
[RAN, bisa kita ketemu?] Damar mengirim pesan pada Rana. Lima menit, sepuluh menit hingga lima belas menit berlalu, tak ada balasan darinya. Padahal sebelumnya Rana online.
Tak seperti biasanya, gadis itu mengabaikan Damar. Sesibuk apapun ia biasanya selalu mendahulukan Damar. Karena sudah tidak sabar, Damar yang ingin semuanya selesai sekarang juga langsung menghubungi Rana. Ia tak memberikan jeda, meneror Rana dengan banyak pesan dan panggilan tak terjawab hingga akhirnya Rana menjawab.
[Ada apa, Mar? Aku sedang sibuk.] jawab Rana.
[Aku ingin bicara sekarang. Bisa ketemu dimana?]
[Nanti ya, sekarang belum bisa, aku masih ada urusan di kampus dan tak bisa ditinggalkan.]
[Kamu pulang jam berapa? Aku tunggu di cafe biasa dekat kampus kamu. Sekarang aku meluncur ke sana.]
[Aku belum tahu selesai urusan jam berapa, Mar. Nanti saja kalau sudah longgar aku kabari.]
[Nggak apa-apa, Ran. Aku tunggu di cafe saja sampai kamu selesai. Kamu tak usah terburu-buru.]
[Mar jangan begitu, nanti aku yang hubungi kamu saja.]
Damar tak peduli dengan pesan balasan Rana. Ia tetap meluncur menuju cafe dekat kampus Rana. Sampai di sana ia langsung mengirimi Rana foto keberadaannya untuk memberi tahu bahwa ia sudah berada di lokasi. Damar sangat yakin kalau Rana pasti akan segera menghampirinya.
***
Persis seperti dugaan Damar, tak sampai sepuluh menit, Rana sudah menghampiri Damar wajahnya yang biasanya selalu berseri dengan senyum yang tak pernah pudar ketika bertemu kini sebaliknya. Tanpak kusut, dan terlihat tidak bersemangat.
"Maaf kalau aku mengganggu waktumu." Damar berbasa-basi. "Maksudku datang ke sini, aku ingin minta bantuanmu, Ran."
__ADS_1
"Bantuan apa?" Rana sebenarnya sudah tahu harus besar kenapa Damar ingin bertemu dengannya. Nanda yang memberitahukan, makanya saat Damar menghubungi, ia menolak pertemuan itu. Ia yang biasanya suka jika bertemu Damar, kini rasanya ingin bersembunyi ke ujung dunia untuk menghindarinya. Namun, tetap saja saat Damar mengatakan sudah menunggu, ia tak mampu mengabaikan lelaki itu.
"Aku ingin menikah dengan Bu Dita." kata Damar.
"Mmmm," Rana langsung pucat. Jantungnya rasanya ingin lepas, ia benar-benar sedih dan kecewa. Rana tak siap jika suatu hari menghadapi hari seperti hari ini dimana Damar menyatakan ingin menikahi perempuan lain. Namun sayangnya ia masih harus berakting baik-baik saja di depan Damar. Andai ini di rumah mungkin ia sudah menangis sejadi-jadinya.
"Sementara itu bunda tidak merestui."
"Lalu kenapa masih memaksakan kehendak?"
"RAN, aku mencintai Bu Dita."
"Lalu apa hubungannya denganku?" Rana sudah tidak tahan lagi mendengar Damar yang mengatakan mencintai perempuan lain. Hatinya terbakar cemburu. Kenapa harus perempuan itu? Guru mereka. Apa istimewanya Bu Dita? Apakah ia tak bisa mengganti posisinya?
Rana membayangkan wajah Bu Dita. Guru matematikanya yang berparas cantik. Selain itu juga saliha dan pintar. Bu Dita memang menyenangkan, semua orang menyukainya. Sifatnya yang lemah lembut namun tegas membuatnya dikagumi oleh murid-muridnya. Apakah itu yang membuat Damar tergila-gila pada guru mereka?
