
"Tan ... te?" Rana berdiri hanya beberapa meter dari Bu Anis dan Dita. Ia tak sengaja melihat dua orang itu tengah berpelukan di toko baju langganan tempatnya biasa berbelanja. Rana juga tak menyangka jika bu Anis ke sini bersama istri Damar sebab sebelumnya sahabat ibunya itu selalu ke sini bersamanya dan Nanda. Ialah orang pertama yang mengajak Bu Anis ke sini, begitulah menurut pengakuannya. Kesulitan ekonomi membuatnya susah untuk berbelanja pakaian, apalagi di tempat ini yang terkenal dengan merek dan harganya yang tentu saja cukup tinggi dibandingkan toko lainnya.
"Rana?" Bu Anis tak kalah kaget. Tapi ia segera bersikap biasa. Tak ada salahnya berada di sini bersama menantunya. Toh ia punya uang, pemberian anaknya.
"Tante ke sini sama siapa?" tanya Rana, sambil melirik Dita.
"Sama Dita. Rana sama siapa? Mama mana?" Tanya Bu Anis, sambil celingukan mencari sosok sahabatnya. Tapi nihil, ia hanya melihat asisten rumah tangga yang biasa menemani Rana keluar kalau ibunya tak bisa mendampingi.
"Nanda mana,Tan?" ia mencari ke kanan dan kiri, tapi tak melihat sosok yang biasanya mendukungnya.
"Di rumah."
"Ke kenapa tidak ikut menemani Tante? Kenapa Tante malah pergi dengannya?" Rana menunjuk Dita, ia tampak marah sebab ia tak terima, calon mertua yang belum jadi malah dekat dengan istri Damar. Kenapa ini bisa terjadi? Ia sudah kehilangan banyak kesempatan. Rana yang awalnya senang bisa keluar meski harus ditemani asisten ibunya kini gelisah. Ia gugup menahan amarah. Ingin sekali dilampiaskannya semuanya pada mantan gurunya tersebut, tapi Rana takut semakin terluka sebab tak mendapatkan dukungan dari Bu Anis. "Kalau Tante mau ke sini harusnya bilang sama Rana. Kan Rana bisa menemani Tante seperti biasanya. Rana nggak akan menolak permintaan Tante."
"Ya Rana, Tante berterima kasih karena selama ini kamu sudah mau menemani Tante, kamu juga sering sekali mentraktir Tante dengan nominal yang tidak sedikit. Tapi sekali lagi Tante hanya bisa mengucap terimakasih. Sekarang Rana tak perlu lagi melakukannya, Tante nggak akan merepotkan Rana karena Tante akan pergi bersama Dita. Dia yang akan menemani Tante kalau Tante ingin keluar. Begitu kan, nak?"
__ADS_1
"Ya Bun," jawab Dita sambil tersenyum sebab akhirnya ia mendapatkan tempat di hati mertuanya dan yang lebih menggembirakan bahwa mertuanya akhirnya memilih dirinya ketimbang Rana, perempuan yang dulunya selalu diutamakan. Makanya ia bisa dengan percaya diri meyakini kalau mertuanya memenangkan dirinya. "Dita akan temani bunda kemanapun bunda mau. InshaAllah."
"Tante!" Rana kesal, ia sampai menghentakkan kakinya. "Kenapa jadi begini? Kenapa Tante mengkhianati Rana?" anak manja itu marah. Ia tak terima dikalahkan oleh perempuan yang menurutnya jauh dibandingkan dirinya. Dibandingkan usia saja ia yang pantas karena dirinya sepantaran dengan Damar.
"Ran, Tante sayang sama Rana. Tapi Tante juga tidak bisa merusak hubungan Damar dan Dita. Mereka sudah jadi pasangan suami istri, dosa kalau kita merusak rumah tangganya. Biarkanlah mereka hidup bahagia. Dan Tante berdoa semoga Rana pun menemukan kebahagiaan Rana. Percayalah, akan ada laki-laki yang memilih Rana nantinya, ia yang mencintai kamu, menerima kamu apa adanya dan kalian akan bahagia bersama. Kamu hanya harus terus melanjutkan hidup dengan lebih baik. Buka hatimu untuk orang lain, bahagiakan dan berbaktilah pada ibumu, ya."
