Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Perempuan Berhati Luas


__ADS_3

[Sayang, berkat doa kamu, om Agas memberikan pinjaman tanpa bunga untuk membeli rumah. Akhirnya saya bisa membelikan bunda dan adik-adik rumah.] Damar mengirimkan pesan untuk istrinya.


[Alhamdulillah, turut bahagia, sayang.] balas Dita


[Tapi sedih.]


[Kenapa?]


[Harusnya beliin kamu rumah juga.]


[Hehehe, terima kasih sudah mengingat saya juga, sayang. Enggak apa-apa, kok. Kan kita sudah punya rumah juga. Untuk apa punya rumah banyak-banyak, nanti malah nubazir. Sayang lho rumahnya jadi rusak karena tidak terpakai.]


[Baiklah, tapi nanti bantu saya pilihkan rumah yang bagus ya ]


[Siap!]


Damar tersenyum lega. Istrinya memang perempuan luar biasa berhati baik. Sayangnya ibunya belum menyadari itu, kalau tidak ia pasti bersyukur punya menantu sebaik Dita. Sudah cantik wajah, cantik juga hatinya. Damar benar-benar merasa sangat beruntung sekali.


***


Dua sejoli itu tengah melihat-lihat rumah yang akan dibeli dan dihadiahi pada Bu Anis. Pilihan mereka jatuh pada rumah type enam puluh, harganya empat ratus lima puluh juta. Sesuai dengan jumlah yang dipinjamkan om Agus. Rumah ini meski tidak baru tapi masih terlihat sangat bagus, bisa langsung ditempati tanpa harus direnovasi.


Rumah dengan cat dominan putih, dengan tiga kamar tidur, dan halaman yang lumayan. Damar benar-benar merasa puas, apalagi letaknya tak terlalu jauh dari rumah mereka. Jadi, sewaktu-waktu ia bisa berkunjung, begitu juga sebaliknya tanpa harus menghabiskan banyak waktu. Bisa ditempuh jalan kaki. Rasa-rasanya Damar sangat yakin ibunya tak akan bisa lagi menolak untuk pindah ke sini.


Bismillah. Damar memutuskan mengambil rumah ini. Setelah semua urusan selesai, ia dan Dita segera kembali ke rumah. Tadi, sepulang kerja, mereka berdua memang janjian mau melihat langsung rumah yang sebelumnya sudah dipilih oleh Dita lewat iklan di media online.

__ADS_1


Sampai di rumah, rupanya Bu Anis sudah menunggu kepulangan Damar. Wajahnya tampak pucat, terlihat betul sangat khawatir.


"Kemana saja sih, Mar. Bunda telpon-telpon tidak ada jawaban. Kamu sudah terlambat sekali lho pulangnya!" Bu Anis memberondong anaknya. "Sekarang ayo kita ke rumah sakit." Bu Anis langsung menarik kembali anaknya agar naik ke atas motor.


"Lho, ngapain ke rumah sakit, Bun? Bunda sakit?" tanya Damar.


"Enggak, bunda baik-baik saja. Tadi Bintang telepon Bunda, Rana masuk rumah sakit."


"Rana? Lalu ini mau kemana?"


"Ke rumah sakitlah."


"Bunda pergi sama Nanda saja, ya. damar sudah lelah. Mau mandi terus istirahat."


"Rana sakit?" tanya Dita.


"Bun, maaf, Damar nggak bisa ke rumah sakit dulu." tolak Damar, ia hendak berlalu ke dalam, tapi ditahan Ibunya.


"Kamu ini kenapa sih Mar. Mau besuk saja nggak mau. Kasihan lho. Saat ini kondisi Rana memburuk karena kamu menikah. Masa kamu nggak merasa bersalah sama dia." Ujar Ibunya yang masih berusaha membujuk Damar agar mau ikut sebab ia tak enak dengan Bintang, sahabatnya. Lagipula ia juga sangat menyayangi Rana yang dari dulu diharap-harapnya bisa jadi menantunya.


"Enggak ahh Bun," Damar tetap pada pendiriannya. Ibu dan anak itu akhirnya kembali berdebat. Ibunya memaksakan kehendak, anaknya teguh pendirian hingga akhirnya Dita buka suara, meminta Damar agar mau mengikuti keinginan ibunya, membesuk Rana. Toh Dita juga iba kalau Rana benar sakit akibat patah hati ditinggal menikah suaminya.