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Tapi kenapa Ran? Bukankah kita berteman. Kamu akan melakukan apapun demi pertemanan ini?"
"Siapa bilang? Damar, sekarang sudah waktunya aku bicara jujur padamu. Tante Anis bukan tanpa sebab sering bicara agar kamu dan aku menajdi sepasang kekasih dan bahkan menikah. Tapi Tante Anis melakukan itu atas permintaanku. Ya, aku yang meminta Tante Anis agar mengizinkan kamu menjadi pendamping hidupmu.
Mar, aku harus berkata jujur, mengakui semua. Aku mencintaimu. Sangat mencintai kamu! Aku sudah jatuh hati semenjak kita masih kecil. Ini bukan sekedar cinta monyet biasa, tapi cinta yang sebenarnya. Aku rasanya tak bisa hidup tanpa kamu, Mar. Itulah kenapa pada akhirnya aku memaksa mama agar mau menjodohkan aku dengan kamu. Mama juga semula tak mau menuruti, tapi pada akhirnya mama sadar bahwa memang kamulah satu-satunya lelaki yang aku cintai. Itulah kenapa pada akhirnya mama bicara dari hati ke hati pada Tante Anis dan mereka sepakat agar kita bisa bersama. Begitulah yang sebenarnya, Mar. Aku memang benar-benar mencintai kamu."
"Kamu bicara apa sih, Ran?" Damar tak mengerti, ia mengira kalau Rana tengah bercanda dan Damar tidak nyaman dengan candaan itu.
__ADS_1
"Aku bicara sejujurnya, Mar. Aku mencintai kamu."
"Ahhhh apa lagi sih ini?"
"Maafin aku, Mar,"
"Baiklah. Aku hargai perasaan kamu, Ran. Tapi aku nggak menyukai kamu. Aku hanya menganggap kamu sebagian teman. Nggak lebih. Maafkan aku, Ran."
"Kasihanilah aku, Mar."
"RAN, cinta itu nggak bisa dipaksa. Kalau aku tetap menerima kamu tapi aku tak menyukai kamu, apa kamu yakin jika kita bersama maka kamu dan aku bisa bahagia? Enggak, Rana."
"Tapi kita belum mencobanya, Mar. Barangkali kita memang berjodoh?"
"Rana, aku tidak bisa. Aku sudah melamar Bu Dita terlebih dahulu dan pantang bagiku untuk mengkhianatinya. Apalagi kami sudah membangun mimpi yang sama. Jadi tolong fahami. Kamu hanya tinggal membuka hatimu untuk laki-laki lain, Rana. Aku yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik sebab kamu perempuan baik."
"Tak semudah itu, Mar. Aku tak punya harapan hidup yang panjang seperti orang-orang. Aku sedang sakit, Mar."
"Astaghfirullah,"
"Mar, tolonglah. Aku hanya butuh waktumu sebentar saja. Setelah aku meninggalkan dunia ini, kamu bisa kembali bersama Bu Dita. Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan meski itu hanya sementara dan kebahagiaan ku adakah kamu "
"Ya Allah Rana!" Damar semakin pusing. Ia yang semula berharap bisa mendapatkan jalan keluar atas masalahnya ini malah mendapatkan masalah yang baru. Ia tak ingi tega pada Rana, gadis itu sudah sangat baik tak hanya kepadanya, tapi juga pada keluarganya. Tapi ia tak mencintainya.
Dalam waktu yang singkat, Damar sudah memutuskan, ia tak akan memberikan harapan palsu untuk Rana. Ia tak bisa memberi kesempatan itu meski Rana mengatakan bahwa ia mencintai Damar. Bagaimana mungkin ia bisa memberikan kesempatan sementara ia sudah mengikat janji dengan perempuan lain. Itu sama saja bersikap dzalim pada Bu Dita.
__ADS_1
Lagi pula Damar tak yakin bisa memberikan kebahagiaan untuk Rana. Ia tak mencintainya. Ini hanya akan jadi kebahagiaan palsu.