
Sembilan bulan sembilan hari. Sama seperti perempuan hamil lainnya, selama itulah Dita berusaha menjaga kehamilannya. Putra pertamanya dengan Damar. Anak yang amat mereka dambakan. Terutama Dita, yang terpaksa harus melewati semuanya dengan susah payah seba sakit yang dideritanya.
Selama itu ia harus menjalani dengan kondisi bedres. Tidak bisa bekerja, tidak bisa kemana-mana. Kalau keluar hanya untuk kontrol. Kondisi itu membuat Dita benar-benar bosan. Ia sehari-hari hanya di rumah saja. Damar yang sibuk dengan pekerjaan dan pendidikannya selalu meninggalkan Dita sendirian.
Sebenarnya Damar sudah menawarkan agar selama Damar kejra, Dita ditemani ibu atau adiknya. Tapi ia menolak dengan berbagai alasan. Salah satunya takut merepotkan. Alasan yang pada akhirnya membuat Dita benar-benar kesepian sebab mertua dan iparnya hanya datang ke rumah sesekali. Itupun saat Damar ada di rumah sebab mereka takut mengganggu waktu istirahat Dita.
Pagi ini, usai merengek pada Damar agar diberikan sedikit waktu, tapi ketika permintaannya ditolak sebab Damar sudah terlanjur membuat janji meski ini hari libur. Mungkin karena sedang hamil, Dita menjadi sangat sensitif. Ia menangis menjadi-jadi demi mendapatkan perhatian suaminya.
"Kenapa harus menangis? Diamlah, sayang. Nanti kalau semua urusanku sudah selesai, kita keluar bersama. Ya?" tawar Damar. Mencoba bernegosiasi.
"Nggak. Aku mau sekarang. Lagian besok-besok belum tentu bisa. Bagaimana kalau aku melahirkan lebih cepat, bisa-bisa kita tak jadi keluar. Palingan nanti bisa bersama sekitar dua atau tiga bulan, saat bayinya sudah lebih besar. Itupun kita tak akan bisa leluasa sebab sudah ada anak yang harus kita temani." ungkap Dita.
"Ya sudah, bayinya kita titip. Bunda ataupun Nanda tak akan keberatan jika harus menemani bayi kita. Ya."
"Enggak enggak enggak!" Persis seperti anak kecil, Dita tantrum. Ia tak bisa terima jika harus mengulur waktu lagi. Ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama Damar. Di rumah saja membuatnya sangatlah kesepian.
__ADS_1
"Jangan egois begitu sayang, kan sudah ku katakan. Aku begini demi kehidupan kita yang lebih baik lagi. Apalagi kita akan punya anak yang tentunya butuh uang sangat banyak nantinya. Mumpung ada kesempatan makanya digunakan dengan baik. Ya?"
Seperti apa yang dikatakannya, Damar benar-benar berangkat kerja. Dita yang begitu sedih hanya bisa menangis. Ia menuangkan kesedihannya dala. Tulisan. Ia merasa benar-benar rapuh.
Oh, apakah kehidupan ini hanya berisi tentang sepi. Jika kawan yang engkau kira akan menghapus kesepian itu ternyata tak benar-benar membunuh sepimu, lalu kenapa juga harus ada teman jika kesepian itu nyata dan sama.saja.
Aku terlahir sendiri, sampai kapanpun akan selalu sendiri. Tak akan pernah ada kebahagiaan untukku. Sebab lara adalah temanku.
Tangisan Dita rupanya mempengaruhi kandungannya. Ia yang memang sudah mendapatkan peringatan dari dokter agar tak terlalu sedih pada akhirnya harus merasakan sakit yang teramat di perutnya. Tak hanya itu, darah ikut mengalir perlahan sehingga membuatnya kebingungan.
