
"Mar ...." panggil Rana. Sepasang matanya sendu, menatap penuh harap, agar Damar mau mendekat dan memberikan perhatian padanya, meski hanya sedikit, tapi baginya sudah lebih dari cukup. Tapi sayangnya harapan Rana tak terkabul, lelaki itu tetap berdiri mematung di samping istrinya. Padahal tak hanya Rana yang memanggil, tapi ibuydab ibu Damar juga sudah memberi isyarat agar Damar mendekat.
"Cepat sehat ya, Ran. Saya pamit dulu." Kata Damar tiba-tiba. Bahkan ibunya pun kaget, tapi Damar tak peduli. Ia sangat yakin, keberadaannya di sini tak akan merubah apapun tentang Rana. Si tuan putri yang keras kepala itu. Kalau sudah punya keinginan, tak mau menerima masukan orang lain. Bahkan sekalipun itu dilarang agama. Bagaimanapun Damar harus hati-hati, ia sudah punya istri, selain menjaga dirinya, ia juga harus bisa menjaga istrinya.
"Mar, bunda belum mau pulang. Masih mau ngobrol sama Rana. Kamu di sini saja dulu." Pinta Bu Anis.
"Damar duluan ya Bun, nanti bunda pulangnya sama Nanda, saja." Damar hendak keluar ketika tiba-tiba Rana memanggil.
"Mar ... jangan pergi!" pintanya. "Damar, kalau kamu pergi meninggalkan aku maka lebih baik aku mati!" rengek Rana.
"Rana, kamu bicara apa sayang? Kamu nggak boleh begitu. Mama sudah berusaha untuk kamu jadi tolong kamu harus bertahan. Semangat ya Nak!" pinta Bu Bintang sambil memegang tangan kanan putrinya. Tapi Rana tetap bersikeras bahwa ia lebih memilih mati ketimbang ditinggalkan Damar.
"Hidup dan mati seseorang itu urusan Allah, Ran. Kalau Allah mengatakan kamu meninggal sekarang, tak akan ada yang bisa menghalangi. Tapi kalau belum, seperti apapun kamu ingin mati maka tetap saja tak akan bisa." jawab Damar yang tergolong cuek untuk urusan seperti ini
"Damar ... baiklah, kalau kamu tidak peduli, aku ingin mati saja. Hiks!" Rana mencoba menarik selang infus di tangannya hingga ia menjerit sendiri sebab rasa sakitnya.
Bu Bintang, Bu Anis dan Nanda langsung panik. Dita mebgucap istighfar berkali-kali, sementara Damar benar-benar tak peduli. Ia bahkan miris, kenapa Rana harus melakukan hal seperti itu. Demi nafsunya sendiri malah melanggar aturan Allah. Ia pasti tahu bahwa dilarang menghancurkan rumah tangga orang lain. Dosanya sangatlah besar.
"Bu .... Kalau Damar tak peduli, saya yakin ibu masih punya hati." Kata Rana pada Dita. "Jika Damar menganggap saya sudah melakukan dosa besar menghancurkan rumah tangga ibu dan Damar, bagaimana jika saya memohon pada ibu agar mau berbagi suami."
__ADS_1
"Astagfirullah Rana!" Bu Bintang langsung maju, ia bisa memahami hati anaknya yang galau ditinggal nikah. Selama ini toh ia juga mendukung anaknya mengejar Damar, tapi untuk masalah poligami ia tak bisa terima.
Bagi Bu Bintang, Rana adalah hartanya yang paling berharga. Ia berjuang demi putri tunggalnya. Apapun siap dikorbankannya asal putrinya bahagia, tapi tidak jika putrinya ingin menjadi istri kedua. Sangat konyol sekali. Memang benar poligami dibolehkan syariat tapi Rana dan Damar bukan orang yang paham akan hal tersebut. Mereka bahkan belum mempelajarinya sana sekali.
"Berhenti menggunakan ide konyol kamu itu. Bunda tidak setuju." Kata Bu Bintang. "Sepertinya kunjungan hari ini sudah cukup. Mohon maaf Nis, sebaiknya kamu pulang bersama anak-anak dan menantunya." Bu Bintang mengusir mereka yang ada di kamar inap anaknya. Semua orang menurut pergi, sementara Rana meraung keras karena apa yang diinginkannya tidak didapatkan.
