
Nanda masih saja diam. Ia tak berbicara sepatah katapun semenjak tadi, padahal ia sudah berada di rumah abangnya sejak satu jam lalu. Ia masih betah duduk termenung di kursi tamu. Padahal Damar sudah mondar-mandir, berganti dengan Dita, untuk mengajak Nanda bicara.
Tadi, Damar memutuskan untuk mengajak adiknya ikut pulang ke rumahnya sebab ibunya tak juga mau berhenti, tetap marah dan memaki Nanda. Damar paham kenapa Nanda diam, ia pasti kaget sebab selama ini selalu dielu-elukan bunda, namun sekarang jadi samsak kemarahan, padahal kalau Bunda marah, makiannya benar-benar menyakitkan hati.
"Nanda masih tidak banyak bicara. Hanya menjawab seadanya. Tadi di ajak makan juga makannya sedikit sekali." Kata Dita, saat masuk ke kamar.
"Ya, saya juga sudah mengajaknya bicara, tapi dia hanya diam saja." jawab Damar sambil menghela nafas. Ia yang sebenarnya sudah lelah fisik dan hatinya sebenarnya ingin istirahat namun tetap saja belum bisa memejamkan mata sebab mengingat adiknya. "Harusnya bunda tidak marah seperti itu, kasihan Nanda. Dengan tidak lulus saja sudah membuatnya terpukul, apalagi dimaki-maki seperti itu. Nanda itu hampir tidak pernah dimarahin, sejak dulu selalu dianak emaskan. Sekarang malah begini, ia pasti kaget."
Damar menceritakan bagaimana masa kecil adiknya yang selalu dipuji-puji ibunya. Anak kebanggaan yang selalu menjadi juara. Dita saja mengakui kehebatan Nanda. Ia bisa dikatakan jenius. Tapi kali ini ia terpeleset, entah dimana salahnya? Sepasang suami istri itu terus memutar otak, bagaimana caranya agar Nanda tidak sedih lagi dan luka bunda bisa diobati.
"Untuk kuliah tahun ini sudah tidak bisa, semua perguruan tinggi negeri dan swasta sudah tutup pendaftaran. Mungkin yang bisa dilakukan Nanda adakah ikut bimbel untuk persiapan ujian masuk tahun depan." usul Dita, sambil berbaring di samping suaminya.
"Kalau tidak kuliah, ia pasti kecewa dan bunda tak akan diam saja. Bunda akan terus memaki Nanda." Kata Damar.
"Lalu bagaimana?"
"Entahlah. Sudah malam, sebaiknya kita istirahat saja. Besok kita bicarakan lagi. Kamu juga pasti sudah lelah. Terima kasih banyak sayang, kalau bukan karena kamu mungkin aku akan semakin bingung menghadapi ini semua sendiri."
__ADS_1
Berat melewati semua ini, menjadi penengah antara bunda yang terus menyerang dengan Nanda yang hanya bisa pasrah terima nasib. Rasanya seperti melihat dua orang yang disayangi menghancurkan dirinya sendiri. Bunda dengan racunnya dan Nanda membiarkan dirinya sendiri terbakar.
***
Suara teriakan itu benar-benar keras. Damar dan Dita terbangun karena teriakan Nanda yang tidur di kamar sebelah. Pukul sebelas malam. Bergegas sepasang suami istri itu menuju kamar sebelah. Rupanya Nanda mengigau, ia mimpi buruk. Namun yang membuat Damar teriris adalah adiknya demam tinggi dan mengigaukan ibunya.
"Kita bawa Nanda ke rumah sakit saja." Ajak Dita, ia mengurus Nanda, membantunya berpakaian.
Sementara Damar menyiapkan kendaraan, karena sudah malam, akhirnya mereka nekat berangkat naik motor gonceng tiga sebab mencari kendaraan malam-malam rasanya sulit sekali.
Nanda demam tinggi, ia sampai tidak sadarkan diri. Dokter merujuk agar ia dirawat inap. Dita menunggui Nanda yang sudah masuk kamar rapat, sementara Damar ke rumah ibunya untuk menjemput Bu Anis. Damar dan Dita yakin adiknya membutuhkan ibunya sebab sejak tadi, ketika ia sadar yang dipanggil ibunya, begitu berulang kali. Sadar, pingsan, sadar, pingsan.
