
Damar pergi meninggalkan kontrakan sederhana tempat mereka bernaung selama ini dengan hati yang luka. Meski begitu ia tetap bertahan untuk tidak menangis. Damar mengingatkan dirinya sendiri, bahwa ia laki-laki, ia gak akan pergi selamanya. Ini hanya sementara hingga ibunya mereda.
Bagaimanapun, keluarganya adalah tanggung jawabnya. Ia tak ingin menelantarkan ibu dan adik-adiknya. Ia tak ingin seperti ayahnya sendiri.
Motor tua Damar terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan rumah pak Wiguna, guru Damar sekaligus pamannya Bu Dita. Ia cukup mengenal bapak tersebut meskipun tidak terlalu dekat. Damar pernah menolong pak Wiguna saat motornya rusak. Sayangnya Damar belum pernah diajar oleh pak Wiguna, jadi dia gak bisa mengakrabkan diri.
Rumah pak Wiguna sangat sederhana sekali. Damar tahu kehidupan gurunya ini biasa-biasa saja namun sangatlah berkharisma. Itulah yang membuat Damar mengagumi lelaki paruh baya tersebut, disamping pak Wiguna adalah pamannya Bu Dita.
Pintu rumah pak Wiguna terbuka, sepertinya sedang ada tamu. Damar langsung mengucapkan salam. Dua orang lelaki yang sedang berbincang menjawab salam Damar.
"Lho, Damar?" kata pak Wiguna yang tak percaya dengan kehadiran Damar di rumahnya. "Ada apa?"
"O itu pak, saya ingin bicara." kata Damar.
"Bicara?" Pak Wiguna melirik ke dalam, ke arah tamunya. Damar yang ikut melirik kaget mendapati tamunya pak Wiguna. Aditya. Dia kan mantan Bu Dita. Tapi untuk apa ia ada di sini? Damar langsung menunjukkan sikap tidak sukanya. Ia bahkan menolak ketika Aditya mengulurkan tangannya. Untungnya Aditya tidak mengenal Damar hingga ia mengabaikan tatapan penuh permusuhan dari Damar.
Pak Wiguna agak bingung bagaimana cara menghadapi dua orang tamunya tersebut. Siapa yang harus diladeni terlebih dahulu?
"Paman, sepertinya saya pamit dulu, sekarang belum tepat untuk membicarakan semuanya tentang Dita karena murid bapak kayaknya ada keperluan penting. Saya harap kita bisa segera bertemu kembali secepatnya seperti yang dikatakan tadi." Aditya akhirnya pamit, membuat Damar senang.
Tapi ada sesuatu hal yang membuat Damar penasaran. Untuk apa laki-laki ini menemui Pak Wiguna dan apa maksudnya membahas Bu Dita. Bukankah mereka sudah putus, harusnya ia tak perlu lagi membahas perempuan pujaan hatinya. Damar merasa cemburu. Ia ingin memberikan peringatan pada Aditya, tapi pak Wiguna langsung mencegah. Sepertinya pak Wiguna tahu apa yang ada dipikiran Damar.
"Mar ada apa? Tumben sekali kamu datang, biasanya kan hanya lewat saja." kata bapak Wiguna, sembari mempersilahkan Danar duduk. Pak Wiguna sangatlah menghormati siapa saja, ia memperlakukan Damar dan Aditya sama. Meski secara sosial mereka berbeda.
__ADS_1
"Langsung saja, Pak. Saya sudah memberitahu pada Dita bahwa saya ada niatan untuk mempersuntingnya. Dita juga mengatakan untuk urusan melamar ia menyerahkan semuanya Kepada bapak. Untuk itulah saya datang ke sini menyampaikan maksud saya tersebut., Saya berharap bapak merestui saya." pinta Damar dengan penuh pengharapan.
"Kamu ini bicara apa sih, Mar? apa kamu sudah memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada Dita jika saya menerima kamu." Kata pak Wiguna.
