
Aditya meninggalkan rumah Dita dengan berbagai perasaan. Kecewa, patah hati, malu sekaligus marah. Ia lelaki yang kini punya kedudukan tinggi di perusahaan impiannya ditolak oleh perempuan yang dahulu amat sangat mencintainya. Hanya waktu enam bulan dirinya dikalahkan oleh seorang pemuda bernama Damar. Siapa dia sebenarnya? Apa kehebatannya hingga membuat Dita bisa dengan mudah berpaling darinya? Saat masih kuliah, sebenarnya Aditya dan Dita pernah putus satu kali, selama delapan bulan mereka tidak menjalin hubungan dan Dita setia menanti hingga hubungan itu kembali dirajut. Tapi sekarang, lebih cepat dari pada waktu itu dan saingannya seorang yang jauh dibandingkan dirinya. Hanya seorang bocah ingusan yang jika dibandingkan dirinya tentu tidak ada apa-apanya.
Aditya menduga keras Dita patah hati yang teramat dalam, makanya ia berpaling. Memutuskan menikah dengan sembarang orang.
[Cari tahu siapa itu Damar!] perintah Aditya pada seseorang diujung telepon. Ia masih duduk di dalam mobil mahalnya yang diparkir dua rumah dari rumah Dita. Tatapan lelaki itu tak pernah berpaling. Ia belum bisa menerima kenyataan digantikan oleh seseorang yang menurutnya jauh dari dirinya.
"Memang susah mencari orang yang sebanding denganku. Tapi setidaknya jangan menikah dengan orang yang jauh sekali denganku. Turun sekali standar kamu, Dit!" Aditya mengoceh.
Damar Nugroho, pemuda berusia sembilan belas tahun. Tahun ini untuk ketiga kalinya ia tidak lulus SMA. Pemuda berandal yang suka balapan, pernah ditangkap polisi karena balapan liar beberapa kali. Sekarang bekerja di bengkel Nasional sebagai salah seorang montir. Orang tuanya sudah lama bercerai, ibunya yang membuat dirinya dan tiga adiknya. Tinggal di kontrakan murah, ibunya seorang buruh cuci dan sering nunggak biaya kontrakan.
Membaca pesan dari salah seorang suruhannya membuat Aditya semakin tak habis pikir. Bisa-bisanya Dita menggali kuburnya sendiri. Menghancurkan masa depannya denga menikahi laki-laki berandalan. Apa perempuan itu benar-benar sudah putus asa akibat diputus secara sepihak?
Sebenarnya Aditya sudah tidak ingin peduli kalau Dita sudah menikah. Dia bisa saja melanjutkan hidupnya dan mencari perempuan lain sebagai pengganti Dita, menurutnya tak akan sulit mendapatkan gadis yang lebih muda dan cantik karena saat ini ia sudah memiliki segalanya. toh kalaupun diperjuangkan dan Dita melepaskan diri dari bocah itu, Aditya juga tidak akan mau menerima Dita sebab pantang baginya menikah dengan bekas orang apalagi suaminya Dita itu menurutnya jauh dibandingkan dua dari segala hal; pendidikan, kekayaan apalagi jabatan.
Tetapi, Aditya tak bisa menerima begitu saja dikalahkan oleh orang yang tak setara dengannya. Ia merasa dipermalukan dan Aditya ingin Dita menyesali keputusan tersebut.
Aditya yang bersifat ambisius sudah menyusun rencana. Ia akan menghancurkan pemuda itu yang berarti juga akan menghancurkan hidup Dita. Ia akan membuat pemuda itu diberhentikan dari pekerjaannya.
***
__ADS_1
"Pokoknya mulai sekarang kamu tidak boleh berhubungan lagi dengannya. Jangan ada komunikasi, apalagi tanpa sepengetahuan saya, semua nomor atau apapun yang bisa menghubungkan kalian diputus dan kenangan yang pernah kalian buat juga harus dihapus!" kata Damar. Ia begitu protektif pada istrinya.
"Bagaimana cara menghapus ingatan?" tanya Dita.
"Gini nih, gini," spontan Damar mencium kening istrinya, tak hanya sekali tapi berkali-kali hingga membuat Dita kaget
"Damar!" ia cemberut. Tapi tak lama mereka berdua tertawa bersamaan.
