Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Beban Untuk Dita


__ADS_3

Damar, Dita dan Bu Anis sudah duduk berhadap-hadapan. Mereka bertiga berembuk masalah biaya kuliah Nanda. Mungkin lebih tepatnya Bu Anis berusaha melimpahkan tanggung jawab itu pada menantunya.


Sebenarnya kalau ibunya mau mengalah ngontrak, Damar bisa membiayai adiknya dengan uang pinjaman dari om Agas, tapi ibunya terlalu keras kepala hingga akhirnya sekarang mereka malah tak punya jalan keluar. Sementara untuk meminjam ke kantor lagi sudah tidak bisa sebab Damar sudah menghabiskan limit pinjaman untuk membeli rumah secara kontan.


"Kan bisa gadaikan SK Dita." Kata Bu Anis, tanpa basa-basi.


"Maaf Bu, untuk itu saya tidak bisa karena dari dulu saya selalu berkomitmen tidak akan menggadaikan apapun yang berhubungan dengan bunga bank. Saya tidak bisa Bu. Maaf." jawab Dita yang memang sudah berprinsip sejak ia diterima sebagai pegawai, ia ingin menjalani hidup apa adanya. Tidak mau memaksakan ketika dirasa tidak mampu.


"Tuh kan, kelihatan aslinya. Kamu itu tidak benar-benar ingin menjadi bagian dari anggota keluarga ini. Kamu terlalu perhitungan. Harusnya kamu berpikir, beban Damar ya jadi tanggung jawab kamu juga." kata Bu Anis. "Jangan kamu pikirkan enaknya saja. Ya harus mau susah juga!"


"Bun, ya nggak bisa begitu. Dita tidak punya kewajiban atas keuangan keluarga kita. Ini tanggung jawab Damar!" tegas Damar. "Kalau Damar belum mampu, jangan libatkan apalagi menyalakan istri Damar."


"Ya sudah, kalau begitu kamu penuhi semua itu. Bunda mau Nanda jadi dokter dan kamu harus memperjuangkannya. Ngerti kamu Mar!" tegas ibunya sebelum balik ke kamarnya.


Damar menghela nafas. "Kita pulang saja. Lama-lama di sini malah pusing." Kata Damar. Ia menggandeng tangan istrinya, setelah pamitan pada ibunya dari balik pintu, Damar segera pulang berboncengan dengan Dita. Rasanya beban di kepalanya begitu berat. Ada banyak hal yang sebenarnya ia sesali. Tak perlu terjadi namun ego ibunya terlalu tinggi.


***


Semenjak memutuskan ingin menikahi Dita, Damar merasakan ibunya membebaninya begitu besar. Kadang Damar kewalahan meski sebenarnya ia ingin dan sedang berusaha memenuhi semuanya. Hanya saja yang membuatnya berkecil hati adalah ketika ibunya malah melibatkan Dita, bahkan kadang memaksakan kehendak pada Dita hingga membuat Damar tak enak hati. Ia ingin Dita bahagia hidup dengannya, tapi setelah menikah malah mendapatkan beban yang teramat banyak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok sayang. Jangan khawatir, kita saling dukung. InshaAllah kita bisa melewati cobaan ini. Saya sudah memikirkan semuanya. Gaji kamu semuanya, setelah dipotong untuk menyicil hutang, berikan pada ibu untuk biaya sekolah Nanda, Sigit dan Lala. Untuk biaya hidup kita bisa dari gaji saya. Saya juga berpikir membuat makanan kecil tiap hari agar bisa dititipkan ke warung-warung. Memang hasilnya tidak banyak, tapi semoga bisa membantu." kata Dita.


"Ya Allah sayang, kamu jadi harus terlibat. Kalau kamu tidak menikah dengan saya mungkin kamu tak akan terbebani seperti ini." Damar benar-benar sedih, harga dirinya seolah jatuh. Ia menangis di pangkuan istrinya.


"Saya akan menemani perjuangan kamu ini."


