Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Ulah Damar (2)


__ADS_3

Seratus juta. Harga mahar yang diminta Bu Dita. Damar yang mendengar tak bisa berkata apa-apa. Kepalanya berdenyut membayangkan uang sebanyak itu, entah darimana bisa didapatkan. Sementara itu, Bu Dita yang melihat raut wajah frustasi Damar bisa bernafas lega, meski ia berat tapi ia yakin Damar pasti akan menyerah. Sebenarnya Bu Dita tak tega sebab sekarang ia pun menaruh harap, tapi perempuan itu sadar siapa dirinya dan Damar. Rasanya jurang itu terlalu lebar. Juga ditambah ia takut kalau Damar ternyata hanya pelariannya saja sebab semuanya begitu tiba-tiba bagi Bu Dita.


"Besar sekali, Bu," cetus Damar.


"Ya, sama mau segitu. Kamu kira menikah dengan saya mudah. Enggak Damar." balas Bu Dita. "Jangan ganggu saya lagi sampai kamu bisa memenuhi permintaan saya!" tegas Bu Dita, ia berlalu tanpa memberi Damar kesempatan untuk instruksi.


"Huffff, seratus juga. Banyak banget." Keluh Damar lagi. Untuk acara resepsi saja belum ada, sekarang ditambah pula dengan nominal mahar yang sangat tinggi untuknya. Damar harus berpikir keras untuk mendapatkan uang tersebut.


***


Motor tua Damar memasuki teras rumahnya. Pemuda sembilan belas tahun itu turun dengan lemas. Masuk ke rumah. Ia yang semula berniat hendak minta maaf pada adiknya kini tak bicara sepatah katapun pada seluruh orang rumah. Hanya beranjak masuk ke dalam kamar, mengurung diri.


Dalam pembaringannya, Damar berpikir keras, bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Nominal yang tidaklah sedikit. Ia tak ingin menyerah sebab cintanya pada Bu Dita, tapi Damar juga tidak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi iapun takut jika suatu saat ia keduluan oleh orang lain yang bisa memenuhi permintaan Bu Dita.


"Bang, nggak makan?" tiba-tiba Lala, adik bungsu Damar masuk.


Damar menggelengkan kepalanya. "Belum lapar." jawabnya. Ia yang semenjak pagi belum makan apapun mendadak kehilangan selera makannya. Yang seratus juta rupiah telah membuatnya kehilangan semua rasa.


"Disuruh Bunda," kata Lala lagi.


"Abang belum lapar. Yang lain makan saja dulu."


"Sudah pada makan, tinggal Abang yang belum makan."


"Ya sudah, nanti Abang makan."

__ADS_1


"Tumben, biasanya Abang semangat makan. Padahal bunda masak sayur asem dan ikan asin lho "


"Hoooh,"


"Abang kenapa? Berantem sama Bunda ya? Nggak baik lho musuhan sama ibu sendiri. Nggak berkah hidupnya."


"Siapa yang berantem sama Bunda? Enggak kok,"


"Tapi bunda ngomel terus dari tadi karena Abang,"


"Hohh, berarti bunda yang bermasalah, bukan Abang "


"Diiihhh, ya kali bunda ngomel tanpa sebab..palingan Abang bikin masalah lagi, kan?"


Sesaat Damar dan adiknya saling diam. Tidak ingin menyakiti tapi kadang-kadang melakukan juga. Lalu bersamaan mereka tertawa cekikikan.


"Namanya juga anak muda, La. Tapi jangan dicontoh ya. Lala harus jadi anak baik seperti kak Nanda." Pinta Damar.


"Siap!" Lala memberi hormat pada abangnya, lalu ia berlalu keluar. Sementara itu Damar kembali asyik dengan pikirannya. Berpikir keras entah dari mana mendapatkan uang yang nilainya tidaklah sedikit.


***


Sudah sejak dua bulan lalu Damar diajak oleh Oyon, salah seorang pemuda yang juga tinggal di kampung sama dengan Damar. Ceritanya ada yang mengajak untuk balapan motor. Hadiahnya tidak main-main, sepuluh juta rupiah setiap kali menang satu putaran. Nominal yah tidak sedikit.


