
Masih dalam keadaan emosi, Damar menuju rumah Bu Dita. Ia sudah tak bisa menahan amarah lagi karena ibu dan adiknya tetap saja berprasangka buruk kepada perempuan berhati lembut seperti Bu Dita. Sebenarnya ia merasa malu sebab selain berparas cantik, hati Bu Dita juga jauh lebih cantik lagi. Itulah kenapa Damar mencintainya. Ia tak peduli meski usia mereka terpaut jauh, toh itu tak dilarang dalam agamanya. Yang penting mereka bisa bertanggung jawab dan saling menjaga satu sama lain.
Sampai di rumah Bu Dita, Damar langsung mengetuk pintunya. Tak lama gurunya tersebut keluar, mempertanyakan kenapa Damar terlihat begitu marah.
"Bu ... apapun yang terjadi, saya mohon ibu tetap mau menikah dengan saya. Sungguh saya tak ingin kehilangan ibu, saya ingin bersama ibu hingga akhir usia saya nanti. Saya tidak mau menikah kecuali dengan ibu " ucap Damar dengan suara terbata. Ia tak bisa lagi menahan rasa sedih yang teramat besar.
Damar tak malu jika ia harus menangis di depan Bu Dita sebab baginya, laki-laki menangis bukanlah sesuatu yang buruk. Laki-laki juga punya perasaan, bagaimanapun butuh menangis untuk menyalurkan emosinya.
"Ya, saya berjanji Damar. Saya akan menanti sampai kamu menghalalkan saya." janji Bu Dita.
"Kalau begitu ayo sekarang ketemu bunda."
"Jangan terbawa emosi, Mar. Saat semuanya dibicarakan dalam keadaan marah, biasanya keputusan yang diambil bukan keputusan terbaik. Kamu mau kemungkinan terburuk, hubungan kamu dan keluargamu semakin memburuk? Mar, menghadapi orang tua itu harus sabar. Kamu jangan terbawa emosi. Sekarang tenanglah, lebih baik gunakan energi kamu untuk hal-hal yang positif."
"Misalnya?"
"Bagaimana kalau kamu mulai mempersiapkan pernikahan kita."
"Kita?"
"Damar!" pipi Bu Dita langsung memerah, sementara Damar tertawa terbahak-bahak. Ia memang masih suka mengusili gurunya tersebut. Tapi setidaknya sekarang Bu Dita sudah lebih tenang sebab Damar sudah kembali bisa tertawa."Kamu kapan akan mendaftar ke KUA?"
__ADS_1
"Sesegera mungkin, Bu."
"Baiklah. Tapi jangan sampai kelewatan. Hari Senin sudah pengumuman kelulusan, kalau kamu tidak keberatan bagaimana kalau kita menikah di hari Jum'at nya?"
"Mau Bu, Selasa juga boleh."
"Jangan begitu Damar. Semua harus direncanakan."
"Tapi Bu ...."
"Tapi apa?"
"Enggak apa-apa. Yang penting kita sah secara agama dan hukum dulu. Untuk resepsi bukan hal yang terlalu penting menurut saya."
"Alhamdulillah." karena sudah tak ada lagi yang penting untuk dibicarakan, dan hati Damar sudah lebih tenang. Makanya Bu Dita kembali mengusir Damar agar segera pergi dari rumahnya. Bu Dita tidak mau menjadi bahan gunjingan tetangga. Bagaimanapun mereka belum sah.
***
Damar kembali melanjutkan hari-harinya. Ia lebih mendekatkan diri pada Allah agar lebih sabar menghadapi ibunya. Bu Dita sudah mengingatkan Damar untuk tidak terbawa emosi. Setan suka jika ia kalah dan tidak sabar. Sementara itu, meski ia masih menginap di mess, Damar tetap mengunjungi ibu dan adiknya. Ia membawakan makanan, menitipkan uang pada Sigit atau Lala agar diberikan pada ibunya. Damar juga mulai menyicil biaya untuk pendaftaran Nanda. Ia berharap, dengan apa yang dilakukannya ini bisa jadi jalan meluluhkan hati ibunya dan bisa menerima Bu Dita sebagai calon pendamping hidupnya.
