dahulu dengan keadaan sudah halal, jadi kalau gemes tinggal cubit pipinya saja." reflek Damar mencubit pipi mantan gurunya tersebut hingga Dita melotot karena kaget

__ADS_1


"Damar!" ia benar-benar malu.


"Sudah dibilang jangan manggil Damar terus. Panggil sayang dong." Damar kembali menggoda istrinya. Ia pura-pura marah, tapi terus mengambil kesempatan agar berdekatan dengan Dita hingga membuat perempuan itu panik dan berusaha menjauh. Sikap Dita itu membuat Damar benar-benar gemas, sebagai pengantin baru yang sebelumnya selalu menjaga jarak ini seperti permainan yang membuatnya kecanduan. Ia sangat suka menjahili dan menggoda istrinya. Ketika pipi perempuan itu merona, ia akan semakin bersemangat membuatnya jadi salah tingkah dan semakin memerah seperti tomat yang sudah matang.


__ADS_2