
"Anak itu memang tak berubah-ubah juga. Sudah begitu banyak ujian hidupnya, aku kira ia akan mengambil hikmahnya, bertaubat atas salahnya. Tapi ternyata masih saja mengedepankan egonya. Benar-benar keras kepala, entah siapa yang ditirunya. Hanya bisa menyusahkan keluarganya saja!" nenek Wili mengomel panjang lebar. Dita yang mendengar hanya bisa meringis, memaksakan senyum meski hatinya masih ketar-ketir karena entah kapan, tapi sekarang ia melihat nenek Wili berdiri memegang sebuah tongkat rotan sepanjang lebih kurang seratus centimeter. Dita hafal itu karena dulu sebagai guru ia difasilitasi untuk menghadapi anak-anak nakal oleh guru BP. "Bagaimana dia sekarang, apa masih hidup susah? Ahh, harusnya aku gak perlu bertanya sebab dari dia tidak berani masuk saja sudah sangat jelas kalau kehidupannya tidak baik-baik saja seperti yang digembor-gemborkan olehnya sebelumnya. Apalagi kalau dia kaya, bakalan sombong menyundul langit si keras kepala itu. Huuuh, dan memyebalkannya dia putriku pula!" Tanya nenek Wili lagi, yang ikut mengawasi dari balik jendela. "Awas saja sampai masuk, habis dia!"
Nenek Wili sudah bersiap, Dita ketar-ketir, matanya sampai melotot melihat nenek mertuanya siap menyambut putrinya yang telah lama tidak kembali dengan sebilah rotan. "Semoga pikiranku salah." Doa Dita begitu kencang dalam hatinya.
Plak. Sebuah sabetan melayang di kaki kanan Bu Anis saat ia masuk ke dalam rumah. Tak hanya satu, tapi dua, tiga, empat hingga lima pukulan. Bu Anis sampai menjerit kesakitan, Dita berusaha menolong tapi dihalangi om Anton, sementara dengan nafas ngos-ngosan nenek Wili terus memukul anaknya sambil mengomel panjang lebar.
"Mama ampun Ma, ampun!" Teriak Bu Anis sambil berusaha menghalang-halangi agar rotan tak mendarat di kakinya lagi. "Mohon ampun Ma, Anis minta maaf ma, minta maaf. Anis menyesal Ma, Anis tak akan pergi lagi tanpa izin mama. Anis benar-benar menyesal, ampuni Anis, ma." rengek Bu Anis, seperti anak kecil, ia memohon sambil berlutut, berharap ibunya tak memukul lagi.
"Kamu itu ya, benar-benar keras kepala. Sombong. Kehidupan sudah seperti itu, bukannya menyesal malah ...." baru nenek Wili mengangkat kembali tongkatnya, tapi Bu Anis langsung memohon. Ia benar-benar kesakitan. "Ughhhh, kamu itu, untuk apa lagi ke sini, hah? Bukannya kamu sudah memilih keluar dari keluarga Wili, lalu untuk apa ke sini lagi?"
"Ma ...sudah sih, mama nggak kasihan melihat Anis? Lagipula bang Anton juga sudah mengatakan kalau Mama itu kangen sama Anis. Mama sampai sering sakit memikirkan Anis. Iya, kan?" Bu Anis seperti mendapat angin segar, ia balik menyerang ibunya untuk mengakui perasaannya.
"Ibu mana yang tak sedih memikirkan anak seperti kamu. Durhaka. Dikasih hidup enak malah memilih sudah. Sekarang bagaimana? Sudah kapok? Berkat ego kamu sendiri, anak-anakmu yang kena getahnya, kan?" ujar nenek Wili.
__ADS_1
"Ma, maaf ...." Bu Anis memohon. "Tapi sekarang anaknya Anis sudah berbakti semua, lho."
"Ishhhhh!" Nenek Wili hendak memukul kembali anaknya, tapi tertahan oleh Dita yang kembali meringis. "Kenapa, nak?" nenek Wili mengelus punggung cucu menantunya. "Kamu itu ya Nis, menantunya sedang sakit malah disuruh ke sini. Memang egois sekali kamu itu. Nggak berubah-ubah juga!" Nenek Wili memukul tangan anaknya. "Anton, cepat panggilkan dokter Tina, minta ia datang sekarang juga!"
