Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Baby Blues?


__ADS_3

Daffa adalah nama yang diberikan oleh Damar kepada putra sulungnya. Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya bayi ini bisa kembali ke rumah. Acara akikahan sederhana sekaligus sebagai penyambutan sudah disiapkan Bu Anis dan anak-anaknya untuk cucu pertama mereka. Yang hadir hanya Keluarga, ustadz dan tetangga kiri kanan. Lebihnya nanti akan dikirimkan besekan saja untuk yang tidak diundang.


Meski masih teramat lelah sebab selama tiga hari ini tidurnya terganggu karena harus mengurus Daffa, namun Dita tetap mengikuti rangkaian acara hingga akhir. Ia sebenarnya sudah tak sanggup..ingin berbaring sejenak untuk mengembalikan energinya. Namun tak enak hati kalau tidak ikut serta dalam acara ini. Padahal mertuanya sudah mempersiapkan semuanya sebaik mungkin.


Bruk. Tiba-tiba terdengar suara seseorang terjatuh diikuti oleh suara tangisan bayi. Dita terjatuh ke lantai. Untung saja bayinya tidak kenapa-napa karena berada dalam dekapan Dita. Menangis karena goncangan kuat saat ibunya ambruk.


"Ya Allah Dita. Kamu kenapa nak?" Bu Anis yang berada di sisi Dita segera membantu menantunya. Namun Dita masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


Orang-orang berdatangan. Damar langsung menggendong Dita ke kamar. Sementara bayi mereka dipegang oleh Bu Anis.


Damar begitu panik. Ia berusaha keras membangunkan Dita. Mulai dari memberi minyak kayu putih ke seluruh badan Dita. Menciumkan minyak wangi sembari memijit pelan tangan dan kaki istrinya. Namun belum juga berhasil.


"Panggil Bu Bidan saja!" Kata bu Anis yang terlihat sangat khawatir karena menantunya belum juga bangun, ditambah bayinya terus menangis.


"Enggak apa-apa kan Mar, Daffa minum sufor saja dulu ya. ibunya masih pingsan." Kata Bu Anis sembari menimang Daffa yang tak juga berhenti menangis padahal sudah ditimang-timang.

__ADS_1


Meski Daffa adalah cucunya, namun Bu Anis tetap menghargai anaknya sebagai orang tua Daffa. ia tidak ingin melangkahi mereka berdua. Makanya kalau ada apa-apa selalu berusaha dulu bicara pada anak Menantu.


Lima belas menit sudah berlalu sejak Bu bidan datang. Dita kini sudah sadarkan diri. Ia diminta untuk lebih banyak lagi istirahat sebab kondisinya masih sangat lemah..Namun begitu mendengar suara anaknya menangis membuat Dita terperanjak. Ia buru-buru bangkit tanpa memperhatikan kondisi luka jahitannya setelah operasi Caesar. Gerakannya yang terjadi secara tiba-tiba membuat perutnya sakit. Dita hanya bisa menjerit pekan.


"Apa itu? Kenapa dia minum itu?" Dita kaget melihat bayinya yang tadi menangis kini sudah tenang usai minum susu formula. "Kenapa harus di beri sufor? Kan ada aku.?" Dita benar-benar geram. Ia tak habis pikir kenapa mertua dan iparnya begitu.


"Dit, maaf. Tapi Daffa tadi menangis terus. Dia hanya diam ketika sudah mendapatkan susu." Kata Bu Anis. mencoba menjelaskan duduk perkara sebab sebenarnya ia pun tidak setuju jika cucunya minum sufor, tapi mau bagaimana lagi, Dita tadi pingsan.

__ADS_1


"Enggak bisa, pokoknya Daffa enggak boleh minum sufor..Kecuali ibunya sudah meninggal!" Mendadak Dita berubah jadi frontal. Ia benar-benar menunjukkan kemarahannya.. Sembari masuk ke kamar karena badannya sudah terus memberontak. Ia memeluk Daffa dalam dekapannya.


__ADS_2