Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Pengumuman Kelulusan


__ADS_3

Seluruh murid kelas tiga sudah berdiri di depan papan pengumuman. Melihat nama-nama yang lulus. Pian dan Damar memilih menunggu hingga kerumunan itu berkurang. Setelah ada jalan, barulah mereka berdua maju ke depan.


"Alhamdulillah lulus!" Kata Pian, saat melihat namanya di barisan atas. "Bagaimana bang, sudah ketemu namanya?" Pian melirik Damar yang masih sibuk mencari namanya.


"Enggak ada." Kata Damar. Saat ia sudah sampai di barisan bawah dan belum juga menemukan namanya.


"Masa?" Pian ikut membantu, mereka menelusuri satu-persatu nama yang ada di papan pengumuman. Tiga kali mencoba mencari tapi hasilnya tetap nihil. Nama Damar benar-benar tidak ada hingga membuat mereka lemas. "Ini nggak mungkin. Ini pasti salah." Pian tampak frustasi. Ia yang paling yakin kalau Damar pasti lulus sebab setiap selesai ujian, mereka berdua akan melakukan diskusi, memeriksa ulang jawaban Damar dan hasilnya banyak benarnya.


"Apa jangan-jangan nggak lulus?" Damar berpikir keras. "Namaku nggak ada di sini. Berarti aku nggak lulus, Yan."


"Nggak mungkin, bang ...."


Belum selesai Pian bicara, Damar sudah berlari menuju ruang guru. Ia harus mencari seseorang yang bisa menjelaskan semua. Bu Dita, wali kelasnya, pasti tahu semuanya. Tapi dari jendela ruang guru, Damar tidak melihat seorang pun guru di sana.


"Kemana Bu Dita?" Damar nampak cemas. Tapi ia tak hilang akal, mencoba menghubungi lewat ponsel namun nomor Bu Dita tidak aktif. Beberapa pesan dikirim oleh Damar, tetap saja tidak ada jawaban.


"Enggak mungkin nggak ada satu guru, pun. Tadi ada!" Kata Pian. "Kita cari, bang!" Pian mengajak Damar mengitari ruang demi ruang. Beruntung, di ruang BP Damar dan Pian akhirnya menemukan Bu Dita tengah bersama Bu Venti. Pintu ruang BP agak tertutup, makanya Damar perlu mendorongnya.


"Bu!" Damar masuk. Ia melihat mata Bu Dita merah. "Nama saya kenapa tidak ada?" Tanya Damar.


"Iya Bu, nama bang Damar tidak ada di papan pengumuman. Kenapa bisa begitu?"


"Mar, kamu tidak lulus." kata Bu Venti, mewakili Bu Dita yang tak mampu berbicara.


"Nggak lulus, ini nggak mungkin," Pian menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya ini semua, pasti ada sesuatu.

__ADS_1


"Tapi," Damar lemas. Ia terduduk. Sementara Isak tangis Bu Dita kembali terdengar. "Bagaimana mungkin, bukannya kamu bilang aku bisa, Yan?" Damar melihat Pian.


"Ya Bang." Pian membenarkan.


Rupanya, tak ada yang tahu sebelumnya kalau Damar tidak lulus. Bu Dita sebagai wali kelas dan Bu Venti sebagai guru BP baru diberitahukan setelah ia sampai di sekolah secara dadakan. Tentu saja mereka kaget karena sebelumnya, informasi bahwa murid-murid lulus seratus persen.


"Ini nggak mungkin!" Damar belum bisa terima. Ia yakin sudah belajar semaksimal mungkin, ditambah Pian juga menyatakan bahwa semua jawabannya nyaris benar. Paling tidak sembilan puluh persen benar. Lalu bagaimana mungkin ia dinyatakan tidak lulus?


Damar bergegas menuju ruang kepala sekolah. Ia merasa ada yang tidak beres, makanya harus mencari tahu sebabnya. Diikuti oleh Pian, Bu Dita dan Bu Venti. Sampai di sana, Bu Bintang menyatakan tidak ingin menerima Damar, ia masih ada Pekerjaan, tapi Damar tetap memaksa. Ia tak mau beranjak sebelum Bu Bintang menjelaskan semuanya.