"Enggak Tante, Rana nggak mau. Rana hanya mencintai Damar dan hanya akan menikah dengannya!" Rana menegaskan. Ia tak suka ditawar-tawar.
"Jangan kolokan Rana!" Bu Anis menegaskan. Ia jadi kesal dengan anak ini yang begitu keras kepala. Sudah diberitahu yang baik dan benar malah tetap saja egois. Bu Anis juga menyesali kenapa ia pernah bersekongkol dengannya, sampai ingin menghancurkan rumah tangganya. "Sudah, Tante mau pergi dulu." kata Bu Anis, ia tak ingin membuang waktunya lebih banyak lagi dengan anak manja ini.
"Kalian kira dengan begitu bisa membuatku menyerah? Enggak. Aku justru akan semakin tertantang untuk mendapatkan Damar. Bu guru itu nggak akan mungkin bisa mengalahkan aku!" Rana menggumam. Ia yang semula ingin berbelanja kini memilih pulang. Ia harus menemui ibunya untuk mengadukan semuanya.
***
Rana mengira ia akan mendapatkan dukungan seperti sebelum-sebelumnya. Tapi lagi-lagi ia diabaikan. Bahkan ibunya mengatakan akan membawanya pindah agar ia sadar.
__ADS_1
"Mama nggak akan bisa menghalangi Rana. Sampai kapanpun Rana tak akan pernah mengalah, Rana akan mendapatkan Damar!" Kata Rana dengan tegas.
"Sudahi sekarang Rana, Mama sudah tak ingin lagi dibawa-bawa, Mama tak akan pernah mendukung keinginan bodoh kamu. Mama menyadari ini semua salah Mama, makanya dengan membawa kamu pergi mama harap bisa menebus segala kesalahan mama, sekalian kita berobat." Kata Bu Bintang, sambil menunjukkan paspor mereka.
"Enggak Mama, Rana nggak mau. Kalau Mama terus memaksa, Mama nggak akan pernah punya cucu dari Rana!"
"Terserahlah. Punya ataupun tidak bukanlah hal penting untuk mama sekarang. Mama ingin kita sama-sama memperbaiki diri, bukan sama-sama jadi bodoh. Jangan terus mengikuti nafsu, Rana. Sudah waktunya kita akhiri kebodohan ini sebab yang kamu hancurkan bukan hanya Damar dan istrinya, tapi juga kamu sendiri, mama, juga persahabatan mama dengan Anis!"
"Mama benar-benar ya," Rana kesal, seperti anak kecil ia menghentak-hentakkam kakinya, lalu berlalu menuju kamarnya. Mengurung diri adalah salah satu bentuk protes yang dilakukan Rana. Tapi ibunya tak peduli, lebih baik anaknya berdiam diri di kamarnya dari pada memaksakan kehendaknya.
***
"Ibu minta maaf ya Mar, sudah membuat masalah dalam hidup kamu, Bu Dita dan keluarga kamu " Bu Bintang mengakui kesalahannya, secara sadar ia mendatangi Damar, mengakui semuanya dan siap menanggung konsekuensinya. "Ibu sudah mengundurkan diri, tidak mengajukan pensiun dini. Apa yang sudah ibu lakukan pastinya belum cukup untuk menebus kesalahan ibu, tapi baru itu yang bisa ibu lakukan. Ibu harap kamu dan Bu Dita mau memaafkan ibu dan Rana. Kami juga akan pindah ke Belanda. Di sana Rana akan menjalani pengobatan, semoga dengan perpisahan ini bisa membuatnya sadar dan melupakan kamu." kata Bu Bintang.
"Terimakasih sudah menyadari semuanya, Bu. Saya juga berdoa semoga Rana bisa mendapatkan kebahagiaan dengan yang lain." kata Damar. Ia yang sempat sangat marah pada Bu Bintang dah Rana kini sudah berangsur mereda. Ia sangat bersyukur jika Bu Bintang mau menyadarkan Rana bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah. Setidaknya sekarang tak akan ada lagi yang mengganggu hubungannya dengan istrinya.
__ADS_1