
"Bang, kamu ngapain di sini?" Pian menemui Damar dengan keadaan mengantuk. Ia baru saja terlelap, tetapi dibangunkan ibunya. Sebenarnya ibunya Pian sudah mengatakan pada Damar kalau anaknya sudah tidur, tapi Damar cuek, ia tetap bertahan sampai pemilik rumah menyerah dan membangunkan Pian. "Ini sudah malam banget, bang. Sudah hampir jam dua belas. Mau jadi Cinderella apa, berkeliaran malam-malam." Pian bersungut-sungut.
"Yaelah masih jam segini, masih sore Yan. Anak laki-laki itu tidurnya jangan cepat-cepat " jawab Damar dengan gayanya yang seenak sendiri.
"Mau apa, bang? Besok kan ujian, jadi aku harus tidur cepat supaya nggak ngantuk saat mengerjakan soal-soal. Apa ada yang mau Abang tanyakan? Ada pelajaran yang belum paham?"
"Kamu itu salah satu juara di sekolah, sudah nggak perlu persiapan Yan. Santai saja menghadapi ujian ini, kayak aku!" ucap Damar lagi dengan santainya. "Ngomong-ngomong, aku nggak disuruh masuk, nih?" tanya Damar.
"Ini sudah malam, nggak sopan berkunjung ke rumah orang selarut ini, bang."
"Terkecuali ke rumah calon adik ipar." Damar nyelonong masuk. "Yang mana kamarmu?"
"Yaelah, bang," meski berat, Pian akhirnya mengajak Damar ke kamarnya.
Sampai di kamar Pian, dengan tidak tahu dirinya Damar membaringkan dirinya, ia membiarkan Pian diam melongo. "Ini beneran apa mimpi, sih?" Pian mencubit lengannya, terasa sakit. Berarti ini nyata, tapi kenapa Damar datang semalam ini, terus bukannya menjelaskan maksud kedatangannya malah tiduran di kamar Pian. "Bang, ada apa sih?"
"Aku baru bertengkar dengan bunda, lebih tepatnya aku tersinggung."
"Kenapa?" Pian yang biasanya tak suka ikut campur urusan orang lain kali ini terpancing, ia yang anak tunggal benar-benar seperti menemukan seorang saudara baru yang diharapkan. Jadi apapun masalah Damar, rasanya sangat menarik untuk disimak meski kadang ia dibuat kesal karena Damar suka seenaknya. "Karena mau menikah sama Bu Dita? Mungkin Bu Anis kaget kali bang, kan menyatakan mau menikahnya benar-benar dadakan. Terus Abang juga masih sekolah, belum ada pekerjaan tetap "
"Bukan itu saja. Bunda itu menyamakan aku dengan ayah. Bunda punya trauma tapi nggak seharusnya nyamain anaknya dengan orang yang ia tidak suka. Meski ada darahnya ayah ditubuhku, tapi aku bukan orang seperti itu."
"Hmmm, Bu Anis bicara begitu karena melihat kondisi dan sikap Abang selama ini. Makanya kalau Abang mau dinilai baik makanya Abang harus berubah. Buktikan dengan lulus tahun ini, lalu punya pekerjaan yang baik. Nanti aku bantu deh nyari link kerja yang penghasilannya lumayan besar supaya Abang ada nilai jualnya sedikit."
"Duh benar nih adik ipar? Sipp, kamu memang adik ipar yang terbaik Yan. Pokoknya aku dukung kamu jadi sama Nanda!" Meski sebenarnya pikiran Damar belum tenang tapi setidaknya ia sudah mendapatkan sedikit angin segar. Damar yakin dengan mengikuti arahan dari Pian ia bisa menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1
"Nah sekarang pulang bang, aku sudah ngantuk."
"Oke, besok aku pulang sekalian berangkat ke sekolah. Malam ini aku nginap di sini ya. Tanggung kalau mau pulang, biasanya kalau malam suka ada begal."
"Yaelah bang, ngerepotin banget sih!"
"Mau restu jadi adik ipar aku tarik?"
"Yadeh yadeh, terserah Abang saja!"
