Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Menuju Pernikahan


__ADS_3

"Damar di sini nggak lama, kok, Bun." Kata Damar. "Cuma mau mendengarkan ini pada Bunda " Sebelum ibunya menolak, Damar memutarkan rekaman pembicaraannya yang hanya berisi pengakuan Rana pada ibunya dengan harapan bisa membuka mata hati ibunya bahwa Rana tak benar-benar tulus padanya. Tadi Damar berpikir cepat untuk merekam tanpa sepengetahuan Rana sebagai bukti untuk ibunya. Meski tidak sempat merekam semuanya, tapi Damar berusaha merekam pembicaraan penting.


"Kenapa kak Rana bicara seperti itu?" tanya Nanda. Ia kaget mendengarnya. Ia juga tidak menyangka Rana akan seperti itu sehingga kini Nanda terlihat ragu-rqgu.


"Ya karena Rana memang begitu " Jawab Damar. "Begitulah nilai ku di mata mereka Hanya dikaitkan


"Lalu kamu mau apa? Berharap dengan merekam ini lalu bunda bisa menerima guru kamu itu? Tak semudah itu Mar. Bunda tidak bodoh. Bunda tahu semua rencana Bintang seperti apa sebab bintang itu sahabat bunda sejak kami masih SMP. Ia begitu hanya karena takut kita tidak menerima Rana yang sedang sakit.


Mar, dengar bunda baik-baik. Bintang dan Rana mengambil keuntungan dari perjodohan kamu dan Rana. Itu cara untuk membahagiakan Rana yang sedang sakit agar bisa bersemangat melanjutkan hidupnya sebab Rana sudah memilih kamu dan tak mau dengan siapapun selain kamu.


Tapi Damar, bunda juga mendapat keuntungan. Kamu pikir siapa yang mensupport keluarga kita selama ini dalam hal perekonomian? Tentu saja Bintang. Ia yang membantu kita saat kondisi benar-benar di bawah. Mereka begitu royal, tak pernah perhitungan. Dan kalau terjadi sesuatu pada Rana, maka semuanya akan jatuh pada kamu, Mar. Semua milik Bintang dan almarhum suaminya adalah warisan untuk Rana yang kemudian juga akan jadi milik suaminya Rana Apa itu tak menguntungkan? Kamu hanya perlu menghabiskan waktu beberapa saat bersama Rana, lalu kamu mendapatkan semuanya. Tanpa kecuali. Bukankah itu sangat mudah? Ayolah Nak, lakukan semuanya demi bunda kalau kanjnn Bu


"Astagfirullah Bunda!" Damar tak menyangka. Ia mengira hanya Rana dan ibunya yang licik di sini, namun ternyata ibunya tak kalah licik. Bahkan lebih licik, tega mengorbankan anaknya sendiri demi uang. Damar ngeri melihat ide di otak ibunya. Hanya demi uang rela mengorbankan kebahagiaan putranya. Damar mengerti, bagaimana sakitnya hidup ibunya selama ini karena kemiskinan. Ia harus bekerja keras siang dan malam, saat petir mayounTapi apa harus mengorbankan kehidupannya juga? Bukankah uang bisa dicari? Waktu yang sedikit menurut ibunya itu tetap saja kalau dijalani akan terasa berat


"Maaf Bun, tapi Damar tidak mau! Damar tidak akan pernah ikut dalam permainan ini!"


"Mar, pikirkan baik-baik. Sembilan belas tahun bunda membesarkan kamu seorang diri. Tanpa adanya suami. Bund selalu mengabaikan siapapun yang datang ke kehidupan bunda sebab bunda hanya mau Membiayai kamu dan adik-adik kamu dengan susah payah. Bunda hanya minta kamu menikah dengan Rana sebentar saja. Tak akan sampai lima tahun. Setelah itu kamu bebas Mar. Bunda sudah tua, sudah tidak mampu bekerja keras lagi. Apa kamu tidak kasihan pada Bunda?"

__ADS_1


"Bun, kalau hanya karena uang, Damar janji akan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita. Tapi jangan paksa Damar bersama perempuan yang tidak Danar suka!"