"Saya janji akan membahagiakan kamu." kata Damar.
"InshaAllah saya juga akan berusaha berbakti, menjadi istri yang baik."
***
"Sayang, ini sarapannya." meski agak kaku namun Dita memaksakan diri memanggil Damar dengan panggilan tersebut sebagai penghormatan dan bentuk cintanya pada suaminya tersebut. Ia meletakkan nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas susu putih. Sambil ngobrol ringan mereka melanjutkan sarapan.
Sedang asyik sarapan, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk. Suara yang cukup ribut di luar sehingga membuat sepasang pengantin baru itu buru-buru keluar dan betapa terkejutnya mereka melihat Bu Anis, Nanda, Sigit dan Lala susah berdiri di depan pintu. Ada sebuah mobil pick up juga berisi barang-barang mereka.
"Apa ini, Bun?" tanya Damar.
__ADS_1
"Bunda sama adik-adikmu terpaksa pindah ke sini. Kontrakan kita digusur. Ada yang membelinya dengan harga tinggi dari pemilik sebelumnya sehingga kami harus angkat kaki pagi ini juga " Kata Bu Anis.
"Ya ampun. Lalu kenapa bunda bawa barang-barangnya ke sini semua? Kenapa nggak telepon Damar dulu, Bun?"
"Lalu bunda harus bawa ke mana lagi barang-barang ini, Mar? Kan kamu yang janji sama Bunda akan bertanggung jawab atas kehidupan keluarga kita. Jangan bilang kamu sudah lupa gara-gara baru menikah!"
"Bukan Bun, tapi maksudnya ...."
"Ahhhh, sudahlah, jangan banyak bicara dulu. Bunda sudah lelah. Semalaman tidak tidur gara-gara ngurus ini. Sekarang bawa masuk barang-barang itu, Mar. Bunda pengen istirahat!" tanpa basa-basi, Bu Anis masuk diikuti oleh Nanda. Sementara Sigit dah Lala hanya berdiri mematung menghadap abangnya.
"Ya Allah, bunda ....." Damar mau menyusul, tapi ditahan oleh Dita. Sejujurnya ia tak enak hati kalau benar ibunya pengen numpang tinggal di rumah Dita. Bagaimanapun ini rumah peninggalan mertuanya. Selain tak ingin merepotkan istrinya, sebab Damar yakin ibunya tak akan diam saja jika benar jadi tinggal di sini, Damar juga segan sebab ia belum minta izin langsung pada pemilik rumah ini.
"Udah, nggak apa-apa sayang. Biar bunda istirahat dulu." kata Dita.
Damar cukup tahu diri, ia memberitahu ibunya akan segera mencarikan kontrakan di sekitar sini untuk ibu dan adik-adiknya. Meski Dita tidak masalah, tapi tetap saja, hubungan ibunya dengan Dita belum membaik. Terakhir, ibunya belum menerima Dita sebagai menantu, Damar tak ingin Dita merasa tidak nyaman di rumahnya sendiri.
"Kenapa tidak tinggal bersama di sini saja, sih?" keluh Bu Anis saat Damar mengajaknya keluar.
"Bun," Damar memohon, tak ingin memberikan beban pada istrinya. Belum genap dua puluh empat jam ia dan Dita menikah, jangan sampai istrinya sudah merasakan tidak nyaman, padahal ia sudah berjanji akan membahagiakan Dita. "Damar ngelihat ada rumah kontrakan kosong di sekitar sini, semoga cocok untuk bunda." tanpa banyak bicara Damar menggandeng tangan ibunya, memboncengnya menuju rumah kosong yang jaraknya tak begitu jauh.
__ADS_1
Sepanjang jalan, ibunya tak berhenti mengomel. Ada saja yang dibahasnya, tanpa henti, meski Damar tak menanggapi sedikitpun sebab Damar hanya fokus pada jalanan. Menanggapi bunda hanya akan menambah masalah. Lebih baik diiyakan saja, selebihnya tetap jalan. Damar tak mau kebahagiaan rumah tangga kecilnya hilang, atau ia gagal bakti pada ibunya.