
Bel tanda ujian kelulusan berakhir baru saja berbunyi, diikuti suara riuh peserta ujian. Biasanya pengumuman kelulusan sebulan setelahnya. Satu-persatu murid-murid kelas tiga keluar dari ruang ujian dengan berbagai macam ekspresi. Damar salah satunya. Ia keluar paling akhir dengan ekspresi tenang. Damar merasa sudah berusaha maksimal dan ia menyelesaikan ujian terakhirnya dengan tenang. Lagi-lagi tanpa harus minta contekan dari Pian.
"Bang, bagaimana?" Pian yang keluar lebih dahulu sudah menunggu Damar di pintu kelas. Sebenarnya ia agak khawatir karena Damar tak kunjung keluar. Saat ujian berlangsung, Pian sudah beberapa kali melirik ke arah Damar, ia khawatir calon Abang iparnya itu tidak bisa mengerjakan soal-soal.
"Seratus persen aku yakin bisa. Soalnya kebanyakan yang kamu beri saat latihan, kan?" Jawab Damar, membuat kekhawatiran Pian hilang.
"Syukurlah kalau Abang bisa. Habisnya dari tadi dilirik Abang nggak ngerespon."
Mereka berdua hendak berlalu menuju parkiran, tetapi langkah itu terhenti saat mereka melihat Bu Dita tengah berdiri hanya beberapa meter darinya di tempat yang agak tersembunyi.
"Hemmn, kayaknya ada yang sudah nungguin tuh," Pian menggoda.
"Husss, jangan sembarang bicara. Sudah sana pergi duluan." kata Damar.
"Ingat ya bang, aku tunggu di bengkel omku. Jangan kelamaan ngobrol sama calon istrinya." Pian masih nekat menggoda hingga pipi Damar yang putih berubah memerah.
Setelah Pian berjalan meninggalkan, barulah Damar menuju Bu Dita. Kini mereka berdua hanya berjarak beberapa meter.
"Bagaimana ujiannya?" tanya Bu Dita
"Menurut ibu, saya bisa lulus nggak?" Damar balik bertanya.
" Kamu serius kan mengerjakan soal-soalnya?" mimik wajah Bu Dita tampak khawatir.
"Hmm, serius nggak ya?"
"Damar!"
"Bu ... doakan saya ya supaya lulus. Saya sudah janji sama ibu bahwa saya akan serius supaya lulus ujiannya dan saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Hasilnya semoga yang terbaik."
"Hufff, kamu itu ya, suka sekali membuat orang khawatir."
Damar tersenyum.
"Saya juga akan berdoa semoga kamu mendapatkan yang terbaik!"
__ADS_1
"Makasih Bu. Oh ya, hari ini saya akan interview kerja. Semoga saya diterima dengan gaji yang besar."
"Kamu serius Mar?"
"Ya Bu, kan saya sudah janji akan memberikan mahar terbaik untuk ibu."
"Mar, tak perlu lagi. Kamu berubah jadi lebih baik saja sudah cukup untuk saya. Saya nggak membutuhkan mahar yang besar, saya kemarin meminta begitu karena saya pikir kamu main-main."
"Saya serius, Bu. Saya benar-benar mencintai ibu "
"Mar,"
"Ya?"
"Setelah pengumuman kelulusan saya tunggu kamu di rumah. Kamu boleh melamar saya pada paman saya, pak Wiguna. Beliau sekarang yang jadi wali saya setelah ayah saya meninggal."
"Serius Bu?"
Bu Dita mengangguk.
"Apa saja."
"Saya akan bekerja keras untuk kita, Bu."
"Kita menikah sederhana saja, yang penting halal."
"Alhamdulillah, makasi banyak Bu. Makasih banget."
"Sama-sama Mar,"
Hampir saja Damar melompat pada Bu Dita saking senangnya. Rasanya semua kini sudah semakin mudah, sebab Bu Dita tidak lagi mensyaratkan biaya pernikahan dan mahar yang besar. Meski begitu Damar sudah berjanji akan memberikan yang terbaik untuk perempuan yang dicintainya itu.
