
Damar berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan tempat ibunya di rawat. Langkah kakinya terhenti di depan ruang rawat ibunya. Dua kali ia sampai membaca pesan wa dari adiknya yang memberitahukan dimana ibunya di rawat.
Ruang mawar nomor nol satu. Ruang rawat VVIP. Ia buru-buru menuju ruang perawat, menanyakan apakah benar ibunya yang di rawat di sana. Dan perawat membenarkan. Damar juga sempat mempertanyakan penyakit ibunya. Apakah sangat genting makanya harus mendapatkan perawatan yang maksimal. Dan perawat kembali memberi informasi yang membuat Damar kebingungan. Ibunya saat ini sudah membaik, setelah dokter memberikan tindakan. Bisa dikatakan sekarang pun untuk pulang juga sudah bisa. Sebab sudah tak ada yang darurat sebab ibunya ditangani tepat waktu.
Damar kembali ke depan ruang rawat ibunya. ia sampai beberapa kali mengucek matanya, memastikan ia tak salah hingga akhirnya pintu kamar terbuka, Lala, adiknya, kebetulan ingin keluar, gadis kecil itu senang saat mendapati abangnya ada di luar kamar.
"Abang sudah datang!" seru Lala. "Ditungguin dari tadi lho, bang," celoteh Lala lagi. Ia begitu riang mendapati abangnya. "Kak Nanda sampai beberapa kali menelepon Abang. Tadi Abang pulang kerjanya terlambat, ya?"
Damar tersenyum kecut. Berarti benar ibunya di rawat di ruangan ini. Mendadak nyalinya ciut. Ia yang semula sudah tenang kembali gelisah memikirkan banyak hal. Berapa kira-kira biaya rawat di ruangan ini semalam? Pastilah biayanya tidak murah. Kenapa mereka, yang entah siapa, memilih kamar ini, padahal biasanya kalau bunda sakit di rawat di bangsal kelas tiga dan dengan jaminan kesehatan pemerintah, tapi kali ini malah memakai biaya sendiri.
Sebenarnya Damar senang jika ibunya mendapatkan perawatan terbaik, di ruangan yang paling nyaman seperti tempat bunda di rawat saat ini. Anak mana yang tak ingin memberikan yang terbaik untuk ibunya. Tapi masalahnya adalah, bagaimana Damar bisa membayar biaya berobat. Saat ini ia belum punya tabungan sepeserpun. Ibunya juga sudah tidak bekerja karena ia sudah berkomitmen akan menanggung perekonomian keluarganya yang berarti juga menanggung biaya berobat ibunya. Mendadak kepala Damar berdenyut-denyut memikirkan angka-angka yang pastinya tidak kecil.
"Abang, kok diam saja. Ayo masuk. Ada Bu Bintang dan kak Rana juga lho!" seru Lala, membuat lamunannya buyar.
Bun ... biayanya pasti besar. Uang dari mana? Damar masih pusing. Ia berjalan lesu masuk ke ruangan ibunya setelah tangannya ditarik Lala
"Eh Abang sudah sampai? Kenapa lama bang, semua sudah menunggu." Kata Nanda.
"Nan, kita bicara diluar dulu ya." Damar menarik tangan adik sulungnya. Ia yakin, Nanda tahu semua jawaban kegelisahan hatinya sebab ialah yang tertua dan pastinya saat Damar tak ada, Nanda yang mengurus semuanya.
"Mau ngomong apa, Mar? Ngomong di sini saja." kata Bunda.
__ADS_1
"Iya Mar, ada apa sih sampai harus keluar?" Tambah Bu Bintang.
"Maaf bunda, kami keluar dulu." Damar tak memberi kesempatan untuk yang lain bicara, termasuk Nanda yang protes karena tiba-tiba diajak keluar. Damar tak melepas tangan adiknya hingga mereka berada di taman rumah sakit.
"Ada apa sih, bang. Enggak sopan lho pergi begitu saja, padahal di sana ada Bu Bintang dan kak Rana." cetus Nanda, ia cemberut.
"Ada yang ingin Abang tanyakan."
"Apa sih? Apa bedanya nanya di sana dan di sini?"
