
Sudah pukul sebelas malam, tapi Damar belum juga bisa memejamkan matanya. Ia belum mendapatkan jawaban dari Bu Dita. Gurunya itu masih menggantungnya padahal Damar sudah berusaha meyakinkan kalau ia akan berusaha melakukan apapun agar bisa menikahinya.
"Apa perbedaan usia benar-benar fatal, sampai Bu Dita benar-benar ragu," Danar mengeluh. Bosan menanti balasan pesan, Damar keluar dari kamarnya, tentunya masih membawa Hp bututnya.
"Kamu belum tidur, Mar?" Tanya ibunya yang baru selesai merapikan pakaian cucian tetangga.
"Belum ngantuk, Bun." jawab Damar.
"Besok kan kamu sudah ujian kelulusan. Belajar yang benar, Mar. Bunda malu kalau kamu tidak lulus lagi. Apalagi ada Nanda yang tahun ini juga lulus seperti kamu."
"Ya Bun, Damar akan berusaha. Damar kan sudah janji, sama Bunda dan Bu Dita juga "
Usai putranya menyebut nama gurunya tersebut, Bu Anis menarik nafas. Sepertinya putranya benar-benar serius pada gurunya tersebut.
"Kenapa harus dia sih, Mar?" tanya Bu Anis.
"Memang kenapa, Bun? Ada yang salah? Bu Dita perempuan yang baik, ia juga gadis saliha. InshaAllah bisa jadi istri yang baik." jawab Damar, sambil sesekali melirik layar Hpnya, berharap setelah puluhan pesan yang ia kirim ada yang dibalas. Tapi Damar harus menekan kekecewaan karena sepertinya Bu Dita tak akan menjawab sebab semua pesan itu hanya dibacanya.
"Usianya berapa?"
"Sekitar tiga puluh atau tiga puluh satu, Bun"
"Beda sebelas tahun denganmu."
"Lalu?"
__ADS_1
"Mar, apa tidak ada yang lain.
"Siapa Bun?"
"Misalnya Rana."
"Rana? Bunda ini bicara apa sih? Kenapa malah ngomongin Rana,"
"Mar, bunda ingin Rana lah yang jadi mantu bunda nantinya."
Damar ingin tertawa, tapi ia tak sampai hati melihat raut wajah penuh harap ibunya. Makanya ia hanya menghela nafas. Ia tak mengerti, dari kemarin-kemarin selalu saja Rana yang dikaitkan. Apa karena ia wanita yang ada di sekitar kehidupan Damar saat ini? Padahal ia dan Rana hanyalah teman. Menjadi dekat karena Rana adakah putri dari sahabat Ibunya dan sering berinteraksi dengan anggota keluarganya.
"Bagaimana, Mar?" tanya ibunya lagi. "Kamu kan sudah tahu, Rana. Keluarga kita juga sudah dekat. Jadi tak perlu untuk saling mengenal lagi."
"Tapi Mar, usia kalian berbeda jauh."
"Nggak ada salahnya, Bun. Toh tidak ada aturan menikah harus dengan yang seusia."
"Kamu nggak lupa ayahmu, kan, Mar? Bunda dan ayah menikah juga berbeda usia. Bunda lebih tua sepuluh tahun dari ayahmu, tapi apa yang terjadi? Ayahmu belum siap berumah tangga. Ia masih sibuk dengan dirinya sendiri. Akhirnya bunda yang harus berjuang sendiri. Ia hanya memberi bunda anak tanpa mau bertanggung jawab. Hanya rasa sakit yang Bunda dapatkan dan bunda tak ingin itu semua terjadi kepada rumah tangga kamu nantinya."
"Maksudnya Bunda, Damar akan meniru ayah?"
"Bukan ... bukan begitu, Mar. Bunda yakin anak-anak Bunda anak yang baik. Kalian tak akan seperti ayah kalian, tapi ...." Bu Anis kembali dipotong anaknya. Ia sebenarnya hanya khawatir jika suatu hari Bu Dita tak sanggup lagi jika anaknya menumpang hidup lalu menceraikannya seperti yang ia lakukan pada ayah Damar.
