
"Maaf Rana, tapi aku tidak bisa!" Kata Damar, tegas. Laki-laki itu harus punya prinsip. Pantang memberi harapan palsu jika tak bisa mewujudkan, apalagi seseorang itu sudah baik seperti Rana. Ia sudah menentukan pilihannya, yaitu Bu Dita, dan sampai kapanpun akan diperjuangkannya.
"Beri aku kesempatan sekali saja, Mar. Akan ku buktikan kalau aku bisa lebih baik dari pada Bu Dita. Lagipula apa kurang ku, Mar? Aku juga tak kalah darinya. Bahkan usiaku jauh lebih muda darinya!" kata Rana.
"Ran, usia bukan permasalahan, tapi rasa nyaman yang ia berikan, kebaikannya dan pastinya ia yang tidak sombong. Itu yang membuat aku mencintai Bu Dita, Ran. Sebenarnya aku sudah bersimpati padanya, tapi karena kamu terlalu membanggakan diri, menganggap lebih baik dari pada Bu Dita, makannya rasa simpati itu hilang. Justru aku semakin yakin untuk memilihnya!" kata Damar. "Sudah Ran, kalau kamu tidak mau menolong tidak apa-apa. Aku akan berusaha sendiri. Aku yakin, cepat atau lambat akan mendapatkan restu Bunda. Terimakasih ya sudah berkata jujur mengakui semuanya. Tapi ku harap kamu berhenti melakukan semuanya. Berhenti meminta bunda untuk mengasihimu dengan memaksaku untuk menikahi kamu. Kita tak akan mungkin bisa bersama, Ran."
"Begitu? Damar, kamu tahu, aku sudah bersabar menantimu selama lima tahun ini. Mau sampai kapanpun aku akan tetap menunggu. Aku juga yakin, cepat atau lambat kamu pun akan memilihku. Damar, kamu harus ingat satu, hal. Ibumu hanya menginginkan aku sebagian calon menantunya karena ia menyadari kwalitas kamu seperti apa. Selama ini mamaku sudah berhasil memframing dengan menyamakan kamu dengan ayahmu. Hasilnya, trauma yang dialami ibumu oleh sifat dan sikap ayahmu berhasil membuat kami meyakinkannya bahwa satu-satunya yang pantas menjadi jodohmu hanyalah aku sebab ibumu takut kamu tak akan bisa menjadi kepala keluarga yang baik, kamu tak akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan kemudian di akhir cerita kamu akan bernasib sama seperti ayahmu. Memasuki usia senja berakhir di panti sosial." Rana tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat Damar terkejut juga kesal karena akhirnya melihat sisi lain dari seorang Rana. Tak lama setelah itu Rana baru menyadari sudah keceplosan akibat emosi yang tak bisa ditahannya. Ia sudah membongkar sendiri semua rencana yang sudah disusun dengan baik oleh ibunya.
Sementara Damar, Gadis yang biasanya ia lihat begitu baik, lemah lembut tapi ternyata juga licik. Tapi lagi-lagi Damar tenang sebab ia sudah melihat sebuah kebenaran lagi.
"Sudah?" tanya Damar.
"Damar!" Rana memekik pelan. Ia sebenarnya ingin menangis, hancur hatinya sebab tak mendapat simpati Damar. Satu-satunya senjata belas kasih pun ia musnahkan sendiri. Namun Rana masih tetap percaya, sebab ia punya dukungan dari ibu dan adik Damar.
Usai berbicara dengan Rana, Damar memilih cabut ke tempat yang membuat hatinya tenang. Kemana lagi kalau tidak ke rumah Bu Dita. Hanya hitungan hari ia akan menjadi suami dari perempuan yang sudah mengenalkan cinta padanya. Perempuan yang bisa membuat hatinya tenang.
Kedatangan Damar yang selalu tiba-tiba kini sudah tak membuat Bu Dita kaget. Ia juga tahu, Damar datang karena ada hal yang mengganggu hatinya. Orang bilang, lelaki akan pulang ke tempat perempuan yang membuatnya nyaman. Bu Dita berusaha menjadi rumah terbaik untuk Damar meski ia juga harus mengingatkan anak muda itu bahwa mereka belum halal dan ada batasan yang harus di jaga.
"Mau berapa kali lagi bolak-balik ke sini. Kan sudah dibilang, kalau ada yang penting datang ke paman saya saja." kata Bu Dita, dari depan pintu.
