Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Pergi Dari Rumah


__ADS_3

"Bang, kok pertanyaan Bunda nggak dijawab? Abang dari mana?" kini Nanda yang bertanya. Membuyarkan lamunan Damar.


"Dari masjid, Bun." Jawab Damar, sembari duduk di sebelah kasur Bunda. Tangannya mulai aktif memijit tangan ibunya.


"Masjid?" semua yang ada di dalam bicara serentak. Mereka spontan melihat ke arah Damar. Tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.


"Kenapa?' Damar balik bertanya.


"Ngapain?" tanya Nanda.


"Ya salat lah, emang ngapain lagi orang ke masjid? Enggak mungkin main bola atau nonton, kan?" Damar geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan yang menurutnya tak perlu dipertanyakan. "Kalian juga harusnya pada salat. Sudah dikasih Allah banyak kebaikan, jadi harus banyak bersyukur sama Allah. Salah satunya dengan menjalankan kewajiban yaitu salat. Ayo-ayo pada salat!"


"Tumben? Biasanya kan Abang nggak pernah salat. Lebaran juga kayaknya susah banget, kudu digeret dulu baru mau berangkat ke lapangan. Abang nggak lagi kerasukan kan? Tiba-tiba salat." ejek Nanda.


"Ya sudahlah, bukannya bagus kalau Abang kalian salat. Bunda senang kamu banyak berubah jadi lebih baik, Mar. Bunda semakin bahagia dan bersyukur punya anak seperti kamu." puji Bunda sembari mengusap kepala Damar.


"Alhamdulillah Bun, semua juga ada campur tangan Bu Dita yang banyak memberi Damar nasihat, masukan dan menenangkan Damar." Aku Damar. Tapi keluarganya, terutama ibunya dan Nanda mendadak tutup mulut, mereka enggan menanggapi karena ini berkaitan dengan Bu Dita. Seseorang yang belum bisa diterima oleh mereka karena dianggap sudah mengambil posisi Rana yang mereka pilihkan untuk Damar.


"Bagusan juga kak Rana, ya, Bun. Masih muda, cantik, pintar, dari keluarga kaya, peduli sama keluarga kita juga!" Kata Nanda.


Kali ini giliran Damar yang tidak menanggapi. Ia bahkan tak terpancing meski ibu dan adiknya terus memuji Rana. Ia tahu semua pujian itu benar adanya. ia menyadari bahwa Rana memang cantik, pintar dan pastinya kaya karena ia satu-satunya pewaris ayahnya. Rana juga disukai banyak orang, tapi ia bukan gadis idaman Damar. Di hatinya sudah ada nama Bu Dita dan itu tak akan bisa diganti oleh siapapun.


"Oh ya Bun, tadi Damar juga mampir ke bagian administrasi."

__ADS_1


"Ngapain Mar?" tanya Bu Anis.


"Damar sudah tanya apakah Bunda sudah boleh pulang atau tidak dan katanya sih sudah boleh, jadi ...." belum selesai Damar bicara, Nanda langsung berdiri, ia memotong pembicaraan Abangnya.


"Astagfirullah Abang, aku kira Abang benar-benar serius dengan apa yang Abang katakan kemarin itu. Ternyata Abang hanya basa-basi. Abang nggak seriusan. Abang jahat!" Pekik Nanda. Untungnya bunda dirawat di kamar VVIP yang terbaik jadi privasi di ruangan ini terjaga. Suara Nanda tak terlalu terdengar keluar. Orang-orang tak mengetahui keributan dua saudara itu.


"Kenapa, Nan?" Tanya Damar yang tak tahu apa salahnya dirinya


"Abang tega nyuruh bunda pulang sekarang padahal bunda masih sakit!" Bentak Nanda.


"Tapi tadi mbaknya bilang sudah boleh dan itu pasti atas izin dokter." kata Damar. Ia tak mengerti letak salahnya dimana, kalau memang ibunya masih butuh perawatan ia sudah ikhlas menanggung, tapi kalau sudah diizinkan pulang, rasanya tak salah kan mengajak pasien pulang karena pasti dokter sudah mengizinkan.


Mendadak terdengar suara Isak tangis bunda membuat Damar semakin bersalah. Ia benar-benar bingung. Ia tak bermaksud menyuruh ibunya untuk pulang kalau memang masih harus mendapatkan perawatan.