Damar tertawa kecil, ia langsung memejamkan matanya di atas tempat tidur Pian, sementara yang punya kamar harus bersabar tidur di atas lantai dengan alas selimut. Namanya adik ipar, harus mengalah sama kakak iparnya.
***
Pagi-pagi, usai sarapan, Damar berangkat bersama Pian. Tentunya dengan memakai seragam Pian. Sampai di sekolah, Nanda sudah menunggu. Adiknya itu terlihat senang saat melihat kedatangan abangnya. Tapi juga kesal sebab semalaman sudah membuat ibunya khawatir yang berarti ia pun dibuat khawatir.
"Apalagi sih Nan? Sudah ahh nanti aku pulang, sekarang aku mau ke kelas dulu, sebentar lagi ujian dimulai." jawab Damar.
"Janji pulang ya bang, kasihan Bunda."
"Hmm," Damar menuju kelasnya, begitu juga dengan Nanda.
"Bang, sudah waktunya berubah. Kalau benar-benar serius mau dapat restu dari Bu Anis, buktikan! Jangan keras kepala, bang. Apalagi kekanakan seperti itu. Dewasalah supaya semuanya luluh." kata Pian.
"Iya iya!" Meski rada kesal tapi Damar mengiyakan Pian. Ia hanya butuh waktu untuk membuktikan pada semuanya, terutama ibunya bahwa ia bisa menjadi suami yang baik untuk Bu Dita.
__ADS_1
***
"Bunda harus janji sama Damar, kalau Damar bisa lulus maka Bunda harus merestui hubungan Damar dan Bu Dita " cecar Damar, saat ia sudah pulang ke rumah.
"Apasih, Mar?" Bu Anis hendak mengelak.
"Bun," Damar terus mengejar ibunya, ia tak ingin menyerah.
"Damar, terserah kamu. Kalau kamu lulus, silakan menikahlah dengannya. Tapi kalau enggak lulus, kamu harus mengikuti kehendak bunda. Bagaimana?" tantang Bu Anis yang sudah kewalahan menghadapi putranya.
"Baiklah. Damar janji. Bunda juga harus Janji!" melihat ibunya yang mau mengikuti perjanjian itu membuat Damar tenang. Ia hanya perlu lulus, maka jalan untuk menikah dengan Bu Dita akan terbuka.
Bagi Damar saat ini lulus sekolah bukanlah hal yang berat sebab ia sudah punya Pian yang akan membantunya. Hari pertama Damar bahkan tak butuh bantuan Pian, ia benar-benar percaya diri menyelesaikan semuanya sendiri dan yakin jawabannya benar. Tinggal dua hari lagi waktunya untuk berjuang. InshaAllah bisa Damar! Pemuda itu menyemangati dirinya sendiri.
Selama dua hari ini Danar benar-benar berjuang dengan tekun. Ia memanfaatkan waktu dengan sangat baik. Bahkan ia sampai merelakan kesempatan untuk bertemu dengan Bu Dita. Baginya yang terpenting adalah lulus dulu. Setelah itu barulah Bu Dita.
Usai ujian, tak lupa Damar mendiskusikan semuanya dengan Pian. Barangkali ada yang salah. Dan sejauh ini Pian menyatakan Damar nyaris mendapatkan nilai sempurna.
"Aku yakin Abang pasti lulus dengan nilai terbaik!" ucap Pian dengan penuh keyakinan.
"Syukurlah kalau begitu, Yan. Aku benar-benar berharap lulus. Harapanku benar-benar besar, Yan." kata Damar.
"Tinggal satu hari lagi, bang. Ingat, jangan sampai lengah. Abang harus tetap belajar dan mempersiapkan diri dengan baik!"
Dua orang itu benar-benar bekerja sama dengan sangat baik. Pian mengajari Damar debgan sabar, sementara Damar sebagai murid mengikuti semua arahan Pian dengan tekun.
__ADS_1
Bu, sebentar lagi ujian ini akan selesai. Tolong bersabar menunggu saya. Damar menatap langit yang berwarna biru, ia melihat masa depan yang tak kalah cerah dibandingkan langit bersama Bu Dita. Ia akan mendapatkan restu Bunda dan mempersunting perempuan yang dicintainya.