"Memang apa yang akan terjadi, pak? saya dan Bu Dita saling mencinta, saya yakin bapak bisa berlaku adil dengan kami. Biarkan kami mewujudkan mimpi kami"
"Dengar baik-baik ya Mar, kehidupan Dita penuh dengan ujian semenjak kecilnya. ia sudah sangat menderita, saya tak mau hanya karena kamu maka penderitaannya tak hilang-hilang. jadi dari sekarang tolong jauhi Dita.
kamu juga harus tahu, tadi itu adalah Aditya, ia pun datang ke sini dengan maksud yang sama, ingin mendapatkan Dita. Tapi kami belum sempat membahasnya karena kehadiran kamu. Sadar diri jugalah, Mar. Kamu adalah muridnya, apa kata orang-orang nantinya tentang pernikahan kalian!"
"Pak, percayalah pada saya, saya sungguh sangat serius pada Bu Dita. Kehadiran saya di sini adalah bentuk keseriusan saya. Tolong biarkan kami bersatu. Bapak tahu, kan, menyatukan sepasang kekasih hingga Halal makanya pahalanya sangatlah besar."
"Lalu dengan apa kamu menghidupi kebutuhan keponakan saya? Jangan bilang kamu yang sebenarnya mau numpang makan. Iya, benar begitu? kamu harus tahu kalau seorang laki-laki lah yang harus bertanggung jawab atas perekonomian
pak Wiguna agak kaget saat tahu kalau Damar sudah bekerja. Sejujurnya ia bangga karena keponakannya berhasil membuat pengaruh baik untuk anak-anaknya.
"Hmmm tapi kenapa kamu datang ke sini tidak bermodal sedikitpun?"
"Maksudnya bagaimana, Pak?"
"Masa kamu tidak paham. Atau jangan-jangan selama ini kamu juga tidak pernah memberi apapun untuk keponakan saya tapi malah sebaliknya. Keponakan saya yang modal banyak untuk kamu!"
Pak Wiguna pura-pura marah sebab Damar yang berharap lamarannya diterima tapi tak membawakan martabat. Mendengar itu buru-buru Damar pergi, tak lama ia kembali membawa empat kotak martabat. dua yang manis, dua yang gurih
__ADS_1
"Jadi bagaimana, pak?" Tanya Damar dengan sungguh-sungguh.
"Ya ya ya. Baiklah Damar. Seperti kesepakatan kamu dan Dita, saya akan mengizinkan kalian menikah kalau kamu sudah lulus SMA. Tunggulah sampai pengumuman kelulusan. Setidaknya saya bisa membanggakan menantu saya pada tamu-tamu resepsi bahwa kamu lulusan SMA."
"Kalau menikah siri dulu bagaimana, pak?"
"Damar, kamu pikir Dita itu apa sampai ditawar-tawar seperti itu!" pak Wiguna pura-pura marah, namun kemudian tertawa bersama Damar. "Jangan dulu, Mar. Sebaiknya kamu sabar dulu menunggu sampai pengumuman. Atau jangan-jangan kamu khawatir tidak lulus lagi?"
"Enggak kok, pak. saya malah sangat yakin lulus dengan nilai terbaik."
"Nah kalau begitu sabarlah. Dita saja bisa bersabar masa kamu tidak?"
Kini Damar bisa tersenyum tenang sebab ia sudah mendapatkan lampu hijau dari pak Wiguna. Untuk sementara ia bisa melupakan semua kesedihannya usai diusir dari rumah. Saat seperti ini sebenarnya harapannya adalah
bisa merasa kebahagiaan bersama keluarganya juga, tapi sayang, saat ini mereka tengah berkonflik.
Usai berbincang, Damar pamit. Ia sangat puas dengan hasil pertemuan bersama pak Wiguna. Ia berharap ibunya pun akan berpikir sama seperti pak Wiguna yang legowo menerima lamaran, yang terpenting yang bersangkutan bahagian.
"Ingat, Mar. Kamu boleh lelah, putus asa dan nggak tahu harus melakukan apa lagi untuk menaklukkan hati ibumu. Tapi jangan lupakan kalau doa kami selalu membersamai."
.
"Baiklah pak, saya gak akan mengomentari apa pun lagi. Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa saya akan mensupport kamu, karena itu jangan kecewakan kamu, Mar. Lakukanlah yang terbaik. Saya tunggu kamu setelah ujian kelulusan!" Tantang pak Wiguna.
__ADS_1