"Nan, kamu hubungi Rana. Minta ia datang ke sini untuk mengantar Bunda pulang. Juga pinjam uang darinya untuk biaya berobat bunda, nanti bunda akan ganti." Kata Bu Anis tanpa mau melihat Damar. Hati Bu Anis sudah sangat panas. Bagaimana bisa ia dikalahkan oleh perempuan itu.


"Iya Bu, bunda jangan khawatir, Nanda akan bekerja dan melunasi hutang bunda!" Nanda langsung menghubungi Rana, menyampaikan pesan bundanya.


"Bun," Damar semakin merasa bersalah. Ia berulang kali minta maaf tapi diacuhkan. Tangannya juga ditepis oleh ibunya. Damar jadi lemas sebab ini pertama kalinya ibunya semurka itu.


Selama ini ia sering membuat masalah taoi


***

__ADS_1


Sakit sekali rasanya ketika ibu yang sangat kita cintai mengabaikan kita. Padahal kita sudah berusaha melakukan yang terbaik untuknya.


Damar hanya bisa diam terpaku kala ibunya lebih memilih berhutang pada Rana untuk membayar biaya rumah sakit dan pulang di antar Rana. Ibunya tak mau mengambil uang darinya, juga menolak pulang dengannya.


Ia semakin terpukul ketika ibunya memberi pesan melalui adiknya Nanda agar ia segera pergi dan menikah saja dengan Bu Dita. Ia diminta untuk melupakan ibunya sebab ibunya sudah terlanjur terluka dan Sakit hati atas perbuatannya. Damar benar-benar menyesal, ia sampai berpikir sefatal itukah kesalahannya? Kenapa ibunya tak mau mengalah? Apa kurangnya Bu Dita, apa karena usia mereka?


"Bun, jangan begitu. Tolong maafkan Damar. Damar menyesal Bu. Tolong ampuni Damar sebab Damar tak mau dimurkai Allah." Kata Damar sambil berlutut di hadapan ibunya. Ia benar-benar serius ingin melakukan apapun agar ibunya mau memaafkan.


"Bunda sudah tidak ingin berharap apapun pada kamu, Mar, karena Bunda tahu kamu gak akan mempedulikan permintaan Bunda. Kamu hanya peduli pada perempuan itu. Sejak mengenalnya kamu berubah. Bunda sakit hati, Mar. Bunda yang berjuang selama ini hingga usia kamu sembilan belas tahu tapi dia yang kamu pilih!" tegas Bu Anis.


"Bukan begitu, Bun, Bunda dan Bu Dita tak akan bisa Damar pilih karena kalian berdua prioritas hidup Damar."


"Kalau begitu buktikan..bunda mau kamu meninggalkannya. Kamu menikahlah dengan Rana!"


"Maaf Bun, Damar tidak bisa."


"Damar!" Bu Anis benar-benar marah, ia yang baru keluar dari rumah sakit langsung bangkit. "Sekarang juga kamu pergi dari sini. Saya sudah tidak Sudi lagi melihat kamu!" Teriak Bu Anis.


"Bun," tak ingin membuat Ibunya semakin tersulut emosi, meski berat, akhirnya Damar keluar dari rumah. Ia sempat berpesan pada Sigit untuk terus menghubungi dirinya kalau terjadi sesuatu pada ibunya.


"Memang Anang mau tinggal dimana?" tanya Sigit dan Lala yang gak ingin berpisah dengan abangnya. "Abang jangan pergi ya, Lala nggak mau jauh dari Abang. Nanti kalau Lala pengen naik motor butut Abang bagaimana?" Rengek Lala.


"Abang cuma pergi sebentar. Nanti kalau bunda sudah tidak marah, Abang akan pulang. Abang janji akan sering melihat kalian ke sini. Sigit dan Lala baik-baik ya. Bantu Abang jagain bunda." Meski bukan untuk pergi selamanya, tapi berat bagi damar meninggalkan ibu dan adik-adiknya. Ia begitu sedih dengan keputusan ibunya, tapi gak bisa melakukan apapun. Ia juga tak mau kehilangan Bu Dita.

__ADS_1


__ADS_2