Semula Damar yang memang hobi balap mengabaikan ajakan tersebut sebab ia tahu ibunya tak suka kalau ia ikut balapan liar seperti itu. Apalagi dulu Damar pernah tabrakan dan ia hampir kehilangan nyawanya. Namun kali ini Damar tak bisa mengabaikan, ia yakin ini adalah jalan untuk bisa menikahi Bu Dita. Sepuluh kali putaran menang maka ia bisa membayar mahar untuk Bu Dita.

__ADS_1


"Tapi ingat ya, Mar. Sepuluh persen hadiahnya buat gue!" ujar Oyon, mengingatkan. Sebagai penyalur tentu saja ia tak mau rugi. Apalagi untuk uang taruhan Damar dari kantongnya sendiri.


"Iya, tenang saja." Jawab Damar.


Sepuluh orang pembalap liar sudah berada di garis start. Mereka siap menerima tantangan hingga akhirnya selendang diterbangkan pertanda balapan dimulai.


Damar langsung tancap gas. Memacu motor tua yang meski terlihat seperti motor rongsokan namun sudah dimodifikasi jadi cepat seperti angin. Untuk urusan tersebut Damar memang ahlinya.


Damar mulai meninggalkan satu-persatu pesaingnya hingga menyisakan hanya satu lawan. Seseorang dengan motor balap sebenarnya, tidak seperti motor Damar. Sehingga kecepatannya tidak perlu diragukan. Setengah putaran motor berwarna hitam yang menjadi sangat Damar mulai mendekati dan ia memberikan sedikit hantaman pada sisi sebelah kanan motor Damar sehingga motor tua tersebut hampir oleng.


Kesal, tapi tak bisa membalas sebab Damar tahu, bodi motornya jika ia tabrakan ke motor balap tersebut yang ada malah motornya yang akan hancur, makanya Damar hanya bisa menghindar.


Suara teriakan orang-orang terdengar nyata, meminta Damar berhenti karena jika ia terus melaju maka yang ada motornya akan lepas ban dan tentu akan membahayakan nyawa Damar.


"Nggak, aku nggak akan menyerah. Demi uang mahar untuk Bu Dita!" Damar membatin. Bayangan wajah Bu Dita Munduk di benaknya sehingga membuatnya makin bersemangat hingga tanpa ia sadari satu hantaman lagi membuat motornya benar-benar oleng. Mungkin ada bagian mor atau baut yang lepas. Damar tak tahu pasti, tapi yang jelas keseimbangan motornya benar-benar hilang keseimbangan. Tapi Damar tak hilang akal, ia segera menarik bagian belakang motor lawannya hingga kini dua orang itu sama-sama oleng. Sebelum jatuh, Damar sempat menjadikan sisi kiri motor lawannya untuk kembali seimbang di atas motornya. Hasilnya, Damar bisa terus melaju dengan motor tuanya yang hampir copot bannya, sementara lawannya jatuh terpental karena tak menyangka akan mendapatkan perlawanan seperti itu hingga ia tak punya kesiapan.


"Sial!" maki lawan Damar.


Tinggal sedikit lagi menuju garis final. Damar sudah merasa kepayahan, ditambah teruskan penonton balapan liar yang mengingatkan dirinya untuk berhenti sebab motornya benar-benar oleng, kalau dipaksakan hanya akan membuatnya celaka.


Sedikit lagi. Bertahanlah Damar. Agar semuanya tidak sia-sia. Kamu mau menikah dengan Bu Dita, kan. Ini adalah salah satu jalannya. Semangat Damar!


Pemuda itu terus menyemangati dirinya sendiri hingga harus finis dan motor ya terpental karena sekarang ban belakangnya benar-benar lepas. Sementara Damar terpental beberapa meter dari garis finis.


Damar terjatuh mencium aspal. Ia merasa wajahnya begitu perih. Sorak-sorai penonton menyebut namanya membuat Damar bisa tersenyum lega. Tak sia-sia ia sampai terjungkal seperti ini. Ia menang. Ia berhak atas hadiah sepuluh juta. Tak lama kesadaran Damar hilang bersama mimpinya menikah dengan gurunya.

__ADS_1


__ADS_2