
Motor yang dikendarai Dita melaju perlahan meninggalkan rumah masa kecil ibu mertuanya. Sepasang mata Bu Anis yang duduk di bangku belakang belum rela melepaskan pandangannya dari rumah tersebut hingga akhirnya mereka melewati tikungan dan pandangannya telah berganti. Kini, netranya berkaca, lalu perlahan pecah hingga bulir-bulir bening itu membanjiri pipinya.
"Ibu menangis?" Tanya Dita, sambil mengintip dari kaca spion. Ia melihat bayangan mertuanya tengah menghapus sisa air mata yang terus tumpah. "Mau berhenti dulu?" ia kembali bertanya. Tak ada jawaban. Makanya Dita terus melajukan motornya agak epkan sambil mencari tempat yang nyaman untuk berhenti hingga sampai di depan halaman masjid. "Kita berhenti dulu ya."
Dita membuka tasnya, memberikan beberapa lembar tisu pada mertuanya. Seperti anak kecil, Bu Anis menurut saja. Ia mengelap air matanya, namun terus menangis.
"Menurut kamu, apa benar aku ini jahat?" tanya Bu Anis.
"Tentang?" Dita balik bertanya, belum paham arah pembicaraan mertuanya.
"Anak-anak yang menganggap kalau aku ibu yang jahat."
"Sepertinya tak ada yang beranggapan seperti itu. Damar, Nanda, Sigit dan Lala sangat menghormati ibu. Mereka juga sayang pada ibu. Kalaupun mereka tidak mengikuti perintah ibu, itu karena mereka merasa tidak sesuai saja. Tapi selebihnya ya mereka menyayangi ibu dan bagi mereka ibu adalah ibu yang terbaik. Meski ada kekurangan karena memang tak ada manusia yang sempurna."
"Tapi kenyataannya saya ibu yang buruk. Mana ada ibu yang baik menjerumuskan anaknya dengan menjodohkan pada lelaki tua yang lebih pantas jadi ayahnya."
"Ibu melakukan karena ada alasannya, iya kan?"
"Kamu sendiri pasti kesal pada saya, kan?"
__ADS_1
"Enggak juga,"
"Huuuhhh, itu karena kamu ingin mendapatkan hati saya. Iya, kan? Makanya kamu baik-baikin saya."
"Ya."
"Berarti kamu membenci saya?"
"Enggak. Bagaimana saya bisa membenci perempuan yang sudah melahirkan laki-laki yang menjadi imam saya. Laki-laki yang meski usianya lebih muda dari saya tapi sangatlah bertanggung jawab. Semua pasti karena kebaikan yang pernah ibu lakukan sehingga Allah menganugerahkan kebaikan juga pada Damar. Makanya saya justru ingin berterima kasih pada ibu, entah bagaimana saya membalas kebaikan ibu. Saya mendapat banyak kebahagiaan setelah menikah. Saya yang biasanya sebatang kara, kini setelah menikah tak hanya punya suami, tapi punya ibu dan juga punya tiga adik sekaligus. Luar biasa baiknya Tuhan pada saya, bukan?"
"Hiks," Bu Anis kembali menangis. Kali ini air matanya lebih deras lagi. Dita membiarkan mertuanya menumpahkan kesedihannya. Ia dengan sabar menenangkan dengan kalimat-kalimat bijak.. pengalamannya sebagai guru membuatnya bisa menghandle emosi mertuanya meski usia mereka terpaut jauh.
"Bu, dalam diri Damar memang ada darah ayahnya. Tapi bukan berarti Damar akan seperti itu juga. Saya mengerti, ibu takut Damar akan kena karma atas apa yang sudah ibu lakukan pada ayahnya. Tapi, sebagai perempuan, saya menilai apa yang ibu lakukan pada suami ibu bukankah sesuatu yang salah. Ayahnya Damar memang harus mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Justru jika ibu tak melakukan hal itu maka ibu sudah melakukan kejahatan. Lagipula tak ada yang namanya karma, apalagi anak yang harus menanggung dosa orang tuanya. Semua orang akan bertanggung jawab
dengan perbuatannya masing-masing, tak ada yang namanya anak bertanggung jawab atas kesalahan orang tuanya. Lagipula Saya sangat yakin, suami saya tak akan melakukan apa yang ibu khawatirkan, ia adalah laki-laki baik. Cukup itu saja yang harus saya pahami sebab saya tak harus berandai-andai untuk sesuatu yang buruk."
