Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Perjuangan Cinta 2


__ADS_3

Damar masih berdiri mematung menghadap ke arah sungai dengan pikiran melayang. Ia tak pernah membayangkan kejadian tadi akan terjadi. Nanda yang berubah jadi frontal padanya, menunjukkan penentangan atas pilihannya. Sementara ibunya sendiri pada akhirnya melayangkan pukulan pada adiknya. Jujur Damar benar-benar syok. Ia pusing memikirkan, entah sampai kapan semua ini akan berlangsung.


"Bang, ngapain di sini?" tiba-tiba Pian sudah berada di samping Damar. Ia kebetulan lewat dan melihat Damar berdiri menghadap ke sungai. "Lagi ada masalah ya, bang?" tanya Pian lagi.


"Bagaimana kalau kamu suka sama seseorang tapi keluargamu menentangnya?" tanya Damar.


"Ya ... Aku bujukin, bang "


"Kalau nggak mampan?"


"Akan terus aku perjuangkan, bang. Yang namanya batu, sekeras apapun kalau terus-terusan ditetesin air akan bolong juga "


"Nah iya!" Damar menjentikkan jarinya. Ia memang harus sabar menghadapi tugas perempuan yang amat disayanginya itu. Bunda, Nanda dan Bu Dita sama pentingnya dan memiliki tempat istimewa di hati Damar. Ia harus bersabar menghadapi mereka hingga akhirnya batu-batu di kepala mereka bolong. "Kamu benar Yan, benar dan sangat benar. Aku pasti bisa menaklukkan hati bunda, Nanda dan Bu Dita."


"Tapi abang serius sama Bu Dita?" Pian mendengar gosip itu, tapi ia tak mengambil pusing.


"Memang salah ya?"


"Enggak sih bang. Yang namanya cinta tidak ada yang tahu kemana hati ini berlabuh. Sama seperti aku yang suka sama Nanda, meski ia ogah-ogahan dan rasanya tak mungkin tapi aku tetap meyakini dialah jodohku. Dan nanti, diwaktu yang tepat akupun akan berjuang untuk cintaku!"


"Cakep. Ini baru calon adik iparku!"


Damar dan Pian langsung tos. Sesama remaja yang tengah dilanda cinta, mereka saling curhat tentang beratnya memperjuangkan cintanya. Tapi mereka juga saling menguatkan agar tak mudah menyerah.


***


Langit sudah berubah gelap. Sebentar lagi akan turun hujan. Suasana di lingkungan sekolah sudah sepi. Seperti biasanya, Damar mengamati dari jauh, Bu Dita yang tengah menunggu angkutan umum di depan sekolah. Sudah setengah jam lebih dan Damar memperkirakan sebentar lagi akan turun hujan, sementara angkutan umum belum juga muncul, makanya ia memutuskan untuk menghampiri.


"Saya antar ya Bu," Damar menawarkan diri


"Enggak, kamu pulang saja." tolak Bu Dita.

__ADS_1


"Tapi sudah mau hujan, Bu. Kayaknya juga angkot nggak akan ada yang lewat, kan lagi ada tawuran pelajar di ujung sana."


Bu Dita tahu informasi tentang tawuran tersebut, makanya siswa di sekolah mereka juga dipulangkan lebih cepat. Tapi ia tak mempertimbangkan akan kesulitan mencari kendaraan umum. Tahu begitu ia numpang pada pak Wiguna, pamannya.


"Ya sudah, saya jalan kaki saja." Kata Bu Dita. Jalan lima belas menit, diperempatan nanti biasanya ada angkot jurusan pasar, ia bisa menumpang ke sana nanti ganti angkot sekali lagi ke arah rumahnya.


"Bu, ikut saya saja." Tawar Damar lagi.


"Nggak Damar, pulanglah!" tegas Bu Dita


"Kenapa sih Bu, sama si Aditya itu mau, masa sama saya nggak mau. Apa jangan-janhan ...."


"Jangan-jangan apa?"


"Ibu sudah suka sama saya, kan? Makanya ibu malu kalau dibonceng saya "


"Sembarangan kamu," Bu Dita bersungut-sungut. Ia kesal jika masa lalunya terus dibahas.