Sayangnya usaha Damar belum juga membuahkan hasil. Uang dan bungkusan makanan yang tiap hari ia bawakan memang diambil. Bahkan Nanda juga memberi daftar biaya masuk kuliah ke pada Damar. Namun tetap saja hati mereka masih tertutup untuk Bu Dita.
__ADS_1
"Abang harus tahu satu hal, kami hanya menginginkan kak Rana lah yang menjadi pendamping Abang, bukan Bu Dita!" tegas Nanda usai memberikan total biaya awal kuliahnya.
"Apa sih salahnya Bu Dita sama kamu, Nan? Kenapa kamu nggak bisa membuka hati menerimanya? Kamu memaksakan Abang dengan Rana, padahal Abang nggak mencintainya. Menikah itu nggak bisa asal-asalan, Nan. Kelak kamu juga akan tahu itu." Ucap Damar.
"Salahnya karena merebut hati Abang dari kami semua. Bu Dita sudah membuat Abang nggak nurut sama bunda!" tegas Nanda.
"Hah, siapa bilang? Justru Bu Dita yang mengubah Abang jadi lebih baik lagi. Abang jadi punya impian masa depan juga karenanya. Kalau nggak ada Bu Dita mungkin Abang akan tetap jadi murid kelas tiga SMA hingga tua. Tidak punya masa depan. Tukang buat onar. Pemalas yang tak peduli pada keluarganya. Paham, Nan! Berpikirlah yang objektif. Jangan karena kamu menginginkan sesuatu sampai menilai orang nggak konsisten begitu. Sudah jelas membawa pengaruh baik tapi karena kamu nggak suka malah kamu katakan membawa pengaruh buruk!"
"Abang juga harus objektif. Kalau nggak ada Bu Dita, Abang pasti sudah dengan kak Rana. Tapi karena kehadirannya yang entah dengan cara apa membuat Abang menyukainya, makanya sekarang Abang mengabaikan kak Rana."
"Heh, dari dulu juga Abang nggak punya perasaan apa-apa sama Rana. Kamu salah paham. Mana pernah Abang menanggapinya!" Damar semakin kesal. Kenapa mereka berkesimpulan ia dulu juga menyukai Rana? Apa karena selama ini ia tak pernah berhubungan dengan perempuan lain? Tapi seingat Damar, pergaulannya dengan Rana juga tidak terlalu akrab. Sangat biasa. Ia bahkan jarang mengajaknya bicara meski Rana sering main ke rumahnya. Ia juga jarang mau diundang ke rumah Rana, kecuali kalau bunda sudah marah-marah dan mengancam tak akan memberinya uang belanja. Lalu apa hak seperti itu bisa dijadikan patokan kalau ia menyukai Rana? Menurut Damar itu pemikiran yang aneh sekali.
Damar memang tak punya banyak teman perempuan karena memang sejak kelas satu SMA ia sudah menyukai Bu Dita. Bukan hanya sekedar mengagumi tapi cinta, cinta seorang laki-laki dewasa kepada perempuannya.
"Abang nggak kasihan pada kak Rana?"
"Kasihan? Untuk apa?" Apa yang harus dikasihani dari seorang Rana yang cantik, pintar, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga berada dan pastinya punya hampir semuanya yang diinginkan orang-orang.
"Tapi kak Rana nggak mendapatkan Abang."
"Aduh sudahlah. Ini sudah semakin ngawur. Kamu dan bunda nggak bisa memaksakan kehendak seperti itu. Coba bayangkan Nan, kalau kamu yang dipaksa seperti aku. Apa kamu terima? Aku nggak yakin kamu akan menerimanya dengan legowo. Jadi sudahi Nan, sebelum hubungan persaudaraan kita makin kacau. Aku akan bereskan masalah ini dengan Rana, setelah ini jangan paksakan apapun lagi sebab bunda setuju atau tidak, setelah lulus SMA, aku akan menikah dengan Bu Dita. Kami sudah mendaftar di KUA." kata Damar. Ia tak memberikan kesempatan pada Nanda lagi untuk bicara. Kini Damar harus pergi ke suatu tempat sebab ia butuh bicara dengan seseorang yang diyakininya bisa menyelesaikan semuanya. Rana!
__ADS_1