Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Nanda Gagal


__ADS_3

"Jadi mana uangnya? Kapan diambil? Sekarang saja supaya besok bisa bayar pendaftarannya. Bunda nggak mau lagi Nanda sekolah dengan biaya berhutang seperti saat kalian masih SD, SMP hingga SMA." kata Bu Anis pada sulungnya. Tapi tak ada yang menjawab. "Mana? Kenapa diam saja, Mar? Ayo ambil sekarang. Jangan diundur-undur supaya hati bunda tenang. Atau jangan-jangan kamu berubah pikiran? Iya, begitu? Duhhh Damar, sebagai anak sulung yang katanya mau mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga, kamu punya kewajiban menyekolahkan Nanda. Ngerti kan?"


"Bun," Damar memberi isyarat pada ibunya untuk diam sebab melihat wajah adiknya yang memucat. Ini pertama kalinya Nanda mengalami kegagalan, ia pasti sangat hancur sekali. Dirinya yang tak secemerlang Nanda saja pertama kali mengalami tidak lulus benar-benar hancur, sampai malas melakukan apa-apa, apalagi Nanda yang selama ini di bidang akademik tak terkalahkan, ia adalah juara umum, si cerdas yang selalu jadi kebanggaan bunda dan guru-guru di sekolah. Tapi kali ini harus menghadapi kenyataan bahwa ia gagal masuk perguruan tinggi negeri untuk pilihan pertama maupun kedua.


Apa yang salah? Damar tak mengerti. Sebagai anak yang rajin belajar dan memiliki IQ tinggi, Nanda selalu sungguh-sungguh untuk urusan pendidikan sebab ia punya cita-cita tinggi sebagai seorang dokter. Nanda tahu keadaan ekonomi keluarga yang bisa menghambatnya menjadi dokternya, makanya ia selalu mencari informasi sebanyak mungkin bagaimana bisa kuliah dengan keterbatasan. Salah satunya dengan mengandalkan beasiswa dan untuk mendapatkannya harus memiliki nilai tinggi. Itu juga alasan kenapa Nanda begitu mengharapkan agar Damar berjodoh dengan Rana sebab Nanda diimingi akan dibantu biaya kuliah kalau ia jadi iparnya. Sebuah tawaran yang tak akan mungkin dilewatkan oleh Nanda, sebab jadi dokter adakah obsesi terbesarnya.


"Kenapa Mar?" Bu Anis masih penasaran, tak mengerti isyarat dari sulungnya hingga akhirnya air mata Nanda menetes. "Ehh, kenapa Nan? Kenapa menangis? Udah nggak apa-apa, bunda akan cari jalan keluarnya agar kamu bisa jadi dokter. Bunda akan paksa abangnu memenuhi janjinya. Kamu pasti bisa membayar biaya pendaftaran di awal!" tegas ibunya.

__ADS_1


"Bun, uangnya ada kok. Sudah terkumpul di ATM Dita." kata Damar.


"Lalu apa lagi, ambil sana!" bentak Ibunya yang sudah mulai kehilangan kesabaran. Bingung bercampur kesal melihat gerak lambat Damar dan Nanda yang tiba-tiba menangis padahal putrinya itu biasanya sangat tegar, bahkan bisa dikatakan tipe yang keras.


"Nanda nggak lulus, Bun." ucap Damar dengan suara pelan setelah sebelumnya mengajak ibunya bicara di dalam tapi ibunya menolak. Damar yang kehabisan kata-kata terpaksa menjelaskan semuanya tentang ketidak lulusan adiknya.


"Nggak lulus bagaimana? Jangan ngarang kamu Damar. O, bunda tahu kamu pasti kesal karena tidak lulus sekolah makanya mengatakan hal yang sama tentang Nanda. Soal pendidikan, kamu dan Nanda itu beda jauh. Nanda pintar, kamu pemalas. Jadi jangan disamakan begitu!" ibunya langsung marah.

__ADS_1


Tatapan ibunya berubah jadi nanar ketika apa yang dikatakan putranya benar. Putri yang selalu dibangga-banggakan untuk urusan pendidikan ternyata gagal. Tapi bagaimana bisa ini terjadi. Wajah Bu Anis langsung memucat, ia takut membayangkan. Hatinya benar-benar hancur, harapan untuk merubah masih Keluarga rasanya pupus. Nasib Keluarganya tak akan bisa diubah. Anak-anaknya hanya akan menjadi orang biasa atau mungkin bisa lebih buruk darinya. Mendadak rasanya tubuh Bu Anis lemas. Ia yang sudah terlanjur mengatakan kemana-mana bahwa putrinya akan menjadi dokter kini merasa sangat malu.


