Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Sebuah Cara Untuk Lulus


__ADS_3

"Bantu aku untuk lulus!" kata Damar pada Pian, salah seorang siswa berprestasi di sekolahnya. Ia sengaja mencegat teman sekelasnya itu beberapa meter dari gerbang sekolah.


"Apaan sih Bang, sakit ni." Pian sempat meronta karena cengkraman tangan Damar.


"Yaelah, dipegang dikit saja sakit " Damar mencibir.


"Apa bang?"


"Bantu aku supaya lulus tahun ini!"


"Sisa tiga bulan lagi sebelum kelulusan,"


"Terus masalahnya apa?"


"Banyak materi pelajaran yang harus Abang pelajarin. Dari kelas satu sampai kelas tiga. Bisa?"


*Ya bisalah, kan ada kamu!"


"Hmm, maksudnya apa Bang? Contekan? Aku nggak akan kasih contekan sama siapapun bang. Itu prinsipku!"


"Yaelah, jangan sok keras lah,"


"Ya terserah Abang. Kalau Abang mau lulus harus usaha sendiri!"


"Pian, kamu mau dapat restu sama Nanda, nggak? Kalau kamu bisa bantu aku, maka restu itu langsung kamu dapatkan. Tapi kalau nggak bantuin, aku jamin kamu nggak akan pernah bisa dekat sama Nanda!"


Ancaman Damar langsung membuat benteng pertahanan Pian porak poranda. Remaja delapan belas tahun itu sangat menyukai Nanda Saputri, adik kandung Damar. Kecerdasan dan sikap Nanda yang tidak gampang meladeni para cowok-cowok membuatnya begitu berkelas di mata Pian. Sayangnya, seribu satu cara yang dilakukan Pian untuk mendekati Nanda tak pernah berhasil. Benteng pertahanan Nanda begitu kuat, malahan yang Pian tahu Nanda memberi sinyal pada Yuda, sang mantan ketua OSIS.


"Hemmn," Pian berdehem. Ia berusaha bersikap sewajarnya tapi tetap saja ia kikuk ketika sudah membahas Nanda.


"Aku tahu kamu suka sama Nanda. Tapi aku juga tahu siapa yang disukai Nanda." Damar tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


"Siapa bang?" Pian terpancing, ia benar-benar tak rela jika gadis yang dicintainya dimiliki orang lain.


"Nanti aku kasih tau kalau kamu mau bantu.".


"Yaelah Bang,"


"Kalau nggak mau ya sudah, aku bisa minta bantuan Yuda!"


Skak. Seperti tak ada jalan lagi untuk raja. Akhirnya Pian pun menyerah . Tetapi ia tetap bersikeras, selain memberikan bantuan jawaban saat ujian kelulusan nanti, Pian juga ingin Damar belajar.


"Iya iya, pokoknya tenang saja. Aku juga ga akan lepas tangan begitu saja. Lagian, aku udah ketiga kalinya nih ngulangin pelajaran yang sama, jadi sebenarnya nggak perlu terlalu belajar yang keras-keras amat, aku cuma butuh orang untuk mengingatkan mana jawaban yang benar, mana yang salah. Udah gitu aja."


"Halah bang, itu sama saja nyontek!" Pian dongkol.


"Hehehehe, begitu ya adik ipar?"


Mendengar panggilan baru yang diberikan oleh Damar, wajah Pian langsung memerah, dadanya kembang kempis. Tiba-tiba ia merasa begitu dekat dengan Damar. Hubungan kekeluargaan itu terasa nyata karena kalau ia beneran jadian dengan Nanda maka Damar akan jadi kakak iparnya. Refleks Pian tersenyum malu-malu membayangkan bersama Nanda.


"Heh ngapain kamu senyum-senyum aneh begitu? Kamu nggak ngebayangin adikku yang aneh-aneh, kan?" Damar mengintimidasi Pian dengan tatapan mautnya.


"Ohhhh, ya deh adik ipar. Ingat ya, jangan lupakan kesepakatan kita ini!" Damar menepuk pekan pundak Pian, lalu pamit dengan motor tuanya. Sementara Pian tak lupa mengingatkan agar Damar juga belajar.


***


"Kamu tadi bolos lagi, Mar?" Bu Anis menghadang sulungnya di pintu masuk.


"Eh Bunda, assalamualaikum!" Ia hendak mencium tangan ibunya, tapi ditepis.


