
Bu Dita kembali menegaskan pada Damar untuk tidak bermimpi sedikitpun menikahinya jika tak punya mahar sebesar permintaannya. Rupanya gurunya tersebut sudah tahu berita tentang balapan yang dilakukan oleh Damar yang berakhir di rumah sakit. Ia sebenarnya tak sampai hati, tapi Bu Dita juga sadar besarnya jurang di hadapan mereka. Tak mungkin rasanya untuk bersatu. Ia sadar diri bahwa usia mereka terpaut cukup jauh. Sebelas tahun. Pastilah orang tua Damar tak menginginkannya. Makanya, membuat mahar setinggi-tingginya adalah salah satu cara untuk mematahkan semangat anak muda ini.
Tapi, kenyataannya, Damar tentu tak mundur begitu saja meski ia tahu tak mudah mendapatkan uang seratus juta. Baginya ini adalah tantangan. Ia harus berjuang untuk cintanya.
Bu Dita pantas untuk diperjuangkan. Begitu yang ada di pikiran Damar. Ia selama ini diam-diam memang selalu mengamati gurunya tersebut hingga rasa sayang itu menjelma menjadi cinta. Selain memiliki paras yang cantik, perempuan itu juga memiliki hati yang amat baik. Damar sering melihatnya menolong orang-orang, bahkan ibunya adalah salah satu yang pernah ditolong oleh Bu Dita meski keluarganya tak menyadari. Jika tak ada Bu Dita, mungkin saat ini mereka telah menjadi piatu.
Besar sekali harapan Damar agar bisa membahagiakan gurunya tersebut. Membalas kebaikannya meski Damar tak yakin akan setimpal.
"Bu ... seberapa besar pun itu, saya pasti akan berusaha keras mendapatkan mahar untuk ibu. Percayalah, saya tidak akan mundur!" Tegas Damar, membuat hati Bu Dita ketar-ketir.
"Sudahilah Damar, jurangnya terlalu dalam. Kamu hanya akan kesusahan." kata Bu Dita.
"Enggak Bu. Bagaimana mungkin saya harus menyerah padahal yang dijanjikan adalah seorang perempuan baik yang akan mwmysaya bahagia. Pantang untuk menolak kebaikan."
"Damar," lagi-lagi Bu Dita dibuat tak bisa berkata-kata. Ia semakin terharu sebab merasa diperjuangkan oleh Damar. Meski usia mereka berbeda, tetap saja apa yang dilakukan Damar mampu membuat Bu Dita bergetar tak karuan. Ia sepertinya benar-benar sudah jatuh cinta namun malu untuk mengakui. Bagaimanapun masih ada gengsi, ia adalah seorang guru sementara pemuda di hadapannya adalah muridnya. "Pergilah. Lakukan saja apa yang kamu mau. Terserah. Aku sudah tak peduli!" tegas Bu Dita, meski lain di mulut dengan yang di hatinya.
Damar benar-benar pergi, tentunya dengan semangat membara bahwa ia bisa melewati tantangan ini.
***
"Coba ulangi lagi, bang. Ini semua salah!" seperti seorang guru, Pian menyilang semua jawaban Damar.
__ADS_1
"Hah, masih salah juga? Itu sudah aku ulang sampai empat kali lho. Masa masih salah. Coba periksa lagi, kamu kaki yang salah?" ruduh Damar. Ia benar-benar sudah bosan menyelesaikan soal-soal yang diberikan Pian, tapi tak punya pilihan selain nurut sebab itulah perjanjian yang mereka buat.
"Salah bang, salah!" tegas Pian.
Kalau bukan karena Bu Dita, rasanya Damar ingin menyerah saja. Ia bukannya murid yang bodoh, hanya saja bosan dan malas untuk mengulanginya.
"Ayo bang. Tunggu apa lagi. Ujian tinggal sebentar lagi. Ingat perjanjian kita, tak ada bantuan kalau Abang nggak bisa dapat nilai seratus dari soal-soal yang aku beri " Kata Pian lagi. "Atau Abang pengen nggak lulus lagi tahun ini supaya rekor tiga kali?"
"Husss, jangan sembarang ngomong!" Damar melotot, sementara Pian cekikikan. "Ganti soal lain saja."