"Kenapa ini terjadi? Kenapa Nan!" Kini kemarahan Bu Anis tertuju pada Nanda, anak yang selama ini tak pernah bertentangan dengannya, selalu ia banggakan kemana-mana, juga menjadi tangan kanannya untuk segala urusan sebab mereka benar-benar satu pemikiran, satu tujuan dan paling klop di antara saudara-saudaranya. "Jawab Nanda! Kenapa bisa nggak lulus? Kamu ini kenapa sih? Bunda sudah paksa abangnu mencarikan dana tapi kamu malah sia-siakan kesempatan ini, kamu jangan begitu Nanda!" karena kesal, Bu Anis memukul punggung putrinya hingga Nanda semakin menjadi tangisnya.


"Bu, sudahlah!" Pinta Damar. Ia mencoba menengahi.


"Ahhhh, minggir kamu Damar!" Teriak Bu Anis. "Anak ini ... aku sudah menggantungkan harapan padanya, tapi dia malah main-main. Seenaknya saja menghancurkan harapanku. Dikiranya hidupku ini hanya permainan? Apa dia nggak sadar, aku sudah membesarkan kalian berempat dengan susah payah, sudah berapa kali aku mau bunuh diri, nyaris gila karena beratnya beban hidupku. Tapi aku bertahan karena dia. Aku kira dia benar-benar bisa merubah nasibku, ternyata dia sama saja dengan bapaknya! Hanya bisa menjadi beban keluarga saja kamu Nan. Selama ini kamu cuma ditugaskan belajar, kamu nggak diberi tanggung jawab apapun tapi ini balasanmu. Dasar durhaka kamu!" bak orang kesetanan, Bu Anis terus meracau, bahkan ketika emosinya kembali naik, ia berusaha meraih Nanda untuk menjambak atau memukulnya sebagai bentuk pelampiasan emosinya.

__ADS_1


"Sayang, tolong bawa Nanda keluar!" pinta Damar pada istrinya. Setelah mereka keluar barulah Damar mengajak ibunya bicara, tentunya setelah membiarkan ibunya meluapkan semua emosinya.


"Kau tahu, tak mudah untukku menjalani ini semua. Menikah dengan ayah kalian, aku diusir oleh keluargaku. Bahkan hingga kini mereka tak mempedulikan aku. Aku juga merelakan masa depanku, demi mengabdi pada seorang lelaki yang ku harap bisa jadi imam terbaik untukku. Tapi ternyata harapanku tak pernah terkabul sebab selain usianya yang di bawahku, ia juga bukankah lelaki yang mau memegang komitmen. Ia hanya ingin bermain-main. Tapi aku tetap bertahan, pernah sekali orang tuaku meminta agar aku pulang tapi dengan tidak membawa sedikit pun jejak tentangnya. Aku ditawari memulai kembali hidup dari nol, tapi aku menolak sebab selain aku peduli pada kalian, akupun masih berharap, ada sedikit kebahagiaan yang bisa aku banggakan, yang ku harap, jika tak ku dapat dari ayah kalian, setidaknya dari salah satu di antara kalian. Pada Nanda harapan itu aku gantungkan. Ia sudah terlihat sebagai anak yang menurutku jenius sejak usianya dua tahun. Perkembangannya begitu pesat, bahkan dibandingkan orang yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya. Hari demi hari, bukan demi bukan, tahun demi tahun, aku terus merajut angan, suatu hari aku akan kembali pada keluarga besarnya dan memperlihatkan apa yang jadi kebanggaan ku. Bahwa pilihanku tidaklah salah. Anak-anaknya bisa membanggakan aku. Bisa mengobati luka yang terlalu banyak ini. Tapi semuanya kini pupus Damar, pupus. Aku tak akan pernah bisa mendapatkan kebahagian ku lagi. Aku tak akan bisa pulang dengan kepala tegak karena selamanya aku sial, sial sial!" Bu Anis kembali meraung, meratapi nasibnya sendiri.


__ADS_2