"Jawab pertanyaan Bunda. Kemana saja kamu? Bukannya harusnya kamu ketemu Bu Bintang? Bunda tadi ke sekolah tapi kamu nggak masuk. Mau kamu apa sih Mar? Sampai kapan kamu membuat ulah seperti ini terus, kamu sudah dua kali tidak lulus. Kalau ketiga kali masih nggak lulus, Bu Bintang nggak bisa lagi bantuin kamu, Mar. Kamu ...."


"Bun, pelan-pelan dong. Damar juga nggak masuk karena menyelesaikan masalah Damar."

__ADS_1


"Menyelesaikan bagaimana? Kamu malah nambah masalah itu namanya! Bunda malu, Mar, sama Bu Bintang. Dia sudah total nolongin keluarga kita tapi kamu masih saja berbuat seenak kamu. Kemana kamu tadi?"


"Damar kan sudah bilang, Danar bolos bukan main-main, tapi menyelesaikan masalah Damar. Salah satunya nemuin Bu Dita dan ...."


"Apa? Kamu ketemu guru kamu itu? Astagfirullah. Kalian itu kenapa sih? Sudah sejauh mana hubungan kalian? Dia itu punya malu atau enggak, sih? Masa anak murid sendiri dipacari. Bunda benar-benar kecewa, kenapa ada guru seperti itu "


"Bun, dengar dulu. Kami berdua sepakat tidak pacaran tapi langsung nikah "


"Apa?"


"Ya, menikah Bun. Kalau Damar sudah lulus sekolah. Makanya Damar juga sedang berusaha nih supaya lulus sekolah."


"Mar ... kamu mikir dong, Bunda benar-benar lelah Mar."


"Bun, Damar janji, setelah ini nggak akan ada masalah lagi yang Damar buat. damar akan jadi anak baik, Damar akan lulus, kerja dan menikah. Damar nggak akan jadi beban Bunda lagi."


"Tapi Mar, bagaimana dengan Bu Bintang dah Rana?"


"Mereka nggak akan kenapa-napa. Udah deh, Bunda berhenti berpikir negatif atau pesimis sama Damar. Pokoknya Bunda yakin saja kalau tahun ini Damar akan lulus. Sekarang Damar mau mempersiapkan semuanya. Bunda doain Damar ya!" buru-buru Damar masuk ke kamarnya, mengganti seragam sekolah dengan baju kaus, lalu kembali keluar, sebelum pergi tak lupa ia meminta uang untuk bensin pada ibunya.


"Mar ... Mar, bensin saja masih dari Bunda kok sudah mikirnya mau menikah!" cetus Bu Anis.


***


Damar benar-benar tidak main-main dengan niatnya untuk menikahi Bu Dita. Ia tidak menyia-nyiakan waktu meski sedetikpun. Damar mulai mempersiapkan pernikahannya. Mencari tahu berapa biaya yang diperlukan untuk sebuah pesta hajatan yang tak terlalu mewah tapi juga tidak terlalu kecil. Sederhana.


Total dana yang harus dimilikinya minimal lima puluh juta. Belum termasuk mahar. Damar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mulai mengalihkan berapa lama waktu yang harus di habiskan untuk mendapatkan uang sebanyak itu dengan gaji lima ratus ribu setiap bulannya dari hasil ngulindi toko kain almarhum ayahnya Rana.


Delapan tahun lebih. Waktu yang lama sekali. Kepala Damar sekarang langsung berdenyut-denyut. Ia merasa pusing. Lama sekali, batinnya.


Pantas saja banyak orang yang gagal nikah karena terbentur biaya. Andai saja ayahnya ada, Damar yang semula berpikir bahwa ayahnya akan membantu langsung geleng-geleng kepala. Ia ingat, ayahnya bukanlah lelaki yang bertanggung jawab. Ia memang sempat merasakan kasih sayang ayahnya, tapi hanya hingga usianya enam tahun, setelah itu ayahnya berubah jadi lelaki yang tidak bertanggung jawab. Lelaki kasar yang suka menyakiti ibunya. Selama empat tahun ia menyaksikan ibunya hidup dalam kesengsaraan hingga akhirnya saat ibunya mengandung adik bungsunya, Lala, ibunya memberanikan diri untuk bercerai.

__ADS_1


Sejak itu Damar tak pernah lagi melihat dan tahu keberadaan ayahnya. Damar tak berani mempertanyakan kepada ibunya sebab ia tahu hanya akan menambah luka di hati perempuan yang disayanginya tersebut.


"Kelak, kalau aku punya anak, aku akan jadi ayah yang baik agar anakku tak perlu merasakan kekurangan kasih sayang ayah." Batin Damar.


__ADS_2