Pasangan pengantin baru ini benar-benar berusaha keras, dengan waktu yang amat terbatas. Damar, sepulang kerja ia akan mencari tambahan dengan ngojek, menerima panggilan servis kendaraan hingga larut malam. Sementara Dita, usai mengajar ia membuat kue-kue kering untuk dijual. Sisa waktu dipakainya mengajar les tambahan. Seluruh penghasilannya, setelah dikurangi biaya hidupnya dan Damar dikumpulkan untuk Nanda. Meski begitu tetap saja, Bu Anis dan Nanda belum juga bisa menghargai Dita.


***


Dita benar-benar mensupport keputusan Nanda untuk kuliah di kedokteran. Perempuan itu juga sudah memberikan solusi pada Damar bahwa ia siap membantu mencarikan hutangan pada keluarga besarnya. Dipinjam sedikit demi sedikit pada beberapa tempat, ia yakin pasti cukup. Untuk membayarnya, nanti ia akan ikut membantu suaminya.


"Dari beberapa tempat ini, InshaAllah sudah cukup untuk biaya masuk semester awal." Kata Dita, sambil menunjukkan daftar orang yang sudah dihubunginya dan nominal hutang yang sudah diajukan. Semuanya sudah ACC, bahkan ada yang sudah transfer dan semuanya tanpa bunga. Damar dan Dita juga diberi keringanan untuk melunasi dengan cara menyicilnya.


"Alhamdulillah. Terimakasih banyak sayang. Saya benar-benar beruntung punya istri berhati baik seperti kamu. Bukan hanya saya yang berhutang Budi, tapi juga bunda dan Nanda. Semoga saja dengan ini semua bisa membuka hati mereka untuk merubah sikapnya pada kamu ya." ucap Damar dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa, akhir-akhir ini, pemuda itu jadi lebih gampang melow kalau sudah berkaitan dengan istrinya.


Damar merasa benar-benar bersalah pada Dita sebab sudah memberinya beban teramat banyak. Malah kadang ia berpikir apakah bisa membahagiakan istrinya?


"Besok kita ke tempat bunda. Sekalian melihat pengumuman, sekalian menyiapkan dananya." kata Damar,sebelum akhirnya mereka istirahat.

__ADS_1


***


Pukul delapan pagi, Damar dan Dita sudah tiba di rumah Bu Anis. Mereka berdua ingin ikut menyaksikan pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi negeri, Nanda. Baru saja sampai, ibunya sudah mempertanyakan dana untuk Nanda. Meski Damar mengatakan sudah ada, tapi ibunya ingin melihatnya supaya ia yakin.


"Udah deh, Bunda percaya saja pada Damar!" Kata Damar. "Sekarang ayo buka pengumumannya dulu, kita lihat apa Nanda di terima atau tidak."


"Ya pasti diterima dong," celetuk Nanda, ia mulai aktif membuka web pengumuman dari Hp ibunya. Menscroll untuk mencari namanya di antara nama-nama yang diterimanya.


"Bagaimana?" Tanya Damar lagi, ia tampak tidak sabar.


"Iya, sebentar!" Nanda kesal di desak terus oleh abangnya. Ditambah ia sudah dua kali mencari namanya hingga kebawah tapi tidak juga ketemu. Perasaannya campur aduk, tidak mungkin rasanya ia tidak diterima sebab ada dua nama teman satu sekolahnya yang diterima di fakultas kedokteran, padahal Nanda tahu kemampuan mereka dibawah dirinya. Bagaimana ini? Nanda mulai gemetar, badannya panas dingin. Jadi dokter adakah impian terbesarnya. Ia tak mau gagal di langkah awal.


"Sudah belum?" Damar nyelonong di samping adik ya.


"Apa sih bang, sana dulu." refleks Nanda mendorong.


"Pelit. Kita cari sendiri saja." Damar membuka Hp istrinya yang lebih canggih ketimbang Hpnya dan Hp yang dipakai Nanda.


Tangan Damar sibuk menurunkan layar, matanya mengawasi satu-persatu nama hingga ke bawah. Sama seperti Nanda, ia sampai mengulang hingga tiga kali, kemudian memberikan pada istrinya. Pian lulus, tapi Nanda tidak. Bagaimana ini? Damar dan Dita saling lirik. Tanpa kata, mereka seolah berkomunikasi, saling tanya, apakah mereka tidak salah lihat? Bahkan dipilihan kedua pun tidak ada nama Nanda. Ia gagal dikeduanya.

__ADS_1


__ADS_2