Dita dibawa masuk ke kamar tamu dibantu oleh nenek Wili dan Bu Anis. Wajahnya semakin pucat, membuat mertua dan nenek mertuanya begitu khawatir. Ibu dan anak yang baru bertemu itu sampai lupa tentang rindu mereka karena fokus menghadapi Dita yang sedang sakit, selain mengkhawatirkan kondisinya, mereka juga mengkhawatirkan bayi dalam kandungan Dita. Orang yang hamil muda memang masih rentan, harus banyak istirahat.
Dua puluh menit kemudian datanglah dokter Tina. Dokter keluarga nenek Wili. Usianya masih sangat muda, baru saja lulus dokter, sambil praktek sambil mengambil spesialis. Ia menggantikan ibunya yang sebelumnya menjadi dokter pribadi di keluarga Wili.
"Bagaimana Tin, apa ada masalah?" Tanya nenek Wili.
"Ya ya ya. Begitu lebih baik!" nenek Wili meminta Tina menyuruh mengurus bagian rumah sakit, mereka segera berangkat naik mobil yang dikemudikan pak Anton. Diperjalanan, Bu Anis menghubungi Damar untuk mengabari kondisi Dita saat ini.
***
__ADS_1
Wajah semua orang tegang. Mereka yang baru saja merasakan kebahagiaan sebab akan kehadiran satu anggota keluarga baru dan kembalinya Bu Anis pada keluarganya kini kembali memancarkan kesedihan. Mereka begitu khawatir usai mendengarkan penjelasan dokter, terutama Damar dan Dita yang tak berhenti menangis.
"Kenapa harus aku?" Dita tak berhenti mempertanyakan. Ia merasa begitu lelah menjalani ujian demi ujian. Ia mengira kemarin adakah akhir dari semuanya. Sudah waktunya ia bahagia, tapi ternyata kini ia harus mendapatkan ujian baru lagi.
Pengentalan darah. Begitu diagnosa dokter. Penyakit yang ternyata pernah diderita ibunya Dita hingga membuatnya meninggal dunia. Sekarang penyakit itu ia warisi disaat ia tengah hamil. Tentu saja Dita amat ketakutan sebab dulu ibunya sampai kehilangan nyawa karena mengalami pengentalan darah saat hamil adiknya hingga ibu dan bayi tidak dapat diselamatkan.
"Aku benar-benar takut," kata Dita. "Bagaimana kalau aku dan anak ini tidak bisa diselamatkan, bagaimana kalau ...."
"Pstttt, jangan bicara sembarangan sayang. Kamu akan baik-baik saja. InshaAllah. Yang penting kamu jaga kesehatan, minum obat dan istirahat. Selebihnya kita serahkan sama Allah. Kamu dan bayi kita akan baik-baik saja." Bujuk Damar.
Tak hanya dikuatkan oleh suaminya, tapi Dita juga mendapatkan dukungan dari mertua, adik iparnya, nenek mertua dan juga pamannya Damar. Ia benar-benar sangat bersyukur meski hatinya belum tenang dengan diagnosa dokter. Dita tak tahu harus melakukan apa jika terjadi sesuatu padanya atau anak mereka. "Ya Tuhan, kenapa kebahagiaan itu hanya sementara. Benar-benar sekejap mata, sekarang aku harus menjalani ujian baru lagi yang entah bisa atau tidak aku jalani!" Dita hanya bisa membatin. Ia takut memberatkan Damar, atau mengecewakan mereka semuanya.
"Kamu tenang saja, Allah yang akan. Memberi kita kebahagiaan. Bukan manusia, kita akan mendapatkan semuanya yang pantas kita dapatkan. Yakin saja, kalau anak itu hak kita maka akan ada jalan kemudahan yang bisa kita dapatkan." Kata Damar.
__ADS_1
Saat seperti ini, Dita benar-benar berharap agar bayi yang jadi sumber kebahagiaan dalam hidup mereka saat ini bisa bertahan.