"Kamu tak akan paham, saya .... saya takut anak anak saya seperti ayah mereka. Saya juga gak akan sanggup jika suatu hari mereka ditelantarkan oleh pasangannya. Saya," kembali Bu Anis menangis.
"Ibu punya banyak luka di hati. InshaAllah sekarang saya dan Damar sedang berusaha untuk menyembuhkan luka itu. Ibu hanya harus bersabar menjalani konsultasinya agar nanti juga bisa mendapatkan hasil terbaik. Sekarang tak perlu memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Lebih baik kita berdoa yang baik untuk Damar dan adik-adiknya" Kata Dita.
__ADS_1
***
Dita benar-benar sabar mendampingi mertuanya untuk menjalani Konsul dengan psikolog. Saat perasaan cemas akan hal-hal yang ia bayangkan sendiri muncul, Dita kembali hadir untuk menenangkan dengan caranya sendiri. Ia bisa meyakinkan Bu Anis bahwa kekhawatirannya itu gak berdasar. Tak akan pernah terjadi. Bahkan Dita selalu menanamkan optimistis pada mertuanya.
Kebersamaan itu membuat mertua dan menantu itu semakin akrab. Bu Anis yang awalnya menolak punya menantu Dita sekarang malah lengket dengannya. Setiap hari Dita wajib datang ke rumahnya. Mulai dari menemani Konsul, ngobrol, atau kalau Dita sibuk mereka akan berbalas pesan lewat WA.
Sekarang ibu, kebetulan Dita tengah cuti untuk mempersiapkan Damar yang akan mengikuti ujian paket. Setelah semua urusan selesai, Dita menemani Bu Anis berbelanja sesuai permintaan mertuanya.
"Kamu lebih suka warna apa, Dit?" Tanya Bu Dita, sambil memilih-milih gamis. "Bagaimana kalau merah maroon ini? Warnanya sangat cocok dengan kulit kamu yang putih."
"Tapi saya sedang tidak ingin membeli gamis, Bu." Kata Dita.
"Ini bukan kamu yang membeli. Tapi saya yang membelikan untuk kamu. Saya kan nggak pernah membelikan kamu hadiah, nah inilah hadiah untuk kamu. Anggap saja ini hadiah perkawinan dari mertua untuk menantu." kata Bu Anis.
Mata Dita berkaca-kaca. Spontan ia memeluk mertuanya. Ia merasakan kehangatan. Seperti memeluk ibunya sendiri. Sebuah pelukan yang sudah lama ia rindukan. Dita sudah kehilangan ibunya sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia melewati harinya hanya berdua dengan ayahnya. Itulah mengapa Dita begitu berharap suatu saat mertuanya bisa menerimanya karena ia rindu kasih sayang ibunya.
"Bu, terimakasih ya." Kini giliran Dita yang menangis.
"Iiih jangan panggil ibu, panggil bunda. Lagipula kenapa peluk-peluk segala. Pakai acara nangis pula. Ini kan tempat umum, malu dilihat orang banyak. Nanti dikira bunda ngapa-ngapain kamu lagi. Sudah sudah. Diam. Jangan nangis." Bu Anis mencoba melepas pelukan Dita, tapi dengan suara bergetar karena sebenarnya ia pun merasa terharu. Pada akhirnya bukan melepaskan, ia malah ikut memeluk menantunya. Perlahan tapi pasti ia mulai menyayangi Dita. Mertua dan menantu itu akhirnya saling berpelukan. Mereka menangis tanpa peduli sudah menjadi pusat perhatian pengunjung toko.
__ADS_1
Biarlah orang-orahg melihat aneh. Mereka hanya tak tahu saja kalau saat ini akhirnya seorang menantu mendapatkan kasih sayang mertuanya dan seorang mertua akhirnya menyadari betapa beruntungnya ia punya menantu seperti Dita