Ketika matanya semakin terpejam, Dita melihat begitu banyak orang-orang di ujung sana. Mereka tertawa, berbagi cerita. Ada juga Danar, ibu mertua serta iparnya di sana. Namun tak ada satupun yang bersedia memanggilnya. Mereka hanya tertawa sesama mereka. Dita seperti orang asing yang diabaikan. Kondisi itu membuatnya mundur, perlahan sambil berlinang air mata.
***
Area rumah sakit. Damar tengah berjalan mondar-mandir dengan perasaan khawatir. Mulutnya tak henti mengucap istighfar. Sesekali ia minta maaf pada istrinya meski Dita tak berada di sisinya sebab sekarang sedang menjalani persalinan secara Caesar di ruangan operasi.
__ADS_1
"Mar, tenanglah. Duduklah di sini dulu." panggil Bu Anis yang ikut menemani. Bu Anis segera meluncur ke rumah sakit setelah diberitahu Damar.
"Apakah ia bisa selamat? Juga bayi kami? Entah sudah berapa lama Dita terbaring di lantai dalam kondisi seperti itu. Ia sendiri. Aku benar-benar berdosa sudah membiarkannya seperti itu!" Damar meruruki dirinya sendiri. Ia menyesal tadi pagi sudah menolak permintaan istrinya. Kalau saja ia menurutinya maka bisa saja Dita tak mengalami semua ini. Bisa juga Dita kini baik-baik saja. Hati Damar semakin hancur sebab ia membaca tulisan goresan tangan Dita secara tidak sengaja.
"Sudahlah. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Sekarang berdoa agar Dita dan bayinya selamat." Kata Bu Anis sambil mengusap pelan punggung putranya. Sebenarnya ia pun kecewa dengan apa yang dilakukan anaknya, namun nasi sudah jadi jujur, kalau mereka hanya membahas sesuatu yang sudah berlalu, tak akan menghasilkan apa-apa. Sekarang Dita dan calon cucunya tengah berjuang. Bu Anis hanya ingin berpikiran positif bahwa semuanya akan baik-baik saja.
***
Bayi mungil itu akhirnya lahir ke dunia. Seorang bayi laki-laki yang amat menggemaskan. Bayi pertama sekaligus bayi terakhir yang akan dilahirkan oleh Dita. Dokter sudah memberikan larangan padanya agar tak memiliki keturunan lagi sebab kondisi rahim Dita tidak memungkinkan untuk punya anak lagi. Selain itu juga akan membahayakan nyawanya sendiri.
Mendengar itu, Dita yang semula bahagia kini bersedih hati juga. Ia lebih banyak melamun, mengabaikan orang-orang yang tengah ramai di kamarnya tempat di rawat.
Suara tangisan bayi membuat Bu Anis berinisiatif untuk memberikannya pada Dita agar diberikan asi. Namun ternyata asi Dita belum juga keluar. Bu Anis mencoba menenangkan dengan mengatakan kondisi seperti itu wajar. Tidak semua perempuan bisa menyusui saat anaknya baru lahir. Ada yang harus menunggu beberapa saat bahkan sampai hitungan hari. Kondisi itu normal..namun karena Dita sedang tidak baik-baik saja, kondisi itu jadi masalah untuknya.
"Aku memang bukan perempuan yang beruntung, setelah tidak bisa membuat suamiku bahagia, aku juga kini gak bisa memberikan hak anakku. Oh aku benar-benar perempuan yang menyedihkan!" Dita menangis.
__ADS_1
"Kamu bicara apa sih sayang? Siapa bilang aku tak bahagia? Aku bahagia, sangat bahagia denganmu..dan sekarang kebahagiaan ini bertambah-tambah karena kamu sudah melahirkan anak kita. Aku sungguh berhutang padamu. Kalau masalah asi, bukankah bunda sudah mengatakan bahwa kondisi seperti itu wajar terjadi. Yang penting kamu bahagia. Nanti juga pasti ASI-nya akan keluar." ucap Damar dengan perasaan tak kalah haru. Hatinya juga hancur mendengar celotehan istrinya. Ia pun merasakan sangat berdosa sebab Selama ini kurang perhatian pada istrinya.