"Tapi apa, Bun? Bunda sudah mengarah ke sana. Usia Damar dan Bu Dita selisih sebelas tahunan, Bunda mengira Damar pun tak akan bertanggung jawab nantinya?"
__ADS_1
"Mar, bunda hanya tidak ingin kamu bernasib seperti ayahmu. Itu saja "
"Damar adalah Damar, Bun. Meski dalam tubuh Damar ada darahnya ayah, tapi Damar tak akan meniru keburukan yang dilakukan ayah dimasa lalu. Damar merasakan besar dan tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Damar tak ingin anak-anak Damar juga nantinya merasakan hal yang sama seperti Damar."
"Tapi kamu belum membuktikan kepada Bunda bahwa kamu bisa jadi laki-laki yang bertanggung jawab! Kenyataannya kamu tak ubahnya seperti ayahmu!" sentak Bu Anis.
Damar diam, ibunya pun begitu. Rasanya sakit sekali bagi pemuda itu ketika keburukan ayahnya disamakan dengan dirinya. Ia tak begitu dan tak akan pernah begitu.
"Bunda hanya," kata ibunya terputus. "Mar, menikah dengan perempuan yang usianya berbeda jauh maka akan memberi peluang banyak ketidak cocokan. Menikah itu bukan perkara sehari atau dua hari. Bunda nggak mau kamu sama seperti bunda, pernikahannya tidak langgeng "
"Sudah Damar katakan kalau Damar tak akan seperti ayah!" balas Damar. "Bunda pernah trauma dengan Ayah, tapi jangan samakan semua orang dengan ayah. Kalau ayah breng---, bukan berarti anak-anaknya juga breng---!"
"Tapi selama ini kamu menunjukkan sikap yang sama seperti ayahmu. Kamu tak pernah bertanggung jawab dengan kehidupan kamu. Masih sesuka hati sendiri. Buktinya, kamu sampai dua kali tidak lulus sekolah dan entah sudah berapa puluh kali bunda harus ke sekolah karena masalah-masalah yang kamu buat.
Kamu juga nggak peduli dengan keluarga ini. Kamu nggak tahu bagaimana capeknya Bunda, bagaimana adik-adik kamu. Padahal kamu anak laki-laki pertama.
Dengan sikap kamu yang masih seenaknya seperti itu, bagaimana Bunda bisa yakin kamu bisa jadi laki-laki yang bertanggung jawab? Semua itu nggak instan, Mar. Bunda nggak mau kalau kamu nekat, lalula suatu hari kamu menyesal. Diceraikan oleh gurumu itu. Bunda pasti hancur sekali!"
"astagfirullah, Bun. Jangan berpikir seperti itu. Damar memang belum bisa seperti yang Bunda katakan, tapi Damar pengen jadi lelaki yang bertanggung jawab juga." ucap Damar. "Lagi pula jika bunda menilai Damar tak akan bisa jadi laki-laki yang bertanggung jawab, kenapa juga harus mengharap Damar dengan Rana, toh akan sama saja. Sekali nggak bertanggung jawab dengan siapapun pasti akan sama saja!"
"kenapa? Karena Rana punya segalanya. Kamu nggak perlu bersusah payah karena orang tua Rana sudah menyiapkan semuanya. Kamu hanya perlu menjadi suami yang ada untuk Rana. Tanpa perlu memikirkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Itu saja !"
"Apa? Damar benar-benar nggak nyangka Bunda bisa berpikir serendah itu pada Damar." Karena kesal, akhirnya Damar beranjak meninggalkan rumah. Ia tak peduli meski ibunya sudah memanggil berkali-kali.
Motor tua Damar terus melaju, membelah malam yang semakin larut. Ia benar-benar kecewa dengan penilaian itu meski Damar tak memungkiri bahwa penilaian bundanya saat ini tentang ia yang sebelumnya memang benar, tapi tak harus menilainya akan terus seperti itu hingga berharap anaknya menjadi suami dari perempuan mapan yang tak perlu bekerja. Serendah itu kah ia? Benar-benar tak berguna. Harga dirinya sebagai laki-laki langsung hancur dengan kata-kata ibunya. Ia benar-benar marah!
__ADS_1