Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Guruku Tersayang


__ADS_3

Aditya, kenapa Aditya. Damar yang semula khawatir mendadak cemburu. Jika memang istrinya menderita Alzheimer yang mengakibatkan gangguan pada ingatannya, tapi dari sekian banyak kenangan indah mereka kenapa kini ingatannya malah tertuju pada Aditya? Kenapa tidak mengingat momen perjuangan mereka saat akan menikah, atau tentang Daffa saja. Apakah ingatan Dita tentang Aditya lebih berkesan dibandingkan dengannya? Padahal Aditya sudah meninggalkan Dita.


Kecemburuan Damar membuatnya tidak sabar sehingga ia mencecar Dita. Kenapa harus membahas Aditya?


Plak. Dita memukul lengan Damar cukup keras. Seperti seorang guru yang memukul muridnya karena nakal


"Kamu itu ya Damar, sudah ibu bilang untuk tidak ikut campur urusan ibu. Lagian kamu kenapa juga masih di sini. Kenapa tidak pulang. Oh iya, itu, ibu dan adik kamu, kenapa ada di rumah saya? Kenapa enggak pulang saja? Saya enggak enak ada mereka di rumah saya, Damar. Saya tidak nyaman!" tegas Bu Dita.


"Aghhhh, Dit, kamu kenapa sih!" Damar benar-benar frustasi, ia sampai menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal. Ingin marah tapi sadar kalau kondisi istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Dit Dit Dit. Kamu itu ya, tidak sopan sekali. Damar, ingat ya, meski kamu sudah dua kali tidak lulus, tapi kamu tetap murid saya. Kamu harus menghormati saya. Kalau kamu sombong seperti itu bisa-bisa tahun ini kamu enggak akan lulus lagi. Paham!" Dita kesal pada Damar. Selama ini muridnya ini selalu menurut padanya, tapi entah kenapa sekarang ia menjadi tidak sopan pada dirinya. Apa karena mereka sedang tidak di sekolah, atau karena alasan lain. Dita benar-benar pusing. Semakin ia memikirkan semakin kepalanya pusing.


"Sudah sudah sudah. Damar, tenanglah dulu!" Paman Wiguna meminta Damar untuk diam. "Dit, Damar dan keluarganya kan memang tinggal bersama kamu."


"Hah, kenapa?" tanya Dita.


Pak Wiguna berusaha memutar otak mencari alasan yang bisa dipahami keponakannya. Ia ingin mengarang cerita yang bisa diterima keponakannya tapi segera dibantah oleh Damar.


"Dit, kita sudah menikah. Daffa adalah anak kita. Apa kamu tidak ingat itu?" cetus Damar. Ia tidak suka dengan drama-drama. Apalagi yang memberi peluang untuk Aditya nantinya.


"Mar?" paman Wiguna segera menegur Damar sebab ia takut kejujuran Damar malah menjadi masalah untuk kesehatan keponakannya.


"Menikah, anak? Dengan kamu?" Dita benar-benar bingung. Ia menggelengkan kepalanya. Wajahnya berubah pucat. Ia tak mengerti kenapa Damar mengatakan semua itu. Bukankah mereka guru dan murid?


Entah darimana, bayangan itu muncul. Slide demi slide, dimana ada ia dan Aditya. Ketika mereka.masih bersama. Lalu ayahnya menegus sebab hubungan mereka sudah terjalin cukup lama namun tak kunjung ada kepastian kapan menikah. Dita ingat ketika akhirnya ayahnya mengatakan agar ia menyuruh Aditya melamar atau sudahi saja hubungan itu.


Dita benar-benar kecewa ketika akhirnya Aditya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka setelah bertahun-tahun bersama tanpa alasan apapun. Ternyata dugaan ayahnya sama. Yang membuat Dita sedih, dahulu saat ayahnya menyuruh mengakhiri, ia tetap bertahan diam-diam. Hingga pada akhirnya ayahnya kecewa. Dita mengira kalau Aditya belum siap, suatu saat, entah itu kapan, mereka pasti akan menikah. Namun akhirnya hubungan mereka memang benar-benar berakhir.


Aghhh. Dita mengerang sambil memegang kepalanya ketika memori saat ia benar-benar terpuruk muncul. Sakit sekali, ketika akhirnya ia kembali sendiri. Cinta Aditya tak cukup besar untuk berani menghalalkan dirinya.


Saat itu hadirlah Damar. Ya, benar. Damar. Muridnya yang paling berandal, selain dua kali tidak lulus juga suka membuat masalah. Entah kenapa pada akhirnya dengannyalah Dira menikah hingga punya anak.