"Kalau sudah tidak lulus ya terima saja kenyataannya. Lagian sebelum-sebelumnya kamu juga tidak Lulus. Kenapa sekarang heboh, Mar? Kayak ini yang pertama saja." Bu Bintang sewot.


"Karena tahun ini saya belajar serius, Bu." jawab Damar.


"Ya Bu, saya berani jamin jawaban bang Damar benar semua seperti jawaban saya." Pian menambahkan.


"Bukan Bu, tapi kami ...." belum selesai Pian menjelaskan, Bu Bintang malah menuduh Pian.


"Pian, hati-hati membuat pengakuan. Sebagian anak teladan, kamu dilarang memberi contekan. Kalau kamu terbukti maka saya bisa menahan kelulusan kamu. Mengerti!" Bu Dita mengancam Pian. "Sekarang semuanya sudah jelas. Damar tidak lulus. Jadi tidak ada lagi yang perlu dibahas. Silakan keluar karena saya masih punya urusan lain!" tegas Bu Bintang.


"Tapi Bu," Damar yang masih belum puas tidak diberi kesempatan untuk bicara. "Sampai kapanpun saya akan usut ini, Bu. Saya akan cari kebenarannya. Saya yakin saya lulus!" Damar keluar dengan hati yang kecewa diikuti Pian, Bu Venti dan bu Dita.


Harus bagaimana lagi ini? Damar benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi hingga akhirnya pak Wiguna ikut buka suara. Ia memberikan usul, kalau Damar yakin jawabannya benar, ia akan meminta lembar jawaban Damar ke dinas untuk dicari dimana letak kesalahannya.


Bu Dita, Bu Venti dan pak Wiguna bergerak membantu Damar. Sementara Damar dan Pian hanya bisa duduk menanti sembari berdoa ketidak jujuran ini segera mendapatkan jalan keluarnya.

__ADS_1


"Butuh waktu untuk menyelidikinya, Mar. Kamu yang sabar ya." Pinta pak Wiguna.


Sebenarnya Damar bisa sabar menanti berapa lama, pun, namun yang membuatnya tak bisa tenang adalah masalah pernikahannya dengan Bu Dita. Ia sudah berjanji akan lulus dan mereka sudah mendaftar di KUA akan menikah hari Jum'at ini. Tapi ternyata ia malah tidak lulus.


***


Damar masih sibuk dengan mobil yang harus diperbaiki ketika salah satu rekan kerjanya memanggil. Ada yang mencarinya. Damar buru-buru keluar, ternyata ibu dan adiknya, Nanda.


"Bicaranya di kamar Damar saja, Bun." Damar mengajak orang Bu Anis dan Nanda menuju mess yang ada di belakang bengkel. Mess yang terdiri dari enam kamar kecil-kecil namun bersih. Ada dapur terpisah dan ruang tamu juga. "Ada apa bunda ke sini? Kalau ada perlu kenapa tidak mengabari Damar saja. Damar pasti pulang." kata Damar.


"Bunda sudah tahu tentang kamu yang tidak lulus." Kata Bu Anis.


"Belum tentu tidak lulus, Bun. Bisa jadi ini salah."


"Salah bagaimana, Mar?"


"Pak Wiguna dan beberapa guru sedang menyelidiki ke dinas. Sepertinya ada kesalahan."


"Mar, anak yang biasanya juara saja bisa tidak lulus, apalagi kamu yang sudah pernah tidak lulus dua kali. Bagaimana bisa disebut kesalahan."


"Bun, kita tunggu hasil penyelidikan pak Wiguna dulu ya." Damar tak ingin berdebat, apalagi dengan ibunya. Ia hari ini sudah teramat lelah, apalagi masih banyak mobil yang harus diperbaikinya. Ia ingin menggunakan sisa energinya hari ini untuk bekerja saja.


"Mar, terima saja kenyataannya. Toh kamu masih bisa mengulang di tahun depan. Bu Bintang sudah janji akan membantu."


"Damar nggak mau ngulang, Bu. Damar mau nikah."

__ADS_1


"Nikah bagaimana, kamu saja tidak lulus SMA. Sudahlah. Fokus saja bekerja. Nanti baru dibantu ikut ujian tahun depan sama Bu Bintang."


"Damar nggak mau Bun." tegas Damar.


__ADS_2