"Kerja seperti apa, Mar? Apa pekerjaan yang kamu lakoni bisa menghasilkan uang sebanyak harta kekayaan Bintang dan suaminya? Damar, tolong jangan egois. Bunda berjuang untuk kalian, mana balasannya? Bunda tahan hidup sendiri, demi bisa membesarkan kalian bertiga. Tapi mana balasan kalian untuk bunda. Tolong tahu diri, Mar "


"Bun, maafkan Damar tidak bisa mengabulkan permintaan bunda. Tapi Damar janji akan berusaha memenuhi kebutuhan bunda semaksimal mungkin. Apapun itu, bunda tinggal twkwoihg.


Damar tahu perdebatan ini tak akan ada ujungnya sebab mereka berdua sama-sama punya pandangan sendiri-sendiri. Damar memutuskan kembali ke mess. Ia terpaksa mengabaikan permintaan ibunya yang dianggapnya keterlaluan jadi pondasi yang kuat untuk memulai sebuah hubungan. Jangankan bahagia, yang ada mereka berdua akan sama-sama tersiksa.


"Mar, bunda gak akan menyerah. Bunda akan berusaha agar kamu mau menuruti keinginan bunda karena bunda ibu kandung kamu, lebih berhak atas kamu ketimbang perempuan itu!" Tegas Bu Anis.


***


[Semoga hari ini Allah berikan yang terbaik untuk kamu!] sebuah pesan pendek dari Bu Dita.


Damar tersenyum membacanya. Hari ini pengumuman kelulusan, meski Damar percaya diri akan lulus dengan nilai terbaik karena ia sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau ia deg-degan.


Ada banyak hal yang dipikirkan Damar, salah satunya adalah tentang rencana pernikahan dengan Bu Dita yang akan berlangsung di hari Jum'at ini. Damar tersenyum tipis, membayangkan ia akan menjadi pengantin. Imam dari seorang perempuan yang sudah disukainya sejak kelas satu SMA. Di usianya yang sudah sembilan belas tahun mimpi itu akan diwujudkan. Menikah muda dan membangun cintanya.

__ADS_1


"Senyum-senyum aja, bang. Pasti memikirkan Bu Dita!" tiba-tiba Pian mengagetkan, membuat lamunan Damar buyar.


"Heheheh, tahu saja kamu Yan. Tapi ngomong-ngomong, kamu datang kan Jum'at ini, meski hanya akad." tanya Damar. Ia sangat berharap Pian bisa datang sebab keluarganya sendiri belum konfirmasi akan datang. Ibunya masih marah, tapi Damar tetap akan berusaha membujuk hingga hari H.


"InshaAllah datang dong, Bang. Nanti Mama, Papa dan om Agas juga akan datang. Boleh, kan, bang?"


"Tentu saja boleh. Malah aku senang sekali, Yan.. setidaknya aku punya keluarga. Nggak sendirian amat. Hehehehe." Damar tertawa kecil.


"Masih ada waktu, Bang. Semoga saja Bu Anis dan yang lainnya luluh hatinya melihat usaha Abang yang sungguh-sungguh. Jadi pada datang." Kata Pian lagi.


"Semoga begitu, Yan. Meski aku sudah tak berharap banyak. Yang penting aku sudah memberitahu bunda. Hanya saja aku tak enak pada Bu Dita. Ia sudah memberiku kesempatan, tapi di awal saja aku sudah memberinya suasana tidak nyaman."


"Bu Dita pasti paham, bang. Dia orang baik yang selalu positif thinking pada orang lain. Jadi InshaAllah nggak akan terjadi apa-apa."


"Semoga begitu, Yan."


Pengumuman dari pengeras suara membuat Damar dan Pian menghentikan pembicaraan mereka. Bersama siswa-siswi kelas tiga yang lain berkumpul di lapangan sekolah. Bu Bintang selalu kepala sekolah menyampaikan pengumuman beserta kata-kata nasihat untuk perpisahan antara murid kelas tiga dengan sekolah. Setelah ini mereka akan melanjutkan ke perguruan tinggi, ada juga yang memilih bekerja, tapi sepertinya yang berencana menikah baru hanya Damar.

__ADS_1


__ADS_2