"Coba yang ini dulu, bang. Sedikit lagi benar. Rumusnya juga sudah benar."
Damar tak bisa mengelak. Meski kesal ia tetap mengerjakan tugas-tugas tersebut. Nasib nasib. Sebagai siswa yang dua kali tidak lulus ujian akhir, harus mengerjakan soal-soal benar-benar menyiksanya.
"Hahahaha, kamu lihat kan. Aku itu bisa, cuma kadang malas saja mikirnya. Makanya aku mengandalkan kamu." ucap Damar berbangga diri. Kini Damar bisa lebih tenang ia merasa urusan ujian sudah terselesaikan. Ia pasti lulus tahun ini!
***
"Abang mau kemana lagi?" Nanda mencegah langkah abangnya.
"Kerja." jawab Damar.
__ADS_1
"Kerja? Wah, hebat sekali ya Bu guru itu. Baru kenal Abang kurang lebih lima tahunan ini tapi sudah bisa memaksa Abang bertanggung jawab untuknya. Sementara bunda sudah melahirkan dan membesarkan Abang sampai sekarang tapi hingga sekarang tidak ada terpikir di otak Abang untuk membantu meringankan beban Bunda. Benar-benar timpang!"
"Maksud kamu apa, sih?"
"Bang, bunda mati-matian bekerja keras untuk kita berempat. Nggak mudah bang, bunda bahkan sampai harus menjadi buruh cuci orang. Tapi Abang nggak memandang bunda sedikitpun. Bukannya meringankan beban bunda, tapi Abang malah memikirkan orang lain. Sungguh keterlaluan. Nggak berbakti. Gila cinta ...."
"Nda!" Damar kesal dengan tuduhan adik perempuannya. Siapa bilang ia tak peduli pada ibunya. Ia sangat menyayangi perempuan yang sudah melahirkannya ke muka bumi ini. Damar juga tahu bagaimana pengorbanan bunda untuknya. Ia tak akan lupa itu. Tapi apakah karena itu ia tak boleh jatuh cinta dan berpikir untuk menikah?
"Kenapa? Abang keberatan kalau aku singgung soal bakti? Memang Abang nggak berbakti. Berjuang untuk perempuan lain bisa. Abang lakukan mati-matian. Tapi untuk ibu sendiri nggak bisa. Payah!"
"Aku peduli kok sama Bunda." tegas Damar.
"Buktikan!"
"Bukti apa yang kamu mau?"
"Bantu bunda, jangan hanya membebaninya saja. Abang itu anak laki-laki. Abang bertanggung jawab atas bunda dan keluarga kita. Ingat bang, usia bunda sudah tidak muda lagi, tenaga bunda juga sudah tak sekuat dulu lagi. Lalu masih mau memeras bunda dengan semuanulah Abang itu? Kalau Abang masih tetap keras kepala berarti benar, Abang anak laki-laki yang tidak bertanggung jawab, cuma beban doang. Nggak jauh beda sama ayah!"
Plak. Sebuah tamparan melayang di pipi Nanda hingga ia tak bisa berkata apapun lagi. Bukan Danar pelakunya, tetapi Bunda. Ya, Bu Anis memukul putrinya sendiri. Tangannya bergetar, wajahnya menyiratkan kesedihan yang luar biasa.
"Berhenti menyamakan Damar sama ayah kamu. Damar berbeda dengannya. Ia akan jadi laki-laki yang bertanggung jawab. Sampai kapanpun Bunda tidak rela kalau ia punya sifat yang sama seperti ayahnya!" tegas Bunda. Lalu ia berlalu meninggalkan dua anaknya yang masih bersitegang.
__ADS_1
Nanda yang masih kaget usai mendapatkan tamparan dari Bunda masih berdiri mematung. Sementara Damar yang sudah bisa menguasai dirinya langsung mendekat ke adiknya. Menanyakan apakah ia baik-baik saja.
"Jangan pedulikan aku. Abang pikirkan saja Bu guru kesepian itu supaya Abang puas!" teriak Nanda dengan suara bergetar. Setelah itu ia menyusul ibunya, masuk ke dalam kamar.