Dita ingat itu. Ia tahu kalau sekarang dirinya adalah istri Damar, bahkan ia sangat mencintai suaminya. Namun Dita tak ingin perasaannya hancur karena Damar ternyata tak sesuai dengan harapannya.

__ADS_1


"Aku mau pulang!" kata Dita, tanpa melihat Damar.


"Baik." kata Damar.


"Paman, aku ingin pulang ke rumah paman." Kata Dita lagi.


"Tapi?" Damar ingin protes, tapi Paman Wiguna segera menghentikan Damar, meminta Damar memberi sedikit waktu untuk Dita bisa menenangkan diri. Ada luka di hatinya hingga pada akhirnya ia begini.


***


Ini hari ketiga ia bertahan di rumah pamannya bersama Daffa. Dita belum juga mau menemui Damar meski pamannya sudah membujuk. Ia sebenarnya sudah sangat rindu pada lelaki itu, tapi setelah tahu akan penyakitnya, Dita memutuskan untuk tidak lagi bertemu dengan Damar, ia bahkan minta pada pamannya agar membantu mengakhiri saja pernikahan ini agar dirinya dan Damar tak perlu lagi bersama.


Damar masih sangat muda, selama ini beban hidupnya sudah sangat berat. Dita tidak ingin menjadi beban baru untuk Damar. Biarlah ia nengalah dan pergi saja.


"Damar di luar, ia bilang tak ingin pergi sebelum bertemu kamu." kata pak Wiguna, berusaha membujuk Dita lagi.


"Aku nggak mau, paman. Suruh saja ia pulang." kata Dita.


"Tolong paman, sekali ini saja. Dita nggak siap ketemu Damar."


"Ya sudah."


Pak Wiguna kembali keluar untuk menemui Damar. Ia kembali menyampaikan pesan Dita. tidak seperti tadi, kali ini Damar tidak lagi menitipkan pesan melainkan minta izin pada paman mertuanya untuk masuk, ia ingin menemui Dita langsung. Rasanya tidak salah, toh kalaupun Dita tidak mengenakan hijab ia adalah istri Damar jadi tidak akan berdosa.


Paman Wiguna setuju sekali. Ia mempersilakan dengan senang hati pada Damar agar langsung masuk dan bicara sendiri sebab paman Wiguna juga sudah lelah selama tiga hari ini jadi perantara keponakan dan menantu keponakannya ini.


***


Dita benar-benar kaget saat melihat Damar kini berada di hadapannya. padahal tadi ia mengira itu adalah pamannya yang akan mengantar pesan baru dari Damar.


"Ka ... Kamu ngapain di sini?" Tanya Dita. "Berani sekali masuk. Ini kamarku!"


"Seorang suami tidak perlu izin untuk masuk ke tempat istrinya!" tegas Damar. ia menarik pinggang Damar hingga mereka kini berada dalam posisi amat dekat. "Aku benar-benar merindukan kamu, sayang."

__ADS_1


"Da ... Damar!" Dita gugup. "Kamu," akhirnya air matanya tumpah.


"Selama tiga hari ini kamu sukses membuatku berantakan. Aku betul-betul hampir gila karena terus dihindari. Lain kali jangan lakukan ini ya." Pinta Damar dengan suara lembut di telinga istrinya.


"Aku sakit,"


"Tak mengapa. Aku akan merawatmu."


"Bahkan aku akan lupa banyak hal."


"Aku akan ingatkan. Akan ku buatkan banyak catatan untukmu."


"Kalau aku tak bisa apa-apa?"


"Aku yang akan melakukan semuanya untukmu."


"Damar!" sepasang suami istri itu saling berpelukan, mereka berusaha untuk melengkapi satu sama lain.


***


Tes tes tes. Suara tetesan air. Dita kembali ngompol. Ia berdiri mematung. Sekarang, bahkan ia tak punya perasaan untuk mengetahui apa yang diinginkan dirinya sendiri.


"Jangan khawatir, aku akan membersihkannya!" Damar bergegas mengambil kain lap, membersihkannya, lalu mengganti pakaian Dita. "Beres, kan?"


"Siapa aku?" tanya Dita.


"Guruku tersayang,"


"Bodoh, aku istrimu!" Dita memukul pelan kening Damar. Mereka tertawa, lalu hening.


---- TAMAT ----


Catt: Terimakasih sudah membaca novel GURUKU TERSAYANG. Semoga bermanfaat. sampai jumpa dicerita author lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2