"Puas kamu, Mar. Apa salahnya sih bicara baik-baik. Bintang itu tidak punya siapa-siapa selain Rana. Tega sekali kamu menghacurkan hatinya padahal ia sudah menganggap kamu seperti anaknya sendiri. Setelah apa yang dilakukannya untuk kita, tapi kamu malah membalasnya seperti ini!" kata Bu Anis. "Dan anda ... sejak anda hadir di kehidupan kamu semuanya jadi hancur berantakan. Puas anda!" Setelah mengeluarkan seluruh emosinya, Bu Anis pergi meninggalkan anak dan menantunya.
"Apa kita salah, sayang?" Tanya Dita.
"Enggak. Kita nggak salah, kok." Jawab Damar.
"Apa? Sudah, apa yang dikatakan bunda, Bu Bintang dan Rana tidak usah diambil hati. Biarkan saja. Mereka hanya mengikuti nafsunya. Sudah jelas-jelas permintaan Rana itu salah masih saja dituruti. Akhirnya jadi begini, kan. Ketika ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya akhirnya nekat seperti tadi. Apa-apaan itu, mau bunuh diri lah, mau jadi istri kedua lah. Disangkanya hak seperti itu mudah? Bunuh diri itu bukan menyelesaikan masalah, tapi awal mula petaka besar. Dikira begitu meninggal tidak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah? Terus, mau jadi istri kedua? Siapa juga yang mau poligami. Sudah punya istri satu yang cantik hati dan wajahnya, mana bisa saya adil kalau mau nambah istri lagi. Tapi terkecuali kalau istri yang minta mungkin bisa dipertanggungjawabkan."
"Damar!" Dita langsung ngambek, ia memukul pelan lengan Damar hingga suaminya terkekeh.
"Aku mungkin bukan laki-laki yang sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Di tengah banyaknya ujian hidup ini, ku harap kamu tetap bertahan di sampingku." Pinta Damar pada istrinya
***
__ADS_1
Bunda masih marah besar. Bahkan sore itu juga minta pindah. Bunda sempat menolak rumah baru yang Damar belikan. Bunda bersikeras agar Nanda lah yang mencarikan. Untung saja Nanda tak punya uang makanya mereka terpaksa menerima rumah pemberian Damar yang sebenarnya di dalam hatinya Bu Anis sangat bahagia. Akhirnya ia punya rumah yang sesuai dengan harapannya dan anaknya lebih mendahulukan ia ketimbang istrinya.
"Terimakasih lho Mar untuk rumahnya. Bunda benar-benar senang karena kamu lebih mendahulukan bunda ketimbang yang lain." Kata Bu Anis sambil melirik menantunya dengan harapan menantunya panas, tapi justru sebaliknya, Dita tenang-tenang saja sehingga membuat Bu Anis yang memanas.
Kenapa dengan perempuan itu? Kenapa ia sama sekali tak terpancing, bahkan ia seolah restu dengan apa yang dilakukan suaminya.
Bu Anis kebingungan, apakah ia harus senang karena punya menantu penurut dan lebih mendahulukan dirinya, atau kesal sebab dengan demikian akan sulit menyingkirkan perempuan itu dari sisi anaknya.
"Oh ya, pekan depan Nanda sudah mendaftar. Kamu tahu kan biayanya tidak sedikit. Kamu bisa nyediain dananya, kan Mar?" tanya Bu Anis, masih dengan suara dikeraskan agar Dita mendengar.
"Bunda sabar dan doakan Damar ya. Akan Danar usahakan. InshaAllah." Kata Damar.
"Ya kalau kamu gak punya uang kan bisa minta tolong istri kamu, Mar. Dia kan punya gaji yang bisa digadaikan."
"Bun,"
"Apa salahnya. Iya kan?" Bu Anis melirik pada Dita yang tengah asik menata pakaian, membantu Lala. "Kamu dengar nggak?" Bu Anis lebih meninggikan suaranya.
"Bun, kalau mau ngomong sama Dita, bicaralah yang sopan!" balas Damar. "Lagipula semua beban keuangan keluarga kita tidak ada hubungannya dengan Dita. Jangan diikutsertakan." Pinta Damar.
__ADS_1