"Cuma demam saja sudah menyusahkan bunda. Kapan bisa dewasanya itu anak. Wajar saja dia berbuat seenaknya. Dia kira bunda nggak sakit saat dia menghancurkan harapan bunda? Sakit! Tapi bunda tahanan sendiri dan sekarang dia minta bunda menemuinya.
Dengar ya Mar, ini masih terlalu pagi. Bunda tidak mau didesak-desak kemana-mana. Apalagi bunda masih kecewa karena ulah adikmu. Nanti, kalaupun bunda mau membesuk, nanti bunda yang datang sendiri. Bukan sekarang!" Kata ibunya.
"Astagfirullah Bun, Damar tahu bunda kecewa, tapi tidak bisakah bunda redam amarah bunda sedikit saja. Bunda lihat bagaimana kondisi Nanda sekarang. Dia benar-benar hancur Bun. Bukan hanya bunda yang kecewa, pastinya Nanda lah yang paling kecewa di antara kita semua."
__ADS_1
"Halah, ngerti apa sih kamu, Mar? Sudahlah, kamu pulang saja sana. Kamu urus dia. Nanti agak siangan bunda ke sana. Bunda belum mandi, belum sarapan, belum beberes rumah juga!" Tegas Bu Anis.
Dengan kekecewaan mendalam, Damar meninggalkan rumah ibunya, ia kembali ke rumah sakit untuk bergantian dengan istrinya sebab pagi ini Dita harus mengajar. Ia masih bisa izin menyelesaikan pekerjaannya nanti malam.
Sampai di rumah sakit, Nanda sudah sadarkan diri. Kata Dita ia hanya menangis dan menangis. Berulang kali memanggil ibunya, berulang kali juga mengeluhkan bahwa ibunya pasti tak akan datang hingga Nanda terus-terusan melontarkan permohonan maaf.
"Kasihan sekali Nanda, sepertinya mentalnya rapuh. Tadi dokter yang visit juga menyarankan agar Nanda Konsul juga ke psikolog, khawatir dia rapuh." Kata Dita sebab beberapa kali Nanda mengutarakan lebih baik mati daripada dibenci ibunya.
"Huffff, begitu ya? Baiklah, akan aku daftarkan Nanda agar ikut konseling dengan psikolog." Kata Damar. "Bunda memang begitu, biasanya dia santai, tapi kalau sudah melukai hati bunda maka ia akan melukai anaknya yang dianggap benalu dan kalau bunda sudah tidak suka, kata-katanya tak akan terkontrol. Bisa dibilang ucapan bunda cukup sadis, melukai hati. Aku yang laki-laki saja jujur kadang tak sanggup mendengarnya. Makanya aku tak pernah ingin dekat dengan Bunda, aku selalu menjaga jarak dan juga karakterku yang cuek hingga antara aku dan bunda seolah ada jarak."
"Mungkin bunda punya luka batin?"
"Hmmm, begitu ya? Seperti apa? Lalu bagaimana?"
"Aku juga nggak tahu apa yang sebenarnya menjadi sebab Bu Anis seperti itu. Tapi kalau dilihat dari cara Bu Anis mengatai bahkan menyumpahi Nanda padahal dari yang kamu katakan Nanda adakah kesayangan yang begitu dekat dengannya harusnya Bu Anis tidak akan seperti itu. Harusnya Bu Anis bisa mentolerir. Iya sih beliau kecewa, tapi sekecewanya kita dengan orang yang bisa dikatakan kaki tangan kita ya pasti ada maaf lah, sedikit toleransi. Iya, kan?"
"Iya juga sih,"
__ADS_1
"Aku punya ide untuk menyelesaikan masalah ini. Semoga saja berhasil." Dita berbisik di telinga suaminya. Meski ikut pusing dengan masalah ini, namun Dita tak ingin membiarkan Damar menyelesaikan semuanya sendiri. Suaminya butuh seseorang untuk berada di sampingnya, sekedar berbagi dan menguatkan agar tak ikutan jadi stres menghadapinya, apalagi usia Damar masih teramat muda dan ia masih minum pengalaman.