"Kangennya sama ibu, masa ketemunya sama pak Wiguna." jawab Damar asal-asalan.
"Mar!"
"Bu, nikah yuk."
"Kamu sabar ya. Nggak nyampe sepekan lagi."
"Ya Bu. Ibu juga janji, harus nepati janji. Akan menikah dengan saya kalau saya sudah lulus!"
"InshaAllah."
"Bu,"
"Pulang sana!"
"Ya ... tapi masih kangen."
__ADS_1
"Astaghfirullah Damar."
"Nanti kalau sudah Halal boleh kangen-kangenan?"
"Ya."
"Oke. Saya pulang. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Ibu nggak kangen saya?"
Bu Dita tersenyum.
"Kok cuma senyum?"
"Sudah sana, nanti kalau sudah menikah saya jawab."
"Benar?"
"Ya."
"Damar!"
"Kenapa Bu? Ibu juga masih kangen?"
"Huss enak saja. Tunggu sebentar." Bu Dita buru-buru masuk ke dalam. Lalu keluar membawa dua bungkus besar makanan.
"Banyak sekali, untuk saya?"
"Bukan. Untuk Bu Anis. Titip ya. Itu yang di kotak masakan saya. Semoga Bu Anis suka."
"Cieee yang mau nyogok calon mertua."
"Damar!"
"Hehehe. Terus untuk saya mana?"
__ADS_1
"Untuk kamu nanti.. InshaAllah kalau sudah menikah akan saya buatkan."
"Benar?"
"Ya."
Dua insan yang sedang dimabuk cinta itu sama-sama mengucapkan kata perpisahan. Lalu Damar pergi diiringi senyum Bu Dita. Masih ada beberapa hari sebelum mereka halal dan mereka harus menahan rasa itu hingga sah di hadapan Allah.
***
"Buat apa kamu bolak-balik ke sini?" bu Anis mencegat sulungnya di depan pintu.
"Ada yang mau Damar bicarakan." Damar menyerahkan bingkisan dari Bu Dita.
Ibunya menerima dengan suka cita. Bahkan memakan makanan yang ada di dalam kotak. "Kamu beli dimana ini, Mar? Enak sekali. Bunda pernah makan lapis seenak ini sekali di rumah nyonya Jeruk, itu lho, yang suaminya pemilik tambang batu bara di Kalimantan. Nah rasanya persis ini, enak, nggak terlalu manis..sayangnya dulu bunda cuma dapat satu potong."
"Mana coba?" Nanda, Sigit dan Lala ikut mencoba. Sama seperti ibunya, mereka bertiga juga memuji rasanya yang pas di lidah. Tidak seperti yang dijual di toko-toko.
"Itu dari Bu Dita, Bun." jawab Damar.
"Huekkk, pantas aneh begini rasanya. Jangan-jangan sudah dimasukkan sesuatu ini." ungkap Bu Anis.
"Sesuatu apa, Bun. Enak begini kok." ujar Sigit dan diiyakan Lala. "Kalau bunda nggak mau, sini, biar untuk Sigit dan Lala saja."
"Ehhh enak saja," Bu Anis menjauhkan kotak dari tangan Sigit. Ia yang gengsi pada Damar tapi masih ingin merasakan kenikmatan kue lapis itu enggan memberikan semuanya pada putra keduanya. "Ini biar bunda yang buang!" tegas Bu Anis. "Kalian jangan memakannya lagi. Kalau kenapa-napa, bagaimana?"
"Enggak akan kenapa-napa, Bun. Palingan kekenyangan kalau dimakan semuanya sendiri." ujar Damar sambil cekikikan. Ia tahu ibunya tak akan mungkin membuangnya, tapi Damar tak ingin banyak komentar sebab tak mau ibunya tambah malu.
"Yang ini mau dibuang juga, Bun?" tanya Sigit, sambil menunjuk bingkisan satunya.
"Hmm," jawab Bu Anis.
"Kalau begitu Sigit kasih ke tetangga saja. Lumayan ini isinya enak-enak dan sepertinya mahal." saat Sigit hendak menenteng bingkisan itu, dengan sigap Nanda mencegah. "Apa sih, kak?"
"Heh, biar bunda yang membuang. Ini bukan urusan anak kecil seperti kamu!" kata Nanda sambil melotot.
Damar, Sigit dan Lala hanya geleng-geleng kepala melihat ibu dan saudari perempuan mereka yang masih saja gengsian.
__ADS_1