"Siapa yang mesanin kamar, Bunda?"
"Aku. Memang kenapa?"
"Apa sih bang?" Nanda malah jadi marah.
"Masalah kamar,"
"Kamar? Oh aku mengerti. Abang keberatan kalau bunda di rawat di kamar VVIP? Begitu?"
"Bukan keberatan Nan, tapi saat ini Abang belum mampu. Kamu tahu kan Abang baru saja masuk kerja, Abang Belum punya tabungan. Bahkan gajian saja belum. Abang nggak tahu apakah nanti bisa membayarnya atau tidak."
__ADS_1
"Astagfirullah, keterlaluan kamu ya, bang, sama ibu sendiri perhitungan banget."
"Bukan begitu Nan,"
"Apa namanya kalau nggak perhitungan? Abang keberatan sampai harus menyeret aku ke sini karena bunda di rawat di kamar terbaik di rumah sakit ini. Aku memang sengaja memilihkan kamar terbagus karena aku pikir kapan lagi Abang berbakti sama bunda. Abang kan sudah mau menikah, apa salahnya Abang traktir bunda kamar yang bagus. Selama ini kalau sakit bunda jarang mau dirawat. Bunda bahkan memaksakan dirinya untuk bekerja keras demi Abang. Tapi sekarang mana balasannya Abang? Malah protes. Kan Abang sendiri yang kemarin bilang ke kita-kita kalau Abang akan bertanggung jawab pada kami, keluarga kita. Tapi baru segini saja Abang sudah protes. Jahat ya Abang!
Dengar ya bang, demi perempuan yang bukan siapa-siapa saja Abang rela bekerja keras, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk memberikan yang terbaik. Padahal apa yang sudah dilakukannya untuk Abang? Enggak ada! Yang ada dia cuma membuat keluarga kita terpecah. Bunda jadi banyak pikiran dan sakit. Sementara'Bunda yang berjuang demi Abang malah dinomor sekian, kan. Mana bakti Abang sama Bunda?
Hidup itu jangan pelit, lah, bang. Jangan terlalu perhitungan sama ibu sendiri. Nanti rezekinya seret. Baru segini saja Abang sudah marah. Kalau aku Mamou, aku juga nggak akan minta bantuan Abang. Aku bisa berusaha sendiri. Aku akan total untuk bunda."
"Kamu salah paham, bukan begitu maksudnya Abang,"
"Belum menikah saja Abang sudah begini. Aku nggak yakin kalau Abang sudah menikah akan baik pada kami. Bisa-bisa Abang lupa kalau kami adalah keluarga Abang yang sudah membersamai Abang semenjak kecil. Apa lagi bunda yang sudah bekerja keras untuk Abang. Sungguh sangat buruk pengaruh perempuan itu pada Anang. Aku benar-benar kecewa!"
Tuduhan-tuduhan Nanda membuat Damar tepojok. Ia sebenarnya tak bermaksud begitu. Ia pun ingin memberikan yang terbaik untuk ibu dan adiknya. Tapi keadaan belum memungkinkan. Tapi Damar tetap menyesali sudah protes. Harusnya ia terima saja. Maksudnya Nanda baik. Ia benar-benar menyesal dan berharap bunda tak tahu protesnya ini.
"Maafkan Abang, Nan," pinta Damar.
"Nggak, Abang sudah menyakiti hati aku. Apalagi bunda, kalau bunda tahu ia akan sangat sedih. Padahal tadinya bunda bangga banget sama Abang. Bunda nggak berhenti muji-muji Abang karena bunda pikir Abang yang berinisiatif melakukan ini semua. Sampai saking bahagianya, bunda membanggakan Abang di hadapan Bu Bintang dan kak Rana. Tapi ternyata ...." Nanda tersenyum sinis.
"Nan, maafin Abang. Tolong jangan beritahu bunda. Abang salah. Abang akan berusaha memperbaiki semuanya." Damar memohon-mohon pada adiknya.
__ADS_1
Dengan sedikit drama, Nanda berhasil membuat abangnya merasa bersalah. Sebenarnya ini memang disengaja. Ini adalah bagian dari rencananya dan ibunya untuk menggagalkan niatan Damar mempersunting Bu Dita.