Senyum yang terkembang di wajah mereka menandakan kebahagiaan. Sementara, dari jarak beberapa meter tampak sepasang mata memperhatikan dengan raut wajah tak suka. Nanda, mengawasi Abang dan gurunya tersebut. Ia semakin kesal, meski tak mendengar pembicaraan Abangnya dengan jelas karena jarak, tapi melihat dua insan tersebut senyum-senyum, Nanda bisa menebak mereka sedang berbahagia.
"Abang dan Bu Dita nggak boleh bersatu. Aku hanya mau Abang menikah sama kak Rana!" Nanda membatin. Masih dengan hati yang kesal ia meninggalkan pemandangan yang membuat hatinya jadi panas tersebut.
__ADS_1
***
Motor butut Damar terparkir tepat di depan bengkel agas milik pamannya Pian. Belum sempurna motor diparkir, Pian sudah keluar menyongsong kehadiran Damar.
"Kirain bakal lama nyampe sini, bang." celetuk Pian, sembari tersenyum. Ia memang sudah berani menggoda Damar. Pian merasa Damar benar-benar sudah seperti abangnya sendiri.
"Hahaha," Damar hanya tertawa.
"Yuk masuk bang, om Agas sudah nungguin." Pian mengajak Damar masuk ke bengkel terbesar di kota mereka itu, mereka menuju ruang om Agas, pemilik bengkel ini.
Pian memperkenalkan Damar pada om Agas. Mereka berbincang santai. Om Agas sangat tertarik dengan kemampuan mekanik Damar. Meskipun ia tak pernah belajar mesin secara formal tapi paham betul masalah mesin terutama untuk urusan rakitan motor.
"Saya benar-benar senang kalau kamu mau bergabung di bengkel ini, Mar, karena kamu butuh tenaga muda yang kreatif seperti kamu. Kalau kamu kerjanya bagus, maka tahun kedua saya akan rekomendasikan kamu ke pabrik untuk bagian perakitan. Kebetulan kami punya proyek baru membuat mobil dan motor rakitan. Nanti akan saya tunjukkan bagaimana kerangka Yang sudah kami desain. Bagaimana, kamu tertarik?" tawar om Agas.
"Sangat tertarik sekali, om!" jawab Damar.
"Baiklah, kalau begitu mulai besok mulailah bergabung di sini. Saya akan memberi gaji awal sebesar tiga juta rupiah. Bagaimana?"
"Tiga juta, om?"
"Kenapa? Kurang? Itu hanya untuk tiga bulan pertama. Kalau kerja kamu bagus maka akan ada kenaikan gaji. Juga ada tunjangan dan bonus kalau kamu bisa bekerja tanpa masalah."
"Nggak om, sangat cukup sekali. Saya benar-benar berterima kasih karena Om sudah memberi kesempatan pada saya bekerja di sini. Sebelumnya tak menyangka bisa mendapatkan kesempatan sebab pendidikan saya belum lulus SMA."
"Oh kalau itu, kadang orang-orang kreatif itu didapat tidak hanya karena ia belajar di bangku sekolah. Ilmu itu bisa didapatkan dari mana saja dan saya adalah orang yang menghargai kemampuan orang lain!"
Setelah dicapai kesepakatan, akhirnya Damar dan Pian pamit pulang. Di depan halaman bengkel kembali Damar mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan Pian. Ia benar-benar berhutang Budi pada salah satu siswa berprestasi di sekolahnya tersebut.
"Aku nggak tahu lagi mau bilang apa, Yan. Pokoknya terima kasih banyak. Kalau kamu jadi sama Nanda, aku benar-benar beruntung punya adik ipar sebaik kamu " Ucap Danar dengan tulus.
"Hehehe bang, jangan begitu. Jadi atau tidaknya dengan Nanda nanti aku tak jadi soal. Aku juga bersyukur bisa berteman dengan Abang sebab aku jadi bisa merubah diriku sendiri yang semula tak peduli dengan orang lain kini bisa mengerti artinya solidaritas." jawab Pian. "Pokoknya kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan, Bang!"
"Pasti Yan, kamu orang pertama yang akan aku cari kalau aku ada masalah."
"Ya tapi tetap tahu diri juga ya bang. Jangan mentang-mentang aku kasih lampu hijau terus abang malam-malam main datang saja ke rumahku. hargai juga waktu, bang."
__ADS_1
Mendengar celoteh Pian, Damar tertawa terbahak-bahak, sebab ia tahu Pian tak sungguh-sungguh melarangnya datang.