"Kamu tahu tidak batasan antara laki-laki dan perempuan? Saya memutuskan untuk hijrah, Mar. Saya ingin berubah jadi lebih baik lagi. Dari kajian yang saya ikuti, yang namanya interaksi antara laki-laki dan perempuan itu harus ada batasannya. Dulu saya memang pernah salah, tidak bisa menjaga diri dengan baik tapi sekarang akan saya perbaiki. Saya akan berusaha menjaga interaksi saya dengan lawan jenis. Jadi tolong bantu saya. Jangan dekat-dekat dengan saya agar saya bisa memperbaiki diri dengan baik." kata Bu Dita.


"MashaAllah, Bu, nggak salah saya suka sama ibu,"


"Nggak lucu Damar!"


"Siapa juga yang bilang lucu. Saya serius, Bu "


Guru dan murid itu saling berdebat hingga akhirnya huja. Benar-benar turun. Bu Dita langsung mengomel, semnetara Damar sumringah karena bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Bu Dita meski hanya di depan gerbang sekolah dalam keadaan hujan deras.


"Bu, nikah yuk," ajak Damar.


Bu Dita pura-pura marah, meski sebenarnya ia ingin sekali menganggukkan kepalanya karena sekarang ia benar-benar sudah jatuh cinta.

__ADS_1


Ahh cinta, Jika Allah titipkan rasa ini di hatinya untuk Damar, kenapa harus ada penghalang yang begitu besar. Bu Dita merutuk sedih.


"Saya emang bukan anak yang baik, ibu pasti tahu bagaimana bandelnya saya, tapi saya janji akan jadi suami yang baik untuk ibu. Saya tak akan membiarkan ibu kesepian lagi. Saya akan jadi teman bicara ibu setiap hari. Kita juga akan punya anak yang banyak agar rumah kita ramai nantinya." kata Damar.


"Mar," Bu Dita tak bisa menahan air matanya. Ia memang kesepian selama ini, terkahir piatu, hanya memiliki seorang ayah yang tak punya waktu untuknya. Namun ia sangat menyayangi ayahnya. Sayangnya ayahnya pun kini harus pergi meninggalkan dirinya.


Terbiasa sendiri sejak kecil membuat Bu Dita juga susah untuk mendapatkan teman. Semula ia berharap Aditya bisa menjadi pelipur larabya, menjadi orang yang bisa membunuh sunyinya. Sayangnya ia harus kembali sendiri.


"Kamu janji?" Tanya Bu Dita.


"Ya Bu, saya janji!" kata Damar, sambil mengangkat satu tangannya.


"Tapi tak mudah Damar. Nanda sudah bicara pada saya, keluarga kamu tidak bisa menerima saya."


"Karena itulah saya akan memperjuangkan ibu."


"Bagaimana kalau dunia menertawakan kita?"


"Biarkan saja. Toh kita tak melakukan kesalahan, tak ada aturan agama, norma dan hukum yang kita langgar. Saya sudah sembilan belas tahun. Sebentar lagi dua puluh tahun, secara hukum negara saya sudah cakap dan diizinkan untuk menikah. Jadi tak perlu mengkhawatirkan seluruh manusia di muka bumi ini, Bu."


"Damar," Bu Dita menundukkan kepalanya.


"Ayo kita berjuang bersama-sama Bu. Atau, saya yang berjuang sendiri. Saya akan menikahi ibu begitu saya lulus." Kata Damar. "Ijinkan saya Bu, menjadi imam ibu "


Tin. Klakson mobil membuat pembicaraan antara Damar dan Bu Dita terhenti. Sebuah mobil Honda berdiri tak jauh dari mereka, tak lama dari dalam keluar seseorang memakai payung. Rana. Rupanya ia tadi berada di sekolah untuk menjemput ibunya. Dari jendela depan Danar dan Bu Dita bisa melihat sosok bayangan Bu Bintang.


"Damar ... Bu Dita, sedang apa?" Tanya Rana.


"Ran," Damar dan Bu Dita beralih pada Rana. "Ini, saya sedang menunggu angkot. Mungkin karena hujan makanya nggak ada kendaraan umum yang lewat." Kilah Bu Dita.


"Tadi jalan di depan di tutup, Bu. Ada tawuran antara pelajar STM. Ibu mau pulang?" Tanya Rana lagi.

__ADS_1


Rana menawarkan tumpangan pada Bu Dita. Mereka pergi.. sementara Damar nelangsa karena ia belum selesai berbicara dengan Bu Dita.


__ADS_2