Sebenarnya Dita pernah mendengar tentang isi bahwa Rana mencintai Damar saat mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. Tapi Dita mengira itu hanya cinta monyet saja, tak seserius hingga membuat seorang anak perempuan harus masuk rumah sakit akibat patah hati. Apalagi ia tak pernah mendengar jika Rana dan suaminya pacaran. Makanya ia agak kaget mendengar Rana masuk rumah sakit.


Kondisi Rana sendiri yang sakit-sakitan juga sudah diketahui oleh Dita maupun seluruh guru di sekolah. Bu Bintang mengabarkan sendiri, putrinya butuh perlakuan khusus karena sejak kecil mengalami jantung bocor. Itulah yang membuat Dita jadi iba meski sebenarnya ia agak berat jika suaminya bertemu dengan perempuan lain.

__ADS_1


"Baiklah, Damar mau ikut ke rumah sakit asal Dita juga ikut " Kata Danar, mengajukan persyaratan.


"Mar, kita kan mau membesuk Rana, bukan mau piknik. Kenapa juga harus rombongan. Lagian mana muat naik motor bertiga!" Bu Anis mendengus kesal.


"Bunda dibonceng Nanda, nanti Damar sama Dita." kata Damar.


"Duuuh Damar, kamu itu kenapa sih, mempersulit saja. Apa salahnya pergi berdua sama bunda sebentar. Itu lho, anak orang sakit gara-gara kamu. Nggak lupa kan kamu bagaimana baiknya bintang dan Rana dulu? Jangan jadi kacang lupa kulitnya deh!" keluh Bu Anis lagi


"Ya sudah, kalau begitu Damar nggak pergi!" Damar menegaskan.


"Ya ya ya. Terserah kamu sajalah " Sadar tak akan bisa memaksa kehendak pada Damat, akhirnya Bu Anis mengalah. Ia paham putranya. Kalau sudah membuat keputusan, apalagi menyangkut istrinya, tak akan bisa diganggu gugat. Makanya Bu Anis berpikir harus memutar otak agar rencananya berjalan lancar sebab anaknya ini cukup keras kepala dan selalu menomor satukan istrinya.


Ibu, anak dan menantu itu akhirnya pergi menuju rumah sakit. Bu Anis sebenarnya merasa tidak enak hati sebab ia sudah janji pada Bintang hanya akan membawa Damar, ternyata menantunya malah ikutan.


Begitu juga dengan Dita yang menyadari kehadirannya sangat mengganggu menurut mertuanya. Tapi ia juga tidak bisa menolak keinginan suaminya. Lagipula sebagai istri ia juga tidak rela jika suaminya membesuk perempuan yang menyukainya.


Sampai di rumah sakit, Bu Anis kembali mengatur siasat agar Dita tidak ikut masuk, tapi lagi-lagi Damar mengancam tak akan ikut masuk juga kalau istrinya tidak ikut hingga akhirnya Bu Anis harus kembali mengalah. Dari pada benar-benar gagal total, ya sudahlah, begitu pikirnya.


Sampai di ruang rawat inap Rana, senyum gadis itu langsung mengembang saat melihat sosok Damar. Sejak lelaki pujaan hatinya itu mengucap akad, ia langsung merasa hidupnya hancur, mengurung diri di kamar, menolak untuk makan minum, bahkan beraktivitas apapun hingga ibunya menemukan dirinya tak sadarkan diri. Makanya ia dilarikan ke rumah sakit.


Sayangnya, senyum itu segera sirna saat melihat sosok Dita di sampingnya yang berjalan menyusul suaminya. Yang membuat Rana semakin hancur saat melihat tangan Dita digandeng oleh Damar. Rana bisa merasakan betapa besar cinta Damar untuk gurunya tersebut.


Damar mengisyaratkan tak ingin jauh-jauh dari istrinya.


Sungguh, Rana benar-benar dibakar api cemburu. Ia yang selama ini selalu menunjukkan dan memberikan cintanya pada Damar, namun tak kunjung mendapatkan balasan. Apa kurangnya dia?

__ADS_1


__ADS_2